22 November 2012

Telepon Semalam

Kamarku sudah terlampau sepi. Rupanya penghuninya sudah tertidur pulas dibalut dinginnya malam. Ada limat wanita disana. Mereka adalah teman seperjuanganku dalam menuntut ilmu di kota ini. Lebih tepatnya mereka adalah keluarga bahagiaku disini.

Kamar ini selalu ramai ketika kami masih ‘hidup’. Tempat ini lebih terasa seperti arena hiburan yang selalu menghasilkan banyak gelak tawa. Aku rasa poin penting disini bukan terletak pada nilai kamarnya tetapi pada penghuninya. Selain aku, ada Dhillaz, Luti, Ema, Klorofil dan Asri. Mereka yang membuat kamar ini terasa seperti surga kecil di tengah hiruk pikuk kota Jakarta. Bahkan efeh ‘hiburannya’ melebihi kapabilitas Dufan yang selama ini diagung-agungkan banyak orang. Dufan kalah. Tak perlu jauh-jauh kesana untuk mendapat hiburan dan rasa senang. Berkumpul dengan mereka, di tempat ini, selalu membuat penuh riang senyuman dan canda tawa. I love they’re.

Lalu.. malam itu hanya tinggal dua bola mataku yang belum terpejam. Aku belum bisa tidur. Mataku masih tergerak lebar dan berbinar-binar di tengah kesunyian. Seperti biasa, aku memang sering menjadi penghuni terakhir di kamar ini. Tidur terakhir karena jam terbang yang juga terus mencair. Hheee..

Tiba-tiba saja, malam itu ponsel mungilku bergetar. Lama sekali. Ku lihat di layarnya yang menyala, tertulis nama ‘Unyil Risa’ memanggil-manggil. Dengan gesit telepon itu langsung ku angkat.

Risa adalah manusia unyil yang juga sama energiknya. Dia sudah ku anggap seperti adikku sendiri. I really love her. Sosoknya selalu membuat hari-hariku ketika di Jember terus dibanjiri tawa. Dia ibarat manusia yang sengaja dibangun dan hidup atas rasa gembira. Kebanyakan orang menilai bahwa rasa sedih mungkin tak mau singgah ke tubuh imutnya. Hanya orang-orang terdekatnya saja yang akan tahu dimana Ia bingung, sedih atau galau. Bukan hanya tahu ketika Ia terus tertawa pada dunia.

Telepon malam itu masih sama seperti telepon-telepon sebelumnya. Dia bercerita tentang banyak hal. Risa memang orang yang paling sering menelponku dari radius kejauhan Jakarta-Jember. Sampai detik ini. Dia pun sudah menganggapku seperti kakaknya sendiri. Kami berdua adalah kakak adik yang dibentuk tanpa pertalian darah. Namun, kami sangat kompak.

Panggilan khasnya untukku adalah ‘budhe’ Dalam istilah jawa, budhe adalah sosok yang dituakan. Sebenarnya bukan hanya Risa yang memanggilku dengan sebutan ini tetapi banyak teman-teman Jember yang memanggil dengan cara yang sama. Rasanya ‘budhe’ itu sudah melekat kuat di diriku. Teman-teman Jember lah yang mencetuskan ide brilian mengenai ‘budhe’ ini. Sampai saat ini semuanya masih tetap sama sumringahnya memanggilku ‘budhe’ Oh iyaa, ada satu orang di Jember yang tidak memanggilku dengan ‘budhe’ tetapi ia malah memanggilku ‘bu ani’ dia adalah Rezel.

Setiap kali Risa telepon, mendengar suaranya, gelak tawanya, rasa kangenku terhadap seluruh isi Jember juga kian menggelembung. Kota itu memang penuh chemistry, setidaknya itu bagiku. Orang-orangnya yang ku kenal, yang selalu menyambutku dengan tangan manisnya, selalu membuatku rindu. Rindu jalan bareng, rindu tidur bareng, rindu makan bareng, rindu hahahihihiii bareng mereka. Ah, aku benar-benar merindukan kalian. Ingin bertemu gelak tawa kita bersama, riuh renyah canda tawa kita. Aku juga rindu cara kalian ngebully sekawanannya sendiri. Hancur-hancuran. Selain Risa, ada Roomiie, mbakdee, bunbun, ayiep, edwin, bubuu, nia, sukma, farah, happy, mas rafli, mas zaki, mas dida dan masih banyak yang lain. Tak akan bisa ku sebutkan satu per satu namanya karena banyak orang yang ku kenal dengan hangat. Kalian benar-benar berbeda. Mengenal kalian satu tahun yang lalu membuatku selalu ingin mengunjungi Jember. Bukan karena apa? Yaa karena ada kalian semua disana. Kalian menunjukkan kasih sayang dengan cara kalian masing-masing, yang semua cara itu mengandung tawa.

