12 November 2012

Kembali Ke Daerah

Siang ini terasa seperti pagi yang segar. Meski Jakarta diliputi mendung tebal yang berhawa panas. Saya sengaja datang ke kampus siang ini untuk bertemu Mbak Hene, pembimbing akademik saya di Paramadina. Mbak Hene adalah wanita yang sangat energik. Mungkin saya meniru beliau yaa kalau soal ini. Hheee.. Beliau juga yang tahu saya mulai pertama kali, bahkan sebelum saya masuk kuliah di Paramadina.

Dulu, beliau adalah salah satu tim panel yang menjadi juri Paramadina Fellowship saya di Surabaya. Mbak Hene yang menarik saya untuk keluar dari batas ‘canggung dan malu’ sehingga saya bisa total saat penilaian waktu itu. Beliau juga yang berhasil membuat saya menangis tersedu-sedu saat proses wawancara fellowship. Saya juga masih ingat, dulu beliau meminta saya untuk menarikan satu tarian jawa yang saya bisa. Dengan spontan saja saya mengiyakan dan langsung menuju panggung, disaksikan banyak pasang mata anak muda yang mempunyai visi sama. Kuliah di Paramadina. Saat itu yang ada di otak saya hanya, “Mbak Hene itu juri fellowship ini jadi saya harus menuruti semua permintaannya agar saya bisa mendapatkan poin plus” meski terlihat agak klasik tapi itu saya lakukan dengan jujur. Padahal waktu itu saya tidak ingat betul gerakan tariannya, apalagi musiknya karena saat ke Surabaya saya tidak prepare sejauh itu. Saya tetap menari dengan percaya diri, tanpa musik dan alat yang lain. Tentu saja.

Terima kasih banyak Mbak, kalau diingat dan dikenang-kenang, rasanya semua itu membuat hati tersenyum lega. Rasanya tagline yang selalu saya jadikan pegangan hidup itu benar-benar berjalan dengan baik, melihat kondisi saat ini. Love the proses and respect the result of it. Tiga tahun silam, 9 Juni 2009 saya dipandu oleh Mbak Hene untuk bisa bercerita. Tentang proses, desain dan tujuan hidup di masa mendatang setelah saya lulus SMK.

Tujuan primer saya bertemu beliau siang ini adalah minta tanda tangan. Ada satu berkas penting yang memang harus mendapatkan persetujuan darinya. Nah, masuk ke ruangan beliau rasanya seperti flashback beberapa tahun silam. Mbak Hene, sampai sekarang, tetap dengan personality brandnya seperti waktu pertama kali saya bertemu. Tepatnya momen paling mendebarkan yang terjadi di Hotel Surabaya. Saya suka itu. Beliau mengenakan celana jins casual.  Sepatu yang  saya tidak tahu merknya apa tapi saya sangat suka jika Mbak Hene yang memakainya. Di pikiran saya, sepertinya yang cocok dengan sepatu model tersebut cuma Mbak Hene. Ditambah lagi kemeja cantik motif bunga-bunga. Mbak Hene sempurna dengan dandanan semacam ini.

Saya kira saya hanya akan menghabiskan waktu sekitar 15’ di ruangan beliau. Ternyata salah besar. Template ‘kangen’ sepertinya memenuhi ruangan mungilnya. Saling menanyakan kabar masing-masing menjadi pengantar menuju topik selanjutnya. Kami berdua bercengkrama mengingat momen-momen 2009 itu dulu. Sambil tertawa renyah, muncullah statement dari wanita cantik berparas dewasa sempurna ini “nggak nyangka yaa.. cepet amat lulus. Perasaan baru kemarin masuk kuliah” Saya pun menjawab dengan nada sumringah “iyaa ya mbak, perasaan baru kemarin Mbak Hene ngetes saya di Surabaya sampe saya nangis, bicara jujur soal cita-cita dan keluarga” Tapi ada satu hal yang berubah dari saya kalau kata Mbak Hene. Katanya saya tambah gemukan, beda waktu awal masuk kuliah dulu. Yeaay, itu artinya saya menjalani hidup dengan senang. Korelasinya, berat badan saya naik. Meski jika dilihat detailnya, sebenarnya badan saya tetap kecil.

