Kamarku sudah terlampau sepi.
Rupanya penghuninya sudah tertidur pulas dibalut dinginnya malam. Ada limat
wanita disana. Mereka adalah teman seperjuanganku dalam menuntut ilmu di kota
ini. Lebih tepatnya mereka adalah keluarga bahagiaku disini.
Kamar ini selalu ramai ketika
kami masih ‘hidup’. Tempat ini lebih terasa seperti arena hiburan yang selalu
menghasilkan banyak gelak tawa. Aku rasa poin penting disini bukan terletak
pada nilai kamarnya tetapi pada penghuninya. Selain aku, ada Dhillaz, Luti,
Ema, Klorofil dan Asri. Mereka yang membuat kamar ini terasa seperti surga
kecil di tengah hiruk pikuk kota Jakarta. Bahkan efeh ‘hiburannya’ melebihi
kapabilitas Dufan yang selama ini diagung-agungkan banyak orang. Dufan kalah. Tak
perlu jauh-jauh kesana untuk mendapat hiburan dan rasa senang. Berkumpul dengan
mereka, di tempat ini, selalu membuat penuh riang senyuman dan canda tawa. I love they’re.
Lalu.. malam itu hanya
tinggal dua bola mataku yang belum terpejam. Aku belum bisa tidur. Mataku masih
tergerak lebar dan berbinar-binar di tengah kesunyian. Seperti biasa, aku
memang sering menjadi penghuni terakhir di kamar ini. Tidur terakhir karena jam
terbang yang juga terus mencair. Hheee..
Tiba-tiba saja, malam itu
ponsel mungilku bergetar. Lama sekali. Ku lihat di layarnya yang menyala,
tertulis nama ‘Unyil Risa’ memanggil-manggil. Dengan gesit telepon itu langsung
ku angkat.
Risa adalah manusia unyil
yang juga sama energiknya. Dia sudah ku anggap seperti adikku sendiri. I really love her. Sosoknya selalu
membuat hari-hariku ketika di Jember terus dibanjiri tawa. Dia ibarat manusia
yang sengaja dibangun dan hidup atas rasa gembira. Kebanyakan orang menilai
bahwa rasa sedih mungkin tak mau singgah ke tubuh imutnya. Hanya orang-orang
terdekatnya saja yang akan tahu dimana Ia bingung, sedih atau galau. Bukan
hanya tahu ketika Ia terus tertawa pada dunia.
Telepon malam itu masih sama
seperti telepon-telepon sebelumnya. Dia bercerita tentang banyak hal. Risa
memang orang yang paling sering menelponku dari radius kejauhan Jakarta-Jember.
Sampai detik ini. Dia pun sudah menganggapku seperti kakaknya sendiri. Kami
berdua adalah kakak adik yang dibentuk tanpa pertalian darah. Namun, kami
sangat kompak.
Panggilan khasnya untukku
adalah ‘budhe’ Dalam istilah jawa, budhe adalah sosok yang dituakan. Sebenarnya
bukan hanya Risa yang memanggilku dengan sebutan ini tetapi banyak teman-teman
Jember yang memanggil dengan cara yang sama. Rasanya ‘budhe’ itu sudah melekat
kuat di diriku. Teman-teman Jember lah yang mencetuskan ide brilian mengenai
‘budhe’ ini. Sampai saat ini semuanya masih tetap sama sumringahnya memanggilku
‘budhe’ Oh iyaa, ada satu orang di Jember yang tidak memanggilku dengan ‘budhe’
tetapi ia malah memanggilku ‘bu ani’ dia adalah Rezel.
