Tampilkan postingan dengan label Karya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya. Tampilkan semua postingan

1 Januari 2013

Putri Apel dan Bunga-bunga Malaikat

              Di suatu pagi yang berkilau, terlihat putri nan jelita sedang menyiram bunga di taman rumahnya. Ia menyirami tamannya dengan penuh suka cita. Putri Apel tinggal sendirian di rumah yang besar itu. Orang tuanya meninggal satu tahun yang lalu tertimpa musibah banjir bandang. Namun, Putri Apel menjalani hidupnya dengan semangat. Bahkan ia tak merasa tinggal sendirian karena ia selalu ditemani bunga-bunga indah yang sedang bermekaran di tamannya.

                Dengan senyuman manis, pagi itu bunga mawar menyapa “Selamat pagi Putri Apel. Pagi ini kau tampak lebih berseri padahal cuaca kemarau panjang ini membuat banyak orang stress” Diikuti oleh bunga melati dan bunga kamboja di sebelahnya “Iyaa, putri terlihat sangat bahagia.. Hhmm, ada apa yaa?” Putri Apel membalas dengan riang “Benarkah? Aku terlihat lebih berseri begitu? Hhmm.. Meski cuaca kemarau, hujan, gerimis atau badai sekalipun, kita harus tetap semangat” Sambil mengangkat tangan kanannya tanda bahwa Putri Apel memang sangat bersemangat pagi itu. Kemudian, bunga-bunga cantik di taman itu serempak mengatakan “terima kasih Putri Apel yang selalu menjaga kami” Mereka tersenyum gembira.

                Rupanya yang membuatnya lebih berseri hari itu adalah Putri Apel akan mengadakan hajatan ke desa sebelah. Ia ingin berbagi dengan teman-teman yang kurang beruntung, tidak seperti dirinya yang selalu berkecukupan. Putri Apel memang anak kaya tapi ia selalu hidup sederhana. Putri Apel bersiap-siap ke pasar untuk membeli segala keperluan. Ia ditemani Strobery Mungil, sosok teman yang selalu ada untuknya. “Mau beli apa saja Putri?” tanya Strobery Mungil. Lalu Putri Apel menjawab dengan gembira “Karena aku suka sekali dengan es krim, aku akan membuat es krim yang lezat untuk teman-teman di desa sebelah nanti. Kebetulan mereka pernah bilang bahwa mereka belum pernah makan es krim” Setelah sampai di pasar, Putri Apel memilih bahan-bahan yang ia perlukan untuk membuat es krim tersebut.

Setelah selesai belanja di pasar, ia kembali pulang. Putri Apel tak sabar untuk segera tiba di rumah dan langsung membuat es krim itu. Ia berjalan melewati pematang sawah dan sungai-sungai bersama Strobery Mungil. Putri Apel menggandeng tangannya sambil berjalan beriringan. Mereka berdua lebih seperti kakak adik yang saling menyayangi.
Di tengah perjalanan, Ia dihadang oleh Monster Durian. Tubuhnya yang tegap dan besar membuat Putri Apel dan Strobery Mungil langsung berhenti berjalan. Mereka berdua ketakutan. “Heii kau, putri apel busuk. Apa yang kau bawa itu?” bentak monster durian. Putri Apel dan Strobery Mungil gemetaran. Mereka hanya terdiam, tidak mampu menjawab. Monster Durian naik pitam dan ia langsung menarik tas kain yang dibawa Putri Apel. Hasilnya, tas kain itu robek dan bahan-bahan untuk membuat es krim tercecer berantakan. Monster Durian justru semakin garang dan mencoba mengambil bahan yang tersisa. Yang tercecer di tanah malah ia rusak sehingga bahan-bahan itu jelas tidak akan bisa dipakai.

Putri Apel menangis. Sambil tersedu-sedu ia bilang “kembalikan bahan-bahan itu. Aku ingin membuat es krim untuk teman-teman di desa sebelah. Jangan diambil. Aku mohon” Strobery Mungil juga menangis ketakutan “Kembalikan Monster Durian. Itu tidak enak untuk dimakan. Itu bahan mentah semua” katanya. Karena Monster Durian sudah terlanjur murka, ia justru membuang semua bahan-bahan yang masih tersisa. “Aaaah, banyak alasan kalian berdua. Kenapa kamu punya banyak teman Putri Apel? Kenapa mereka sangat suka berteman denganmu? Kenapa kamu mau berteman dengan bocah ingusan di desa sebelah. Kau tak tahu, aku ini sendirian” Muka garangnya berubah sedikit menjadi melankolis.