Siang itu saya merasa menemukan oase. Oase yang menjadi tempat sharing soal akademik. Tentunya selain orang tua saya pribadi dan (alm) pakde saya. Tidak lain dan tidak bukan, sosok itu adalah Mbak Hene. Saya mencoba share tentang kesibukan saya belakangan ini. Tentang kantor, tentang riset dan yang beberapa hal lain. Sampai pada akhirnya, saya merasa harus cerita tentang apa yang lama terpendam dan terasa belum menemukan jawaban yang tepat karena saya dilanda bimbang. Itu tentang ‘pinangan’ dari seorang guru terkasih di bulan april lalu. Ini merupakan kabar bahagia sekaligus kabar yang menjadikan saya harus berpikir matang-matang, tidak asal bilang tidak atau iya. Tetapi bagaimana efek selanjutnya dengan keputusan yang saya ambil. Tentang selanjutnya, apa yang harus saya lakukan dengan datangnya kabar ini.

Topik siang itu langsung berganti. Kami membahas masalah yang saya rasa cukup kompleks. Pasca lulus dari Paramadina, saya dipinang untuk mendidik murid-murid di Malang. Guru, itu sebutan yang paling saklek untuk soal kali ini. Awalnya guru saya meminta bulan oktober ini agar saya sudah mulai mengajar di Malang, tetapi dulu saya belum bisa menjawab apa-apa karena saya masih semester 6. Belum skripsi.

Saya bercerita tentang bimbangnya hati untuk memilih atau menutup telak ajakan mulia ini. Mbak Hene, dengan gaya yang saya suka menjabarkan banyak hal. thesisnya adalah jelas disitu bahwa beliau mendukung total agar saya menerima pinangan tersebut. “Menjadi akademisi itu panggilan hati. Kalau jadi desainer, itu sebenarnya bisa kamu lakukan kapan saja, malam hari atau pun hanya di waktu weekend. Kerjaan di dunia desain itu lebih tidak mengikat waktu kita secara formal. Dan menjadi guru itu akan lebih menyenangkan. Banyak hal yang akan kamu temukan disana”

Lalu saya membalas “Iya mbak, saya sangat paham kalau soal ini. Tapi saya sepertinya masih belum pantas jadi guru. Ilmu saya sangat minim, saya mengakui itu” Hhmm, sejenak kami mengambil nafas secara bersamaan. Kemudian beliau menjawab dengan sangat bijak, ditambah dengan gayanya yang khas, “Namanya manusia, dia memang nggak akan pernah puas. Percayalah sama saya, bahwa pasti ada sesuatu yang kamu dapatkan selama kamu kuliah. Nggak seminim yang kamu kira begitu. Setidaknya jika kamu bilang ilmu masih kurang, justru dengan menjadi guru kamu pasti akan banyak belajar. Dan kamu harus paham bahwa pasti banyak hal yang bisa kamu share ke anak didikmu nanti soal pengalaman kamu yang luar biasa di Paramadina ini. Saya sangat percaya, Ika pasti bisa!” dengan muka paling sumringah dan bersemangat yang saya tahu, beliau menuturkan semuanya panjang lebar, seperti seorang ibu yang sedang menasehati anaknya.

Saya hanya mendengarnya setiap detail kalimatnya yang membuat merinding sambil terus mencerna. Apa yang harus saya lakukan. Saya juga menambahkan bahwa saya memang memiliki cita-cita itu. One day, saya pasti akan kembali ke kota saya. Membesarkan kota saya sendiri yang selama ini menjadi pijakan saya berdiri. Yaa, mungkin jalannya adalah dengan memilih untuk menjadi akademisi ini.

Obrolan kami terus berlanjut. Semakin dalam dan terus mengakar “dari semua yang saya sampaikan ke kamu, itu sedikit menjadi alasan mengapa saya ada disini sekarang. Menjadi dosen di universitas” saya merasa diberi amunisi ampuh untuk meledakkan segala bom yang ada di dalam diri saya selama ini. Tentang semua ini. Saya cukup kaget dengan respon mbak Hene karena saya kira mungkin beliau akan mendukung saya bekerja di industri kreatif. Menetap di Jakarta. Tapi ternyata saya kalah telak dalam permainan tebakan kali ini. Beliau justru kontras dengan pemikiran yang selama ini saya kubur dalam. Beliau mendukung saya secara total untuk kembali ke daerah, untuk berkarya disana. ”Banyak hal yang bisa kamu lakukan disana, daripada hanya menjadi desainer yang dimonopoli oleh keuntungan satu instansi saja” kata mbak Hene lagi. Saya sendiri sangat mengakui itu.

