Tampilkan postingan dengan label Rupa Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rupa Cerita. Tampilkan semua postingan

20 April 2015

24

Thanks God, I’m officially 24 years old!
Terima kasih Tuhan atas kesempatan hidup dan tumbuh menjadi putri kecil dari keluarga Asmari, to be Ny. Isa Harianto, guru di sekolah terbaik SMKN 4 Malang, desainer muda, penari dan traveler yang luar biasa membahagiakan. Alhamdulillah.. Nikmat Tuhan mana lagi yang bisa saya dustakan hingga 24th ini terpampang nyata.

Pertambahan usia sejatinya bukan melulu bicara soal angka. Namun, lebih dari itu untuk bisa memaknai hidup dengan naiknya level angka. Tentu saya seharusnya bisa menilai, sejauh mana hidup saya berarti dan bermanfaat untuk manusia lain di bumi ini.

Doa-doa yang membanjiri SMS, Facebook, BBM, Instagram maupun yang langsung terucap di telinga sungguh luar biasa. Bukan kado mewah yang saya harapkan dari suami tercinta, keluarga, teman, rekan kerja bahkan murid-murid. Saya hanya ingin doa-doa tersebut bisa terlaksana dengan megahnya. Yaa, semoga doa-doa yang kalian panjatkan bisa benar-benar menjadi jalan hidup saya dan keluarga. Amin.
Foto ini diambil sebelum berangkat ngedate (20.04.15)
24, angka magic yang menuntut saya untuk bisa menjadi manusia yang luar biasa. Angka 2 dan 4 berjalan beringingan membentuk ritme khusus yang nilainya lebih dari sekedar bilangan prima matematika. 2 dan 4, angka genap yang merupakan kelipatan dari angka pertama dimana saya harus bisa menjadi wanita yang lebih tangguh dari, cerdas, sabar, rendah hati dan selalu haus akan ilmu pengetahuan. Saya harus terus belajar banyak hal.

Ketika 2 + 2 = 4, saya mengartikan secara khusus bahwa perjalanan hidup saya yang sebelumnya bisa membuat saya jauh lebih siap menapaki umur 24 tahun yang terpampang nyata di depan mata. Ini bukan akhir perjalanan tetapi justru menjadi awal yang bahagia untuk melanjutkan hidup yang penuh makna dan suka cita. Betapa tidak, baru kemarin (19.04.15) keluarga mungil saya melewati 2 bulan hidup berumah tangga.

Terima kasih telah menjadikan saya wanita yang mampu merangkap banyak tugas. Sungguh, saya bersyukur kepadaMu. Tuhanku. Saya sudah sangat berbahagia dengan jalan hidup saya yang sekarang. Namun, itu bukan berarti saya sudah mencapai target hidup yang saya tentukan. Kita sebagai manusia patut untuk selalu membuat rencana dan berikhtiar untuk mewujudkannya. 

Masih banyak mimpi yang harus saya raih. Menjadi dosen, memiliki rumah mungil dengan desain sendiri, memiliki Pajero Sport, merealisasikan pendirian Kayeskrim (kedai eskrim bernuansa vintage), usaha suami semakin dilancarkan, menjadi ibu kandung dari putra/i mungil saya nantinya dan tentu saja mengunjungi tempat-tempat exotis yang sudah ada dalam antrian kunjungan bersama suami dan anak-anak saya nantinya. Its called a true travelmate that I have.

Lets to keep dreaming dan doing many action to reach them. Ofcourse, with do travel around the world.

12 Agustus 2014

#Happy23

'Ini bukan tentang lebih tua, seumuran atau lebih muda. Ini tentang yang menyeimbangkan hidup dan yang bisa berjalan beriringan. Yang memberikan kedamaian di hati, kenyamanan di sisi dan kasih sayang tiada henti. Tentang tertawa bersama, saling mensupport, mendoakan satu sama lain, berbicara lepas tak terbatas tanpa berpikir ini pantas atau justru kelewat batas.
Ketika dunia begitu kejam, dia menjadi tempatmu untuk selalu pulang. Yang bisa membuatmu sangat sabar dan berusaha mengerti meski sulit. Menerimamu apa adanya meskipun terkadang kamu mungkin hanya seadanya. Wajah mungkin tak rupawan tapi kebersamaan dengannya itu menjadi sesuatu yang kamu yakin harus kamu perjuangkan.

Masa lalunya tidak kamu persoalkan karena tahu itu yang bisa membentuknya seperti sekarang. Kekurangan masing-masing adalah tugas bersama untuk belajar saling menerima dan memperbaiki diri agar menjadi lebih baik.

Tentang dia, yang kamu bisa ikhlas seumur hidup menjadi makmumnya. Juga membuatmu bangga menjadi ibu dari anak-anaknya'.

20 April 2014

Sekali Bertemu, Selamanya Menginspirasi

                 Sabtu, 19 April 2014 menjadi hari yang sangat dinanti-nantikan oleh banyak pasang mata manusia yang lahir dari SMT Grafika Malang atau yang saat ini popular dengan nama SMKN 4 Malang. Dari berbagai penjuru daerah, mereka datang ke Malang dengan satu tujuan besar yang dikemas dengan manis dalam acara “Sarasehan dan Temu Kangen Alumni SMT Grafika Malang” Acara ini pertama kali digelar oleh SMKN 4 Malang dimana waktu pelaksanaannya tidak jauh dengan hari jadi SMKN 4 Malang yang ke-76 yakni pada 7 April 2014 lalu. Oleh karena itu suasana acara masih sangat kental dengan sumringah ulang tahun grafika.

