24 Januari 2013

Negeri Merlion Diujung September

Cerita kali ini akan membahas tentang perjalanan yang sudah lalu. Tentang beberapa bulan yang lalu, yang memang belum sempat dibagikan ke dunia luas. Singapura. Negeri sebelah yang sekarangg memang lebih modern dibandingkan dengan Indonesia. Mulai dari segi infrastruktur, perekonomian, pendidikan, kesejahteraan masyarakat dan lain sebagainya. Cerita perjalanan selama 4 hari kemarin hanya terpendam dalam otak dan ingatan saja.
Untungnya semua itu terasa harus digelar ibarat tikar. Bermula dari semalam ketika saya menemukan serendepity ini. Serendepity dengan Singapura yang tiba-tiba saja memberikan pertanda. Setelah selesai meeting Kereta Dongeng, kawan saya memberikan satu buku yang pastiya tidak jauh-jauh dari soal travelling atau backpacker

Dulunya dia sudah pernah memberikan satu buku yang berjudul “Backpacker Nekat” yang ternyata penulisnya juga bernama Ika (sama seperti saya maksudnya. Hheeee..)  Terima kasih Ipul, partner yang selalu sabar menghadapi kesibukan saya selama ini di Kereta Dongeng. Ada julukan darinya yang menempel pada saya lekat-lekat, Ms. Sibuk. Hhmm.. langsung bergumam dalam hati, sesibuk itukah saya? Buku yang sebelumnya ia berikan karena sebenarnya dulu ia sangat mengharapkan bahwa saya bisa seperti buku itu. Apalagi memang dilihat-lihat backgroundnya sama, suka travellingi dan juga suka nulis. Complete! Cuma belum suka jadi ilustrator (ini ngelesnya).
***
Saya masih ingat ketika tahun 2010 kemarin melakukan perjalanan yang juga singgah di Singapura. Selama satu jam di Changi Airport untuk menuju destinasi selanjutnya yaitu Turki. Rupanya ketika kemarin berkunjung kesana, waktu dua tahun tetap menjadikan Changi Airport sama saja. Juli 2010, saya melanjutkan naik Turkish Airlines menuju Istanbul, salah satu kota paling indah yang pernah saya kunjungi sampai di umur 19 tahun. Istanbul menjadi pusat peradaban di Turki. Melihatnya dari awan di malam hari membuat bayangan tentang kedamaian, kecerdasan, kehidupan tenang nan dinamis langsung mencuat. Lampu-lampu kota itu seperti tak mau padam untuk menyaksikan rombongan kami dari Indonesia mendarat dulu.

Perjalanan ke Singapura ini tetap dengan tagline “travelling with studying” disini saya akan murni menceritakan soal travellingnya saja. Dimulai dari Merlion Park, simbol Singapura berada. Patung ini berwarna putih  dengan kepada singa dan berbadan ikan bersisik. Konon, katanya Singapura merupakan kampung nelayan yang banyak singanya. Selanjutnya ke daerah Marina Bay Sand, hotel sekaligus tempat blink-blink yang isinya mall dan wahana hiburan. Sebenarnya saya tidak cocok ke tempat ini karena “ini bukan gue banget” klo kata orang Jakarta. Saya pernah baca buku “Tiga Manula Jalan-Jalan ke Singapura” bahwa inspirasi bentuk gedung ini berasal dari peristiwa Tsunami di Aceh beberapa tahun silam dimana ombak Tsunami bisa membuat kapal sampai nyangkut di atas pohon kelapa. Jelas itu hanya humor.

Lalu saya menalnjutkan perjalanan ke Orchard RD. Tempat ini merupakan surga bagi para shoppaholic. Isinya hanya butik-butik, barang-barang branded dan kalangan menengah ke atas sebagai pengunjung terbesarnya. Saya hanya diam, sambil mengamati ini itu ketika kesana. Sujujurnya, saya memang tidak suka belanja. Saya kesini hanya menuruti rasa ingin tahu dan sekaligus untuk menabung. Menabung secara langsung karena saya nabung inspirasi untuk dibawa pulang lagi ke Indonesia.

Hari selanjutnya saya mengunjungi China Town. Bangunan-bangunan tua China berdiri kokoh disana berhamburan. Rapi. Saya langsung saja ingat dengan Kota Tua di Jakarta karena bangunannya memiliki predikat yang sama yaitu bangunan tua yang dilindungi. Bedanya kalau di China Town, bangunan memang dimanfaatkan dengan baik. Kalau di Jakarta sepertinya hanya dipakai untuk foto-foto saja. Namun, secara fungsional sudah mati. Selain itu, Singapura paling banyak diisi oleh suku China. Lainnya adalah suku melayu, India dan yang lainnya.

Sore harinya saya mencoba berwisata kuliner dengan mencari makanan yang khas disana. Pertama, saya menemukan nasi briyani dan roti prata. Nasi briyani merupakan masakan India yang dimaak dengan aneka rempah-rempah sehingga ada bau khas dari makanan ini apalagi kalau dihidangkan hangat-hangat. Kalau di Indonesia lebih mirip dengan nasi kuning. Kemudian makan roti prata, roti khas India juga. Nama asli prata di India adalah paratha. Satu makanan yang sampai sekarang saya belum berniat untuk memakannya, ada Chili Crab. Makanan ini merupakan perpaduan antara kepiting, kocokan telur dan saus savoury berwarna merah dengan bahan dasar bawang putih, cabe dan tambahan saos tomat. Hhmm.. saya bukan pecinta makanan pedas sehingga melihatnya makanan ini saja, nafsu makan saya langsung memudar seketika. Pasti bisa sakit perut makan Chili Crab, meskipun hanya sedikit pun.