Saya berpikir bahwa saya akan jauh lebih bermanfaat untuk banyak orang dan banyak lingkungan dengan jalan ini daripada hanya berdiri di titik desain. Setidaknya itu pemikiran yang memang masih duduk rapat di otak saya sampai detik ini. “Dengan boomingnya Indonesia Mengajar yang ada di media belakangan ini, banyak anak muda yang berlomba-lomba untuk lolos menjadi pengajar mudanya. Namun, kamu harus tahu Ika, bahkan ketika kamu menerima pinangan dari sekolah itu, kamu sudah melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Indonesia Mengajar. Kamu tak perlu jauh-jauh ingin menjadi bagian dari Indonesia Mengajar tersebut karena apa yang kamu lakukan nantinya similiar dengan jalan Indonesia Mengajar. Bedanya kamu justru mendapat yang lebih enak, di kotamu sendiri, dengan fasilitas yang tentunya lebih banyak mengalir karena daerahmu juga termasuk daerah yang sangat berkembang. Apalagi kamu sangat mengetahui medan yang akan kamu hidupi. Siapa yang tidak mengenal Malang” Rasanya denyut nadi ini hampir terputus, tapi nggak jadi. Rasanya campur aduk. Hari ini mbak Hene benar-benar menjawab apa yang sebenarnya saya tanyakan pada alam dan hati. Dan seketika saya menyimpulkan obrolan panjang kami. Saya akan kembali dalam waktu dekat. Tidak perlu menunggu lama.

Awalnya memang terlihat lebih tertata dan sistematis. Saya memang ingin bekerja di industri kreatif dulu di Jakarta untuk beberapa tahun sembari menyiapkan amunisi terbaik untuk beasiswa S2. Lalu setelah itu saya berkarya di Malang, membesarkan kota saya sendiri. Hal ini sesuai dengan apa yang saya tulis dalam janji “Cita-cita saya di masa mendatang” di berkas fellowship. Berkas yang cukup menentukan jalan saya sampai saya menjadi manusia yang sekarang ini. Janji itu bukan hanya diucap, tetapi juga direalisasikan. Harus! 

Saya masih ingat bahwa saya dulu menuliskan kalimat ini di salah satu form berkas fellowship tersebut “Nantinya, ketika saya sudah sukses, saya akan membangun foundation untuk anak-anak yang bernasib yang sama dengan saya, yang memiliki mimpi serta semangat yang tinggi untuk apa yang diyakini. Karena saya disekolahkan ‘orang’ (re: dari beasiswa” nantinya saya juga akan melakukan hal yang sama dengan orang yang sudah memberikan jalan untuk saya menuntut ilmu di Paramadina. Saya akan balik menyebar kebaikan yang harusnya lebih banyak dari apa yang dilakukan oleh donor beasiswa saya sekarang” Dan sekarang saya menambah kalimat itu dengan, Saya tisak sukses secara instan tapi ada proses yang mengikuti dan menjadi saksi.

Sejenak saya terdiam hanya untuk flashback dan terus mensyukuri nikmatNya. Hening dan tersenyum simpul. Support dari mbak Hene membuat saya merubah jalur planning yang sudah dibuat matang. Mana yang lebih baik, antara bekerja di industri kreatif lalu tetap tinggal di kota ini atau kembali ke daerah untuk menyebarkan apa yang selama ini saya dapat di Jakarta. Sekali lagi, mana yang lebih baik? Who know’s? Itu jawaban penutup yang selalu Ajahn Brahm ajarkan kepada para pembaca setia bukunya. Keputusan 80% sudah bulat.

8 November 2012

Kami Milikmu? Bukan!

Nyoba bikin script film yang kemudian saya aplikasikan ke program Celtx. Program yang mempermudah kinerja movie maker. Semuanya berhubungan dengan Audio Visual.


Introduksi
Rangga, Rara dan Gastar adalah  tiga sahabat yang sudah lama kenal bahkan menjadi orang terdekat. Rara memiliki sifat bunglon, suka mempermainkan laki-laki tapi Rangga dan Gastar tidak mengetahuinya. Dan saat ini Rara sedang menjalin hubungan dengan keduanya. Suatu hari ketika mereka mengetahui sifat asli Rara, mereka balik membalas dengan mempermalukan Rara di depan umum.


Scene 1 : Taman kota denpasar (Long Shot)
Taman kota yang sangat asri. Disana banyak pasangan pemuda yang terlihat pacaran. Harum bunga di sekelilingnya, lembayung senja yang khas turut mengindahkan suasana. Semilir angin berhembus menguraikan dedaunan yang berjatuhan di tanah dewata tersebut.