Setiap kali Risa telepon,
mendengar suaranya, gelak tawanya, rasa kangenku terhadap seluruh isi Jember
juga kian menggelembung. Kota itu memang penuh chemistry, setidaknya itu bagiku. Orang-orangnya yang ku kenal,
yang selalu menyambutku dengan tangan manisnya, selalu membuatku rindu. Rindu
jalan bareng, rindu tidur bareng, rindu makan bareng, rindu hahahihihiii bareng
mereka. Ah, aku benar-benar merindukan kalian. Ingin bertemu gelak tawa kita
bersama, riuh renyah canda tawa kita. Aku juga rindu cara kalian ngebully sekawanannya
sendiri. Hancur-hancuran. Selain Risa, ada Roomiie, mbakdee, bunbun, ayiep,
edwin, bubuu, nia, sukma, farah, happy, mas rafli, mas zaki, mas dida dan masih
banyak yang lain. Tak akan bisa ku sebutkan satu per satu namanya karena banyak
orang yang ku kenal dengan hangat. Kalian benar-benar berbeda. Mengenal kalian
satu tahun yang lalu membuatku selalu ingin mengunjungi Jember. Bukan karena
apa? Yaa karena ada kalian semua disana. Kalian menunjukkan kasih sayang dengan
cara kalian masing-masing, yang semua cara itu mengandung tawa.
Hhmm.. menceritakan Jember
nggak akan ada habisnya. Merindukan kalian semua, my lovely friends. Kembali ke Risa, panjang lebar dia bercerita.
Banyak hal yang ia sampaikan malam itu. Salah satu obrolan kami adalah karena
ternyata Risa bingung menentukan arah baik mana yang harus ia pilih. Sejenak
aku memberikan saran, dengan tiba-tiba. “Diambil saja, itu kesempatan baik
sayang” Namun, aku tahu jawabannya bukanlah kalimat yang penuh semangat. “Aku
nggak mau budhe” Hhmm.. aku pun mulai menanggapi serius, “Lalu maumu apa nak?
Kamu pengen jadi apa?” Dengan cepat ia menyambar, “Aku mau jadi seperti kamu
budhe. Travelling iya, akademik iya, kerja iya, pacaran juga iya” Spontan saja,
hening seketika. Aku tak mampu membalas kalimatnya dengan cepat. Mensyukuri
nikmat Tuhan yang baru saja turun ke telinga. Rasa nano-nano beradu jadi satu.
Kaget, seneng, terharu, bingung dan seakan banyak pertanyaan lanjutan yang
ingin segera dilontarkan, “Mengapa harus aku?”
Terlebih lagi, ada hal yang
selalu membuatku berseri ketika bercakap dengan Unyil Risa. Di setiap
teleponnya, dia selalu bilang dengan gembira. Penuh semangat, “budheeeee.. aku
pengen ke Jakarta lagi” Aku tahu, pasti dia bicara dengan gaya manja dan
kangen. Aku selalu membalas ceria “Kesini sayang, i’ll always waiting for your
coming here. Main-main sini. Kangen jalan-jalan lagi” Senangnyaa.. pasti suatu
saat kau akan kembali kesini, menginjakkan kaki di kota ini. Aku sangat percaya
karena aku punya satu keyakinan kuat ‘orang yang sudah pernah ke Jakarta, pasti
akan kesini lagi. Pasti’ Ntah fakta apa yang mendukungku, aku memang percaya
itu. Buktinya aku sendiri. Hheee.. Dulu aku pertama kali kesini ketika aku
masih duduk di kelas VIII SMK dan apa hasilnya.. Lulus SMK aku menetap di kota
yang sekarang memberikan banyak pelajaran kehidupan untukku.
Sebenarnya aku sudah tahu
jawabannya. Risa bukanlah orang pertama yang mengatakan hal yang serupa.
Sebelumnya, teman-teman sebaya, kakak kelas dan yang paling banyak kuantitasnya
adalah dari adik-adik sepupuku sendiri. Maklum saja. Dari keluarga ibu, aku
adalah cucu yang paling tua. Bisa dikatakan aku lahir sebagai pionernya. Sudah
selayaknya jika aku harus memberikan teladan yang baik untuk adik-adik yang ku
sayangi ini. Ada sepuluh pasang mata adikku yang mencoba mencari tempat
pijakan. Mereka melihat sosok ada di kakak tertua mereka. Dan itu aku.