                Acara akbar ini dihadiri oleh alumni SMKN 4 Malang mulai dari angkatan tahun 1975 hingga 2005. Tak disangka, lebih dari 250 alumni datang dari daerah yang berbeda dengan wajah matang dan bahagia. Rindu yang bercampur dengan kebanggaan. Rindu dengan teman-teman seperjuangan saat masih duduk dibangku SMK. Tersirat dalam wajah mereka gelak bahagia ketika saling bercerita tentang kenangan manis menuntut ilmu di SMKN 4 Malang. Mereka bangga menjadi bagian dari sekolah percetakan tertua di Indonesia ini.
                Acara yang dikemas dengan ramah ini memang sejatinya digelar untuk mempertemukan alumni dari berbagai angkatan yang tentunya sudah sangat lama lulus dari SMKN 4 Malang. Dulunya, alumni hingga angkatan tahun 1996 masih bersekolah di Jl. Bengawan Solo yang saat ini menjadi SMPN 20 Malang. Barulah di bulan juni gedung SMKN 4 berpindah di Jl. Tanimbar No. 22 sampai saat ini. Dari acara ini diharapkan bisa terbentuknya ikatan alumni grafika karena eksistensi ikatan alumni cukup berpengaruh untuk menjadikan sekolah itu “besar”
                
Sarasehan dan Temu Kangen alumni ini dimulai dari pukul 09.30 hingga pukul 14.00 di Labana (Lapangan Serba Guna) SMKN 4 Malang. Diawali dengan pembukaan, lalu sajian musik keroncong, sambutan dari ketua pelaksana (Drs. Burhanudin), Kepala Sekolah SMKN 4 Malang (Drs. H. Wadib Su’udi, MM), mantan guru dan alumni. Khusus untuk sambutan mantan guru diwakili oleh Bpk. Ispan Darmo Aji, guru bersahaja yang dirindukan banyak muridnya dan sambutan alumni SMKN 4 Malang diwakili oleh Bpk. Gentur Yektiaji, alumni tahun 1987. Selanjutnya digelar talkshow dengan narasumber Bpk. Gentur Yektiaji, Siswadi Siswo Pranoto dan Bpk. Agus Suryo yang kesemuanya merupakan alumni SMKN 4 Malang sendiri. Mereka mencapai titik kesuksesannya saat ini dimulai dari sekolah ini. Setelah talkshow, acara dilanjutkan dengan pembentukan Ikatan Alumni Grafika Malang. 
Harapannya banyak hal yang bisa dilakukan setelah ikatan alumni ini terbentuk, misalnya bakti social, pembuatan usaha, swadaya pengumpulan dana untuk pembangunan sekolah yang lebih baik dan masih banyak yang lainnya.  Tentu saja kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan bisa bermanfaat, baik untuk para alumni maupun untuk institusi SMKN 4 malang itu sendiri sehingga setiap pertemua dari para alumni akan menghasilkan mahakarya yang bermanfaat untuk sekitarnya, bukan hanya sekedar bertemu untuk melepas rindu. Tak lupa juga, dalam kesempatan ini panitia acara mencoba menghidupkan kembali Mars Grafika yang dinyanyikan bersama menggunakan iringan musik. Terlihat jelas bahwa acara ini sangat berkesan untuk dan dari Grafika itu sendiri.

                Dari seluruh rangkaian acara ini terdapat satu poin yang penting untuk dicermati. Success Story. Para alumni yang datang sudah menunjukkan kepada kita semua bahwa lulusan SMKN 4 Malang tidak hanya duduk di operational skills. Namun mereka menunjukkan banyak yang sukses itu justru dimulai dari bersekolah di SMKN 4 Malang. Kesuksesan-kesuksesan tersebut lahir dari SMKN 4 Malang. Sesuai dengan tema yang diusung kepala sekolah SMKN 4 Malang untuk acara temu kangen alumni kali ini,  “Sekali bertemu, selamanya menginspirasi” Misalnya Bpk. Gentur Yektiaji (1987) yang saat ini menjadi pengusaha di bidang arsitek, Bpk. Sudadi (1979) yang menjadi supervisor di PT. Gramedia Percetakan, Bpk. Hubro (1990) sebagai Branch Manager di PT. Temprina Media Grafika Malang, Bpk. Siswadi Siswo Pranoto (1998) sebagaiDirektur Utama PT. Rekayasa Perangkat Lunak, Bpk. Gusti Ngurah Alit (1983)  sebagai Direktur PT. Percetakan Bali, Bpk. Eko Nanang Subagio (1988) sebagai Polri, Bpk. Totok Iswanto (1979) sebagai Kepala Seksi PAUD Diknas Jawa Timur, Bpk. Pieter Sahetian (1980) sebagai Rektor Universitas Kanjuruhan Malang, Mayor Hadi (1979) sebagai militer di Angkatan Udara, Bpk. Agus Suryo (1994) sebagai General Manager PT. Temprina Jawa Pos Group. Poin ini sangat penting untuk terus diregenerasikan ke siswa-siswa SMKN 4 Malang agar mereka memiliki mental yang tangguh untuk mencapai kesuksesan yang mereka inginkan.  
Ada seseorang yang pernah bilang, Gantungkan cita-cita itu setinggi langit, jika sudah maka perbanyak usaha untuk bisa meraih titik tertinggi itu dengan ilmu dan usaha yang cerdas. Bukan hanya usaha yang keras. Harapan besarnya adalah success story ini mampu menginspirasi siswa-siswi SMKN 4 Malang untuk terus melakukan yang terbaik agar keberadaan mereka bisa bermanfaat untuk lingkungan sekitarnya.

7 November 2013

#RIP Sahabat Penuh Ketenangan

Sudah lama sekali rasanya saya tertidur di beranda. Tak pernah mengurai cerita atau hanya sekedar mengunjungi tempat berekspresi di blog ini. Banyak perjalanan dan kisah petualangan yang rupanya tak sempat terpampang untuk dibaca. Semuanya masih berdiam dalam sebuah realitas yang dinamakan dengan ide semata. Banyak judul yang sudah dipilih, juga rangkaian diksi yang sengaja ditata sederhana tapi tak urung cerita perjalanan tersebut masih saja tersendat oleh banyak hal. Kadang, ada kalanya sudah merasa puas berjalan tanpa harus ada yang didokumentasikan atau justru karena kesibukan yang membuat banyak tulisan mangkir di jalan.

            Momentum kali ini, yang ingin saya lakukan hanyalah mengurai kenangan. Yaa, semua memang sudah menjadi kenangan. Tentunya menjadi kenangan yang terlalu manis untuk dilupakan bersamamu sahabatku, Priyo Nugroho.