Gastar
"Sayang, sabtu ini ada acara pesta ulang tahun sahabat baikku ketika SMA. Kita datang kesana yaa"
(Duduk di bangku taman, tepat disebelah Maria. Ia sambil tersenyum)

Maria
"Hhmm.. pengen dateng sih sayang, tapi lihat nanti ya. Aku belum tahu sabtu ini jadi lembur atau nggak di kantor"
(Sambil mengerutkan alisnya, ia mencoba mengingat - ingat apakah ia juga ada agenda bertemu dengan Rangga)

Gastar
"Yaah.. diusahain dong sayang. Kan itu moment penting buat aku. Sekalian, aku juga pengen ngenalin kamu ke sahabat-sahabatku waktu masih SMA"
(Saat itu sebenarnya Gastar sudah tahu kalau sabtu nanti Maria memang ada kencan dengan Rangga)

Maria
"Iya deh, aku usahain bisa.."
(Ia pun luluh dan wajahnya terlihat memelas)

Camera Movement : Medium Shot


Scene 2 : sudut Taman Kota Denpasar (Long Shot, Pan Right)
Maria mencoba berjalan ke arah sudut taman. Tidak lama kemudian HP Maria pun berdering. Ia berusaha melirik layar HP nya. Ternyata itu adalah telepon dari Gastar

Gastar
"Kenapa nggak diangkat sayang?"
(Sambil berjalan di belakang Maria. Terlihat muka usil Gastar sambil tersenyum kecil)

Maria
"Ah, nggak penting. Dari temen kantor kok. Paling-paling mau nanyain kerjaan yang tadi sayang. Nanti bisa aku telepon balik"
(Mukanya yang suram sambil berusaha menyembunyikan kegugupannya)

Gastar
"Ohya, aku pinjam HP dong buat sms temen kantorku biar ngesave data di komputerku"
(sambil senyum - senyum usil)

Maria
"Yaa.. Pulsaku habis!"
(Ia sudah mulai merasa tidak nyaman dengan tingkah laku Rangga yang curiga)

Gastar
'Hhmm.. yaudah, kalau gitu kita pulang aja. Udah sore juga"
(sambil menarik tangan Maria dan mencoba mengajaknya jalan)


Scene 3 : Jalan Keluar Taman (Long Shot, Zoom Out)
Mereka bergandengan tangan, berjalan beriringan. Cuaca sore hari yang begitu hangat terkena silauan cahaya senja matahari.

Maria
"Sayang, kita ke Metro Mall dulu yuk. Ngadem bentar gitu sambil jalan-jalan"
(Merasa belum mendapatkan barang apapun sore itu, Maria mencoba berpikir keras tentang bagaimana caranya agar Gastar mau diajak ke Mall)

Gastar
"Oh pengen kesana? Yaudah, ayo jalan.."
(Mereka kemudian jalan ke Metro Mall)


Scene 4 : Jalan Raya Menuju Metro Mall (Long Shot, Medium Shot)
Jarak antara Taman Kota Denpasar dan Metro Mall cukup dekat. Mereka bergandengan tangan dengan mesra, berjalan menuju Metro Mall


Scene 5 : Metro Mall (Long Shot)
Baru saja mereka masuk ke dalam area Mall tersebut. Maria terlihat kegirangan. Banyak lalu lalang orang yang bertujuan sama dengan Maria dan Gastar, ingin jalan-jalan atau membeli kebutuhan mereka.

Maria
"Sayang, kita jalan kesana yuk. Ada butik bagus lho. Barang-barangnya cantik-cantik"
(sambil menarik tangan Gastar dengan manja)

Gastar
(Tak mengatakan apa-apa. Hanya mengikuti Maria dengan rasa malas yang tertuang di bahasa tubuhnya)


Scene 6 : Butik Gabrielle (Long Shot )
Butik gabrielle terlihat sangat eksklusif. Dari luar saja sudah keliahatan bahwa barang-barang yang dijual disana adalah barang branded mahal luar biasa.

Close Up :
Barang-barang yang ada di Butik Gabrielle

Maria
"Waah, banyak barang yang baru datang nih sayang"
(Seperti bertemu surganya, Maria sangat senang dan tersenyum lebar. Baru masuk butik tersebut, Ia langsung memilih barang-barang)

Gastar
"Iyaa.."
(dia mulai menunjukkan bahwa ia sudah mulai tidak interest)
Close Up : Wajah Gastar yang acuh

Maria
"Bagus nggak sayang? Cantik nggak kalau aku pakai ini?"
(sambil bergaya bak foto model dan senyum sana sini)

Gastar
"Waah, bagus kok. Semakin cantik deh kamu.."
(Dengan memasang mukanya cuek. Rangga sudah tahu akal bulus Maria yang memang selalu morotin uangnya. Rangga mulai pasang strategi agar tidak terjebak lagi)

Maria
"Udah sayang ini aja. Gaun sama  dua tas yaa.. Setelah bayar kita pulang aja nggakpapa biar ngga kemalaman nyampe rumahnya"
(Dengan wajah sumringahnya, Maria berjalan menuju kasir sambil menenteng barang - barang belanjaannya)


Scene 7 : Kasir Butik Gabrielle (Long Shot, Zoom Out)
Biasanya Rangga langsung mengikuti Maria dari belakang untuk menuju kasir. Namun, kali ini tidak. Ia pura-pura tidak mendengarkan perkataan Maria dan masih tetap berdiri di dekat kamar ganti.