Ada lagi minuman teh tarik yang di Indonesia juga populer. Saya justru lebih tertarik untuk melihat penjualnya yang akan menyajikan teh tersebut daripada minum teh tariknya. Menurut saya itu unik. Jadi makan tidak asal makan tetapi banyak sisi lain dari makanan tersebut yang bisa dicermati dengan baik. Satu lagi yang belum saya coba, Singapore Sling. Ini adalah menu cocktail. Biasanya disajikan dengan warna merahnya.

Nah, yang membuat saya senang ketika ke Singapura kali ini, saya menemukan surga lagi. Surga itu berbentuk es krim potong. Es krim potong disini berbentuk balok dengan ukuran sekitar 3 cm yang dibalut dengan roti atau bisjuit wafer. Saya langsung saja ingat dengan es potong di Kota Tua, yang juga sangat saya sukai. Es krim potong di Kota Tua terdiri dari rasa kacang hijau, vanila, strobery, duren dan tape ketan hitam dengan harga dua ribu rupiah saja.

Yang sangat membuat Singapura berbeda dengan Indonesia salah satunya adalah bebas asap rokok dan alat transportasinya yang super efektif dan higienis, Mass rapid Transit. Dimana-mana bersih dan tidak ada asap rokok. Dengan kecanggihan yang dimilikinya, tapi tetap saja Singapura memiliki kelemahan. Bahasa. Yaa, bahasa. Beberapa hari tinggal disana sangat membingunkan jika mau komunikasi dengan orang sana untuk sekedar tanya atau membutuhkan bantuan. Bahasa yang dipakai sehari-hari adalah Singlish, Singaporean English. Tata bahasanya benar-benar berantakan bagi saya. Percampuran bahasa inggris, tamil, melayu dan China ada dalam Singlish. Saya pun harus memasang telinga lebar-lebar untuk bisa mencerna apa yang sedang mereka bicarakan. Pusing rasanya.

Selain es krim, saya juga menemukan surga dalam bentuk lain yaitu little India. Kampung India di Singapura yang semua isinya hanya orang India dan segala ornamen serta perabot asli India. Saya tiba-tiba membayangkan ingin sekali memakai kain sari dengan rambut panjang yang diurai. Dari dulu, saya memang sangat suka dengan apapun yang berbau India. Awalnya dimulai dari seringnya menonton film-film India waktu masih SD. Sampai sekarang saya sangat suka dan mencari-cari film-film India zaman dulu untuk sekedar jadi koleksi atau ditonton kembali. Little India menjadi penutup trip saya kali ini. One day, i’ll get India directly.

17 Januari 2013

Menjadi Sederhana

Selamat malam sayang, semoga suka dengan bentuk surga kali ini. Aku tahu pasti kamu bacanya waktu malem-malem, di kamar kos yang paling nyaman sambil senyum-senyum sendiri. Tempat dimana kamu bisa bertemu aku setiap hari dan bisa memelukku erat-erat sampai pagi datang lagi sambil bercerita tentang masa depan, tentang rumah mungil kita, tentang keluarga mungil yang akan dipenuhi canda tawa anak kita yang cerdas nantinya.

Aaaah, setiap hari aku semakin mencintaimu. Mencintai caramu, mencintai semua yang ada padamu. Juga tentang kesederhanaanmu memperlakukanku. Ini adalah rasa sayang yang ku ungkapkan lewat tulisan. Bukankah menulis merupakan jalan menuju keabadian seperti kata RA. Kartini dulu. Aku masih terus mengingatnya.

Cintamu membuatku terus menulis. Dan cintamu juga yang membuatku terus (dan akan) baik-baik saja. Tulisan-tulisan ini juga yang nantinya akan kita ceritakan kepada si kecil kalau dulu ayah dan ibunya pernah dan akan terus saling jatuh cinta seperti sekarang ini. Aku tiba-tiba membayangkan suatu hari kita akan selalu menyambut senja jingga dengan saling bergandengan tangan. Menghabiskan malam panjang hanya dengan satu dekapan hangat di balik selimut tebal. Satu-satunya dekapan mesra yang pernah ku rasakan. Hanya satu dan itu milikmu.
 ***
Hari ini Jakarta hujan sederas-derasnya. Setelah beberapa hari ini cuaca dingin hingga kipas angin di kamar tidak lagi berfungsi. Smurf pun tak mau kalah, dia sangat nyaman dengan jaket orange kesayanganku. Rupanya dia sama sepertiku dan juga teman-teman di asrama ini. Udara sangat dingin menggigil dan air pun seperti es yang mencair untuk ukuran Jakarta. Sejenak aku berpikir, dinginnya Jakarta yang seperti ini membuatku merasa seperti berada di Malang.
 Setelah telepon kita semalam itu, air datang lagi dari langit. Deras. Yaa, sangat deras sampai petir bersahut-sahutan untuk berpaduan suara menunjukkan siapa yang paling jago. Teringat ketika tahun baru kemarin ketika teman sekamarku bilang “semua petasan dan kembang api meluncur ke langit lepas menunjukkan keindahannya" Seperti jalur Gaza yang tiba-tiba hadir di Indonesia. Suara di telinga hanya dipenuhi oleh gelegar petasan menyambar kesana kemari. Tapi aku suka. Itu adalah momen tahun baru yang paling klasik. Hanya berdiam di kamar sambil menunggu teleponku berdering. Lalu ketika diangkat, hanya suaramu yang ada disana. Seolah-olah backsound petasan dan kembang api itu kian menciut dihantam suara bahagia kita berdua.