Kami semua kehilangan kamu. Rasanya baru kemarin kita saling kenal. Dan kota Jember adalah titik dimana perjalanan itu dimulai. Kamu adalah pria baik yang sangat sopan dan menghormati perempuan, seiring dengan kalimat singkat yang sering kau ucap “aku ingat ibuku” Berapa banyak kenangan yang kamu tinggalkan untuk kami? Bahkan dalam jumlah hitungan pun mayoritas berada dalam lingkup kebaikan. Tuhan sangat menyayangimu sehingga kau diambil lebih dulu. Tepat 4 November 2013, kabar itu sampai di telingaku. Kamu pulang dengan jalan yang tak diduga oleh siapapun. Kecelakaan di kota Pasuruan membuatmu meninggalkan kami semua, yang mencintaimu.

Rasanya baru kemarin kita ketemu untuk pertama kalinya. Ntah awalnya dimulai dari mana, yang pasti pertemuan itu menjadikan kita sahabat yang tak termakan jarak. Saya masih ingat, saat itu bulan Mei. Dengan beberapa teman yang lain kita habiskan satu malam di rumahmu, sambil menengok malam di Alun-Alun kota Batu. Usai itu, kita pilih kuliner yang beragam, kekenyangan dan pulang lagi ke rumahmu di daerah Bumiaji, Batu. Masih tak puas dengan itu, kamu sengaja membuat tahu goreng favoritmu untuk kami yang sedang main kartu tanpa aturan. Yaa, salah satu keahlian kamu memang memasak. Dan kami semua mengakui bahwa masakanmu tak kalah enak dengan koki layaknya para wanita, Priyo. Esoknya, pagi-pagi sekali kita langsung menantang hawa dingin dengan bersepeda ke Cangar.

Kamu adalah pria penuh ketenangan, kalem dan sangat rapi. Kamar kosmu adalah salah satu bukti yang mengatakannya. Dari sekian banyak teman pria yang sama-sama ngekos tapi kamu adalah sang juara kalau soal kebersihan, layaknya anak perempuan yang sangat rapi. Itu juga kan alasan banyak teman-teman kita suka banget main ke kosanmu untuk sekedar mengisi waktu luang atau bahkan sengaja menginap dengan alasan segudang tugas kuliah. Saya masih ingat, kamu sangat bersemangat ketika lagu Avenged Sevenfold mulai saya mainkan dari komputer di kamar kosmu. Aaah.. Priyo, kangen makan sate langganan kamu di bundaran jalan jawa. Saya masih ingat, waktu kita saling tanya makanan favorit. Dan sate adalah makanan top buat kita. Kamu dengan berseri-seri bilang ”Kaaaa.. sate disini enak” Yaa, lumayan. Kamu juga tak salah ngasih nilai ke abang sate itu.

Pasti banyak yang merasakan kepergianmu. Kita sama-sama tau, namamu sudah beken di kalangan perempuan di kampus. Kata mereka, kamu itu charming Priyo. Yaa, jadi ingat dulu... selepas dari Batu, salah satu teman bercerita kalau kamu lagi dekat dengan maba. Kamu pun sering curhat soal itu. Ada beberapa nama perempuan yang slalu kamu sebut dalam setiap celotehmu. Waktu JFC 2011, kamu pun dikunjungi salah satu fans berat dari Malang dan akhirnya kita nonton sama-sama di tengah lautan manusia. Masih penuh tawa.

Sahabat, rasanya kangen jalan bareng-bareng. Ingat kan.. Tahun lalu, kamu ikut event akademis yang akhirnya menuntunmu untuk singgah di Jakarta. Tinggal di asramaku untuk beberapa hari dan berkelana singkat disini. Di suatu siang, kamu menungguku di perpustakaan Paramadina cukup lama. Dengan tenang kamu membaca beberapa buku disana, tanpa marah menungguku yang masih terbelenggu jam kuliah. Setelah itu, saya sengaja mengajak beberapa teman kuliah untuk kuliner ke BlokM. Kamu pun tanpa banyak minta menikmati makanan yang kita pesan rame-rame. Saya sengaja mengajak mereka agar kamu juga mengenal teman-temanku disini. Lalu malamnya kita habiskan waktu di Skydining. Hhmm, saya jadi ingat satu hal Priyo. Belum sempat mengantarmu ke Bogor untuk bertemu kerabatmu itu. Maaf yaa..

Kamu masih ingat juga kan, waktu kita masak-masak di rumah Yink buat makan malem. Belanja malem-malem ke Pasar Tanjung sesuai dengan pesananmu. Semua teman-teman kita bilang ”Priyo aja yang masak..!” Roomiiee, Mbakdee, Edwin, Mas Rafli, Ayiep, Unyil Risa, Rezel, Yink, Nia, Happy, Bunsasha, Ipuls, Maya dan masih banyak yang lain tau masakanmu memang menggoda bagi kami anak-anak kos.
Priyo, diambil dari profile picture twitternya
Priyo, terima kasih telah banyak membantuku selama aku ke Jember. Menemani, mensupport, bahkan kamu juga membantu temanku yang sama sekali belum kamu kenal. Saat JFC 2012, kamu dengan lapang membiarkan mereka untuk tinggal bareng di kosanmu. Dan akhirnya beberapa hari selanjutnya, kita beres-beres kamar karena kamu dapet kontrakan baru. Bukan lagi kamar, melainkan rumah yang jaraknya lebih jauh dari kos sebelumnya menuju kampusmu. Pindahan rame-rame rasanya menyenangkan yaa.. Kemarin pun saya memberikan kabar tentang kepergianmu ke beberapa teman disini yang mengenalmu. Mereka semua terkejut, Priyo. Mereka juga kehilangan.

Pertama kali mendengar kabar kepergianmu yang dikarenakan kecelakaan, saya langsung teringat perjalanan kita dari Jember ke Malang, Juni 2012. Saat itu saya sedang mengikuti Ijen Festival, event yang menyatukan para traveller dari seluruh dunia di kaki gunung Ijen. Event tersebut sungguh luar biasa menurut saya. Diadakan di kota kecil, yang bertetangga dengan kota Jember. Bondowoso. Hhmm.. Sepertinya lebih baik cerita soal Ijen Festival dikupas di episode yang lain saja yaa.

Kali itu, saya tidak ingin singgah di Jember seusai Ijen Festival digelar. Mengapa? Karena ada sedikit masalah rumit saja. Padahal jarak dari Bondowoso ke Jember hanya 30 menit. Banyak teman yang menyuruh saya mampir, meski sebentar. Tapi saya tetap saja tidak mengiyakan. Dan siang itu, teleponku berdering. Kamu masih sama seperti yang lain, menyuruhku singgah di Jember. Dengan banyak cara kamu mengajakku lewat obrolan-obrolan yang berupa nasehat. Sampai kini ku ingat dengan jelas. Dengan tenangnya kamu meyakinkan bahwa banyak teman yang menungguku disana. Jangan hanya karena satu makanan pahit yang disajikan, kamu juga akan menolak makanan manis yang diberikan dengan suka cita. Yaa, inilah nasehatmu yang ku bahasakan sendiri menurut persepsiku. Akhirnya saya benar-benar memutuskan dari Bondowoso untuk ke Jember dulu. Priyo menjemputku di terminal Patrang malam itu.

Agenda saya, maunya besok langsung melanjutkan perjalanan ke Malang. Namun, Priyo justru langsung menolak tanpa ajakan. Ia sengaja mengajak saya untuk pulang bareng ke Malang. Tentunya bukan besok karena masih ada beberapa urusan yang harus ia selesaikan. Akhirnya saya bisa berkumpul dengan teman-teman yang ku rindukan disana sampai besok malam. Keesokan harinya, dari Jember saya pulang bersama Priyo ke Malang. Ba’da subuh naik motor dari tempat dimana ia menuntut ilmu di akhir hayatnya. Saya masih ingat waktu kamu mencoba meyakinkan agar saya mau pulang bareng dengan berkendara di pagi buta. Jujur saja, itu adalah pertama kalinya saya otw Jember – Malang via motor, meski hanya dibonceng. Dan itu dengan kamu, sahabatku. Excited, itulah yang saya rasakan karena kamu pun tau travelling adalah hobi permanen saya.

Saat saya tau kepergianmu karena kecelakaan, rasanya ada yang bergemuruh di hati. Bayangkan saja, kita pernah melakukan perjalanan itu bersama. Rangkaian cerita ini sungguh kelu jika diingat kembali. Semuanya akan teringat dengan jelas di hati, sampai kapanpun. Mengunjungi pusaramu kemarin, hanya ada bunga putih yang menghiasi. Saya nggak tau kenapa hanya ada bunga putih. Tapi ingin rasanya menaburkan bunga warna-warni agar pusaramu terlihat lebih ceria. Lebih bersemangat. Meski mungkin keinginan ini terlihat aneh untuk orang lain.

Selamat jalan Priyo..
Banyak kebaikan dan kenangan manis yang kau tinggalkan. Tanpa ada goresan luka di hati kami, sahabat-sahabat yang akan slalu mendoakanmu dari sini. Bahkan kepergianmu juga yang kini membangunkanku, menggerakkan hati dan tanganku untuk menulis lagi dari absen panjang beberapa bulan. Rasanya belum puas bersua tapi Tuhan sudah mengambilmu terlebih dulu. Padahal baru kemarin juga kamu ngajak ke Jogjakarta cuma buat travelling sembari hunting buku untuk bekal skripsimu. Baru saja kau mulai berpetualang dengan gregetnya ngerjain skripsi di semester IX perkuliahan. Priyo, kau pasti juga sudah tau betapa keluargamu sangat mencintaimu. Kau adalah putra kebanggaan ibumu. Dengan muka sendu beliau bercerita bagaimana bangganya memiliki putra sepertimu. Baik, penuh kasih, slalu menerima dan tak banyak minta. Beliau menyadari, semua sudah digariskan olehNya. Hanya doa yang akan diagungkan agar kau bahagia disana. Saya yakin, saat ini kamu pun bisa tersenyum disana seperti yang selalu kamu lakukan semasa hidupmu.

Pasti saya akan merindukan moment-moment saat kita berkumpul, saling ejek,  bercanda dan melakukan banyak hal bersama-sama. nggak ada lagi yang akan menemaniku pesan oreo smurf  di pujasera dekat alun-alun Jember. Itu kan minuman favorit kita disana.

Mungkin hari ini kita gak ketemu, semoga di lain waktu dan tempat kita bisa bertemu kembali. Selamat menikmati kota Batu J  Kalimat terakhir darimu ini sungguh membuat pilu. Mungkin saat kamu ngetwitt pesan terakhir ini, kamu sengaja ingin memberikan pertanda kepada orang-orang yang selalu merindukanmu. Kelak disuatu hari, kita akan berkumpul lagi di alam yang sudah dijanjikan Tuhan.

26 Januari 2013

Satu Sinergi



"aku bahagia karena kamu, aku seperti ini juga karena kamu 
dan aku suka dengan diriku yang seperti  ini"
Sebuah pesan singkat yang masuk ke handpone malam itu,

Sebenarnya bukan karena  aku atau kamu
Namun, memang karena kita yang sudah bersinergi jadi satu
Bukan kata 'satu', aku atau kamu

Bahagia harus muncul dari diri sendiri
Agar kita sama-sama lebih kuat
Bukan karena aku atau kamu yang membuatnya secara pribadi
Bukan pula kata 'sendiri' yang jadi melekat


Yang aku yakini..
Tuhan mengirimkan bahagia itu lewat aku dan juga  kamu
Lalu, rasa itu kita cerna  bersama-sama dalam waktu
Itu saja

Semoga kita menjadi pribadi yang lebih berkualitas, Amin..

17 Januari 2013

Menjadi Sederhana

Selamat malam sayang, semoga suka dengan bentuk surga kali ini. Aku tahu pasti kamu bacanya waktu malem-malem, di kamar kos yang paling nyaman sambil senyum-senyum sendiri. Tempat dimana kamu bisa bertemu aku setiap hari dan bisa memelukku erat-erat sampai pagi datang lagi sambil bercerita tentang masa depan, tentang rumah mungil kita, tentang keluarga mungil yang akan dipenuhi canda tawa anak kita yang cerdas nantinya.

Aaaah, setiap hari aku semakin mencintaimu. Mencintai caramu, mencintai semua yang ada padamu. Juga tentang kesederhanaanmu memperlakukanku. Ini adalah rasa sayang yang ku ungkapkan lewat tulisan. Bukankah menulis merupakan jalan menuju keabadian seperti kata RA. Kartini dulu. Aku masih terus mengingatnya.

Cintamu membuatku terus menulis. Dan cintamu juga yang membuatku terus (dan akan) baik-baik saja. Tulisan-tulisan ini juga yang nantinya akan kita ceritakan kepada si kecil kalau dulu ayah dan ibunya pernah dan akan terus saling jatuh cinta seperti sekarang ini. Aku tiba-tiba membayangkan suatu hari kita akan selalu menyambut senja jingga dengan saling bergandengan tangan. Menghabiskan malam panjang hanya dengan satu dekapan hangat di balik selimut tebal. Satu-satunya dekapan mesra yang pernah ku rasakan. Hanya satu dan itu milikmu.
 ***
Hari ini Jakarta hujan sederas-derasnya. Setelah beberapa hari ini cuaca dingin hingga kipas angin di kamar tidak lagi berfungsi. Smurf pun tak mau kalah, dia sangat nyaman dengan jaket orange kesayanganku. Rupanya dia sama sepertiku dan juga teman-teman di asrama ini. Udara sangat dingin menggigil dan air pun seperti es yang mencair untuk ukuran Jakarta. Sejenak aku berpikir, dinginnya Jakarta yang seperti ini membuatku merasa seperti berada di Malang.
 Setelah telepon kita semalam itu, air datang lagi dari langit. Deras. Yaa, sangat deras sampai petir bersahut-sahutan untuk berpaduan suara menunjukkan siapa yang paling jago. Teringat ketika tahun baru kemarin ketika teman sekamarku bilang “semua petasan dan kembang api meluncur ke langit lepas menunjukkan keindahannya" Seperti jalur Gaza yang tiba-tiba hadir di Indonesia. Suara di telinga hanya dipenuhi oleh gelegar petasan menyambar kesana kemari. Tapi aku suka. Itu adalah momen tahun baru yang paling klasik. Hanya berdiam di kamar sambil menunggu teleponku berdering. Lalu ketika diangkat, hanya suaramu yang ada disana. Seolah-olah backsound petasan dan kembang api itu kian menciut dihantam suara bahagia kita berdua.

Seperti pagi-pagi yang sebelumnya, kita saling menyapa hangat via sms atau telepon singkat. Selamat pagi sayang. Selalu ada kata semangat di belakangnya yang diikuti obrolan kecil lainnya. Rasa kangen hampir tak pernah absen mengisi hari-hari kami. Sederhana tapi memikat. Bersamamu membuatku merasakan bahagia yang sebenar-benarnya. Karena tak mau jika ini hanya sekilas datang atau hanya seperti di negeri dongeng dimana semua orang pasti bahagia kekal, aku pun sering bergumam sendiri “inikah bahagia yang sebenarnya?” Rasa syukur itu tak jauh dari doa-doa selanjutnya yang selalu dilantunkan hanya untuk sang pencipta. Aku sadar bahwa semua ini adalah titipan sehingga aku harus selalu mensyukuri nikmat yang sudah diberikan. Tuhan bisa mengambil milikNya kapan saja sehingga aku harus selalu melakukan yang terbaik untuk kita selagi masih bisa.

 Bersamamu, aku menjelma menjadi gadis kecil manja yang minta dipijit ketika kakinya sakit setelah bermain lama-lama. Menjadi remaja manja yang minta dipeluk setelah lelah beraktivitas seharian. Dan juga menjadi wanita dewasa yang selalu membersihkan rumah kita dengan riang nantinya, yang selalu membuatkanmu sarapan setiap pagi setelah membangunkanmu dari tidur pulas semalaman. 

Aku ingin menjadi sebaik-baiknya wanita agar kau bahagia dan bangga. Menjadi teman, adik, sahabat, istri dan ibu yang terbaik untuk keluarga mungil kita nanti. Meski aku suka ngambek seperti anak kecil yang merengek minta dibelikan permen, tetapi kau tetap sabar menghadapiku. Kau memberikan kasih itu tanpa jeda. Tidak seperti hujan kali ini yang ada redanya, tapi sayangmu tidak. Terima kasih sayang sudah mengajarkanku banyak kesederhanaan.

Bersamamu membuat hidupku tidak rumit. Planning masa depan terlihat sangat rapi. Tetap sederhana kau menemaniku merajut mimpi-mimpi yang belum terwujud. Dengan sederhana, kita bersama-sama meniti jalan setapak untuk cita-cita. Sambil menata hidup yang lebih baik, kita selalu beriringan untuk saling meyakinkan dan terus menguatkan. Banyak yang menunggu kita disana. Termasuk Ranu Kumbolo dan sekawanan surga indah yang lain milik sang pencipta.

Bahagia menjadi bagian hidupmu. Bahagia menjadi milikmu sayang. Dan tentunya, aku juga sangat bahagia bisa berbagi surga dan menciptakan surga-surga itu bersamamu seperti candle light dinner kita yang selalu dilakukan dengan makan es krim berdua. Pada akhirnya aku yakin bahwa cinta yang sederhana akan menghasilkan energi yang luar biasa. Sederhana itu bagian dari kita.

11 Januari 2013

Karena Saya SMK

Agar mampu berperan dalam persaingan global, sudah selayaknya perlu mengembangkan dan meningkatkan sumber daya manusia. Peningkatan mutu sumber daya manusia merupakan kenyataan yang harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif dan efisien dalam proses pembangunan guna menghadapi era globalisasi. Maka dari itu pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam proses peningkatan mutu sumber daya manusia karena pendidikan yang bermutu akan menghasilkan sumber daya manusia yang bermutu pula. 

Pendidikan adalah salah satu modal yang harus dimiliki oleh setiap individu untuk meraih kesuksesan dalam hidupnya, tidak terkecuali para remaja. Baik dari kalangan menengah ke atas maupun ke bawah, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk Indonesia diusia produktif yaitu antara umur 15-45 tahun. Tentunya jumlah tenaga kerja semakin bertambah besar. Jika tidak dibarengi dengan peningkatan sumber daya manusia dan lapangan pekerjaan, maka tingkat pengangguran dari penduduk usia produktif akan meningkat. Kondisi yang perlu mendapat perhatian dari pemerintah adalah masih rendahnya minat peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini bisa dikarenakan faktor ekonomi keluarga yang masih rendah sehingga para lulusan SLTP terpaksa bekerja untuk membantu mencari nafkah.

Sebagian besar siswa yang tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi juga dikarenakan terbatasnya sarana pendidikan SMA yang ada. Akses pendidikan yang ada di kota-kota besar biasanya lebih terbuka dan maju daripada di daerah-daerah. Mereka yang dapat melanjutkan ke SMA hanya sebagian kecil. Artinya sebagian besar akan sulit mendapatkan pekerjaan karena pendidikan yang mereka tempuh sebelumnya adalah Sekolah Menengah Atas (SMA). Siswa SMA semestinya harus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (universitas) karena mereka tidak disiapkan untuk bekerja sehingga tidak mempunyai keterampilan. Dari tahun ke tahun angka penganguran selalu naik, khususnya yang berasal dari lulusan SMA yang tidak mampu melanjutkan ke jenjang universitas.

Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan belum dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu faktor penyebabnya adalah ketidaktepatan sarana pendidikan yang tersedia dan minimnya sarana pendidikan yang ada. Oleh karena itu perlu dikembangkan sarana pendidikan yang dapat memberikan bekal keahlian dan keterampilan yang pada akhirnya dapat memberikan manfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Terkait dengan kondisi tersebut maka Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memberikan alternatif solusi dengan memberikan bekal kompetensi yang dapat dipakai dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan berbekal kompetensi yang dimiliki ini, siswa diharapkan mampu menghadapi kehidupan dengan lebih baik sebab mereka memiliki ketrampilan yang dapat digunakan untuk bekerja. Namun, yang penting adalah bahwa bersekolah bukan semata-mata untuk mencari pekerjaan melainkan juga sebagai bekal untuk dapat menciptakan pekerjaan sendiri. Baik untuk dirinya dan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Siswa yang bersekolah di sekolah kejuruan dipersiapkan sedemikian rupa dengan berbagai keterampilan sesuai bidang yang dipelajarinya. Mereka akan mendapatkan pembelajaran teknik di bengkel khusus (laboratorium untuk praktek ilmu kejuruan) sekolah dengan melakukan kegiatan-kegiatan keterampilan secara langsung. Dengan bekal inilah, siswa yang sudah lulus dapat menerapkan keterampilannya dan tidak perlu mencari pekerjaan sebab pekerjaan itu sebenarnya sudah ada di dalam dirinya.

Sayangnya keunggulan kompetensi SMK ini sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Adapun masalahnya antara lain kurangnya peminat karena tingkat awareness yang masih rendah. SMK cenderung memiliki banyak asosiasi negatif sehingga menimbulkan persepsi yang buruk di kalangan masyarakat Indonesia. Pertama, kurangnya kepercayaan masyarakat akan kompetensi akademisnya. SMK masih terkesan sebagai tempat belajar kedua setelah SMA, stereotype masyarakat menyebutkan bahwa siswa yang masuk ke SMK berasal dari kalangan keluarga menengah ke bawah. Siswa-siswa SMK juga dianggap sebagai anak yang nakal dalam pergaulannya. Dalam hal ini, orang tua sangat berpengaruh dalam mendorong minat siswa untuk melanjutkan studinya ke SMK karena pada usia tersebut karakteristik siswa lulusan SLTP masih belum terbentuk. Mereka masih tergolong labil dan masih mencari identitasnya.

Adapun SMK yang sudah ada, setiap institusi SMK tersebut tidak saling berintegrasi untuk mewujudkan tujuan general SMK secara utuh tetapi mereka masih berdiri sendiri-sendiri dan terkotak-kotak pada kompetensi masing-masing. Hal ini didasarkan pada jurusan, kurikulum atau kultur yang tidak sama dari setiap SMK sehingga penulis juga berkeinginan untuk menyatukan tujuan general SMK di Indonesia dalam satu payung besar di bawah Direktorat Pendidikan Menengah dan Kejuruan.

Fenomena di atas menimbulkan keprihatinan yang cukup besar akan rendahnya angka siswa lulusan SLTP yang melanjutkan ke SMK. SMK tidak hanya mengajarkan pengetahuan layaknya sekolah lanjutan SMKA tetapi SMK juga mengajarkan siswa tentang ketrampilan dan kemandirian dimana kedua hal tersebut sangat dibutuhkan dalam dunia kerja saat ini. Untuk itu keberadaan keberadaan SMK mampu menjawab kebutuhan dunia kerja dan masyarakat luas.

6 Januari 2013

10 hari dalam pelukan

Rupanya menunggu dalam waktu dua bulan itu lumayan terasa. Menunggu pulang, menunggu bertemunya banyak manisan hidup di sisi yang lain. Bukan soal akademik, pekerjaan atau hiburan. Namun, itu semua soal hati dan kebahagiaan yang terus dihibahkan untuk diri. Seperti kata salah satu teman, “nggakpapa puasa dulu. Puasa kan nggak selamanya. Pasti ntar ada lebarannya” Kalimat ini seperti memberi nutrisi tersendiri ketika mengingat dua bulan itu cukup lama.

Menuju 2013, aku kembali ke Malang. Ke dalam pelukan orang terkasih dan hanyut dalam bahagianya. Sampai-sampai banyak agenda yang sengaja diskip hanya untuk menjadikan hari-hari terasa quality time. Dari Jakarta menuju Surabaya, merasakan perjalanan dengan suka cita. Melebihi biasanya. Packing sebelum berangkat pun terasa lebih menyenangkan daripada sebelumnya. Turun di stasiun Gubeng, aku melanjutkan lagi naik bis ke Malang karena tiket Penataran, kereta Surabaya – Malang sudah habis pagi itu. Aku memutuskan untuk menggunakan bis dengan asumsi agar lebih cepat sampai rumah. Horehoree, hari ini aku bertemu seseorang. Kekasihku.

Pagi-pagi aku dijemput di terminal Arjosari. Kaku, iyaa. Setelah beberapa bulan nggak ketemu, rasanya komunikasi via telepon itu cukup menjadi solusi terbaik kami. Namun, setelah tiba di rumah semuanya normal kembali. Aaah, senangnya. Akhirnya bertemu semua yang ku rindukan. Keluarga, kamu, kota kita dan banyak preferensi yang kebetulan banyak samanya.

Jum’at itu (21 Desember 2013) adalah hari yang dirancang Tuhan untuk kami. Bertemu surga pertama ketika singgah di Malang. Alhamdulillah.. bapak, ibu, adek, keluarga besar dan juga kamu sehat terjaga. Hari itu aku mendapatkan senyuman rindu terbaik di bulan desember. Mereka semua merindukan putrinya, merindukan kakaknya, merindukan pacarnya dengan caranya sendiri.

Setiap hari kami bertemu. Yaa.. setiap hari tanpa terkecuali. Quality time kami dilakukan dengan banyak cara yang menurut kami memberikan manfaat di keduanya. Damai, tenang dan tentu saja menyenangkan. Lebih banyak waktu itu kami habiskan berdua di ruang tamu, duduk bersebelahan sambil menikmati rintik hujan. Aku bisa bilang bahwa bulan desember adalah bulan hujan. Tapi aku suka karena hujan itu menemani kami.

Makan angsle bareng, makan sate bareng, nonton, jalan-jalan ke Batu, lihat bukit bintang, makan eskrim, silaturahmi ke teman-teman kami berdua menjadi pengisi hari-hariku di sisinya. Hal yang paling menyenangkan, kami juga silaturahmi ke keluarga besar yang berbeda. Seutas pemikiran lahir di kala itu, sepertinya aku adalah orang yang paling bahagia.

Ada kalanya aku menjadi orang yang menyebalkan, menyenangkan, membingungkan, manja, dan lain-lain ketika bertemu. Dia.. yang selama ini mengisi hati dan tak akan pergi. Pencarian sudah terhenti di satu titik. Dan cuma kamu pemilik titik indah itu.
Sepuluh hari menghabiskan waktu bersama. Terima kasih sayang.. Semoga semuanya terjaga karena kita tahu, semua tinggal menunggu masanya saja. Semua akan indah pada waktunya. Sempat terbesit bahwa tinggal disini saja lebih terasa ronanya. Namun, aku tahu ada tugas dan tanggung jawab yang harus ditunaikan. Aku selalu mencintai caramu yang selalu mensupportku untuk terus berkarya sesuai passionku. Meski aku tahu ada sendu di hatimu ketika mengingat waktu di Malang tinggal sebentar tapi kamu selalu berkata, “Semangat sayang.. lanjutkan terus cita-citamu” Membangun kepercayaan dan komunikasi yang baik menjadi pondasi kuat kami untuk terus belajar. Belajar dalam segala hal. termasuk belajar agar kita tidak saling mengecewakan.

Banyak hal yang membuatku semakin dan semakin. Proses panjang itu berbuah manis dan bervitamin. Kita yang menanam, kita juga yang memanen. Banyak surprize yang berbentuk kado yang selalu kamu berikan setiap harinya sebelum aku balik ke tanah perantauan. Sampai di hari itu kita sama-sama sadar, aku harus kembali. Kembali lagi ke Jakarta untuk belajar banyak arti kehidupan yang sesungguhnya.
Thank you for this Smurf
Sore itu, hari kesepuluhku di kota Malang, kau melepasku pergi di stasiun Kota Baru. Rasanya sirine tanda kereta akan segera berangkat itu menjadi bunyi yang suram. Bunyi tanda dimana perpisahan akan terjadi sebentar lagi. Tapi aku sangat bahagia, perjalananku sore itu kau beri pemanis natural yang kamu miliki. Surprize lagi.

Terima kasih Tuhan untuk segala rasa yang sudah diberikan. Terima kasih pembelajar yang sebelumnya karena kalian sudah mengantarkanku untuk merajut keindahan hidup yang selanjutnya. Sudah pernah jatuh bukan berarti tidak bisa mendaki lagi. Justru sekarang tidak ada yang bisa dilakukan kecuali mendaki lagi dengan cara yang sudah direvisi oleh pengalamannya. Kita sama-sama tahu bahwa kita berdua adalah orang terpilihNya, yang semoga memang berbeda dari yang sebelumnya. Bersamamu membuatku semakin bersyukur setiap harinya karena Tuhan juga selalu melipatgandakan nikmatNya untuk kita.

Sampai jumpa di Jakarta sayang. Sesuai dengan janji penyemangatmu, Maret esok kita akan bertemu lagi. Disini. Biarlah rindu ini jadi bagian dari kisah kita yang memang tak akan bisa dihapus. Semangat untuk menjalani bulan Januari hingga Februari yang akan berlalu penuh tantangan dan penentuan masa depan. Ingat tagline kita berdua yang sepertinya lebih cocok jika diekspresikan dengan bahasa Cina Surabaya. Dengan logat khasnya, aku senang bilang.. Semangat sayang. Ika-Isa! :)

1 Desember 2012

Keluarga Besar GMC

Niatnya langsung tidur untuk melepas lelah setelah seharian have fun dengan segala aktivitas yang rupanya sudah menjadi rutinitas. Di perkembangan jalan menuju pagi, yang ada malah begajulan via twitter. Ini sebenarnya efek rindu sama GMC. Graphic Mountain Climbers, organisasi ekstrakurikulerku waktu di SMK dulu. Share tentang kerinduan petualangan dan orang-orang di dalamnya membuatku tak bisa tidur dalam gelap. Aku harus menumpahkan semuanya, melalui twitt bahkan sampai pada tulisan ini.