Maria
"Sayang.. Ini belanjaannya sudah selesai dihitung"
(Mukanya mulai garang. Ia berteriak untuk kesekian kalinya)

Gastar
'Yaudah.. Kan tinggal dibayar. Susah amat"
(Sambil berjalan mendekat, dengan memalingkan muka)

Maria
"Kok kamu gitu sih. Kan biasanya kamu yang bayarin!"
(Sambil marah, teriak – teriak dan barang-barang belanjaannya langsung di taruh dikasir dengan kasar)

(Tak lama kemudian Rangga datang)

Rangga
"Oh.. Jadi selama ini Gastar juga yang biasa bayarin barang-barang belanjaanmu?"
(Rangga yang tetap stay cool di depan banyak orang. Gayanya yang kharismatik membuat pembeli seperti dihentikan waktunya. Semuanya mlongo)

Maria
"Hah.. Hhmm.. Anu.. Kok kamu bisa disini?"
(Dengan ekspresi yang kaget setengah mati. Antara bingung, gugup dan masang muka bodoh)

Rangga
"Aku memang sengaja buntutin kamu mulai dari rumah tadi sampai akhirnya aku datang kesini. Aku dan Gastar sudah tahu tingkahmu yang memang suka mempermainkan kami"
(Dia bicara dengan tenang, tanpa ada rasa marah yang mendalam karena sudah dibohongi)

(Tiba-tiba saja Gastar bangkit dan mendekati mereka berdua)

Gastar
"Sudah puas kan kamu menghabiskan uang kami berdua selama ini?"
(Mukanya mulai berubah menyeramkan)


Scene 8 : Kasir Butik Gabrielle
Lalu petugas kasir menyela pembicaraan mereka. Ia mengingatkan Maria untuk segera membayar barang belanjaannya karena jumlah orang yang antri di kasir semakin banyak.

Maria
"Maaf mbak, saya tidak jadi beli semua barang-barang ini"
(Dengan tertunduk malu, pasrah dan mukanya merah padam)

(Kemudian terdengar sumpah serapah dan cemooh dari pembeli-pembeli yang sedang antri dibelakang Maria)

Gastar dan Rangga
"Tau rasa deh.. Akhirnya kalau udah dibikin malu seperti sekarang. Kena batunya kau. Emangnya, kami milikmu? Bukan!"
(Dengan muka satir yang dicampur rasa lega serta tertawa)

Zoom In : Wajah Maria yang sedang menangis (Long Shot, Pan Right)

Tanpa menjawab, Maria langsung lari dari butik tersebut. Ia meninggalkan Gastar dan Rangga sambil menangis terisak-isak.

7 November 2012

Warna Baju

Good morning, pagi yang cerah. Rasanya pagi ini nyampe kantor dengan nada sumringah. Tiba-tiba saja saya disambut dengan cletukan riang dari Bu Aqis (re: direktur). 

Sambil tersenyum conversation itu terjadi..
Bu Aqis:
 "Waah, Ika.. Sepertinya setiap hari baju yang kamu pakai ada konsepnya yaa. Kemarin warna biru, toska, orange, ungu dan sekarang peach"

Saya: 
(Sambil tersenyum) Iyaa bu karena warna yang saya pakai menunjukkan suasana hati saya saat itu. Warna itu punya filosofi, begitu juga ketika memakai warna tersebut. Saya punya maksudnya"

Bu Aqis:
"Hhmm.. Baru nemuin orang kaya kamu. Pakai baju aja harus ada konsepnya yaa. Jadi nggak cuma desain yang kamu kerjain aja yang harus pakai konsep. Bener bener anak ini ...." 

Saya:
That's right mom! 
(sambil tersenyum riang)

Saya tidak tahu apa maksud kalimat "bener-bener anak ini ...' tapi saya cukup senang dengan apa yang disampaikan bu Aqis pagi ini. Happy!

31 Oktober 2012

Teman Hidup

Artikel ini saya posting sejalan dengan tujuan saya membagi rasa bahagia. Bahagia karena selalu dan terus dilimpahkan mukjizat serta nikmat Tuhan yang tiada tara. Hhmm.. semuanya karena rasa syukur kepada yang punya hidup terus mengalir. 

Saya mengambil judul artikel kali ini dari sebuah lagu. Lagu yang dinyanyikan oleh Tulus. Satu minggu sebelum saya balik ke Malang, saya menemukan lagu ini diantara sekian banyak playlist. Salah satu teman sekaligus kakak bagi saya memberikan referensi lagu ini. Mengapa lagu ini? Mungkin dia memang melihat aura kembang-kembang yang mengelilingi saya saat itu. Hhee..