Hhmm.. menceritakan Jember nggak akan ada habisnya. Merindukan kalian semua, my lovely friends. Kembali ke Risa, panjang lebar dia bercerita. Banyak hal yang ia sampaikan malam itu. Salah satu obrolan kami adalah karena ternyata Risa bingung menentukan arah baik mana yang harus ia pilih. Sejenak aku memberikan saran, dengan tiba-tiba. “Diambil saja, itu kesempatan baik sayang” Namun, aku tahu jawabannya bukanlah kalimat yang penuh semangat. “Aku nggak mau budhe” Hhmm.. aku pun mulai menanggapi serius, “Lalu maumu apa nak? Kamu pengen jadi apa?” Dengan cepat ia menyambar, “Aku mau jadi seperti kamu budhe. Travelling iya, akademik iya, kerja iya, pacaran juga iya” Spontan saja, hening seketika. Aku tak mampu membalas kalimatnya dengan cepat. Mensyukuri nikmat Tuhan yang baru saja turun ke telinga. Rasa nano-nano beradu jadi satu. Kaget, seneng, terharu, bingung dan seakan banyak pertanyaan lanjutan yang ingin segera dilontarkan, “Mengapa harus aku?”

Terlebih lagi, ada hal yang selalu membuatku berseri ketika bercakap dengan Unyil Risa. Di setiap teleponnya, dia selalu bilang dengan gembira. Penuh semangat, “budheeeee.. aku pengen ke Jakarta lagi” Aku tahu, pasti dia bicara dengan gaya manja dan kangen. Aku selalu membalas ceria “Kesini sayang, i’ll always waiting for your coming here. Main-main sini. Kangen jalan-jalan lagi” Senangnyaa.. pasti suatu saat kau akan kembali kesini, menginjakkan kaki di kota ini. Aku sangat percaya karena aku punya satu keyakinan kuat ‘orang yang sudah pernah ke Jakarta, pasti akan kesini lagi. Pasti’ Ntah fakta apa yang mendukungku, aku memang percaya itu. Buktinya aku sendiri. Hheee.. Dulu aku pertama kali kesini ketika aku masih duduk di kelas VIII SMK dan apa hasilnya.. Lulus SMK aku menetap di kota yang sekarang memberikan banyak pelajaran kehidupan untukku.

Sebenarnya aku sudah tahu jawabannya. Risa bukanlah orang pertama yang mengatakan hal yang serupa. Sebelumnya, teman-teman sebaya, kakak kelas dan yang paling banyak kuantitasnya adalah dari adik-adik sepupuku sendiri. Maklum saja. Dari keluarga ibu, aku adalah cucu yang paling tua. Bisa dikatakan aku lahir sebagai pionernya. Sudah selayaknya jika aku harus memberikan teladan yang baik untuk adik-adik yang ku sayangi ini. Ada sepuluh pasang mata adikku yang mencoba mencari tempat pijakan. Mereka melihat sosok ada di kakak tertua mereka. Dan itu aku.

Dari serangkaian ini, aku pun bilang bahwa tanggung jawabku itu besar. Tanggung jawab moral agar bisa menjadi teladan yang baik untuk mereka. Untuk keluarga besarku dan masyarakat sekitar. Ketika aku sekarang berkarya di kota ini, hidup di perantauan yang selalu memberikan banyak kejutan dan warna yang berbeda disetiap harinya, aku bukan hanya membawa identitas nama personalku sebagai Ika Fitri Mustikasari. Namun, aku juga membawa identitas keluarga besarku, tempat tinggalku, sekolahku (dari SD hingga SMK). Banyak identitas yang melekat di hidupku. Dan aku harus memberikan yang terbaik untuk semuanya.

Aku tak henti-hentinya selalu mengucapkan kalimat ini ketika bertemu dengan keluarga besarku di Malang, “terima kasih banyak yaa. Contoh dari mbak yang baik-baik saja. Yang buruk jangan ditiru”

Risa memang salah satu orang terdekat. Dia cukup tahu perjalanan panjang hidupku sampai akhirnya menginjak titik yang sekarang. Rasanya telepon malam ini membuatku semakin bersyukur, mawas diri dan selalu introspeksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Setiap hari. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar