6 Oktober 2012

Visi Mulia Untuk Jadi Akademisi

Siapa yang tidak tahu guru? Jawabannya pasti sorak sorai. Bahkan anak PAUD pun pasti tahu ketika ditanya soal guru. Manusia-manusia mulia yang hadir disekeliling kita hampir setengah hari penuh mendidik kita. ntah itu di bangku formal sekolah atau informal. Bisa dibilang guru adalah orang terdekat kedua setelah orang tua saya sendiri.

Sebenarnya saya mendapatkan insight nulis artikel ini ketika dalam perjalanan Jakarta – Jogjakarta dalam menunaikan sebuah misi penting. Hari itu bertepatan dengan  hari guru internasional, 4 oktober 2012 kemarin. Ketika itu kereta sudah mendekati Jogjakarta. Pagi yang sangat cerah ditambah dengan pemandangan yang serba menyejukkan hati dan mata.

Sepanjang jalan banyak anak yang berangkat sekolah. Banyak dari mereka yang diantar oleh orang tua tercintanya. Kebanyakan adalah bapak-bapak. Alasannya mungkin ibu-ibu sedang sibuk mengurus domestik rumah tangga keluarganya. Orang tua itu memasang wajah sumringah dan penuh harapan menatap masa depan anaknya. Sebenarnya ini refleksi perjalanan hidup saya sendiri. Ingat kalau dulu pas sekolah juga seperti ini. Hheee.. Sesampainya di sekolah, mereka akan disambut guru-guru yang hangat dan mendidik. They’re transfer of values to the students.

Happy world’s teachers day, guru-guruku. Terima kasih atas segala jasa-jasamu.

Tahun lalu saya merasa mendapat wangsit dari Tuhan dan alam raya. Ketika itu juga pikiran saya langsung manuver 360 derajat untuk tujuan keren dan mulia. Jadi akademisi. Dulu waktu masih duduk di SMK, saya sangat menjauhi angan-angan semacam ini. Menjadi guru bukanlah pilihan menurut saya waktu itu. Alasannya, ketika saya menjadi mahasiswa sekarang saya bisa melakukan banyak hal, mengelilingi banyak tempat baru dengan tujuan yang selalu exciting. Tapi lihat guru saya di SD, SMP atau SMK. Sampai sekarang beliau setia mengabdi pada anak didik bangsa.

Saya mengambil kesimpulan, untuk menjadi guru atau akademisi itu butuh passion dan harus merasa terpanggil. Tidak asal jalan karena menjadi guru berarti akan sering melakukan interaksi sosial. Harus benar-benar mau dari hati.

Dan seiring berjalannya waktu, saya kembali menemukan jawaban yang cukup saya nantikan bertahun-tahun. setelah melalui perdebatan dalam hati, saya memilih untuk menambahkan cita-cita saya di dunia akademik yaitu dengan jalan menjadi akademisi. Mengapa saya tiba-tiba saja muter otak?? Yaaa.. akhirnya saya menyadari betul peranan guru. Sungguh mulia menjadi bagian dari alat pencerdas bangsa. Kalau tadinya mikir nggak mau jadi guru karena pasti bakalan stag, but sekarang saya justru mikir kebalikannya. Siapapun yang stag, itu jelas karena probadinya sendiri. Karena mentalnya, bukan karena keinginannya dalam mewujudkan mimpi atau objek mimpi tersebut.

Dan tepat bulan april lalu, ibarat sebuah kado datang dari Malang. Pagi-pagi saya mendapat telpon dari pak Hedin, guru SMK saya. Beliau meminta saya untuk mengajar di SMK. Waktu itu saya hanya bisa mlongo. Mengapa?? Karena pagi-pagi sekali telpon itu berdering, belum sempat beraktivitas. Lalu pak Hedin membawa satu misi mulia untuk saya. Segera saja, bulan oktober ini harusnya saya sudah bisa mengajar di Malang. Letupan hamdalah dari hati selalu menggema.

Antara bingung, kaget, senang dan banyak rasa nanonano. Masalahnya, saat itu saya masih semester 6. Skripsi saja belum. Tapi semua ini patut untuk disyukuri. Saya sangat percaya everything happens for a reason. Nggak ada yang tiba-tiba jatuh dari langit kecuali serendepity.

Ofcourse, tetap di bidang yang saya sukai karena saya diminta mengajar broadcasting. So, let it flow. Saya cukup bangga bisa menjadi anak bangsa Indonesia. Dulu saya dicerdaskan oleh banyak pihak dan sekarang giliran saya untuk menyebar lebih banyak kebaikan yang bisa saya lakukan dengan cara ini.

Saya tidak lagi hanya memiliki cita-cita di industri kreatif tetapi saya juga ingin terjun langsung ke dunia akademik. Kalau kata kakek saya “diambil saja nduk. Menjadi guru adalah hal yang mulia. Bisa turut mencerdaskan anak yang tadinya belum tahu apa-apa sehingga Ia nantinya menjadi raja di negerinya sendiri. Mengacalah pada diri samean sendiri” Hhmm, subhanallah.. seperti ditabok keliling muka. Statement kakek saya benar-benar makjleb dan harus saya akui, saya pun bilang “iyeeeeesss”

Bicara soal guru, sebenarnya tulisan ini juga saya buat special tribute to (alm.) pakde saya. Pakde yang juga seorang guru di Malang. Beliau ambil bagian dalam mencerdaskan anak bangsa. Anak desa lebih tepat karena saat itu pakde mengajar di salah satu sudut desa tterpencil di Malang. Sampai saat ini saya rasa pakde tetap eksis dan “panjang umur” Yang tiada hanyalah raganya saja karena panjang umur bukan berarti harus bisa hidup beribu tahun lamanya. Tetapi bagaimana nama dan jasanya tetap eksis di dunia sosial meski raga tak lagi bersamanya. Sampai sekarang, nama dan jasa baiknya masih tetap diperbincangkan di kalangan murid, wali murid, sesama guru dan juga warga yang mengenalnya. Beliau menjadi teladan yang sangat baik. Dan saya rasa pasti pakde saya juga akan sangat senang mendengar berita baik ini bahwa saya akan mengajar beberapa saat lagi. Ntah itu bulan depan, tahun depan atau depannya lagi.

Keinginan menjadi akademisi juga semakin dikuatkan ketika suatu waktu itu saya sedang ngobrol hangat dengan kakak kelas saya. Namanya mas Inod. Tiba-tiba saja mas Inod nanya apakah saya punya keinginan jadi guru. Hhmmm, diieeeeng..

Saya punya prinsip bahwa apa yang saya dapatkan saat ini adalah hasil bantuan dari banyak pihak yang dinamakan proses pembelajaran. Proses itu yang selalu mengajari saya untuk menjadi manusia yang lebih baik. Dan saya tidak ingin menyimpan apa yang saya miliki sendirian. Ilmu yang sepatutnya di share ulang ke yang lainnya. Tidak banyak orang yang memiliki keinginan mulia seperti itu ketika dirinya sudah masuk dalam kawah kesuksesan. Waktu itu mas Inod juga mengatakan hal yang sama. “Di usiamu yang segini, ketika mungkin teman-temanmu masih mondar mandir tapi kamu justru banyak pengalaman di banyak hal. apalagi kamu juga cerdas. Berharap banget kalau kamu punya keinginan menjadi guru Fit.." Anak Indonesia butuh orang-orang sepertimu” Subhanallah.. Speechless seketika. Alhamdulillah.. terima kasih mas Inod yang sudah membangun memori-memori ini beberapa tahun lalu. Saya merasa semakin terpanggil.

Pendidikan merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam membangun bangsa yang kreatif. Kemudian, didukung dengan kapabilitas guru yang memberikan pengajaran pada anak didiknya. Hendaknya guru bisa mengajarkan apa yang baik dan membangkitkan daya imajinasi serta kreatifitas anak. Tidak hanya itu, guru seharusnya juga kritis dalam memberikan alasan-alasan yang memang dirasa benar atau salah sehingga siswa didik pun akan berpikir, tidak hanya mengiyakan atau hanya sekedar mengahafal. Guru juga harus bisa mendidik, bukan hanya mengajar karena pada dasarnya dua hal ini berbeda. Mendidik berarti mentransfer value-value dan materi pelajaran sehingga kedekatan emosional antara guru dan siswa terikat. Pendidikan karakter juga terwujud dari adanya kegiatan mendidik, bukan hanya sekedar mengajar.

Dari serangkaian kabar baik tersebut, sebenarnya saya sendiri masih belum memutuskan untuk “deal” mengajar di dua tempat itu. Saya punya janji sakti untuk daerah saya sendiri. Dan menjadi akademisi itu juga sejalan dengan cita-cita saya untuk merealisasikan berdirinya Langit Biru Foundation. Satu langkah lebih dekat menju mimpi ini.

Apakah saya harus menerima pinangan guru atas nama ilmu? Hhmm, sampai saat ini saya masih terus brainstorming. Sebagai putri daerah yang merantau untuk mencari ”bekal” sebanyak-banyaknya, saya memang punya janji sekaligus tanggung jawab terhadap kota kelahiran saya ini. Namun, saya rasa mungkin waktunya bukan sekarang. Saya masih harus mencari bekal sebanyak-banyaknya karena jika kembali ke daerah sekarang itu terlalu prematur untuk dilakukan. Saya merasa ilmu saya masih sangat kurang. Saya ingin terjun di satu sisi cita-cita saya dulu. Industri kreatif.

Saya pasti akan kembali ke Malang, one day. membesarkan kota saya sendiri dengan bekal yang saya dapatkan dari orang lain, dari banyak kota-kota lain dan dari berbagai pengalaman yang saya miliki. I know I can.

Dulu saya dididik oleh guru-guru dari banyak versi. Mulai dari yang diktator, baik, humoris, woles sampai yang killer sekalipun.  Dan tentu saja saya kepikiran gimana yaa ketika moment itu benar-benar berbalikan nanti. Itulah gunanya belajar. Dulu hanya bisa jadi pengamat. Sekarang justru jadi subjek penggerak. Senangnyaaaa.. Dan satu lagi, anak SMK jaman sekarang berbeda dengan angkatan saya dulu. Pasti murid saya lebih gede daripada gurunya sendiri.

Terima kasih untuk orang tua saya yang sangat super dalam mendidik anaknya. Untuk kakek nenek saya yang selalu menebarkan benih kasih untuk generasinya juga untuk keluarga saya yang begitu hangat. Terima kasih juga untuk guru saya mulai dari SD, SMP, SMK dan juga dosen saya di Paramadina yang sudah memberikan banyak ilmu dan pelajaran kehidupan. Guru tidak selalu orang tua yang memakai seragam dan datang ke institusi pendidikan. banyak teman-teman yang juga menjadi guru saya. saling share knowledges yang dimilki. Semoga ilmu ini akan senantiasa berkah dan bisa terus menyebar luas ke manusia penuh harapan yang ada di muka bumi ini.

27 September 2012

Tumbler Magic

Banyak cerita yang pengen diungkapkan sehingga membuat hari-hari saya serasa berkejar-kejaran dengan rasa semangat. Usai kerja sampai sore, yang juga dipenuhi banyak rasa riang, saya juga selalu semangat pulang ke dorm karena pasti banyak cerita baru yang bisa dirangkai dalam goresan pena. Eh salah, ini kan bukan kertas yang ditulis pake pena. Namun, cerita yang diketik dengan balok note keyboardnya Toshi. Hheee..

Sebagai pelengkap kebahagiaan di september ini, Tuhan telah membalikkan dunia dengan seenakNya saja. Peristiwa itu yang setidaknya sangat memorable bagi saya. Di tengah seluruh kebahagiaan, ada segelintir duka yang menggores batin. Itu membuat saya semakin mencintaiNya. Justru karena jatuh inilah saya merasa menjadi manusia yang sangat beruntung. Tuhan telah mengingatkan saya untuk selalu berhati-hati. Dalam segala hal tentunya. Ini bukan keluhan atau mengutuk diri, tapi saya menganggapnya ini adalah jalan terang setelah setitik gelap datang. Efeknya, bisa lebih menghargai, bisa lebih bekerja keras dan yang terpenting selalu hati-hati. Tidak ceroboh. Cukup kemarin saja yaa teledornya. Belajar Ika, belajar.

Di cerita sebelumnya sudah saya ungkapkan tentang laptop yang rusak. Inilah kesedihan yang datang. Untungnya bisa menghadapi dengan lapang dada dan selalu berusaha ikhlas. Thanks God.

Kisah itu bermula sekitar dua minggu yang lalu ketika saya ke Blok M bersama Ipeh dan Maris, sahabat saya. Saya ke Carefour dan berniat beli tumbler. Tau tumbler kan? Ini bukan tumbler yang biasa digunakan untuk share artikel layaknya blog yaa. Yang saya maksud disini adalah tumbler sebagai tempat minum. Saya berniat mau beli 2 tumbler, kembaran dengan adek saya di Malang. Sebenarnya saya sudah punya tumbler ungu yang sudah menemani saya kemana-mana, hampir di seluruh agenda travelling saya sekalipun. Malah ada satu teman saya yang tidak bisa menyebutnya tumbler atau tempat minum. Ia malah lebih akrab memanggilnya dengan sebutan “hai termos” Hhmm, ini hanya soal nama yang nggak perlu dipusingkan. Yang terpenting bagi saya adalah manfaatnya.

Tumbler saya yang dulu sudah sirna karena ketinggalan di kosan teman. Kalau hanya ketinggalan seharusnya bisa diambil, tapi yang ini beda. Ketinggalan sekaligus tidak pernah bersua kembali. Nah, gimana tumbler ungu itu mau balik lagi? Hhmm, yasudah. Saya memutuskan untuk beli lagi kembar. Adek saya sekarang duduk di bangku SMP dan saya lihat kemarin pas pulang, dia sangat aktif (kaya mbaknya yaa, hhee). So saya pengen adek tetap savety dalam berkegiatan, salah satunya dengan tumbler tersebut. Intinya saya hanya ingin menerapkan sesuatu yang sama, seperti yang saya jalani ke adek saya (kalau memang hal itu dimungkinkan). Jadi berbeda dengan tindakan pemaksaan.

Setelah hampir setengah jam memilih, akhirnya pilihan saya jatuh pada tumbler biru ini. Ini produk Jepang. Saya sengaja beli yang ukurannya sama, jadi benar-benar kembaran asli. Masalahnya harga yang kecil dengan yang besar nggak jauh beda. Mending yang besar sekalian, yang bisa menampung banyak kapasitas. Iyaa kan? 
those are the tumbler magic
Harga tumbler ini Rp 45.000/item. Saya memilihnya karena tumbler ini saya anggap bisa menemani wanita seperti saya dan adek saya. Tidak terlalu menye-menye, juga tidak terlalu maskulin banget. Itu yang terpenting.
***

Sesampai di dorm, saya langsung mencucinya biar higienis. Punya adek saya amankan dilemari. After that, punya saya bisa langsung dipakai. Saya sampai dorm malam, sehingga saya pun langsung bersih-bersih diri kemudian menuju kamar dan tidur di kasur atas. Sebenarnya kasur saya di bawah tapi malam itu saya ingin tidur di atas. Kebetulan kasur atas tidak berpenghuni.

Nah, mulailah ceritanya. Tumbler magic ini mulai menampakkan kesaktiannya. Hhmm, bukan kesaktian juga sih. Itu hanya sebutan saya saja yang mungkin berlebihan. Maklum, orang yang sedang apes pasti bawaannya begini. Tumbler itu saya isi penuh untuk jaga-jaga saat tidur nanti. Saya bawa tumbler tersebut naik ke kasur atas. Hhmm, its the moment exactly happen. Ternyata tumbler itu belum saya tutup dengan rapat. Airnya tumpah ke kasur dan bocor sampai ke kasur bawah mengenai kasur Ema, teman saya. Jatuhnya tepat di sebelah meja kayu yang ditumpangi laptop Ema di atasnya. Laptop tersebut adalah Emacine. Lagi-lagi ini hanya sebutan nama saja. Ema memanggilnya begitu, layaknya saya yang juga sangat menyayangi Toshi (baca: laptop).

Laptop tersebut dalam keadaan terbuka. Dengan kaget saya langsung membereskan air yang jatuh de sebelah meja agar tidak menyebar kemana-mana. Saya langsung merapikan kasur yang kebocoran tersebut. Hhmm, dan tentu saja sudah bisa ditebak kan.. saya gugup banget, takut kalau ada apa-apa sama laptop itu. Saya pun tidak jadi tidur disitu karena merasa masih takut dan khawatir kalau nanti malah kejadian yang aneh-aneh lagi. Yaa, bisa dibilang saya masih trauma unyil. Malam itu saya langsung tidur, kembali ke tempat saya. Dan karena hari itu memang crowded banget, saya hanya membutuhkan waktu 30’ untuk bisa pulas digenggam malam. Ini termasuk luar biasa.

Acara ngreyen tumbler jelas gagal total karena ia justru membawa musibah bagi makhluk lain yang bernama Emacine. Pagi-pagi saya buka hape yang sudah banyak dengan sms-sms dan misscall. Rupanya dari semalam teman-teman saya membangunkan saya lewat hap but ini tidak berhasil. Hape saya jauh dari jangkauan telinga saya.

Emacine rusak. Ia tak bisa menyala. Kronologisnya, ia kejatuhan air tadi. Saya tidak melihat dengan mata kepala saya sendiri tentang air yang menghujani Emacine. Namun dalam logika saya, air itu merembes sampe ke bagian kasur yang tengah sehingga ia melebarkan jangkauan bocornya sampai ke titik dimana laptop Ema tertidur. Benar-benar tidak bisa dinyalakan. Mati pett. Akhirnya kami mencoba mengringkan air yang masuk dengan jalan menggunakan hair driyer, AC kamar yang dinyalakan sampai mengencangkan tekanan kipas angin kamar.

Tentu wajah saya pucat pasi melihat musibah ini. Semua berawal dari kecerobohan saya. Meski kami sama-sama memaklumi bahwa tragedi ini karena apes saja. Dan kebetulan apes itu menimpa saya. Saya paham, maksud Tuhan adalah agar saya menjadi pribadi yang selalu bersyukur dan lebih hati-hati. Untungnya saya tidak gelap mata, menangis dan digalaukan oleh hal ini. Saya bersyukur memiliki hidup yang serba indah tiada tara ini. Pasti ada hikmah baik yang akan terjadi untuk saya. Saya percaya itu.

Dan memang sengaja dibenarkan Tuhan, tragedi itu justru mengantarkan saya untuk menerima kenikmatan yang lebih banyak. Kenikmatan dalam bentuk lain yang lebih menenangkan jiwa. Rasanya pengen nyanyi lagunya Coldplay yang Fix You seketika. Iingat liriknya yang sekarang ngena banget sama kasusnya Emacine rusak. When you try your best but you don’t succeed. Tidak ada orang yang menginginkan dijatuhi banyak durian busuk. But itu memang cobaan hidup, bagaimana kita bbersikap menghadapinya. Kita sendiri yang tahu. Dan semua sudah menjadi bubur. Tidak ada alasan untuk mengeluhkan hidup karena sudah begitu banyak nikmat yang kita terima. Tetap semangat!!

Motherboard oh motherboard. Semuanya berujung pada motherboard. Badai besar ini datang dari kisah motherboard. Gusti, paringi sabar. Saya paham bahwa badai pasti akan berlalu sepeti lagu yang dipopulerkan oleh Ari Lasso itu. Beberapa hari setelah tragedi itu, saya membawanya ke Acer Center di daerah Ratu Plaza Sudirman. Disini saya mulai merasakan kekhawatiran yang memuncak. Ini sebenarnya terkait dengan masalah finansial. Hhmm, sudah pasti saya mengganti kerusakan tersebut. Dan berapa duit yang dibutuhkan jika motherboard sudah rusak begitu. Bukan hany rusak, tapi motherboardnya memang harus diganti. Sudah korosi katanya bapak service. Service center tersebut tidak sanggup memperbaiki sehingga kami membawa Emacine kembali pulang. Hhmm, belum ada satu bulan di Jakarta. belum juga genap satu minggu kerja. Rasanya Tuhan menyentuh dengan cara yang sangat kuat efeknya. 

Poin sudah ada. Motherboard itu sangat mahal. Harganya bisa mencapai 1,5 – 2 juta. Hhmm, pertanyaan selanjutnya, uang dari mana untuk mengganti itu ya Tuhan? Hhmm, nyesek. Saya selalu berdoa semoga diberikan rezeki yang berkah. Meski tidak banyak kalau berkah pasti bermanfaat. Agenda bulan ini harus hemat. Hemat sehemat mungkin biar tidak sampai mengganggu jatah keuangan lainnya. Pasalnya bahkan saya sudah membuat planning soal finansial sampai bulan desember ini. Saya tidak mau kejadian tragis ini merusak agenda saya di kegiatan yang lain (terkait soal finansialnya yaa) sehingga saya harus lebih cermat dan hemat untuk beberapa bulan ke depan.

Finally, Ema akhirnya memutuskan beli laptop baru. Semoga awet yaa Maa. kita sudah sama-sama diingatkan olehNya. Semoga Fujitsu menjadi pengganti terbaik buat Emacine. Yaa, dimirip-miripkan sama Kresno gitulah. Hhee.. Alhamdulillah, sudah terlalu banyak nikmat yang diberi. Sungguh.
Mereka teman baik saya
Bulan depan, tumbler punya adek bakal sampai di malang dengan sebuah boneka dolphin. Yaa, nggak cuma tumbler yang bakal hijrah kesana, tapi dolphin yang saya kasih nama Mahameru ini juga akan akan ikut hijrah kesana. 
Mahameru sudah bersemayam di kamar saya selama tiga tahun lebih bersama Doramumun, Rinjani (Singa), anjing dan si kura-kura. Hhmm, hewan peliharaan saya bakal berkurang satu. Semoga tumbler itu tidak mengikuti aktivitas tragis yang disini. 
they'er my lovely sisters
Dijaga baik-baik yaa sayang. Semoga bermanfaat buat segala kegiatannya. Kembaran kan, jadi harus kembar semangatnya, prestasinya. Justru harus bisa lebih dari mbak. Oke, semangaaat adek Rara!!

25 September 2012

Jhoni Sudah Gede

Jhoni. pasti kalian semua sudah menebak-nebak siapa Jhoni disini. Yang jelas bukan bapak karena bapak sudah tidak mengalami masa pertumbuhan. lalu, siapa? Pacar saya? Adek saya? atau justru kakak saya? 

Hhmm, well saya sangat bersyukur karena Jhoni sudah gede. Siapa itu Jhoni? Nah,  Jhoni itu nama sapi saya. Sebenarnya nama itu pemberian ibu. Tepat tahun baru 2012 lalu saya membuat banyak resolusi. Salah satunya dengan membeli kambing di tahun 2012 ini. Saya paham, saya belum bisa menghasilkan banyak uang. Yaa, ini sebenarnya juga pemikiran klasik kalau mahasiswa lebih minim input daripada yang sudah bekerja. Sejujurnya saya sangat tidak setuju dengan pemikiran semacam ini. 

Dulu saya mikir beli kambing karena sapi sepertinya terlihat lebih mahal. Berkali-kali lipat dari kambing. Tapi apa yang terjadi sekarang? Alhamdulillah, saya berhasil membeli sapi laki-laki di awal tahun ini. Sekarang Jhoni dirawat oleh saudara saya di Malang. 

Rasanya senang sekali ketika melihatnya tumbuh dewasa. Tentunya bahagia itu lebih karena apa yang saya cita-citakan bisa terealisasi. Saya membeli sapi tersebut dengan tabungan yang selalu saya kumpulkan ketika saya mendapat job atau semacam freelance disini. 
Yaa sudah, baik-baik yaa Jhoni.

            Selama ini yang saya tahu hanya rumput kalau ditanya soal sapi. Ternyata begitu banyak nutrisi yang baik untuk sapi. Dan saya mengetahui itu dari kakek saya. Lebaran kemarin saya diajak kakek saya ke toko obat-obatan pertanian. Setelah itu baru ke toko pakan hewan. Disitulah saya tahu banyak hal. ternyata selama ini, Jhoni bisa tumbuh segar karena diberi susu, vitamin C dan mineral. Bayangkan saja, sapi lho yang dikasih banyak nutrisi tambahan. Jhoni pasti sehat.

Exciting Identity

Episode kali ini sebenarnya masih ada kaitan dengan judul yang sebelumnya. Tepatnya ini adalah ulasan lebih detail tentang satu topik yang sudah saya sebutkan disana. Tentang pekerjaan baru dan lingkungan baru. Grand topiknya tentu saja masih di seputar september ceria. It’s happennning in september exactly.

Satu lagi cerita yang membuat hati semakin berbunga-bunga karena rahmatMu. Saya punya rutinitas baru di semester ini. Ke kantor pagi-pagi dan pulang di jam-jam kemacetan yang super. Tapi itu tak membuat mendung sedikit pun. Indah, hanya indah yang bisa dikatakan. Saya masuk di tim kreatif Identity, sebuah branding consultant yang berlokasi di Jl. Saharjo, Tebet.

Saya masuk kesini tepat setelah seminggu saya tiba di Jakarta. Awalnya saya dianjurkan agar masuk sebelum lebaran. It’s mean, saat itu masih bulan puasa. disitulah saya menemukan rasa keengganan. Jika masuk kesana saat itu, menurut saya tidak efektif. Baru beberapa minggu masuk sudah lebaran. Dan lebaran adalah arus mudik yang super crowded

Sebagai seorang perantau, saya sebisa mungkin menghindari arus ini (kalau memang masih bisa, hhee..) Akhirnya saya suggest agar bisa masuk setelah lebaran. Sekalian biar waktu freenya lebih banyak pas lebaran. Itu motiv paling utama sebenarnya. Saya sudah punya bayangan, jika saya masuk sebelum lebaran berarti saya juga harus masuk kantor mengikuti jadwal setelah mudik nanti. Biasanya H+7 sudah masuk. Nah, ini yang paling saya risaukan. Jujur saja, saya masih ingin berlama-lama di rumah. Dari lebaran-lebaran yang lalu saya selalu balik cepat ke Jakarta, bahkan lebaran ketupat pun biasanya sudah kembali, tiba di tanah rantau. Di Paramadina, after lebaran selalu berbarengan dengan jadwal GMP. GMP adalah singkatan dari Grha Mahardika Paramadina. Itu semacam ospek, jika kita bandingkan dengan kampus lain. Nah, saya selalu masuk dalam bagian ospek tersebut sehingga sudah bisa dipastikan bahwa saya harus balik buru-buru ke Jakarta terkait persiapan hajatan menyambut mahasiswa baru.

Kembali ke topik awal mengenai masalah pekerjaan. Saya sangat berterima kasih kepada mas Afif. Saya sangat paham bahwa Tuhan mengirimkan kebaikannya melalui mas Afif. Nah, sebenarnya siapa mas Afif ini?? Dia adalah cikgu baru saya. Hhaaa.. Teman yang sekaligus sudah saya anggap sebagai kakak. Kami saling tahu sudah cukup lama karena kebetulan dia adalah pacar sahabat baik saya. She’s Phiang. Namun, kami bisa sedekat kakak adik seperti sekarang ini, yaa baru akhir-akhir.

Mas Afif menjadi semacam media yang dikirimkan Tuhan. Thank you cikgu. Dari sebelum CV dan portofolio itu dibuat, Ia selalu mensupport saya. Sampai pada akhirnya saya bisa bergabung dengan timnya yang keren. Ia membantu sepenuh hati. Hal itu yang saya rasakan dengan kehadirannya. Semoga kebaikanmu dibalas dengan kenikmatan lain yang justru lebih mendalam mas. Amien. Dan akhirnya rasa lega itu muncul ketika saya selesai interview dengan pemilik perusahaan tersebut. Beliau adalah bu Aqis, wanita karir yang sangat ramah.
ruangan kerja saya
Kantor itu terasa lebih menjadi rumah hangat. Dan seakan Tuhan tahu bahwa saya tidak pernah berolahraga khusus. Ruangan dimana saya bekerja ada di lantai 4. And you know, kantor ini tidak menyediakan lift sehingga setiap hari kami harus olahraga naik turun tangga. Untungnya saya stay di lantai 4. Bayangkan saja jika saya harus menjadi pak misbah, salah satu karyawan juga yang kerjanya lebih sering di lantai atas kami.

Rekan kerja saya disana sangat menyenangkan semua. Mereka adalah orang yang supel. Bersama tim kreatif yang berjumlah 6 orang, saya mengeksplor kemampuan saya di dunia DKV. Berusaha belajar lebih banyak dan mencuri ilmu sebanyak-banyaknya dari mereka yang jelas lebih expert. Tim kreatif yang bersemayam di lantai 4 tersebut adalah mas Afif, mas Bayu, mas Tomi, mas Bonni, mas Almi dan pak Abi. Dan sudah jelas, saya adalah satu-satunya wanita paling cantik di tim ini. Pertama masuk, saya memang masih canggung bagaimana menempatkan diri di tengah laki-laki muda seperti mereka. Hanya pak Abi dan mas Bayu saja yang sudah menikah. Disini saya sadar, ternyata environment laki-laki itu lebih menyenangkan. Memberi banyak kejutan. Rasa canggung itu hanya muncul beberapa hari. Selanjutnya, isinya hanya kerja sambil hahahihiii. Kantor terasa lebih asik dan hidup karena manusianya yang masih muda, ditambah lagi memang orang-orangnya humoris, selain kreatif. I’ve great partner at there.

Ohyaa, beberapa hari yang lalu kantor sangat ramai. Ada apa? Hhmm, karena malamnya ada pertandingan sepak bola. Saya lupa tim mana yang main. Eh, bukan. Lebih tepatnya, saya tidak tahu siapa yang main karena saya juga bukan pecinta bola. Kantor terlihat lebih tertawa. But, saya hanya bisa mlongo *hening* karena mereka semua ribut soal bola. Sedangkan saya wanita satu-satunya disana. Namun, ini memiliki nilai kunci tersendiri bagi saya. Mereka sangat baik dan selalu care terhadap saya. Jadi wanita sendiri justru lebih menyenangkan, khususnya di tengah-tengah orang hangat.

Di kantor juga memiliki semacam perpustakaan mini. Banyak buku-buku desain yang belum saya jumpai di toko buku. Ini menjadi ketertarikan tersendiri bagi saya. Bisa belajar banyak hal secara gratis dengan buku soal branding, layout, tipografi, colour guide dan masih banyak yang lainnya. Itu menjadi semacam pelengkap 7 Imac dan 1 PC yang terjajar rapi di ruangan.
my first project, design CSR book
Nah, satu lagi yang ingin saya ceritakan. Ini soal mas Bayu. Beliau adalah senior designer di Identity. Pertama saya masuk, beliau memang paling pendiam daripada yang lainnya. Yaa saya cukup memaklumi, mungkin orang kalau sudah menikah yaa seperti ini. Berbeda sekali dengan yang masih single. Sebenarnya mas Bayu juga masih muda seperti yang lainnya, hanya saja beda status. Beliau terlihat menyeramkan bagi yang tak kenal. Padahal itu juga nggak benar. Beliau adalah orang yang sangat baik. Cerdas dan banyak pengalaman karena sudah banyak berkecimpung di dunia brand. Mas Bayu selalu membagikan ilmu yang Ia miliki. Tidak disimpan sendiri. Itu yang paling saya kagumi.

Selain mas Afif, pak Abi dan mas Bayu, ada lagi om beruang bernard alias mas Tomi. Dia sosok yang humoris dan gembul badannya. Lalu, mas Bonni yang juga sangat berpengalaman dan expert di bidangnya. Dan yang terakhir adalah mas Almi. Dia memiliki style ala Keenan, Adipati yang main di film Perahu Kertas. Hhee.. Sampai-sampai saya dan mas Afif menyebutnya Keenan kw 2. Tentu saja yang paling dekat dengan saya adalah mas Afif. Orangnya juga supel dan penuh tawa. Masih banyak karyawan lain, yang mengisi kantor. Mereka semua adalah rekan kerja yang sangat menyenangkan.

Rasanya bersyukur banget bisa masuk di Identity. Di saat banyak teman yang bingung, saya sudah menemukan jawabannya. Apalagi kantor juga lumayan dekat dengan dorm. Hanya tinggal naik kopaja 612, lalu jalan kaki sebentar sudah sampai di Gedung Gajah. So, costnya juga lebih hemat kan. Hhee.. Saya hanya perlu waktu sekitar 1,2 sampai 1 jam (maksimal karena macet) untuk bisa tiba di kantor. Maklum, Tebet dan Mampang adalah lokasi sarat kemacetan Jakarta sehingga setiap hari, khususnya setiap sore, saya akan menemukan sikon yang seperti ini. Pulang kerja bertemu kemacetan dan bau khas kopaja di sore hari. Hhmm.. 
Abuba Steak, Tebet
beberapa waktu yang lalu, saya berkumpul bersama keluarga kecil ini. Kebetulan malam itu adalah weekend. It’s mean hari jumat dan besoknya sudah libur. Agenda malam itu adalah dinner rame-rame bersama rekan kerja sekantor. Itu atasan yang buat acaranya. Dan ternyata menang itu rutin dilakukan setiap beberapa minggu sekali. Kami makan di Steak Abuba, Tebet. Memang benar apa yang dikatakan sahabat saya sebelum saya masuk Identity. Waw, great. Tebet itu surganya kuliner Ika. Dan saat itulah saya mengiyakan statementnya. Steak Sirloin, lemon ice dan es podeng menjadi menu hangat malam itu. Namun, saya agak bermasalah dengan Sirloin tersebut. Gigi saya kurang bersahabat ketika bertemu Sirloin.
Terima kasih Tuhan, telah memberikan keluarga baru sehangat ini. Mereka yang penuh kejutan. Identity, bukan terlihat sebagai kantor yang menegangkan. Semoga ini tidak hanya berlaku di awal yaa. Semoga saya juga senantiasa menjadi pribadi yang selalu bersyukur atas segala kebahagiaanMu ini. Hati tenang, keluarga kecil, ilmu, tugas akhir dan  riang tawa. Semuanya ada di Identity.

23 September 2012

Thanks God for this Glad Evening

Kembali ke semester tujuh juga menjadikan saya semakin mencintai hidup, keluarga dan Maha Agung. Semester ini menjadi semacam penentuan, bukan penentuan akhir juga sih. Hanya saja tugas Akhir dari serangkaian proses panjang menuntut ilmu di Paramadina saya tempuh di semester ini. Ke kampus hanya hari senin dan kerja sudah rutin dijalani. Planning yang saya buat memang tepat. Lebaran tahun ini memang saya manfaatkan sebaik mungkin sebagai quality time with my family. Pasalnya, saya sudah berpikir bahwa tahun depan saya sudah bekerja atau S2 sehingga waktu pasti lebih limit daripada sekarang yang notabenenya saya masih berstatus mahasiswa. Saya juga sangat bersyukur bisa masuk ke Identity, tempat baru saya di dunia kerja. Sebuah branding consultant yang berlokasi di Tebet. Identity adalah tempat yang sangat menyenangkan untuk bekerja dan menimba ilmu lebih banyak.

Bersyukur karena rezeki yang Kau limpahkan senantiasa barokah. Keluarga yang sehat  di Malang, materi yang berkecukupan, teman-teman yang selalu membuat hati renyah sebagai sandaran di perantauan. Terima kasih juga telah memberikan kesehatan yang berlimpah untuk nenek kakek saya. Berkahilah umurnya ya rab. Betapa terharu ketika kakek saya berpesan. Kalimat itu diutarakan beliau ketika saya akan balik ke Jakarta kemarin. Nduk hati-hati disana. Tetap belajar dan terus berdoa. Doakan kakek selalu diberikan kesehatan agar nanti bisa datang di wisudamu. Subhanallah. Mata saya seraya berkaca-kaca. Sehatkanlah orang-orang yang saya sayangi. Berkahilah umur yang semakin tua ini ya rab. Rasa terima kasih saja tidak akan cukup mewakilkan kepadaMu. Namun, itu yang setidaknya membuat saya lebih lega. Terima kasih telah mengirimkankeluarga yang sangat hangat. Keluarga yang penuh cinta kasih.

Semoga saya bisa selalu menjadi seorang pembelajar yang gelisah. Tidak menggurui tapi tetap bisa menginspirasi banyak orang lewat perbuatan, bukan hanya lewat tutur kata. Dan yang terpenting, semoga saya tidak silau oleh kilauan yang ada di depan mata. Semoga terhindar dari sifat sombong dan arogan karena itu hanya akan menjatuhkan.

Jadwal sidang juga sudah keluar, tunggu apa lagi? Just do it. Senyum, semangat. Give the best performance for the examiners. Ngomong-ngomong soal tugas akhir, lah ini besok sidang malah sekarang belum ada persiapan apa-apa. Malah lebih enjoy nulis *ironis riang*

            Nah, sabtu kemarin saya sempat ke IKJ. Bertukar pikiran sekaligus refreshment. Hhmm, rasanya krikrikrik banget ketika masuk kampus yang serba warna-warni akibat mural ini. Dulu saya sempat mau masuk IKJ karena memang passion saya ada di dunia sinematografi. Dan sudah menjadi rahasia publik bahwa sinematografi IKJ itu bagus dan terkenal selain media rekam ISI Jogja. Sayangnya beasiswa yang diberikan IKJ waktu itu tidak full. Beasiswa itu saya dapatkan dari lomba FLS2N di Jogja, membuat iklan layanan masyarakat. Dan jalan hidup saya lebih memilih Paramadina.  Paramadina lebih mendekati realistis soalnya. Ia memberikan beasiswa yang lebih menjanjikan. Dilihat secara finansial saja, Paramadina Fellowship itu jenis full brightnya Indonesia. Lulus SMK adalah permulaan untuk meniti hidup baru yang lebih menantang. Disitulah terletak satu poin, saya harus mandiri. Titik.

Pulang dari IKJ, saya langsung telpon kamu buat nanyain laptop yang rusak itu. Kenapa kamu? Karena first mind saya ketika Emacine rusak yaa kamu, yang berbau informatika. Hheee.. sampai pada akhirnya kita bisa bercengkrama lumayan lama lewat jaringan di udara. Happy weekend! Sangat senang bisa share banyak hal, termasuk soal  Green Day. Alhamdulillah, selalu dilimpahkan kebahagiaan. Ngrusakin laptop pun jadi nggak terasa berat kalau sudah terkena virus bahagia tingkat dewa yang dilengkapi rasa syukur. Mencoba mengulang kalimat yang saya tulis beberapa minggu lalu, I really happy with you. Semoga radar neptunus itu akan tetap terpasang dan terkoneksi dengan baik. Yang terpenting adalah semangatnya di dalamnya, bukan lagi embel-embel apa yang ada di belakangnya. Thanks God for this glad evening.

September ini benar-benar menjadi bulan yang penuh lalalalaaaa. Saya susah menyebutnya jadi lalalaaa itulah yang cukup mewakili perasaan saya. Ditambah lagi lagu yang kamu kenalkan yang sampai saat ini membuat saya tersenyum-senyum sendiri ketika mendengarnya. Penasaran dan tetap berpikir bahwa lagu ini penuh magic. Wake me up when september ends.

Saya menyimpulkannnya saat ini adalah happy sunday, happy weekend and happy september. Terima kasih atas nikmatMu yang tiada bertepi, semakin menggulung dan menghujani. Saya juga bercerita banyak hal dengan ibu. Dan seperti menjadi perfectonya, chattingan tersebut menghasilkan grand message ”jangan lupa selalu bersyukur yaa nak” Ibu selalu mengerti saya. Kemarin, sekarang dan nanti, ibu akan tetap menjadi payung hangat saya bersama bapak dan adek.

Sedikit ngambil kutipan dari kamu yaa, “hopefully (always) happy before (and after) september ends. Itu yang memang saya harapkan. Semoga kebahagiaan ini tidak menemukan ujungnya. Semoga radar kita juga tak ada masanya. Be grateful for my wonderful life. I love this month. It’s wonderful September that I have.

be grateful for my wonderful life

Dear all, pernah nggak kalian menyadari bahwa hidup ini begitu indah? Tanpa atau adanya kita sebagai manusia di bumi yang semakin keruh ini? Hidup yang penuh teka-teki yang membuat manusia (seharusnya) lebih greget dalam menjalaninya. Ini semacam pertanyaan pengantar saya malam ini.

Well, masih di seputar kisah wonderful september yaa. September 2012 is very unpredictable *bacanya sambil pasang muka sumringah penuh semangat*. Saya sedang mengalami kondisi yang saya pun tidak bisa menyebutkannya. Intinya kata senang saja tidak cukup mewakili karena rasanya lebih dari itu. Alhamdulillah, always be grateful.

Nah, sebenarnya besok siang saya akan menjalani sidang tugas akhir di kampus. Lebih tepatnya sidang proposal alias pengajuan tiga judul tugas akhir. Saya rasa ini akan sangat penting seiring dengan jalan untuk mendapatkan dosen pembimbing yang klik di hati. Selain dari kapabilitas kita sebagai subjek penggarap tugas akhir, menurut saya pembimbing juga sangat menentukan jalannya proses tugas akhir tersebut. Bisa dipastikan saya akan mengunjungi Paramadina lebih lama karena memasuki semester tujuh ini, jadwal ke kampus saya hanya dihari senin. Itu pun hanya sekitar 3 jam untuk mengikuti mata kuliah Audio Visual. Salah satu mata kuliah yang paling saya senangi karena dari judulnya saja sudah berbau sinematografi.

Seharusnya, saat ini saya fokus mengerjakan pra sidang besok. Preparationnya, mulai dari materi, presentasi dan kesiapan saya dalam menghadapi hajatan akbar tersebut. But, lihat saja ini. Saya masih belum ada greget menyentuhnya, malah lebih interest untuk nulis dan berceloteh bersama angan-angan. Lebih baik melakukan sesuatu yang membuat hati tenang. Kalau sudah tenang pasti nanti mengerjakan hal yang lain juga akan tenang *alibinya* hheee..

Seharian ini saya memang lebih woles, merelaksasikan diri dengan semua yang berbau sidang. Just fun dan dibikin santai saja. Menghabiskan satu hari ini dengan mbak Luti, Dhillaz dan Ema di kamar anak komplek. Saya punya istilah sendiri untuk hari ini yaitu “begajulan” isinya ya having fun and quality time with my lovely roommate. Sebenarnya sidang itu hanya naming biar kelihatan agak horor. Beberapa teman kampus saya yang juga sidang besok sudah ribut, mikir ini itu. But, i’m still calm down. Saya rasa kontennya juga sama seperti ketika kita mempresentasikan tugas di kelas, toh pengujinya juga dosen-dosen yang memang mengajar kita di mata kuliah sebelumnya. jadi sidang itu hanya istilah seremnya, padahal (insyaallah) juga nggak.

Sedikit cerita tentang hidup yang begitu berharga. Kita sebagai makhluk yang paling sempurna, memiliki akal pikiran, hati dan rasa. Itulah yang membedakan kita dengan makhluk Tuhan yang lain. Simpelnya, jika perbuatan kita jauh dari kategori tersebut, lalu apa bedanya kita dengan binatang? Setiap partikel dari diri kita itu sangat berharga. Bahkan itu pun sudah ditulis dalam salah satu topik buku yang saya baca. Personality Plus. Penulis mencoba mensugesti para pembacanya. Mengajak manusia untuk mencintai dirinya dan percaya bahwa diri kita memang sangat berharga. Satu lagi tambahan yang menurut saya cukup bagus, berpikirlah bahwa kita adalah orang nomor satu, bukan nomor dua atau seterusnya. Itu sebagai jalan untuk mempercayai kapabilitas diri sendiri dan juga menciptakan rasa percaya diri dalam menghadapi dunia luar. Tentunya tak perlu disertai rasa sombong yaa.
***

Karena rasa syukur yang berlimpah, saya ingin membagikannya kepada Anda yang baca. Saya sangat bahagia. Bahkan lebih dari itu. Thanks God for today. Saya sangat menyadari bahwa apa yang selalu disyukuri, nikmatnya akan selalu dilipatgandakan olehNya. Maha kuasa Tuhan dengan segala kebesaranNya. Rasa senang dan tenang, itu yang saya rasakan saat ini. Setiap hari selalu bertambah, bertambah dan bertambah. Saya juga langsung ingat salah satu guide saya waktu camping ke Gunung Gede Pangrango bulan april lalu. Dia adalah kak Eci, wanita yang memiliki hobi yang sama dengan saya. Suka berpetualang dengan alam dan interaksi sosial lainnya. Saat itu kami share pengalaman masing-masing dan akhirnya menemukan satu poin utama, kami sama-sama suka travelling.

Saya menambahkan bahwa saya bukan hanya suka travelling yang biasa, but travelling with studying. Jika saya barang, maka entitas brand saya adalah travelling. Itu kata teman-teman dorm atau pun teman-teman di kampus yang memang tahu keseharian saya. Dari dulu saya ingin mematahkan pendapat bahwa travelling itu selalu identik dengan uang nan mahal. Padahal tidak selalu. Dan saya sudah membuktikannya dengan jalan hidup saya, travelling with studying. Tidak hanya sekedar travelling untuk mengunjungi tempat baru dan orang-orang baru, tetapi travelling sambil belajar. Belajar sambil travelling. Dan tentu saja yang paling penting adalah saya bisa travelling karena ilmu, karena belajar. Itu yang selalu saya terapkan dalam passion saya di dunia travelling. Selain menemukan banyak kisah baru, itu juga menjadi salah satu jalan agar cost menjadi hemat. Siapa bilang travelling itu mahal? Hhmm, mulai sekarang buang jauh-jauh yaa pikiran itu.

Kembali soal kak Eci, ia adalah sosok yang bisa menginspirasi peserta yang lain saat pendakian kemarin. Bahkan sampai peserta laki-laki terheran-heran mengapa ada orang setangguh dia. Ditanya soal pacar, bilangnya belum punya. So, muncullah statement yang luar biasa darinya. Kalau saya mau nikah, cowoknya harus saya uji dulu. Ngujinya yaa di hutan kaya kita gini karena ketika di hutan sifat asli itu akan muncul semua. Saya sama sekali nggak kepikiran. I’m seriously surprized. Dan insting saya langsung terkoneksi. Saya tiba-tiba juga ingin menerapkan pengujian yang sama nantinya dengan calon jodoh yang datang. Hheee..

Everyday isn’t only be a nice day but it can be a wonderful day, like today. Rasanya benar-benar indah ketika kita bisa mensyukuri segala yang diberikan olehNya. Sedikit tapi kadang tak menyadari. Hidup saya penuh kehangatan. Kalau dirunut, semester enam lalu berakhir lancar. Saya bisa mengikuti JFC yang sudah lama saya mimpi-mimpikan. Kemudian dengan lebaran 2012 yang penuh suka cita. Bisa bertemu dengan keluarga, baik yang dekat maupun yang jauh. Rasanya semua kejutan indah itu terbentuk bulat ketika berada di Malang. Timingnya pas banget. Ketika di Malang, itu benar-benar menjadi hal yang paling menentramkan hati. Ditambah lagi dengan satu hal yang membuat hati tersenyum riang sampai sekarang, bisa bertemu dan bercengkrama dengan kamu. Bahkan sampai di detik perpisahan, stasiun kota Malang yang membuat hati pilu. Lalu ketika sekarang saya sudah kembali ke Jakarta pun, kedekatan itu tetap menyatu. Melebihi ikatan batin beberapa tahun yang lalu. Thanks dear, semoga ini tidak akan pernah surut oleh jarak dan waktu.

Malang memang selalu menjadi topik utama kemanapun saya pergi. It’s the best place that I’ve visited. Apalagi memang dari kecil tinggal di kota apel ini. Keluarga dan orang-orang terkasih juga menetap di kota ini. Meski saya sering travelling kemana-mana, bahkan sampai Eropa sekalipun, Malang akan tetap mendapatkan tempat terdalam di hati. Tak akan pernah tergantikan oleh yang lain.

22 September 2012

What’s up with this September

Cerita ini bermula dari sebuah musik, musik yang bertemu dengan serendepitynya beberapa hari yang lalu. Dan sayalah serendepity tersebut. Musik  yang saya maksud ini tidak hanya sekedar dinyanyikan, tapi musik itu memiliki roh kuat ketika dinyanyikan oleh sang empunya. Mengapa saya sebut roh? Karena ketika mendengarnya, saya tiba-tiba merasakan something different, tapi itu apa? Hhmm, saya sendiri juga belum tahu. Rasanya pengen menanyakan hal ini kepada Neptunus. Keanehan model apa lagi yang sekarang saya alami. Kalau dibilang dejavu, jelas bukan. So, karena sama-sama belum tahu, mari berpenasaran saja dulu.

Saya mengikuti mahzab salah seorang teman yang sudah banyak memberikan inspiring. Ia pernah menjadi partner yang sangat hebat, teman diskusi jitu, travelmate dan banyak interaksi yang lainnya. Namun, sekarang bisa dibilang bahwa relasi kami tidak sedekat dulu karena suatu hal yang sebenarnya juga sangat sepele. Kita punya standarisasi hidup yang sangat berbeda. Anggap saja relasi kami ini seperti science. Selalu berubah mengikuti perkembangan waktu.

Well, setelah flashback sedikit tentang teman saya ini, mari kita lanjutkan ceritanya. Saya sangat yakin bahwa ada beberapa hal yang paling mempengaruhi perkembangan manusia. Ia adalah musik, film dan buku. Dan yang akan menjadi poin kali ini adalah soal musik. Jujur saja saya masih tidak bisa fanatik terhadap satu titik. Begitu juga dengan musik. Referensi yang menurut saya  paling bagus adalah karya Coldplay (the most) dan The Trees and The Wild. Mungkin karena intuisi saya terhadap musik dan jenis-jenisnya juga minim sehingga saya memutuskan dua band tersebutlah yang menjadi favorit saya.

Kembali dengan tema September yaa. Tepat satu minggu yang lalu saya mengikuti sebuah training tentang pemuda dan anti kekerasan. Tentu saja yang dibahas di forum itu adalah bagaimana menciptakan perdamaian dan menyebarkan nilai-nilai pluralisme. Dari sekian pembicara, saya hanya noted satu saja. Dia adalah Fahd Jibran. Saya sangat interest dengan apa yang dipaparkannya. Kebetulan Ia juga masih muda sehingga stylenya anak muda banget. Tepat sasaranlah kalau peserta training tersebut juga anak muda semua.

Saya bersama kelompok saya :)

Waktu itu Fahd Jibran menjelaskan bahwa musik bisa menjadi media untuk menyebarkan pesan-pesan sosial. Tidak hanya sekedar nyanyian untuk pengantar tidur atau menjadi teman dikala kesepian melanda manusia. Dan di momen itu pula Ia mention dua band yang bergerak untuk aksi damai ini. SID dan Green Day. Nah, titik fokus yang saya bahas disini adalah Green Day. Green Day adalah musisi yang tidak hanya melantunkan lagu, tidak juga hanya membuat lagu-lagunya menjadi komersil dan digemari banyak orang. Tetapi Green Day justru banyak menyampaikan pesan-pesan sosial via lirik-lirik lagunya.  Mereka menyebarkan kebaikan  melalui passionnya, yaitu dengan musik. Nah, disinilah saya sudah merasakan hawa-hawa keanehan. But, lagi-lagi saya nggak paham itu hawa jenis apa. Di otak saya waktu itu hanya muncul satu grand topik. Green Day adalah band favorit Ichan. Paten. Hhmm, mungkin karena ini sehingga terbentuklah relasi yang kuat soal Green Day.

Tak berhenti sampai disitu, hari terus berlanjut dengan segala bentuk kesibukan yang menggerogoti waktu. Saya pun masih belum tahu banyak soal Green Day. Yang saya notif paling hanya “kok Ichan sering ngetwitt soal Green Day yaa? Ada apa?” Hhmm.. akhirnya, dua hari yang lalu saya mulai browsing tentang Green Day. 

Pertama browsing, yang disajikan kakak google adalah lagu dengan judul Time of Your Life. Setelah diputar ternyata aku dengan mudah bilang “Lah, ini kan lagu yang ada di hpku dulu. Lagu yang aku jadiin nada dering hp selama berbulan-bulan” Ntah dulu mendapatkan lagu itu dari mana yang jelas saya menjadikannya nada dering karena saya menilai lagu ini penuh spirit. Dan saya suka itu. Titik. Ternyata lagu ini judulnya, saya bicara dalam hati. Itu menjadi kebiasaan saya, menyukai atau hanya sekedar tahu sesuatu tapi nggak ngerti labelnya. Kalau musik, ibaratnya saya nggak tahu judulnya tapi saya sering mendengarkan bahkan suka dengan musik tersebut. Nah, saya berasumsi bahwa embel-embel itu tidak lagi penting sehingga saya tidak tahu siapa yang sebenarnya sedang beraksi itu. Seakan mengiyakan argumen Caknur bahwa yang terpenting itu apa yang kita kerjakan, bukan melihat jabatan apa yang menempel saat kita mengerjakan hal tersebut. Kasusnya kan mirip, hanya beda tema saja.

Browsing kedua, saya langsung menemukan lagu wake me up when september ends. 
Dari judulnya saja sudah memorable. Ketika mencoba playlist lagu ini, hanya ada satu kata yang saya sendiri belum bisa menerjemahkan. Makjleb. Ada sesuatu yang ingin disampaikan dan sepertinya itu benar-benar dalam banget. Seketika aku browsing video clip serta lirik lagunya. Hhmm, harus bilang apa yaa sama lagu yang satu ini. Hati ini tidak bisa bicara, hanya bisa merasa. Kau adalah lagu yang bisa membuat saya menerawang ke atas, memikirkan sesuatu yang tak kunjung bertepi. Tapi apakah itu? Jawabannya nihil.

Seperti yang sudah ku ceritakan di awal narasi tadi, guess star dari cerita kali ini adalah September. Lagu Wake Me Up When September Ends ini juga semakin membuatku tuing-tuing, apalagi sekarang juga bertepatan dengan bulan September. Hhmm.. rasanya deadlock banget kalau saya nggak bisa menemukan kunci “sebenarnya apa yang saya rasakan ini?” Ohyaa satu hal yang belum saya sebut, lagu ini sama seperti lagu Time of your Life. Saya sering mendengarnya tetapi nggak tahu judulnya apa. Bedanya, lagu Wake Me Up When September Ends ini lebih ngena banget di hati. Apalagi kalau liat langsung video clipnya. There’s something different when I see this story. Ini satu-satunya lagu melow yang bisa membuat otak saya berputar-putar, bukan hanya menikmati estetikanya. Very Inspiring.


Setelah baca artikel, saya baru paham bahwa lagu itu untuk siapa dan mengapa Billie Joe Armstrong menciptakan lagu tersebut. Itu yang membuat saya semakin respect dengan Green Day. Membuat apa yang ia alami menjadi sesuatu yang bisa dinikmati banyak orang dalam bentuk karya. Which is apa yang dia alami itu tidak sia-sia. Justru bisa menjadi pembelajaran untuk orang lain dan bisa menginspirasi banyak kepala. Dan itu adalah prinsip yang selama ini saya anut juga. Bahwa apa yang saya alami, selalu ingin dibagi dengan banyak orang sehingga itu bisa bermanfaat lebih banyak. Bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain. So, kita samaan ya mas Armstrong *mari kita tos dulu* Saya rasa ini juga menjadi satu jawaban mengapa Ichan sangat  mengagumi Anda. Apalagi lagu Wake Me Up When September Ends juga menjadi lagu favoritnya. Hhmm, andai saja Anda ada di Indonesia, pasti saya akan mengajak Anda untuk makan es krim bareng di tempat favorit saya, ofcourse bareng sama Ichan. Hheee.. jadi nglantur.

Dan puncak kenapa saya bisa menulis sampai larut saat ini adalah tragedi semalam. Saya benar-benar tidak bisa tidur padahal esok adalah weekend yang notabenenya itu bisa istirahat dengan penuh senyuman. Kerja libur. Eh, yang ada saya malah stuck di depan Toshi (baca: laptop saya) sampai pagi dan sudah bisa ditebak kalau lagu yang diputar itu just the one and only, Wake Me Up When September Ends. Benar-benar stuck in reverse. Pasalnya, siangnya saya juga sudah menjadi manusia yang paling diheran-herankan di kantor karena seharian itu saya hanya memutar lagu ini untuk didengarkan. What’s up with this song?? Thanks for making me unable to sleep for several days.

Dan akhirnya hari ini saya juga mendapat satu jawaban pasti tentang apa yang selama ini menjadi pertanyaan besar di pikiran saya. Tentang Armstrong yang menjadi nama marga kamu chan. Setelah sekian lama saya hanya bisa menerawang dan mengira-ngira apa itu Armstrong. For today, I know that you’re very loved with (the leader of) Green Day, Billie Joe Armstrong. Yes, I got it right now. Seneng lihat kamu cerita soal Green Day dengan penuh semangat seperti tadi siang.

Dua lagu yang menemani saya menulis artikel ini tentu saja Wake Me Up When September Ends dan  Viva La Gloria. Referensi musik saya bertambah lagi. Terima kasih September yang sudah menggemparkan bumi hati saya. Anda menang bersama Ichan dan teman baru saya, Green Day. Ketemu di kisah september selanjutnya yaa. Sampai lupa kalau ini sudah menjelang subuh. Senyum, semangat!!