Dari serangkaian ini, aku pun
bilang bahwa tanggung jawabku itu besar. Tanggung jawab moral agar bisa menjadi
teladan yang baik untuk mereka. Untuk keluarga besarku dan masyarakat sekitar.
Ketika aku sekarang berkarya di kota ini, hidup di perantauan yang selalu
memberikan banyak kejutan dan warna yang berbeda disetiap harinya, aku bukan hanya
membawa identitas nama personalku sebagai Ika Fitri Mustikasari. Namun, aku
juga membawa identitas keluarga besarku, tempat tinggalku, sekolahku (dari SD
hingga SMK). Banyak identitas yang melekat di hidupku. Dan aku harus memberikan
yang terbaik untuk semuanya.
Aku tak henti-hentinya selalu
mengucapkan kalimat ini ketika bertemu dengan keluarga besarku di Malang,
“terima kasih banyak yaa. Contoh dari mbak yang baik-baik saja. Yang buruk
jangan ditiru”
Risa memang salah satu orang
terdekat. Dia cukup tahu perjalanan panjang hidupku sampai akhirnya menginjak
titik yang sekarang. Rasanya telepon malam ini membuatku semakin bersyukur,
mawas diri dan selalu introspeksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik
lagi. Setiap hari.
Ada satu
lagi yang menurutku unik dari Toko Oen. Soundtrack
lagu yang mengiringi perjalanan kami. Lagu-lagu zaman dulu, dari
penyanyi-penyanyi populer di masanya. Bahkan aku rasa sampai sekarang. Ketika
di Toko Oen, aku hanya bisa menebak-nebak “lagu
ini judulnya apa yaa? Siapa yang nyanyi?” tapi ternyata pengetahuanku tidak cukup tahu tentang lagu-lagu itu. Aku hanya suka mendengarnya. Rasanya
seperti berada di 4-5 dekade yang lalu ketika alunan musik itu menggema
ruangan. Sangat merdu. Ramah di telinga. Sangat klasik. Aku juga sangat yakin
bahwa musik-musik yang diputar ini dirilis ketika kakek nenekku masih muda.
Mungkin waktu beliau berdua juga masih pacaran seperti kami. Hheee..
Setidaknya ada dua lagu yang mengganjal di
telinga dan hati. Itu karena aku sudah sering mendengarnya, bahkan dari dulu. Seperti
kebiasaan burukku yang sebelumnya, aku pun nggak tahu itu lagu siapa. Akhirnya googling pun dilakukan. Aku menemukan
jawabannya.
Mungkin akan
sedikit lebay kedengarannya. Soundtrack
paling romantis itu bukan karena penyanyinya yang memang menunjukkan
romansanya, tetapi lebih dikarenakan lagu-lagu tersebut yang mengiringi
romantisme kami berdua. Right Here Waiting.
Dengan melankolisnya dibawakan sang empunya, Richard Marx.
Right
Here Waiting
Oceans apart day after day
I slowly go insane
I hear your voice on the line
But it doesn’t stop the pain
If I see you next to never
How can we say forever
Wherever you go
Whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes
Or how my heart breaks
I will be right here waiting for you
I took for granted, all the times
That I thought would last somehow
I hear the laughter, I taste the tears
But I can’t get near you now
Oh.. can’t you see it baby
You’ve got me going crazy
Wherever you go
Whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes
Or how my heart breaks
I will be right here waiting for you
I wonder how we can survive
This romance
But in the end if I’m with you
I’ll take the chance
Wherever you go
Whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes
Or how my heart breaks
I will be right here waiting for you
Yang kedua
adalah lagu yang sebenarnya sudah ku kenal sejak SMK. Dulu lagu ini sering
diputar ketika berada di kelas bahasa inggris. Lagu ini selalu dijadikan
sebagai bahan tes listening. Aku pun
hafal liriknya karena saking seringnya diputar di kelas. That’s
Why – Michael Learn To Rock.