Rasanya judul yang satu ini seperti mengambil 75% perhatian saya. Ketika saya menulis sekarang, sebenarnya saya juga ingin selalu menyanyikan lagu ini. Saya juga kaget ketika teman saya itu bilang, "saya ingin lagu ini menjadi playlist di resepsi pernikahan saya nanti" Hhmm, makjleb gitu dengernya. sampai punya angan-angan khusus yang privat dengan lagu ini di momen bahagianya nanti. But, i wish it could for you mbak Risma.

Lagu ini begitu dekat dengan realitas yang ada saat ini. Realitas kehidupan saya, kehidupan Neptunus. Kehadiran lagu ini sesuai dengan momentumnya. Bahagianyaaa..


Teman Hidup 
Dia indah meretas gundah

Dia yang selama ini ku nanti
Membawa sejuk, memanja rasa
Dia yang selalu ada untukku
Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang
Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu
Kau milikku, ku milikmu
Kau milikku, ku milikmu
Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang
Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu
Bila di depan nanti
Banyak cobaan untuk kisah cinta kita
Jangan cepat menyerah
Kau punya aku, ku punya kamu, selamanya kan begitu
Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu
Kau milikku, ku milikmu
Kau jiwa yang selalu aku puja
Saya suka lagu ini bukan hanya karena liriknya tetapi karena visualisasi video yang disajikan juga penuh dengan personal touch. Jogjakarta yang hangat dengan senyuman penghuninya. Di hati saya, Jogjakarta memiliki porsi yang hampir sama seperti Bali. Tak akan tergantikan dan akan selalu membahagiakan. Hangat romansanya.

30 Oktober 2012

Semakin Merona

Siang ini saya tiba lagi di kota yang penuh hiruk pikuk. Bukan hanya hiruk pikuk arusnya tetapi juga schedulenya. Tanah rantau yang sudah memberikan banyak pelajaran kehidupan. Banyak rasa yang sudah dilalui, semoga tidak membuat saya terlena dengan kebahagiaan. Pulang ke Malang kali ini membawa sejuta cerita manis dan hangat. Begitu hangat.

Satu minggu lebih satu hari saya di Malang. Niat awal untuk pulang adalah untuk riset tentang suatu hal yang memang sedang saya tekuni belakangan ini. Namun, seiring berjalannya waktu selama satu minggu itu, saya rasa malah jadi turn of main point. Bukan hanya riset semata, tetapi lebih dari itu.

Satu minggu ini memberi banyak senyuman, banyak kejutan dan banyak rasa kebahagiaan. Di tahun ke-4 inilah saya bisa merasakan lebaran idhul adha bersama keluarga terkasih di rumah. Pasalnya, lebaran idul adha di tahun pertama, saya habiskan di Tangerang, tahun kedua di Serang, tahun ketiga di Jogja dan sekarang Malang mendapat giliran. Yeeaaay. Rasanya senang sekali. 

Apalagi sebelum lebaran tiba, saya juga mendapat banyak kado bahagia dari Tuhan. Tentang surga kecil yang bernama Ice Cream, di Toko Oen Malang maupun di Zangrandi, Surabaya dan juga tentang Neptunusku. Itu semua melebihi kata senang. Membuat hati terasa orange, peach dan kebiruan. Hhmm, kenapa tiga warna itu yang mesti dipilih? Yaa.. tentu saja karena itu warna favorit saya. Dan warna itu menunjukkan kebahagiaan saya. 
Lebaran idul adha kali ini juga bertepatan dengan long weekend. Yaa meski menurut saya sama sekali tidak terasa long weekendnya. Berdekatan dengan orang-orang terkasih menjadikan waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. For sure, Selamat lebaran, selamat liburan dan selamat pacaran :)

Sudah cukup ‘intermezzo bahagia’ nya, sekarang saatnya kembali ke realitas yang ada. Bertemu dengan banyak kerjaan, deadline, tugas dan tanggung jawab. Mengapa saya bilang seperti ini? Karena setiap kali pulang, sebisa mungkin saya manfaatkan momen itu menjadi quality time. Saya sering menghentikan agenda atau benar-benar mematikan komunikasi agar bisa benar-benar menikmati waktu bersama orang-orang terkasih. Harapannya adalah ketika di Malang, hal-hal yang berbau Jakarta saya pending dulu sehingga sebelum saya ke Malang pun, tanggung jawab itu harus diselesaikan terlebih dahulu. 