Seperti pagi-pagi yang sebelumnya, kita saling menyapa hangat via sms atau telepon singkat. Selamat pagi sayang. Selalu ada kata semangat di belakangnya yang diikuti obrolan kecil lainnya. Rasa kangen hampir tak pernah absen mengisi hari-hari kami. Sederhana tapi memikat. Bersamamu membuatku merasakan bahagia yang sebenar-benarnya. Karena tak mau jika ini hanya sekilas datang atau hanya seperti di negeri dongeng dimana semua orang pasti bahagia kekal, aku pun sering bergumam sendiri “inikah bahagia yang sebenarnya?” Rasa syukur itu tak jauh dari doa-doa selanjutnya yang selalu dilantunkan hanya untuk sang pencipta. Aku sadar bahwa semua ini adalah titipan sehingga aku harus selalu mensyukuri nikmat yang sudah diberikan. Tuhan bisa mengambil milikNya kapan saja sehingga aku harus selalu melakukan yang terbaik untuk kita selagi masih bisa.

 Bersamamu, aku menjelma menjadi gadis kecil manja yang minta dipijit ketika kakinya sakit setelah bermain lama-lama. Menjadi remaja manja yang minta dipeluk setelah lelah beraktivitas seharian. Dan juga menjadi wanita dewasa yang selalu membersihkan rumah kita dengan riang nantinya, yang selalu membuatkanmu sarapan setiap pagi setelah membangunkanmu dari tidur pulas semalaman. 

Aku ingin menjadi sebaik-baiknya wanita agar kau bahagia dan bangga. Menjadi teman, adik, sahabat, istri dan ibu yang terbaik untuk keluarga mungil kita nanti. Meski aku suka ngambek seperti anak kecil yang merengek minta dibelikan permen, tetapi kau tetap sabar menghadapiku. Kau memberikan kasih itu tanpa jeda. Tidak seperti hujan kali ini yang ada redanya, tapi sayangmu tidak. Terima kasih sayang sudah mengajarkanku banyak kesederhanaan.

Bersamamu membuat hidupku tidak rumit. Planning masa depan terlihat sangat rapi. Tetap sederhana kau menemaniku merajut mimpi-mimpi yang belum terwujud. Dengan sederhana, kita bersama-sama meniti jalan setapak untuk cita-cita. Sambil menata hidup yang lebih baik, kita selalu beriringan untuk saling meyakinkan dan terus menguatkan. Banyak yang menunggu kita disana. Termasuk Ranu Kumbolo dan sekawanan surga indah yang lain milik sang pencipta.

Bahagia menjadi bagian hidupmu. Bahagia menjadi milikmu sayang. Dan tentunya, aku juga sangat bahagia bisa berbagi surga dan menciptakan surga-surga itu bersamamu seperti candle light dinner kita yang selalu dilakukan dengan makan es krim berdua. Pada akhirnya aku yakin bahwa cinta yang sederhana akan menghasilkan energi yang luar biasa. Sederhana itu bagian dari kita.

11 Januari 2013

Karena Saya SMK

Agar mampu berperan dalam persaingan global, sudah selayaknya perlu mengembangkan dan meningkatkan sumber daya manusia. Peningkatan mutu sumber daya manusia merupakan kenyataan yang harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif dan efisien dalam proses pembangunan guna menghadapi era globalisasi. Maka dari itu pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam proses peningkatan mutu sumber daya manusia karena pendidikan yang bermutu akan menghasilkan sumber daya manusia yang bermutu pula. 

Pendidikan adalah salah satu modal yang harus dimiliki oleh setiap individu untuk meraih kesuksesan dalam hidupnya, tidak terkecuali para remaja. Baik dari kalangan menengah ke atas maupun ke bawah, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk Indonesia diusia produktif yaitu antara umur 15-45 tahun. Tentunya jumlah tenaga kerja semakin bertambah besar. Jika tidak dibarengi dengan peningkatan sumber daya manusia dan lapangan pekerjaan, maka tingkat pengangguran dari penduduk usia produktif akan meningkat. Kondisi yang perlu mendapat perhatian dari pemerintah adalah masih rendahnya minat peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini bisa dikarenakan faktor ekonomi keluarga yang masih rendah sehingga para lulusan SLTP terpaksa bekerja untuk membantu mencari nafkah.

Sebagian besar siswa yang tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi juga dikarenakan terbatasnya sarana pendidikan SMA yang ada. Akses pendidikan yang ada di kota-kota besar biasanya lebih terbuka dan maju daripada di daerah-daerah. Mereka yang dapat melanjutkan ke SMA hanya sebagian kecil. Artinya sebagian besar akan sulit mendapatkan pekerjaan karena pendidikan yang mereka tempuh sebelumnya adalah Sekolah Menengah Atas (SMA). Siswa SMA semestinya harus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (universitas) karena mereka tidak disiapkan untuk bekerja sehingga tidak mempunyai keterampilan. Dari tahun ke tahun angka penganguran selalu naik, khususnya yang berasal dari lulusan SMA yang tidak mampu melanjutkan ke jenjang universitas.

Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan belum dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu faktor penyebabnya adalah ketidaktepatan sarana pendidikan yang tersedia dan minimnya sarana pendidikan yang ada. Oleh karena itu perlu dikembangkan sarana pendidikan yang dapat memberikan bekal keahlian dan keterampilan yang pada akhirnya dapat memberikan manfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Terkait dengan kondisi tersebut maka Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memberikan alternatif solusi dengan memberikan bekal kompetensi yang dapat dipakai dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan berbekal kompetensi yang dimiliki ini, siswa diharapkan mampu menghadapi kehidupan dengan lebih baik sebab mereka memiliki ketrampilan yang dapat digunakan untuk bekerja. Namun, yang penting adalah bahwa bersekolah bukan semata-mata untuk mencari pekerjaan melainkan juga sebagai bekal untuk dapat menciptakan pekerjaan sendiri. Baik untuk dirinya dan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Siswa yang bersekolah di sekolah kejuruan dipersiapkan sedemikian rupa dengan berbagai keterampilan sesuai bidang yang dipelajarinya. Mereka akan mendapatkan pembelajaran teknik di bengkel khusus (laboratorium untuk praktek ilmu kejuruan) sekolah dengan melakukan kegiatan-kegiatan keterampilan secara langsung. Dengan bekal inilah, siswa yang sudah lulus dapat menerapkan keterampilannya dan tidak perlu mencari pekerjaan sebab pekerjaan itu sebenarnya sudah ada di dalam dirinya.

Sayangnya keunggulan kompetensi SMK ini sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Adapun masalahnya antara lain kurangnya peminat karena tingkat awareness yang masih rendah. SMK cenderung memiliki banyak asosiasi negatif sehingga menimbulkan persepsi yang buruk di kalangan masyarakat Indonesia. Pertama, kurangnya kepercayaan masyarakat akan kompetensi akademisnya. SMK masih terkesan sebagai tempat belajar kedua setelah SMA, stereotype masyarakat menyebutkan bahwa siswa yang masuk ke SMK berasal dari kalangan keluarga menengah ke bawah. Siswa-siswa SMK juga dianggap sebagai anak yang nakal dalam pergaulannya. Dalam hal ini, orang tua sangat berpengaruh dalam mendorong minat siswa untuk melanjutkan studinya ke SMK karena pada usia tersebut karakteristik siswa lulusan SLTP masih belum terbentuk. Mereka masih tergolong labil dan masih mencari identitasnya.

Adapun SMK yang sudah ada, setiap institusi SMK tersebut tidak saling berintegrasi untuk mewujudkan tujuan general SMK secara utuh tetapi mereka masih berdiri sendiri-sendiri dan terkotak-kotak pada kompetensi masing-masing. Hal ini didasarkan pada jurusan, kurikulum atau kultur yang tidak sama dari setiap SMK sehingga penulis juga berkeinginan untuk menyatukan tujuan general SMK di Indonesia dalam satu payung besar di bawah Direktorat Pendidikan Menengah dan Kejuruan.

Fenomena di atas menimbulkan keprihatinan yang cukup besar akan rendahnya angka siswa lulusan SLTP yang melanjutkan ke SMK. SMK tidak hanya mengajarkan pengetahuan layaknya sekolah lanjutan SMKA tetapi SMK juga mengajarkan siswa tentang ketrampilan dan kemandirian dimana kedua hal tersebut sangat dibutuhkan dalam dunia kerja saat ini. Untuk itu keberadaan keberadaan SMK mampu menjawab kebutuhan dunia kerja dan masyarakat luas.

6 Januari 2013

10 hari dalam pelukan

Rupanya menunggu dalam waktu dua bulan itu lumayan terasa. Menunggu pulang, menunggu bertemunya banyak manisan hidup di sisi yang lain. Bukan soal akademik, pekerjaan atau hiburan. Namun, itu semua soal hati dan kebahagiaan yang terus dihibahkan untuk diri. Seperti kata salah satu teman, “nggakpapa puasa dulu. Puasa kan nggak selamanya. Pasti ntar ada lebarannya” Kalimat ini seperti memberi nutrisi tersendiri ketika mengingat dua bulan itu cukup lama.

Menuju 2013, aku kembali ke Malang. Ke dalam pelukan orang terkasih dan hanyut dalam bahagianya. Sampai-sampai banyak agenda yang sengaja diskip hanya untuk menjadikan hari-hari terasa quality time. Dari Jakarta menuju Surabaya, merasakan perjalanan dengan suka cita. Melebihi biasanya. Packing sebelum berangkat pun terasa lebih menyenangkan daripada sebelumnya. Turun di stasiun Gubeng, aku melanjutkan lagi naik bis ke Malang karena tiket Penataran, kereta Surabaya – Malang sudah habis pagi itu. Aku memutuskan untuk menggunakan bis dengan asumsi agar lebih cepat sampai rumah. Horehoree, hari ini aku bertemu seseorang. Kekasihku.

Pagi-pagi aku dijemput di terminal Arjosari. Kaku, iyaa. Setelah beberapa bulan nggak ketemu, rasanya komunikasi via telepon itu cukup menjadi solusi terbaik kami. Namun, setelah tiba di rumah semuanya normal kembali. Aaah, senangnya. Akhirnya bertemu semua yang ku rindukan. Keluarga, kamu, kota kita dan banyak preferensi yang kebetulan banyak samanya.

Jum’at itu (21 Desember 2013) adalah hari yang dirancang Tuhan untuk kami. Bertemu surga pertama ketika singgah di Malang. Alhamdulillah.. bapak, ibu, adek, keluarga besar dan juga kamu sehat terjaga. Hari itu aku mendapatkan senyuman rindu terbaik di bulan desember. Mereka semua merindukan putrinya, merindukan kakaknya, merindukan pacarnya dengan caranya sendiri.

Setiap hari kami bertemu. Yaa.. setiap hari tanpa terkecuali. Quality time kami dilakukan dengan banyak cara yang menurut kami memberikan manfaat di keduanya. Damai, tenang dan tentu saja menyenangkan. Lebih banyak waktu itu kami habiskan berdua di ruang tamu, duduk bersebelahan sambil menikmati rintik hujan. Aku bisa bilang bahwa bulan desember adalah bulan hujan. Tapi aku suka karena hujan itu menemani kami.

Makan angsle bareng, makan sate bareng, nonton, jalan-jalan ke Batu, lihat bukit bintang, makan eskrim, silaturahmi ke teman-teman kami berdua menjadi pengisi hari-hariku di sisinya. Hal yang paling menyenangkan, kami juga silaturahmi ke keluarga besar yang berbeda. Seutas pemikiran lahir di kala itu, sepertinya aku adalah orang yang paling bahagia.

Ada kalanya aku menjadi orang yang menyebalkan, menyenangkan, membingungkan, manja, dan lain-lain ketika bertemu. Dia.. yang selama ini mengisi hati dan tak akan pergi. Pencarian sudah terhenti di satu titik. Dan cuma kamu pemilik titik indah itu.
Sepuluh hari menghabiskan waktu bersama. Terima kasih sayang.. Semoga semuanya terjaga karena kita tahu, semua tinggal menunggu masanya saja. Semua akan indah pada waktunya. Sempat terbesit bahwa tinggal disini saja lebih terasa ronanya. Namun, aku tahu ada tugas dan tanggung jawab yang harus ditunaikan. Aku selalu mencintai caramu yang selalu mensupportku untuk terus berkarya sesuai passionku. Meski aku tahu ada sendu di hatimu ketika mengingat waktu di Malang tinggal sebentar tapi kamu selalu berkata, “Semangat sayang.. lanjutkan terus cita-citamu” Membangun kepercayaan dan komunikasi yang baik menjadi pondasi kuat kami untuk terus belajar. Belajar dalam segala hal. termasuk belajar agar kita tidak saling mengecewakan.

Banyak hal yang membuatku semakin dan semakin. Proses panjang itu berbuah manis dan bervitamin. Kita yang menanam, kita juga yang memanen. Banyak surprize yang berbentuk kado yang selalu kamu berikan setiap harinya sebelum aku balik ke tanah perantauan. Sampai di hari itu kita sama-sama sadar, aku harus kembali. Kembali lagi ke Jakarta untuk belajar banyak arti kehidupan yang sesungguhnya.
Thank you for this Smurf
Sore itu, hari kesepuluhku di kota Malang, kau melepasku pergi di stasiun Kota Baru. Rasanya sirine tanda kereta akan segera berangkat itu menjadi bunyi yang suram. Bunyi tanda dimana perpisahan akan terjadi sebentar lagi. Tapi aku sangat bahagia, perjalananku sore itu kau beri pemanis natural yang kamu miliki. Surprize lagi.

Terima kasih Tuhan untuk segala rasa yang sudah diberikan. Terima kasih pembelajar yang sebelumnya karena kalian sudah mengantarkanku untuk merajut keindahan hidup yang selanjutnya. Sudah pernah jatuh bukan berarti tidak bisa mendaki lagi. Justru sekarang tidak ada yang bisa dilakukan kecuali mendaki lagi dengan cara yang sudah direvisi oleh pengalamannya. Kita sama-sama tahu bahwa kita berdua adalah orang terpilihNya, yang semoga memang berbeda dari yang sebelumnya. Bersamamu membuatku semakin bersyukur setiap harinya karena Tuhan juga selalu melipatgandakan nikmatNya untuk kita.

Sampai jumpa di Jakarta sayang. Sesuai dengan janji penyemangatmu, Maret esok kita akan bertemu lagi. Disini. Biarlah rindu ini jadi bagian dari kisah kita yang memang tak akan bisa dihapus. Semangat untuk menjalani bulan Januari hingga Februari yang akan berlalu penuh tantangan dan penentuan masa depan. Ingat tagline kita berdua yang sepertinya lebih cocok jika diekspresikan dengan bahasa Cina Surabaya. Dengan logat khasnya, aku senang bilang.. Semangat sayang. Ika-Isa! :)

1 Januari 2013

Putri Apel dan Bunga-bunga Malaikat

              Di suatu pagi yang berkilau, terlihat putri nan jelita sedang menyiram bunga di taman rumahnya. Ia menyirami tamannya dengan penuh suka cita. Putri Apel tinggal sendirian di rumah yang besar itu. Orang tuanya meninggal satu tahun yang lalu tertimpa musibah banjir bandang. Namun, Putri Apel menjalani hidupnya dengan semangat. Bahkan ia tak merasa tinggal sendirian karena ia selalu ditemani bunga-bunga indah yang sedang bermekaran di tamannya.

                Dengan senyuman manis, pagi itu bunga mawar menyapa “Selamat pagi Putri Apel. Pagi ini kau tampak lebih berseri padahal cuaca kemarau panjang ini membuat banyak orang stress” Diikuti oleh bunga melati dan bunga kamboja di sebelahnya “Iyaa, putri terlihat sangat bahagia.. Hhmm, ada apa yaa?” Putri Apel membalas dengan riang “Benarkah? Aku terlihat lebih berseri begitu? Hhmm.. Meski cuaca kemarau, hujan, gerimis atau badai sekalipun, kita harus tetap semangat” Sambil mengangkat tangan kanannya tanda bahwa Putri Apel memang sangat bersemangat pagi itu. Kemudian, bunga-bunga cantik di taman itu serempak mengatakan “terima kasih Putri Apel yang selalu menjaga kami” Mereka tersenyum gembira.

                Rupanya yang membuatnya lebih berseri hari itu adalah Putri Apel akan mengadakan hajatan ke desa sebelah. Ia ingin berbagi dengan teman-teman yang kurang beruntung, tidak seperti dirinya yang selalu berkecukupan. Putri Apel memang anak kaya tapi ia selalu hidup sederhana. Putri Apel bersiap-siap ke pasar untuk membeli segala keperluan. Ia ditemani Strobery Mungil, sosok teman yang selalu ada untuknya. “Mau beli apa saja Putri?” tanya Strobery Mungil. Lalu Putri Apel menjawab dengan gembira “Karena aku suka sekali dengan es krim, aku akan membuat es krim yang lezat untuk teman-teman di desa sebelah nanti. Kebetulan mereka pernah bilang bahwa mereka belum pernah makan es krim” Setelah sampai di pasar, Putri Apel memilih bahan-bahan yang ia perlukan untuk membuat es krim tersebut.

Setelah selesai belanja di pasar, ia kembali pulang. Putri Apel tak sabar untuk segera tiba di rumah dan langsung membuat es krim itu. Ia berjalan melewati pematang sawah dan sungai-sungai bersama Strobery Mungil. Putri Apel menggandeng tangannya sambil berjalan beriringan. Mereka berdua lebih seperti kakak adik yang saling menyayangi.
Di tengah perjalanan, Ia dihadang oleh Monster Durian. Tubuhnya yang tegap dan besar membuat Putri Apel dan Strobery Mungil langsung berhenti berjalan. Mereka berdua ketakutan. “Heii kau, putri apel busuk. Apa yang kau bawa itu?” bentak monster durian. Putri Apel dan Strobery Mungil gemetaran. Mereka hanya terdiam, tidak mampu menjawab. Monster Durian naik pitam dan ia langsung menarik tas kain yang dibawa Putri Apel. Hasilnya, tas kain itu robek dan bahan-bahan untuk membuat es krim tercecer berantakan. Monster Durian justru semakin garang dan mencoba mengambil bahan yang tersisa. Yang tercecer di tanah malah ia rusak sehingga bahan-bahan itu jelas tidak akan bisa dipakai.

Putri Apel menangis. Sambil tersedu-sedu ia bilang “kembalikan bahan-bahan itu. Aku ingin membuat es krim untuk teman-teman di desa sebelah. Jangan diambil. Aku mohon” Strobery Mungil juga menangis ketakutan “Kembalikan Monster Durian. Itu tidak enak untuk dimakan. Itu bahan mentah semua” katanya. Karena Monster Durian sudah terlanjur murka, ia justru membuang semua bahan-bahan yang masih tersisa. “Aaaah, banyak alasan kalian berdua. Kenapa kamu punya banyak teman Putri Apel? Kenapa mereka sangat suka berteman denganmu? Kenapa kamu mau berteman dengan bocah ingusan di desa sebelah. Kau tak tahu, aku ini sendirian” Muka garangnya berubah sedikit menjadi melankolis.

Selama ini Monster Durian memang selalu sendirian. Ia tak punya teman seperti Putri Apel karena sifat buruknya. Banyak teman yang menjauhinya. Ia serakah dan sombong.

                Tak kuasa menahan tangisnya, Putri Apel lari. Ia tak menjawab apa pun. Ia langsung meninggalkan Monster Durian yang sedang marah-marah. Strobery Mungil menyusulnya. Ia mencoba membesarkan hatinya dan mengajaknya duduk sejenak di bawah pohon jati agar Putri Apel tidak menangis lagi. Tiba-tiba saja Putri Apel berkata “Bagaimana ini Strobery Mungil.. Apa yang harus ku lakukan sekarang? Bahan-bahan es krim sudah tidak ada rupanya. Aku sudah berjanji dengan teman-teman disana dan mereka terlihat sangat senang ketika mendengar aku akan membuatkannya es krim sore ini. Pasti mereka kecewa padaku sekarang” Strobery Mungil pun terdiam. Ia bingung harus menjawab apa. “Bersabarlah Putri, pasti ada jalan keluarnya. Putri Apel sudah berniat tulus berbagi dan membahagiakan orang lain. Pasti akan ada keajaiban karena apa yang tulus dari hati pasti akan kembali ke hati lagi” Strobery Mungil menambahkan. Mendengar jawaban dari Strobery Mungil, Putri Apel tersenyum tipis. Ia terlihat sedikit lebih lega sekarang.

                Strobery Mungil mengajaknya pulang. Ia berjanji akan membantu Putri Apel untuk memikirkan jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapi ini. Putri Apel mengiyakan dan mereka berjalan menuju ke rumah. Sesampainya di rumah, Putri Apel kaget bukan main. Ia heran dan sekaligus senang karena melihat dapurnya berisi banyak bahan-bahan segar untuk membuat es krim. Putri Apel bergumam sendiri sambil tercengang “Dari mana ini semua Strobery Mungil.. Aku tak percaya” Lalu terlihat di sudut dapur itu, bunga mawar, bunga melati dan bunga kamboja yang tersenyum malu. Putri Apel langsung bertanya “Ini kalian semua yang menyiapkan?” Mereka bertiga mengangguk pelan. Bunga melati berkata “Kami tahu Putri Apel ingin membuat es krim untuk teman-teman di desa sebelah. Kami berniat membantu Putri jadi tadi ketika Putri Apel dan Strobery Mungil berangkat ke pasar, kami juga pergi mencari bahan-bahan. Kami ingin seperti Putri yang suka membantu orang lain”

Seketika Putri Apel memeluk mereka bertiga, juga Strobery Mungil. Putri Apel terharu dan meneteskan air mata. Ia sangat menyayangi mereka karena merekalah yang membuat hari-harinya tidak sepi lagi setelah ditinggal orang tuanya. Putri Apel sangat senang karena akhirnya ia juga bisa membuat es krim.

Mereka mulai membuat es krim bersama-sama. Sampai es krim itu benar-benar jadi, mereka sembari bersiap-siap menuju desa sebelah. Tidak lama kemudian, mereka bersama-sama kesana. Rupanya sudah banyak yang menunggu kedatangan Putri Apel. Apalagi melihat Putri Apel membawa banyak es krim, mereka lebih gembira lagi. Akhirnya mereka makan bersama sore itu dengan riang gembira menikmati es krim lezat buatan Putri Apel dan teman-temannya.

19 Desember 2012

Dongeng Pertama

Disuatu hari yang indah, dikisahkan ada sebuah hutan lebat yang dihuni oleh bermacam-macam hewan. Ada rusa, gajah, tupai, kuda, kura-kura, angsa dan sebagainya. Mereka selalu rukun dan hidup berdampingan. Seringkali mereka mencari makan bersama, mandi bersama dan bersenda gurau di bawah riimbun pohon-pohon besar di hutan itu.
Pada suatu hari, salah satu dari mereka yaitu singa yang sangat ramah dan baik ditarik ke kayangan oleh putri hutan. Singa itu mendapatkan kesempatan langka untuk tinggal bersama paduka raja dan ratu hutan di kayangan karena dia adalah hewan yang paling baik dan selalu membantu teman-temannya ketika hidup di hutan. Paduka raja dan ratu sangat mengapresiasi hal itu sehingga singa hidup di kayangan dengan sangat bahagia dan serba kecukupan.

Lalu, setelah beberapa lama melayani paduka raja dan ratu hutan di kayangan, singa dikembalikan lagi ke asalnya. Ia harus turun ke hutan lagi dan membaur bersama yang lain karena keinginan terbesar raja adalah agar ia bisa mengajarkan kebaikan seperti yang dilakukan oleh paduka raja ke singa itu.

Ketika masuk hutan pertama kalinya, singa bergaya seperti orang borjuis. Memamerkan segala yang ia punya dari hasil mengabdi kepada paduka raja. Ia Awalnya rusa, gajah, tupai, kuda, kura-kura dan angsa sangat bergembira menyambut kedatangan singa. Mereka merindukan singa yang sangat baik itu. Mereka berencana membuatkan makanan dan acara api unggun nanti malam. Namun, sebelum acara itu digelar, teman-teman singa merasakan sesuatu yang berbeda. mereka merasa dia bukan singa yang ia kenal dulu.

Sikap singa berubah drastis, tidak seperti sebelum ia berangkat ke kayangan dulu. Ia menjadi hewan yang sombong dan tamak terhadap apa yang ada di depannya “heii dasar gajah gendut, pergi kau dari hadapanku.. aku tak mau lagi bermain sama kalian. Kalian kan udik” Ia menghina semua teman-teman yang sudah mempersiapkan acara penyambutannya kembali ke hutan.

Semua teman-temannya sangat menyayangkan hal ini. Mereka kecewa terhadap singa. Singa tetap saja sombong. Ia seperti tidak mau menerima sambutan gembira dari teman-temannya. “hai singa.. kami melakukan ini semua buat kamu. Kami senang kamu kembali” celetuk rusa dengan lembut. Bahkan singa menjawab dengan sinis kepada semua hewan yang sedang mempersiapkan api unggun, “ah, seleramu buruk sekali rusa. Aku tak suka semua ini, aku bisa menyiapkan sendiri acara yang lebih mewah” singa itu semakin menjadi-jadi sombongnya.

Dengan sangat kecewa akhirnya rusa mengajak semuanya untuk bubar. Dengan suara lantang ia berteriak “jangan lagi memperdulikan singa sombong ini teman-teman. Mentang-mentang kaya, dia sudah lupa siapa dia sebenarnya. Dia sudah lupa sama kita” Akhirnya rusa, gajah, tupai, kuda, kura-kura dan angsa berhamburan menuju ke gubug masing-masing.

Lalu di hutan rimbun itu hanya tinggal singa sendirian. Dia diam. Tiba-tiba semut merah menghampirinya dari lubang di tanah dan berkata “singa, aku mendengarkan semuanya. Seharusnya kau tak seperti itu kepada teman-temanmu” Singa tetap tidak memperdulikan apa yang dikatakan semut merah. Singa merasa tak pelu siapa-siapa lagi karena dia sekarang sudah cukup kaya. Semua barang-barang berharganya ia letakkan di kantong putih yang ia gendong di punggungnya.

Tidak lama kemudian, terdengar suara air bah menghantam telinga. Rupanya banjir bandang melanda hutan tersebut. Semua hewan yang ada di hutan berusaha untuk menyelamatkan dirinya masing-masing. Ada yang naik ke pohon, ada yang mengikat dirinya ke pohon dan ada yang membuat pertahanan dengan lari tunggang langgang menuju perbukitan. Namun, singa yang satu ini sibuk menyelamatkan barang-barang berharganya. Ia lupa dengan banjir bandang itu justru akan menyeret tubuhnya jika ia tak segera menghindar. Akhirnya barang-barang berharga tersebut lenyap ditelan air bah bersama pemiliknya. Singa meninggal terseret arus banjir yang sangat dalam.

Ketika banjir sudah reda, jasad singa itu nyangkut di ranting pohon jati yang tumbang. Ia meninggal sambil memeluk kantong putih tempat barang-barangnya. Ketika kura-kura tahu, ia langsung memberitakan hal yang menyedihkan ini ke teman-temannya. Serentak semua berkumpul di sudut tempat jasad singa itu terkapar dingin. Mereka terlihat sedih lalu angsa putih itu berkata “teman-teman.. janganlah kita hidup seperti singa, ketika sudah menerima banyak kebaikan malah ia menjadi sombong” kemudian tupai menambahkan “iyaa.. kita tidak boleh sombong. Kita harus bisa berbagi kepada sesama karena berbagi itu hal yang indah untuk dilakukan” Mereka langsung mengubur singa di hutan rimbun itu dan mereka membagi-bagikan barang itu kepada yang membutuhkan. Semenjak itu, hidup hewan-hewan di hutan itu kembali bergembira dan lebih mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan.

1 Desember 2012

Keluarga Besar GMC

Niatnya langsung tidur untuk melepas lelah setelah seharian have fun dengan segala aktivitas yang rupanya sudah menjadi rutinitas. Di perkembangan jalan menuju pagi, yang ada malah begajulan via twitter. Ini sebenarnya efek rindu sama GMC. Graphic Mountain Climbers, organisasi ekstrakurikulerku waktu di SMK dulu. Share tentang kerinduan petualangan dan orang-orang di dalamnya membuatku tak bisa tidur dalam gelap. Aku harus menumpahkan semuanya, melalui twitt bahkan sampai pada tulisan ini.

Surga kecil malam ini datang tiba-tiba. Aku di telepon kakak kelas SMK, sekaligus senior mbolang bareng di organisasi pecinta alam dulu. Dia adalah mas Inod. Mas yang satu ini memang salah satu yang terdekat, sudah ku anggap seperti mas ku sendiri. Komunikasi kami tetap terjaga sampai sekarang. Dia selalu mengayomi adek-adeknya, apalagi aku pribadi sama dengannya. Tinggal di perantauan.