That’s
Why
Baby won’t you tell me why
There’s sadness in your eyes
I don’t wanna say goodby to you
Love is one big illusion
I should try to forget
But there’s something left in my head
You’re the one who set it up
Now you’re the one to make it stop
I’m the one who’s feeling lost right now
Now you want me to forget
Every little thing you said
But there’s something left in my head
I won’t forget the way you’re kissing
The feeling so strong were lasting for so
long
But I’m not the man your heart is missing
That’s why you go away I know
You were never satisfied no matter how I
tried
Now you wanna say goodby to me
Love is one big illusion
I should try to forget
But there’s something left in my head
I won’t forget the way you’re kissing
The feeling so strong were lasting for so
long
But I’m not the man your heart is missing
That’s why you go away I know
Sitting here alone in the middle of nowhere
Don’t know which way to go
There ain’t so much to say now between us
There ain’t so much for you
There ain’t so much for me anymore
Selain
sangat ramah di telinga dan juga di hati, lagu ini juga selalu mengingatkanku
dengan guru bahasa inggris terbaik di SMKN 4 Malang. Beliau adalah Bu Wiwik.
Dengan logat britishnya yang fasih, dulu beliau sering menyanyikannya di depan
kelas dengan penuh penjiwaan. Teman-teman sekelas pun akan trenyuh jika sudah
mendengarnya melantunkan lagu ibarat penyanyi idola. Aku pun tersadar, pasti
beliau juga sangat menyukai lagu ini, seperti aku yang juga menyukainya.
Rasanya lagu ini begitu memorable.
Mengingatkan masa-masa SMK yang penuh warna. Apalagi, lagu ini juga yang pada
akhirnya mengiringin romantisme kami berdua di Toko Oen.
Sampai saat ini, semuanya akan tetap sama.
Jika mendengar dua alunan musik yang begitu memikat hati, yang teringat
hanyalah Toko Oen, ice cream dan
romansa kami berdua.
Malam itu kau mengajakku untuk merasakan kembali hingar bingar kasih senja. Dengan untaian senyum manis, kau menjemputku di rumah. Rasanya sore itu terasa lebih segar dengan harumnya parfum maskulin yang kau pakai. Ntah parfum apa itu, sampai saat ini aku juga belum tahu.
Kau pamitkan aku ke bapak ibu dengan sopan. Lalu kita beranjak keluar, menikmati sejenak udara sore di kota terindah kita. Malang. Aku suka. Bahkan sangat suka. Senja itu memang lebih romantis daripada terik siang.
Melewati alun-alun, kami selalu singgah terlebih dahulu di Masjid Jami’ Malang. Berdoa untuk segala kebaikan di waktu maghrib tiba. Rutinitas itu memang selalu kami lakukan bersama.
Kemudian setelah selesai berdoa, salah satu dari kami, yang selesai duluan sengaja menunggu di luar. Aku suka momen ini. Menurutku, detik-detik itu adalah romantisme yang terjadi dengan caranya sendiri. Cara yang biasa nan berbeda. Cara yang sederhana tetapi menghidupkan banyak makna. Mengingatnya hanya akan membuatku tersenyum lega. Bahagianya.
Lalu, dengan penuh semangat, aku mengajakmu menyusuri kawasan heritage kota Malang. Ada gereja tua di sebelah Masjid Jami’ Malang, GBIP Immanuel. Bangunan tua itu berdiri kokoh sampai saat ini. Pernah aku menceritakan tentang sedikit yang mengganjal di kepala ketika kita melewati gereja ini. “Aku ingin masuk gereja ini. Dari dulu. Namun, sayangnya belum kesampaian juga” tuturku lembut.
Di usia yang sudah menginjak 21 tahun ini, aku memang belum pernah melihat bangunan bersejarah ini dibuka. Mungkin aku saja yang belum beruntung. Tak pernah mendapati gereja tua ini dipenuhi orang-orang nasrani yang melakukan ritual religiusitasnya. Bertemunya selalu ketika bangunan ini tertidur pulas dengan kemegahan visualisasi vintage gedungnya. Aku pun sempat berpikir apakah gereja ini hanya untuk pajangan saja tanpa melakukan sisi fungsionalnya dengan baik. Tapi jelas ku tahu, pertanyaan ini tak membutuhkan jawaban. GBIP Immanuel masih berfungsi dengan baik.