Saya sangat paham bahwa saya (sudah) dinanti-nantikan banyak orang di kota saya. Tanggung jawab yang saya emban begitu besar dan harus dikerjakan dengan maksimal agar tidak mengecewakan banyak pihak yang sudah dan selalu mensupport saya. Yang selalu bangga dengan apa yang saya lakukan saat ini. Semoga saya bisa melancarkan misi saya untuk ummat ini. Semoga saya juga bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Banyak semoganya, juga harus banyak usaha positif untuk meraihnya. Senyum, semangat!
Rasanya kembali ke Jakarta dengan rasa yang lebih luar biasa karena hati sudah memilih. Memilih yang terbaik diantara mereka yang baik. Insyaallah, dewa neptunus pun mengiyakan statement ini. Saya percaya proses yang sudah cukup panjang ini memang mengatakan ‘iya’ untuk kita. Dikejar banyak orang membuat mata semakin jeli dan teliti, tidak asal nyangkut dan bilang ‘iya’ kepada salah satunya. Ini jawaban terbaik dari adanya radar yang menyatukan hati, bahwa semua indah pada waktunya. Jarak dan waktu yang berjalan akan mengajarkan kita banyak hal. Jadi, tidak ada alasan untuk mengalami degradasi kualitas diri yaa.

Tentu saja, kali ini es krim mempunyai banyak kunci happiness. More than happiness. Es krim menjadi sejarah yang begitu (dan akan selalu) mempesona. Semoga ghirahnya akan tetap sama, di awal hingga ujung meski sebenarnya rasa ‘itu’ tak punya ujung. 

Semoga semuanya membawa manfaat dan menjadikan hidup lebih baik. Neptunusku, harus sabar dan terus belajar. Rasa kangen pasti akan terus mengembang setiap hari. Tapi semuanya patut disyukuri karena masih bisa merasakannya. Saya juga sangat percaya bahwa rasa kangen adalah bentuk anugrah. Kangen itu juga yang pada akhirnya membuat hari-hari semakin berwarna. Terima kasih untuk kasih. 

Kembali semangat dan kembali mengumpulkan banyak amunisi untuk bekal pulang.September was wonderful but october more than it. More happily. Senyum, semangat dan bersyukur itu wajib ada setiap hari, tidak boleh tidak. Karena hal itu pula yang menjadikan dunia menjadi penuh warna. Penuh magic! Alhamdulillah.. Semakin bahagia, semakin semangat, semakin bersyukur, semakin dan semakin :*

21 Oktober 2012

Orang Tua dan Mendongeng


Orang tua merupakan aset yang paling penting dalam mendidik anak. Hubungan emosional antara keduanya sangatlah dipentingkan untuk menunjang tumbuh kembang anak secara optimal. Secara psikologis anak sangatlah membutuhkan perhatian dari orang tua karena seharusnya yang paling dekat dengan sang anak yaa orang tuanya, bukan lagi orang lain. Hal ini saya refleksikan terhadap pengalaman saya pribadi. Bahkankah sudah seharusnya orang tua harus menjadi yang terdekat, melebihi pacar atau pun sahabat. 

Saya pun seperti ini. Orang tua saya menjadi orang yang pertama kali tau, yang pertama kali saya kasih cerita tentang apapun yang terjadi pada kehidupan saya. Hal apapun, mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar. Justru saya tidak akan bisa cerita kepada orang lain sebelum saya cerita ke orang tua dulu. Teman curhat terbaik saya adalah ibu saya sendiri. Selama ini ibu juga menjadi sahabat, teman dan sekaligus kakak terbaik untuk saya selain bapak dan adek.

Kembali soal anak dan orang tua, khususnya untuk usia balita, mendongeng menjadi salah satu kegiatan yang memiliki pengaruh besar dalam tumbuh kembang anak. Dongeng merupakan media visual yang berisi cerita-cerita positif dan bisa membangkitkan daya imaginasi pada anak serta membangun hati nurani. Sedangkan mendongeng merupakan kegiatan membacakan dongeng kepada anak atau sekelompok anak tentang tema yang dipilih. Banyak manfaat yang didapatkan dari kegiatan mendongeng. Tentu saja banyak pesan moral yang bisa disampaikan melalui kegiatan mendongeng. 

Mendongeng merupakan metode mengajar yang paling tua dan yang paling kuat pengaruhnya kepada anak. Pendidikan karakter juga bisa ditanamkan melalui kegiatan mendongeng. Apalagi usia anak adalah usia emas untuk menanamkan karakter yang akan dipakai dalam kehidupan selanjutnya. Di masa remaja, dewasa bahkan sampai tua sekalipun karena tingkat memorable usia anak-anak jauh lebih cemerlang.