Surga kecil malam ini datang tiba-tiba. Aku di telepon kakak kelas SMK, sekaligus senior mbolang bareng di organisasi pecinta alam dulu. Dia adalah mas Inod. Mas yang satu ini memang salah satu yang terdekat, sudah ku anggap seperti mas ku sendiri. Komunikasi kami tetap terjaga sampai sekarang. Dia selalu mengayomi adek-adeknya, apalagi aku pribadi sama dengannya. Tinggal di perantauan.

Satu hal yang menjadi nilai distinctive di keluarga besar GMC adalah para senior yang benar-benar mengayomi juniornya dengan sepenuh hati. Almost with smiley. Atmosfer kekeluargaan benar-benar tumbuh dan dikembangkan dengan baik disini. Senior, yang tak bisa ku sebutkan satu-satu namanya selalu mengajarkan hal ini. Selalu menjunjung tinggi value yang menjadi landasan kami. Juga terhadap seseorang yang menjadi bapak kami di keluarga ini. Beliau adalah Pak Rukhan, yang mengajarkan banyak pengalaman untuk bisa survive.

Mereka selalu support kalau ada event lomba yang berhubungan dengan passion kami disini. Sebut saja lomba climbing di Malang. Sampai sekarang aku akan slalu mengingat detail ini. Ketika diajarin climbing pasti secara reflek langsung memasukkan jari tangan ke lubang wall. Ntah karena apa, tapi aku memang sering melakukannya. Hal ini menjadi bahan becandaan teman-teman karena habbit seperti ini sebenarnya tidak bagus untuk menjadi seorang atlet wall climbing. Event di Jonggring Saloka yang menurutku paling memorable ketika aku masih SMK. Mereka sorak sorai berteriak untuk menyemangati juniornya, menyemangati almamternya untuk bisa mendapatkan kebanggaan.

Happy bareng-bareng, susah juga bareng-bareng. Dulu kami sering mbolang dengan cara gratisan. Hampir setiap minggu kami keluar, bercengkrama dengan ramahnya alam. Jika tidak, kami selalu berkumpul di sekolah setiap hari minggu.  Sering juga bantingan untuk beli makanan. Setelah itu dimakan rame-rame sambil hahahihihiiiii. Saling berbagi ilmu, pengalaman, canda, tawa, terharu dan rasa nanonano yang lain. Tempat yang paling seksi untuk kami di sekolah adalah perpustakaan. Disitulah keluarga besar kami sering berkumpul. Perpustakaan Grafika menjadi tempat struggling yang membentuk kami menjadi manusia yang (bisa) selalu peduli terhadap sesamanya. Area perpustakaan juga bertepatan dengan area wall climbing.

Ketika sekarang mengingat momen-momen itu, yang ada hanya senyum dua jari dan ingin mencoba mesin waktu untuk kembali ke momen itu. Spot mbolangnya sudah pasti alam raya yang dimiliki kota Malang. Sangat luas, indah tak berdetak. Coban Pelangi, Coban Glotak, Coban Jahe, Coban Rondo, Coban Manten, Coban Tengah, Gunung Panderman, Pantai Ngliyep, Kondang Merak, Modangan, Sendang Biru dan yang lainnya menjadi tempat tumbuhnya benih kehangatan keluarga besar GMC. Terlebih lagi, Panderman.  Satu tempat ini sepertinya mengandung banyak sejarah cerita yang jika diulang akan membuat pendengarnya kangen bertubi-tubi.

Selain itu ada satu momentum yang paling dinanti-nanti oleh keluarga besar GMC. Diklat Anggota. Momen ini dianggap paling sakral untuk kami semua. Cara dan pengalaman yang ada di dalamnya benar-benar hanya aku dapatkan disini. Ngebully dengan cara yang logis dan membuat kami lebih tough. Yang jelas, i feel free for this case. Glad it through it all. Momen ini sangat ditunggu, baik untuk junior yang baru masuk maupun untuk senior. Diklat itu menjadi semacam hajatan akbarnya GMC.

Banyak perubahan yang terjadi. Aku yang sekarang nyangkut di Jakarta dan yang lain menyebar luas di beberapa kota untuk mencari ilmu, pengalaman dan penghidupan yang tak berkesudahan. Ketika barusan ngobrol banyak dengan mas Inod, bernostalgia tentang yang lampau, rasanya waktu memang berjalan begitu cepat. Dan sekarang.. berjalan 4 tahun jauh dari GMC karena alasan klasik. Jarak.  Yaa, jarak itu kadang memang bikin ngelus dada (seperti pasangan LDR) hhee.. Tapi justru dengan itu feelnya lebih dapet. Prosesnya lebih terasa dan nikmatnya mbolang juga terasa sampai ke ulu hati.

           Ah.. Benar-benar merindukan kalian. Bukan sebatas rindu dengan orang-orangnya, tetapi juga rindu mbolang dan momen yang lainnya. Mbolang pas jaman itu lebih enak dan natural, apalagi kalau kami semua sedang dalam taraf bokek alias uang pas-pasan. Hhmm.. namanya juga masih anak SMK. Semua terasa lebih sederhana dan feel deeply.

Thank you mas Inod untuk surga kecil malam ini. Share planning for future life be the nice closing. See you there, Malang. Next, reach Sempu with the glory of GMC *hopefully*

Bahagia bisa tumbuh dan berkembang bersama kalian. Tidak bisa dipungkiri bahwa keluarga besar GMC menjadi saksi perjalanan panjang hidupku sampai di titik ini, ketika aku mengetik cerita ini.

Sedikit kutipan yang ku ambil dari ayat suci sansekerta Hindu, yang juga ditulis di gedung Parlemen India. sepertinya ini memang untuk kita semua. 

Ayam Nijah Paroveti Ganana Laghu Chetasaam. Udaara Charitaanaam tu Vasudhaiva Kutumbakam” Artinya “pemikiran yang sempit mengatakan ini adalah milikku, itu adalah milikmu, tapi pemikiran yang lebih luas akan mengatakan dunia ini adalah sebuah keluarga”  layaknya kita yang menjadi bagian dari keluarga besar GMC.