Berdua. Jalan kaki dengan suka cita. Aku selalu menyempatkan diri untuk ke Gramedia jika sudah berada di kawasan pusaran Kayu Tangan. Sepanjang jalan ini memang memiliki rasa tersendiri. Dalam bahasa kunonya, Kayu Tangan masih sering disebut dengan ejaan 'Kajoe Tangan'
Aku juga selalu mengajakmu mampir sejenak, untuk sekedar refreshing atau benar-benar membeli beberapa item di Gramedia. Dari dulu Gramedia atau toko buku sejenisnya seperti Togamas dan Gunung Agung adalah tempat yang selalu ada di list tripku untuk dikunjungi. Kalau bicara soal tempat refreshing paling nyaman, aku bisa menyebutkan tempat-tempat inilah juaranya. Ke tempat-tempat ini selalu membuatku lebih bersemangat. Membuat otak terasa lebih fresh. Aku juga bisa melakukan banyak hal di tempat ini. Selain membaca, memilih, belajar, ada satu lagi kegiatan wajib yang selalu aku lakukan saat kesana. Observasi, mengenai desain dan visualisasinya. Toko buku merupakan tempat yang paling update untuk soal ini.
Bergeser sedikit dari Gramedia, inilah grand design yang sesungguhnya dari perjalanan sore kami. Toko Oen Malang. Yeaaaayy.. siapa yang tak mengenal tempat legendaris yang dimiliki kota pelajar ini. Aku sangat menyukai tempat ini. Tempat yang memiliki bangunan unik, environment yang khas dan product knowledges yang juga sangat fenomenal.
Toko Oen Malang selalu identik dengan es krim. Pasalnya es krim legendaris kota Malang hanya ada di tempat indah yang satu ini. Bangunannya lebih banyak didominasi warna putih dan hijau tua selain warna-warna vintage yang khas seperti tone kecoklatan. Tempat yang menjadi landmark kota Malang ini sudah menyedot perhatianku semenjak masih duduk di bangku SMK. Suasananya full romansa Belanda dan sangat vintage.
Toko Oen Malang merupakan tempat yang sangat romantis. Bersejarah bagi kota Malang, juga bagi kami berdua. Selain menyajikan environment yang memang berbeda dari toko-toko konvensional yang ada, produk-produk yang dijual disana juga sangat ‘tua’ Banyak jajanan yang ternyata sudah ada dari zaman nenekku masih kecil. Jajanan itu berbentuk kue kering dengan ciri khas toples kaca jadul sebagai wadahnya. Namun, sekarang aku tidak akan menceritakan dengan detail produk apa saja yang ada di Toko Oen. Tunggu artikelku yang selanjutnya saja yaa..
Tulisan kali ini lebih banyak menceritakan kisah romantisme. Romantisme manusia, ice cream dan kasih senja. Kami menikmati dua ice cream yang berbeda. Salah satu alasannya adalah agar kami bisa saling mencicipi rasa yang berbeda.
Banyak cerita yang mengalir dari kami berdua. Tentang flashback hidup, tentang komitmen yang dibangun bersama, tentang masa depan yang lebih cerah. Ditambah canda tawa, rasanya ice cream itu melebihi manisnya sendiri. Aku sangat suka dengan ice cream. It’s more than taste, but its about soul and happiness. Itu juga salah satu alasan terbesarku, mengapa tempat ini begitu spesial di ruang hati. Karena ice creamnya.
Menikmati ice cream, denganmu, di tempat yang sangat aku sukai. Hhmm.. ini perpaduan yang magic. Toko Oen Malang menjadi surga kecil sore itu. Bahagia rasanya.
Ice cream itu semakin mencair. Membuat cerita kami juga semakin mengalir ke hulunya. Rasanya tak ingin beranjak dari tempat indah yang dimiliki kota apel itu.
Ice creamnya, environmentnya, orang-orangnya dan tentu saja kita berdua. Semua begitu mempesona.