Satu hal yang menjadi nilai distinctive di keluarga besar GMC adalah para senior yang benar-benar mengayomi juniornya dengan sepenuh hati. Almost with smiley. Atmosfer kekeluargaan benar-benar tumbuh dan dikembangkan dengan baik disini. Senior, yang tak bisa ku sebutkan satu-satu namanya selalu mengajarkan hal ini. Selalu menjunjung tinggi value yang menjadi landasan kami. Juga terhadap seseorang yang menjadi bapak kami di keluarga ini. Beliau adalah Pak Rukhan, yang mengajarkan banyak pengalaman untuk bisa survive.

Mereka selalu support kalau ada event lomba yang berhubungan dengan passion kami disini. Sebut saja lomba climbing di Malang. Sampai sekarang aku akan slalu mengingat detail ini. Ketika diajarin climbing pasti secara reflek langsung memasukkan jari tangan ke lubang wall. Ntah karena apa, tapi aku memang sering melakukannya. Hal ini menjadi bahan becandaan teman-teman karena habbit seperti ini sebenarnya tidak bagus untuk menjadi seorang atlet wall climbing. Event di Jonggring Saloka yang menurutku paling memorable ketika aku masih SMK. Mereka sorak sorai berteriak untuk menyemangati juniornya, menyemangati almamternya untuk bisa mendapatkan kebanggaan.

Happy bareng-bareng, susah juga bareng-bareng. Dulu kami sering mbolang dengan cara gratisan. Hampir setiap minggu kami keluar, bercengkrama dengan ramahnya alam. Jika tidak, kami selalu berkumpul di sekolah setiap hari minggu.  Sering juga bantingan untuk beli makanan. Setelah itu dimakan rame-rame sambil hahahihihiiiii. Saling berbagi ilmu, pengalaman, canda, tawa, terharu dan rasa nanonano yang lain. Tempat yang paling seksi untuk kami di sekolah adalah perpustakaan. Disitulah keluarga besar kami sering berkumpul. Perpustakaan Grafika menjadi tempat struggling yang membentuk kami menjadi manusia yang (bisa) selalu peduli terhadap sesamanya. Area perpustakaan juga bertepatan dengan area wall climbing.

Ketika sekarang mengingat momen-momen itu, yang ada hanya senyum dua jari dan ingin mencoba mesin waktu untuk kembali ke momen itu. Spot mbolangnya sudah pasti alam raya yang dimiliki kota Malang. Sangat luas, indah tak berdetak. Coban Pelangi, Coban Glotak, Coban Jahe, Coban Rondo, Coban Manten, Coban Tengah, Gunung Panderman, Pantai Ngliyep, Kondang Merak, Modangan, Sendang Biru dan yang lainnya menjadi tempat tumbuhnya benih kehangatan keluarga besar GMC. Terlebih lagi, Panderman.  Satu tempat ini sepertinya mengandung banyak sejarah cerita yang jika diulang akan membuat pendengarnya kangen bertubi-tubi.

Selain itu ada satu momentum yang paling dinanti-nanti oleh keluarga besar GMC. Diklat Anggota. Momen ini dianggap paling sakral untuk kami semua. Cara dan pengalaman yang ada di dalamnya benar-benar hanya aku dapatkan disini. Ngebully dengan cara yang logis dan membuat kami lebih tough. Yang jelas, i feel free for this case. Glad it through it all. Momen ini sangat ditunggu, baik untuk junior yang baru masuk maupun untuk senior. Diklat itu menjadi semacam hajatan akbarnya GMC.

Banyak perubahan yang terjadi. Aku yang sekarang nyangkut di Jakarta dan yang lain menyebar luas di beberapa kota untuk mencari ilmu, pengalaman dan penghidupan yang tak berkesudahan. Ketika barusan ngobrol banyak dengan mas Inod, bernostalgia tentang yang lampau, rasanya waktu memang berjalan begitu cepat. Dan sekarang.. berjalan 4 tahun jauh dari GMC karena alasan klasik. Jarak.  Yaa, jarak itu kadang memang bikin ngelus dada (seperti pasangan LDR) hhee.. Tapi justru dengan itu feelnya lebih dapet. Prosesnya lebih terasa dan nikmatnya mbolang juga terasa sampai ke ulu hati.

           Ah.. Benar-benar merindukan kalian. Bukan sebatas rindu dengan orang-orangnya, tetapi juga rindu mbolang dan momen yang lainnya. Mbolang pas jaman itu lebih enak dan natural, apalagi kalau kami semua sedang dalam taraf bokek alias uang pas-pasan. Hhmm.. namanya juga masih anak SMK. Semua terasa lebih sederhana dan feel deeply.

Thank you mas Inod untuk surga kecil malam ini. Share planning for future life be the nice closing. See you there, Malang. Next, reach Sempu with the glory of GMC *hopefully*

Bahagia bisa tumbuh dan berkembang bersama kalian. Tidak bisa dipungkiri bahwa keluarga besar GMC menjadi saksi perjalanan panjang hidupku sampai di titik ini, ketika aku mengetik cerita ini.

Sedikit kutipan yang ku ambil dari ayat suci sansekerta Hindu, yang juga ditulis di gedung Parlemen India. sepertinya ini memang untuk kita semua. 

Ayam Nijah Paroveti Ganana Laghu Chetasaam. Udaara Charitaanaam tu Vasudhaiva Kutumbakam” Artinya “pemikiran yang sempit mengatakan ini adalah milikku, itu adalah milikmu, tapi pemikiran yang lebih luas akan mengatakan dunia ini adalah sebuah keluarga”  layaknya kita yang menjadi bagian dari keluarga besar GMC.