Namun, dengan segala kelebihan yang dimiliki, saat ini kegiatan mendongeng justru sudah banyak ditinggalkan oleh para orang tua. Mendongeng dianggap merepotkan dan membuat para orang tua merasa semakin lelah setelah seharian bekerja. Mendongeng sebenarnya bukanlah kegiatan menidurkan anak tetapi lebih berfungsi untuk meningkatkan kedekatan ibu dan anak serta mengembangkan kemampuan otak anak. Kecerdasan emosional anak juga bisa tumbuh dari kegiatan mendongeng. Saat ibu mendongeng dengan kreatif, secara otomatis daya imajinasi anak juga akan tergugah dan tumbuh.

Jumlah jam tatap muka antara orang tua dan anak di kota-kota besar juga semakin berkurang akibat kesibukan. Kurangnya perhatian pada usia emas ini  merupakan kerugian bagi orang tua karena masa yang sangat strategis dan menentukan perkembangan anak akan berlalu begitu saja.

Disamping itu semakin berkembangnya era digital dewasa ini mengakibatkan penggunaan gadget lebih dirasa menjanjikan daripada harus berlama-lama menceritakan sebuah dongeng untuk anaknya. Akibatnya anak-anakpun semakin jauh dari dunia dongeng. Mereka tidak mengetahui dongeng dan pesan-pesan di dalamnya karena orang tua memang semakin jarang mendongengkan cerita untuk mereka.

Menurut saya ada semacam salah persepsi dalam memahami “bagaimana cara memperhatikan anak” Dengan semakin berkembangnya globalisasi sekarang ini, banyak orang tua modern yang menganggap bahwa cara memperhatikan anak adalah dengan memberikan gadget untuknya. Misalnya saja handphone atau yang lainnya. Sedangkan secara psikologis perhatian yang semacam ini efeknya jauh di bawah dibandingkan memperhatikan anak dengan cara meningkatkan kedekatan emosional antara keduanya. Bisa dibilang perhatian yang berbentuk kedekatan secara batin itu lebih top hasilnya daripada perhatian yang berbentuk phisicly. Setidaknya itu menurut saya pribadi.

Karena background keluarga saya yang sangat hangat dan bisa diungkapkan dengan statement ini: best ever family i meet, maka banyak pelajaran yang saya dapat untuk menjalani kehidupan ke depannya. Yang pasti saya ingin mendidik anak saya dengan cara orang tua terbaik saya dalam mendidik saya selama ini. Tentunya dengan ditambah segala perbaikan jika di dalamnya memang masih ada lubang berjamur. Saya ingin kedekatan antara saya dan anak saya nantinya juga sama seperti saya dan keluarga saya.

Really.. more than it. Love you ibuk, bapak, adek, kakek, nenek dan keluarga besar yang sudah membesarkan saya menjadi manusia yang mampu berpikir. Saya harus bisa menjadi orang tua yang lebih baik dari kedua orang tua saya (meski saya tahu orang tua saya adalah orang tua terbaik yang saya temui) Saya juga harus bisa mendidik cucu-cucu orang tua saya nanti menjadi kebanggaan keluarganya. Amin J

8 Oktober 2012

Sinopsis Modernisasi Bali

Iseng-iseng buat sinopsis tentang hal-hal yang paling disukai. Hhmm, atau suatu hal yang sebenarnya setiap hari selalu dekat dengan kita tapi kita jarang sekali menyadarinya. 

In this case, saya memang suka Bali. bahkan bisa dibilang menggandrungi pulau dewata dengan segala keindahannya tersebut. Budaya dan tradisi, salah satu sudut yang selalu saya amati. sudut dimana Bali selalu bisa membuat saya merasakan kembang-kembang gula. Berkali-kali kesana tidak akan pernah muncul rasa bosan. Just Bali.

Nah, mulai saja yaa cerita sinopsisnya. Namanya saja sinopsis, singkat dan tidak bertele-tele. Mewakili keseluruhan tema yang akan dibahas dan membahas masalah secara general.
***

Bali kaya akan ritual dan tradisi yang mengakar pada kehidupan masyarakatnya. Hal itu yang selalu bisa kita saksikan ketika kita mengunjungi pulau dewata nan indah ini. Begitu banyak sajian budaya yang kaya akan makna.  Tentunya itu menjadi keunikan tersendiri bagi pengunjung yang datang, terlebih lagi bagi mereka yang memang menyukai budaya atau hanya sekedar menjadi pengamat budaya. Sayangnya, dengan semakin berkembangnya globalisasi, keaslian tradisi dan ritual-ritual tersebut mengalami degradasi nilai dan korosi kultural. Agama pasar yang masuk ke wilayah Bali menjadikan ritual yang disakralkan menjadi absurd.