Selama ini Monster Durian memang selalu sendirian. Ia tak punya teman seperti Putri Apel karena sifat buruknya. Banyak teman yang menjauhinya. Ia serakah dan sombong.

                Tak kuasa menahan tangisnya, Putri Apel lari. Ia tak menjawab apa pun. Ia langsung meninggalkan Monster Durian yang sedang marah-marah. Strobery Mungil menyusulnya. Ia mencoba membesarkan hatinya dan mengajaknya duduk sejenak di bawah pohon jati agar Putri Apel tidak menangis lagi. Tiba-tiba saja Putri Apel berkata “Bagaimana ini Strobery Mungil.. Apa yang harus ku lakukan sekarang? Bahan-bahan es krim sudah tidak ada rupanya. Aku sudah berjanji dengan teman-teman disana dan mereka terlihat sangat senang ketika mendengar aku akan membuatkannya es krim sore ini. Pasti mereka kecewa padaku sekarang” Strobery Mungil pun terdiam. Ia bingung harus menjawab apa. “Bersabarlah Putri, pasti ada jalan keluarnya. Putri Apel sudah berniat tulus berbagi dan membahagiakan orang lain. Pasti akan ada keajaiban karena apa yang tulus dari hati pasti akan kembali ke hati lagi” Strobery Mungil menambahkan. Mendengar jawaban dari Strobery Mungil, Putri Apel tersenyum tipis. Ia terlihat sedikit lebih lega sekarang.

                Strobery Mungil mengajaknya pulang. Ia berjanji akan membantu Putri Apel untuk memikirkan jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapi ini. Putri Apel mengiyakan dan mereka berjalan menuju ke rumah. Sesampainya di rumah, Putri Apel kaget bukan main. Ia heran dan sekaligus senang karena melihat dapurnya berisi banyak bahan-bahan segar untuk membuat es krim. Putri Apel bergumam sendiri sambil tercengang “Dari mana ini semua Strobery Mungil.. Aku tak percaya” Lalu terlihat di sudut dapur itu, bunga mawar, bunga melati dan bunga kamboja yang tersenyum malu. Putri Apel langsung bertanya “Ini kalian semua yang menyiapkan?” Mereka bertiga mengangguk pelan. Bunga melati berkata “Kami tahu Putri Apel ingin membuat es krim untuk teman-teman di desa sebelah. Kami berniat membantu Putri jadi tadi ketika Putri Apel dan Strobery Mungil berangkat ke pasar, kami juga pergi mencari bahan-bahan. Kami ingin seperti Putri yang suka membantu orang lain”

Seketika Putri Apel memeluk mereka bertiga, juga Strobery Mungil. Putri Apel terharu dan meneteskan air mata. Ia sangat menyayangi mereka karena merekalah yang membuat hari-harinya tidak sepi lagi setelah ditinggal orang tuanya. Putri Apel sangat senang karena akhirnya ia juga bisa membuat es krim.

Mereka mulai membuat es krim bersama-sama. Sampai es krim itu benar-benar jadi, mereka sembari bersiap-siap menuju desa sebelah. Tidak lama kemudian, mereka bersama-sama kesana. Rupanya sudah banyak yang menunggu kedatangan Putri Apel. Apalagi melihat Putri Apel membawa banyak es krim, mereka lebih gembira lagi. Akhirnya mereka makan bersama sore itu dengan riang gembira menikmati es krim lezat buatan Putri Apel dan teman-temannya.

19 Desember 2012

Dongeng Pertama

Disuatu hari yang indah, dikisahkan ada sebuah hutan lebat yang dihuni oleh bermacam-macam hewan. Ada rusa, gajah, tupai, kuda, kura-kura, angsa dan sebagainya. Mereka selalu rukun dan hidup berdampingan. Seringkali mereka mencari makan bersama, mandi bersama dan bersenda gurau di bawah riimbun pohon-pohon besar di hutan itu.
Pada suatu hari, salah satu dari mereka yaitu singa yang sangat ramah dan baik ditarik ke kayangan oleh putri hutan. Singa itu mendapatkan kesempatan langka untuk tinggal bersama paduka raja dan ratu hutan di kayangan karena dia adalah hewan yang paling baik dan selalu membantu teman-temannya ketika hidup di hutan. Paduka raja dan ratu sangat mengapresiasi hal itu sehingga singa hidup di kayangan dengan sangat bahagia dan serba kecukupan.

Lalu, setelah beberapa lama melayani paduka raja dan ratu hutan di kayangan, singa dikembalikan lagi ke asalnya. Ia harus turun ke hutan lagi dan membaur bersama yang lain karena keinginan terbesar raja adalah agar ia bisa mengajarkan kebaikan seperti yang dilakukan oleh paduka raja ke singa itu.

Ketika masuk hutan pertama kalinya, singa bergaya seperti orang borjuis. Memamerkan segala yang ia punya dari hasil mengabdi kepada paduka raja. Ia Awalnya rusa, gajah, tupai, kuda, kura-kura dan angsa sangat bergembira menyambut kedatangan singa. Mereka merindukan singa yang sangat baik itu. Mereka berencana membuatkan makanan dan acara api unggun nanti malam. Namun, sebelum acara itu digelar, teman-teman singa merasakan sesuatu yang berbeda. mereka merasa dia bukan singa yang ia kenal dulu.

Sikap singa berubah drastis, tidak seperti sebelum ia berangkat ke kayangan dulu. Ia menjadi hewan yang sombong dan tamak terhadap apa yang ada di depannya “heii dasar gajah gendut, pergi kau dari hadapanku.. aku tak mau lagi bermain sama kalian. Kalian kan udik” Ia menghina semua teman-teman yang sudah mempersiapkan acara penyambutannya kembali ke hutan.

Semua teman-temannya sangat menyayangkan hal ini. Mereka kecewa terhadap singa. Singa tetap saja sombong. Ia seperti tidak mau menerima sambutan gembira dari teman-temannya. “hai singa.. kami melakukan ini semua buat kamu. Kami senang kamu kembali” celetuk rusa dengan lembut. Bahkan singa menjawab dengan sinis kepada semua hewan yang sedang mempersiapkan api unggun, “ah, seleramu buruk sekali rusa. Aku tak suka semua ini, aku bisa menyiapkan sendiri acara yang lebih mewah” singa itu semakin menjadi-jadi sombongnya.

Dengan sangat kecewa akhirnya rusa mengajak semuanya untuk bubar. Dengan suara lantang ia berteriak “jangan lagi memperdulikan singa sombong ini teman-teman. Mentang-mentang kaya, dia sudah lupa siapa dia sebenarnya. Dia sudah lupa sama kita” Akhirnya rusa, gajah, tupai, kuda, kura-kura dan angsa berhamburan menuju ke gubug masing-masing.

Lalu di hutan rimbun itu hanya tinggal singa sendirian. Dia diam. Tiba-tiba semut merah menghampirinya dari lubang di tanah dan berkata “singa, aku mendengarkan semuanya. Seharusnya kau tak seperti itu kepada teman-temanmu” Singa tetap tidak memperdulikan apa yang dikatakan semut merah. Singa merasa tak pelu siapa-siapa lagi karena dia sekarang sudah cukup kaya. Semua barang-barang berharganya ia letakkan di kantong putih yang ia gendong di punggungnya.

Tidak lama kemudian, terdengar suara air bah menghantam telinga. Rupanya banjir bandang melanda hutan tersebut. Semua hewan yang ada di hutan berusaha untuk menyelamatkan dirinya masing-masing. Ada yang naik ke pohon, ada yang mengikat dirinya ke pohon dan ada yang membuat pertahanan dengan lari tunggang langgang menuju perbukitan. Namun, singa yang satu ini sibuk menyelamatkan barang-barang berharganya. Ia lupa dengan banjir bandang itu justru akan menyeret tubuhnya jika ia tak segera menghindar. Akhirnya barang-barang berharga tersebut lenyap ditelan air bah bersama pemiliknya. Singa meninggal terseret arus banjir yang sangat dalam.

Ketika banjir sudah reda, jasad singa itu nyangkut di ranting pohon jati yang tumbang. Ia meninggal sambil memeluk kantong putih tempat barang-barangnya. Ketika kura-kura tahu, ia langsung memberitakan hal yang menyedihkan ini ke teman-temannya. Serentak semua berkumpul di sudut tempat jasad singa itu terkapar dingin. Mereka terlihat sedih lalu angsa putih itu berkata “teman-teman.. janganlah kita hidup seperti singa, ketika sudah menerima banyak kebaikan malah ia menjadi sombong” kemudian tupai menambahkan “iyaa.. kita tidak boleh sombong. Kita harus bisa berbagi kepada sesama karena berbagi itu hal yang indah untuk dilakukan” Mereka langsung mengubur singa di hutan rimbun itu dan mereka membagi-bagikan barang itu kepada yang membutuhkan. Semenjak itu, hidup hewan-hewan di hutan itu kembali bergembira dan lebih mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan.

17 November 2012

Pagi di Kutoarjo


Lokomotif keretaku masih menderu
Berjalan mengikuti alur rel yang kaku
Sesekali ku lihat
Ada asap yang mengepul disana
Keretaku setia menemaniku
Menemani manusia lain yang juga satu visi denganku

Dingin yang dirasa menukik kulit
Lalu aroma harus segarnya embun pagi
Ku rasa pagi ini sangat segar
Tetes embun pagi menghiasi
Membuat pagi semakin berseri
Aku pun terbangun dari lamunan pagi

Ku lihat Kutoarjo yang ramah
Sepanjang mata memandang hanya ada vitamin hijau
Sangat luas dan tak terbatas mata
Inilah nikmat Tuhan yang tak terkira harganya

Aku ingin menghambur keluar
Berlarian di pematang sawah, main air sampai puas
Meninggalkan sejenak keramaian kota
Membayangkan saja membuatku bahagia
Sama damainya ketika menyambut Jogjakarta

Pagi ini lebih berseri
Ku dapati dua pengamen yang sedang menyambung hidup
Melaju dari lokomotif ke lokomotif selanjutnya
Banyak manusia yang penuh semangat menyambut kami
Mengharapkan kami membeli
Tak terkecuali si pengamen ini
Kali pertama menatap mereka
Mengatakan ‘tetap semangat’ untuk kami semua
Tak seperti cara yang lainnya
Mereka semangat menyambut pagi cerah

Tinggal dua titik lagi
Lempuyangan sebentar lagi akan ku raih
Jogjakarta lagi
Menuju kota yang tak akan terganti
Meski sudah berkali-kali

8 November 2012

Kami Milikmu? Bukan!

Nyoba bikin script film yang kemudian saya aplikasikan ke program Celtx. Program yang mempermudah kinerja movie maker. Semuanya berhubungan dengan Audio Visual.


Introduksi
Rangga, Rara dan Gastar adalah  tiga sahabat yang sudah lama kenal bahkan menjadi orang terdekat. Rara memiliki sifat bunglon, suka mempermainkan laki-laki tapi Rangga dan Gastar tidak mengetahuinya. Dan saat ini Rara sedang menjalin hubungan dengan keduanya. Suatu hari ketika mereka mengetahui sifat asli Rara, mereka balik membalas dengan mempermalukan Rara di depan umum.


Scene 1 : Taman kota denpasar (Long Shot)
Taman kota yang sangat asri. Disana banyak pasangan pemuda yang terlihat pacaran. Harum bunga di sekelilingnya, lembayung senja yang khas turut mengindahkan suasana. Semilir angin berhembus menguraikan dedaunan yang berjatuhan di tanah dewata tersebut.

Gastar
"Sayang, sabtu ini ada acara pesta ulang tahun sahabat baikku ketika SMA. Kita datang kesana yaa"
(Duduk di bangku taman, tepat disebelah Maria. Ia sambil tersenyum)

Maria
"Hhmm.. pengen dateng sih sayang, tapi lihat nanti ya. Aku belum tahu sabtu ini jadi lembur atau nggak di kantor"
(Sambil mengerutkan alisnya, ia mencoba mengingat - ingat apakah ia juga ada agenda bertemu dengan Rangga)

Gastar
"Yaah.. diusahain dong sayang. Kan itu moment penting buat aku. Sekalian, aku juga pengen ngenalin kamu ke sahabat-sahabatku waktu masih SMA"
(Saat itu sebenarnya Gastar sudah tahu kalau sabtu nanti Maria memang ada kencan dengan Rangga)

Maria
"Iya deh, aku usahain bisa.."
(Ia pun luluh dan wajahnya terlihat memelas)

Camera Movement : Medium Shot


Scene 2 : sudut Taman Kota Denpasar (Long Shot, Pan Right)
Maria mencoba berjalan ke arah sudut taman. Tidak lama kemudian HP Maria pun berdering. Ia berusaha melirik layar HP nya. Ternyata itu adalah telepon dari Gastar

Gastar
"Kenapa nggak diangkat sayang?"
(Sambil berjalan di belakang Maria. Terlihat muka usil Gastar sambil tersenyum kecil)

Maria
"Ah, nggak penting. Dari temen kantor kok. Paling-paling mau nanyain kerjaan yang tadi sayang. Nanti bisa aku telepon balik"
(Mukanya yang suram sambil berusaha menyembunyikan kegugupannya)

Gastar
"Ohya, aku pinjam HP dong buat sms temen kantorku biar ngesave data di komputerku"
(sambil senyum - senyum usil)

Maria
"Yaa.. Pulsaku habis!"
(Ia sudah mulai merasa tidak nyaman dengan tingkah laku Rangga yang curiga)

Gastar
'Hhmm.. yaudah, kalau gitu kita pulang aja. Udah sore juga"
(sambil menarik tangan Maria dan mencoba mengajaknya jalan)


Scene 3 : Jalan Keluar Taman (Long Shot, Zoom Out)
Mereka bergandengan tangan, berjalan beriringan. Cuaca sore hari yang begitu hangat terkena silauan cahaya senja matahari.

Maria
"Sayang, kita ke Metro Mall dulu yuk. Ngadem bentar gitu sambil jalan-jalan"
(Merasa belum mendapatkan barang apapun sore itu, Maria mencoba berpikir keras tentang bagaimana caranya agar Gastar mau diajak ke Mall)

Gastar
"Oh pengen kesana? Yaudah, ayo jalan.."
(Mereka kemudian jalan ke Metro Mall)


Scene 4 : Jalan Raya Menuju Metro Mall (Long Shot, Medium Shot)
Jarak antara Taman Kota Denpasar dan Metro Mall cukup dekat. Mereka bergandengan tangan dengan mesra, berjalan menuju Metro Mall


Scene 5 : Metro Mall (Long Shot)
Baru saja mereka masuk ke dalam area Mall tersebut. Maria terlihat kegirangan. Banyak lalu lalang orang yang bertujuan sama dengan Maria dan Gastar, ingin jalan-jalan atau membeli kebutuhan mereka.

Maria
"Sayang, kita jalan kesana yuk. Ada butik bagus lho. Barang-barangnya cantik-cantik"
(sambil menarik tangan Gastar dengan manja)

Gastar
(Tak mengatakan apa-apa. Hanya mengikuti Maria dengan rasa malas yang tertuang di bahasa tubuhnya)


Scene 6 : Butik Gabrielle (Long Shot )
Butik gabrielle terlihat sangat eksklusif. Dari luar saja sudah keliahatan bahwa barang-barang yang dijual disana adalah barang branded mahal luar biasa.

Close Up :
Barang-barang yang ada di Butik Gabrielle

Maria
"Waah, banyak barang yang baru datang nih sayang"
(Seperti bertemu surganya, Maria sangat senang dan tersenyum lebar. Baru masuk butik tersebut, Ia langsung memilih barang-barang)

Gastar
"Iyaa.."
(dia mulai menunjukkan bahwa ia sudah mulai tidak interest)
Close Up : Wajah Gastar yang acuh

Maria
"Bagus nggak sayang? Cantik nggak kalau aku pakai ini?"
(sambil bergaya bak foto model dan senyum sana sini)

Gastar
"Waah, bagus kok. Semakin cantik deh kamu.."
(Dengan memasang mukanya cuek. Rangga sudah tahu akal bulus Maria yang memang selalu morotin uangnya. Rangga mulai pasang strategi agar tidak terjebak lagi)

Maria
"Udah sayang ini aja. Gaun sama  dua tas yaa.. Setelah bayar kita pulang aja nggakpapa biar ngga kemalaman nyampe rumahnya"
(Dengan wajah sumringahnya, Maria berjalan menuju kasir sambil menenteng barang - barang belanjaannya)


Scene 7 : Kasir Butik Gabrielle (Long Shot, Zoom Out)
Biasanya Rangga langsung mengikuti Maria dari belakang untuk menuju kasir. Namun, kali ini tidak. Ia pura-pura tidak mendengarkan perkataan Maria dan masih tetap berdiri di dekat kamar ganti.

Maria
"Sayang.. Ini belanjaannya sudah selesai dihitung"
(Mukanya mulai garang. Ia berteriak untuk kesekian kalinya)

Gastar
'Yaudah.. Kan tinggal dibayar. Susah amat"
(Sambil berjalan mendekat, dengan memalingkan muka)

Maria
"Kok kamu gitu sih. Kan biasanya kamu yang bayarin!"
(Sambil marah, teriak – teriak dan barang-barang belanjaannya langsung di taruh dikasir dengan kasar)

(Tak lama kemudian Rangga datang)

Rangga
"Oh.. Jadi selama ini Gastar juga yang biasa bayarin barang-barang belanjaanmu?"
(Rangga yang tetap stay cool di depan banyak orang. Gayanya yang kharismatik membuat pembeli seperti dihentikan waktunya. Semuanya mlongo)

Maria
"Hah.. Hhmm.. Anu.. Kok kamu bisa disini?"
(Dengan ekspresi yang kaget setengah mati. Antara bingung, gugup dan masang muka bodoh)

Rangga
"Aku memang sengaja buntutin kamu mulai dari rumah tadi sampai akhirnya aku datang kesini. Aku dan Gastar sudah tahu tingkahmu yang memang suka mempermainkan kami"
(Dia bicara dengan tenang, tanpa ada rasa marah yang mendalam karena sudah dibohongi)

(Tiba-tiba saja Gastar bangkit dan mendekati mereka berdua)

Gastar
"Sudah puas kan kamu menghabiskan uang kami berdua selama ini?"
(Mukanya mulai berubah menyeramkan)


Scene 8 : Kasir Butik Gabrielle
Lalu petugas kasir menyela pembicaraan mereka. Ia mengingatkan Maria untuk segera membayar barang belanjaannya karena jumlah orang yang antri di kasir semakin banyak.

Maria
"Maaf mbak, saya tidak jadi beli semua barang-barang ini"
(Dengan tertunduk malu, pasrah dan mukanya merah padam)

(Kemudian terdengar sumpah serapah dan cemooh dari pembeli-pembeli yang sedang antri dibelakang Maria)

Gastar dan Rangga
"Tau rasa deh.. Akhirnya kalau udah dibikin malu seperti sekarang. Kena batunya kau. Emangnya, kami milikmu? Bukan!"
(Dengan muka satir yang dicampur rasa lega serta tertawa)

Zoom In : Wajah Maria yang sedang menangis (Long Shot, Pan Right)

Tanpa menjawab, Maria langsung lari dari butik tersebut. Ia meninggalkan Gastar dan Rangga sambil menangis terisak-isak.

18 Juli 2012

Aku dan Kereta Dongengku


Tepat 21 tahun yang lalu, wanita ini lahir di lingkungan keluarga yang sangat hangat dan sederhana di sudut kota Malang yang dingin. Ia tumbuh dengan penuh kemandirian. Dengan semangatnya, Ia selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik. Menurutnya, terbaik bukan berarti paling pintar, cantik ataupun kaya tetapi bagaimana Ia bisa berguna untuk orang lain. Jujur saja, ia tidak ingin hanya menjadi orang pintar tapi ia lebih ingin menjadi orang cerdas karena menurutnya pintar dan cerdas itu berbeda. Pemilik nama cantik, Ika Fitri Mustikasari ini sangat menghargai proses. Love the process and respect the result of it. Ia tidak menyukai hal yang instan. Hasil dari suatu proses bisa dikatakan sukses ketika Ia sudah menjalani proses tersebut dengan segala daya terbaiknya meskipun ujungnya hasil itu terbilang gagal secara normatif. Sampai saat ini, ia pun memiliki tagline yang selalu ia bawa kemana-mana, be positive and smart girl.

Setelah lulus dari SMK di kotanya, Ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Paramadina, Jakarta Selatan. Banyak hal yang tak terduga yang harus di manage dengan baik. Menjadi mahasiswa perantauan adalah cita-citanya sejak dulu. Ia berfikir bahwa dengan cara itu Ia bisa mengukur kemampuan dirinya sendiri, yang notabenenya jauh dari keluarga. Dan menurutnya, itu hal yang menyenangkan. Ia menjadi salah satu penerima beasiswa dari 69 mahasiswa di seluruh Indonesia. Paramadina Fellowship, sungguh luar biasa. Menjadi penerima beasiswa membuatnya lebih berhati-hati dalam bertindak karena tentunya apa yang Ia lakukan membawa nama institusi yang mensupport kuliahnya. Donor beasiswanya adalah Principia Management Group yang mana bekerja sama dengan Universitas Paramadina. Sebelum kuliah, Ia juga pernah bekerja di beberapa perusahaan swasta di Malang. Hal ini menjadikannya lebih prepare dan aware terhadap masalah finansial. Baginya, mencari uang itu terbilang tidak mudah (saat itu) sehingga penggunaannya pun harus cermat. Menurut teman-temannya, Ia tergolong orang yang sangat hemat dan terorganizir dalam banyak hal.

Pemilik kulit sawo matang ini merupakan anak pertama dari dua bersaudara, yang sekaligus menjadi cucu pertama di keluarga besar ibunya. Ia bertekat harus menjadi teladan yang baik untuk adik-adiknya. Dari rangkaian cerita hidupnya tersebut, Ia berhasil melakukannya. Ia percaya bahwa Ia bisa pergi kemanapun yang ia inginkan dengan media ilmu pengetahuan. Dan itu memang terbukti. Travelling with studying, itu yang selama ini Ia lakukan.

Ika, menjadi nama sapaannya selama ini, khususnya di Jakarta. Mengenai mimpi dan cita-citanya, Ia ingin berkecimpung di dunia industri kreatif dan akademisi. Untuk industri kreatif, Ia meyakini bahwa menjadi entrepreneur adalah cita-cita mulia yang bisa menguntungkan banyak orang, bukan hanya dirinya saja. Tentunya ilmu, jalan dan pengalaman yang dibutuhkan juga lebih menantang daripada menjadi karyawan. Ia pun mulai merintis karir dengan menjadi entrepreneur di bidang industri kreatif tersebut.
Ia memulai bisnis produksi dan penjualan buku dongeng bersama teman kuliahnya, Syaiful Choirudin. Benar-benar dari nol ketika ingin melakukan usaha bisnis karena saat itu keduanya tidak memiliki modal yang cukup banyak. Namun, keberanian merekalah yang membuatnya tetap bergelora untuk menghasilkan ‘sesuatu’ untuk dirinya juga orang di sekitarnya. Ia memilih dongeng karena Ia ingin memanfaatkan skillnya di bidang desain, yang sesuai dengan jurusan kuliahnya. Dongeng bersifat edutainment karena dengan dongeng, Ia bisa mengedukasi anak-anak melalui cerita yang bernilai moralitas, juga dilengkapi dengan visual humornya. Mereka memberikan nama ‘Kereta Dongeng’ untuk bisnisnya.
Dan sampailah pada saat dimana Ia menemukan kompetisi bisnis plan yang diselenggarakan oleh MAPAN di Jakarta. Dengan segala ghirah bisnisnya, Ia dan temannya mengikuti kompetisi ini dengan penuh kesungguhan agar bisnis ini bisa lolos. Harapan awal yang mereka inginkan adalah hadiah tunai yang bisa mereka jadikan tambahan modal usahanya. Ibaratnya, saat itu mereka seperti menemukan oase di tengah gurun yang luas sehingga mereka mengikuti kompetisi ini dengan kemampuan terbaik yang mereka miliki. Rasa syukur menjelma, bisnis plan yang diajukan ternyata lolos dan mereka menjadi pemenangnya. Sungguh luar biasa, melebihi kata senang.

Proses pun berjalan dengan fase-fase yang memang harus dilalui. Pemenang pun tidak langsung dinobatkan sebagai juara karena banyak mentoring yang harus dilakukan oleh tim ini. Setelah dijalani, justru ini yang sebenarnya mereka cari. Dana yang MAPAN berikan sebagai modal usaha justru tidak seberapa dibandingkan dengan mentoring yang diberikan oleh MAPAN dan PILLAR sebagai penyokong kegiatan ini. Ilmu yang diberikan akan sangat jauh lebih berharga. Itu yang sangat mereka banggakan, bukan lagi tentang dana yang akan mereka peroleh nanti setelah lulus sertifikasi.

Saat ini pun, bisnis Kereta Dongeng masih dalam tahap mentoring. Beberapa hari lagi grand launchingnya akan di gelar di AQL Islamic Center, Tebet. Buku dongeng pertama mereka akan terbit dengan judul “Trimbil, Ayo Bangun!” Tidak sabar menunggu gebrakan apa yang akan dilakukan Kereta Dongeng. Mereka berkomitmen akan terus menjalankan bisnis ini dan terus mengexpand product knowledgesnya agar menjadi produsen sekaligus penerbit buku dongeng di nusantara. Visual humor menjadi bagian penting yang akan menjadi elemen dalam bisnis ini. Kereta Dongeng harus terus belajar dan belajar dari berbagai sumber agar usaha yang dijalankan tetap eksis, bermanfaat untuk sesama dan juga menghasilkan laba. Namun yang terpenting dari itu semua adalah misi Kereta Dongeng untuk share knowledges.

13 Januari 2012

Nirmana *Irama dan Overlapping*

Daun, belum habis aku membahas tentang daun. Sekarang daun ini disajikan barengan dengan teori nirmana. Awalnya membuat sket satu daun, yaa hanya satu.
1

Kemudian copy paste daun tersebut dan atur layoutnya,

2
mulailah untuk merotate posisinya sehingga membentuk suatu irama yang natural.

3
atau seperti ini.

4
Ok, sampai pada tahap berikutnya yaitu overlapping yang dilakukan dengan cara menambahkan bidang kotak.

5
6
 Nah, sketsa digitalnya sudah. Sekarang saatnya merefleksikan karya ke dalam manual act. Mulailah berkutik dengan art paper, tinta cina, penggaris dan drawing pen. Harus sabar, teliti dan tentunya mencintai pekerjaan ini.

hasil manualnya..
Agak aneh karena biasanya karya itu dibuat dari manualnya dulu terus dilanjutkan ke media digitalnya. Tapi ini malah terbalik, hheee..


dan akhirnya, karya overlapping daun ini jadi "the most wanted" di pameran Metaphornine Paramadina :)


12 Januari 2012

Packaging Timur Tengah

Iseng-iseng buat packaging. Niatnya mau buat packaging yang feminim tapi jadinya malah maskulin gini, kaya jin dari timur tengah >,<

Ice Cream = Warnai Ceriamu

Ice cream, tema yang selalu menarik untuk dibicarakan. 
Mengapa aku suka ice cream? Yaa, tentu saja karena ia bisa membangkitkan mood dan semangat :)

Dan saking sukanya sama ice cream, aku pun berniat membuat media publikasi ice cream secara umum. Namun, aku meminjam brand Campina sebagai produk ice cream lokal yang cukup terkena di Indonesia.
Konsep desain media publikasinya, menggunakan umbrella message visual di atas. Sedangkan key messagesnya meliputi hal-hal berikut ini :
Jika mengkonsumsi ice cream, ambil saja contohnya Campina, hari-hari akan ceria karena banyak varian rasa yang ditawarkan. Karena itu juga ice cream bisa membuat istimewa di setiap suasana. Campina mencoba membuat hubungan psikologis yang kuat dengan konsumennya, dengan mengkonstruksi konsumennya untuk membuat sebuah lifestyle dari mengkonsumsi ice cream. Hal ini sangat berkaitan erat dengan remaja yang menjadi target sasaran dari produk Campina yaitu remaja yang energik dan cenderung bernuansa warna-warni. Hal ini didasarkan bahwa mengkonsumsi ice cream bukanlah hal primer lagi tapi lebih ke tersier yang akhirnya kebiasaan ini bisa membentuk sebuah lifestyle tersendiri.

Konsep tipografi dan warna yang ditampilkan pun merupakan warna-warna remaja putri yang ceria dan juga dinamik. Karena dalam hal ini Campina bukan hanya menjual produk tetapi strategi komunikasi yang ditonjolkan yaitu ice cream ini bisa mewarnai ceriamu. Visual ice cream yang ditonjolkan pun juga bervariasi dari segi warna dan rasa. Warna background yang dipilih merupakan warna-warna yang mampu membangkitkan mood untuk makan ice cream dan juga semangat, sesuai hasil riset yang telah dilakukan. 


Secara keseluruhan konsep visual dan verbal yang digunakan dalam media publikasi ini adalah untuk meningkatkan brand image Campina. Konsumen diharapkan bisa menikmati keuntungan psikologis dari ice cream yaitu merasakan keceriaan dengan pendekatan lifestyle yang dibangun. Gaya eksekusi pesan yang disampaikan lebih menonjolkan citra (mood atau image) untuk membangun “ketika makan ice cream Campina, maka keceriaanlah yang akan dirasakan”


Beberapa media publikasi yang aku buat,

Majalah

Poster (Display Halte)

Display Bandara

Umbul-umbul

Flag Chain
Nah, gambar di atas merupakan desain flag chain secara umumnya. Berikut ini aplikasi media flag chain tersebut..

Flag Chain Outdoor

Flag Chain Indoor

Billboard

Display Campina

Event Campina

Merchandise
Aku suka bagian yang ini, khususnya gantungan kuncinya :)


Campina Palace
Kegemaran terhadap ice cream membuatku ingin punya pabrik ice cream sendiri nantinya. Amien.
Konsep awalnya Campina Palace ini merupakan home of Campina yang terletak di TMII. Di dalamnya terdapat segala hal yang berhubungan dengan ice cream (Campina). Disini juga disediakan taman bermain yang sangat friendly. Semua aksesorisnya berupa dari replika ice cream.
Dan satu hal lagi, dalam bayanganku tanaman yang ada di luar itu bisa menjadi lampu yang akan menyala di malam hari #tuing2
*semuanya serba ice cream*

Selanjutnya visual dari Ambient Media. Cara ini dilakukan untuk meningkatkan brand awareness.

Foot Print
 Konsepnya, foot print ini diletakkan dari awal pintu masuk Mall atau Supermarket sampai (ke arah) menuju stand Campina. Hal ini dimaksudkan agar konsumen merasa penasaran terhadap visual foot print tersebut dan mengikuti jejak kaki sampai di titik ujungnya, yaitu stand Campina.

Replika ice cream yang diletakkan di tengah kota
 
Lampu Hias di Taman

Lampu Penerangan Jalan Tol

Daun yang Berangin


aku tak bisa bilang kepada matahari "lebih banyak matahari", begitu juga kepada hujan "jangan terlalu banyak"

Langit Biru


ini logo perpustakaanku, Langit Biru. Nantinya, akan ada langit Biru Foundation :)