Good
morning sayang.. Pagi ini terasa, rindu yang kian berwarna. Menggunung dan
ingin jumpa. Rindu dan sayang yang beraduk jadi satu, membuatku ingin bicara
pada tetes hujan di pagi ini. Aku merindukannya. Merindukannya
yang jauh, terpisah jarak dan waktu. Namun, ada yang tetap. Hati kami bersimpul
jadi satu.
Pagi-pagi
membayangkan, membangunkannya, menunggunya mandi. Lalu dengan harus segarnya,
kami sarapa berdua di satu meja. Setelah itu kami keluar rumah, jalan kaki
menikmati udara pagi. Sengaja kami lakukan agar otak lebih fresh dari seluruh
aktivitas di hari sebelumnya.
Kami punya rumah di
desa yang rimbun bunga. Tanpa menggunakan alas kaki, kami berjalan menuju
hamparan vitamin hijau di sekeliling rumah. Bergandengan tangan. Hhmm.. hangatnya
pagi ini.
Kami saling sapa
dengan warga disana. Kami ucapkan salam ramah kepada mereka, ibu-ibu yang
sedang menggendong putrinya di pelataran rumah. “Selamat pagi bu” sapa kami
berdua. Salah satu Ibu tersebut menjawab dengan raut sumringah, “Selamat pagi
juga Mbak, Mas. Gimana kabar kalian berdua? Aku doakan langgeng dan terus
menjadi keluarga yang harmonis yaa” Kami pun menjawab balik dengan ramah.
Berbincang-bincang sebentar dengan ibu-ibu ini.
Kami terus berjalan.
Terdengar lentingan suara canda tawa anak-anak yang sedang bermain. Mereka
mengisi hari minggu paginya dengan suka cita, bersama teman sebayanya. Gundu,
petak umpet dan dakon adalah permainan tradisional yang selalu mereka mainkan
bersama. Mereka sangat terlihat ceria meski rupanya belum ada yang sarapan
pagi. Terlihat juga para bapak yang membawa peralatan kuncinya. Mereka menuju
ke sawah masing-masing dengan semangat yang menyala.
Tiba-tiba saja
perjalanan kami dihentikan oleh sapaan Ibu yang satu lagi. “Hhmm.. pasti
anaknya nanti mirip ayahnya yaa” Lalu dengan senyum lebar aku pun segera
menjawab, “mirip kami berdua bu”
Kami melanjutkan
kembali, menuju taman kecil yang dimiliki oleh desa yang indah ini. Taman
mungil nan hijau berseri. Udara sangat sejuk. Rona hangatnya pagi karena sinarnya
mentari membuat kami hangat. Disitulah, dia membisikkan sesuatu ditelingaku.
“Sayang, aku sangat menyayangimu. Semoga kita bisa menjaga semuanya dengan
baik” Dia langsung memelukku dengan erat. Seolah tak mau kehilangan seorang
wanita yang telah dititipkan olehNya untuknya. Dia sangat mensyukuri hadirnya,
yang selalu ada disampingnya.
Rasanya pagi ini
terasa lebih dekat dengannya. Dengan dia yang ku cinta. Seolah tak ingin
melepas dekapan hangatnya, aku pun menikmati setiap detik pelukannya. Sangat hangat.
Damai dirasa hati. Aku pun membalas dengan senyum bahagia. “Aku pun tak ingin
rasa ini berkesudahan. Aku tak bisa mencintaimu dengan cara lain. Aku percaya,
kau memang yang terbaik. Yang sengaja dikirimNya untuk menjagaku, menjaga
keluargaku kelak. Dan aku pun percaya, semua akan baik-baik saja di tangan kita.
Tetap melakukan yang terbaik sembari berdoa untukNya”
Ku rasakan setiap
partikel nikmatMu. Dengan penuh syukur dan suka cita. Berharap Kau akan terus
memberkahi kami dan rasa cinta kami. Melipatgandakan kenikmatan yang terus kau
beri. Terima kasih Tuhan atas rasa indah yang masih kau peruntuukan untuk kami.