4 September 2012

Senyum Riang di Setengah Dekade

Kita saling mengenal cukup lama. Jarak yang kita lalui cukup membentang tinggi, antara Malang dan Jakarta. Dan ternyata itu tak membuat semua luntur begitu saja.

Kami mulai mengenal ketika sama-sama duduk di kelas 2 SMK. Tentunya aku masih tinggal di Malang saat itu. Saling berkirim kabar adalah ritual yang biasanya kami lakukan tanpa harus ada pertemuan. Dan itu terjadi sampai sekarang, setidaknya sebelum aku kembali ke Malang untuk liburan. Ketika banyak teman atau sahabat yang datang dan pergi, kami bisa melewati jalur yang berbeda. Banyak yang stay here with me sampai saat ini dan dia pun menjadi salah satunya. Terima kasih untuk awal yang merona.

Oke, aku akan mulai menceritakan siapa dalang di judul cerita kali ini. Punya banyak teman dimana-mana itu menyenangkan karena pada dasarnya berkawan itu memang sangat menyenangkan. Kita bisa menjadi saudara meski tak setali. Juga tidak perlu khawatir ketika ingin berkunjung ke suatu kota karena sudah ada teman yang menyambut disana. Dari sekian perjalanan, tak terasa 5 tahun sudah berlalu bagai dedaunan hijau yang tertiup angin. Lembut alami. Rasanya aku menjadikanmu sedikit berbeda dari yang lainnya. Perkenalan kita yang unik. Perkenalan yang selalu membuat tertawa ketika kita sama-sama mengingatnya. Ichan. Aku sering memanggilnya seperti itu. Ini bukan nama aslinya melainkan panggilanku untuknya saja karena aku merasa lebih akrab dengan nama ini. Ntah mengapa semenjak kenal sampai saat ini aku nggak bisa memanggil nama aslinya, seperti yang biasa dilakukan keluarga atau teman-teman kuliahnya. Aneh.

Aku jadi ingat tentang suatu hal kalau sudah bicara soal nama. Dulu aku pernah salah paham gara-gara nama. Hhmm, sepertinya nama membuat rumit saja (tapi itu tidak berlaku untukku yaa). Padahal bagiku nama asli atau bukan itu nggak ada masalah. Itu hanya terletak pada kenyamanan seseorang dalam mengingat atau justru mengabaikannya. Tidak perlu dijelaskan kembali apa maksudnya. Nama hanya semacam legalitas. Aku memanggilnya atau ngesave nomornya  di ponsel dengan nama panggilan yaa ibarat air yang mengalir.

Kembali lagi, dulu kami bersekolah di tempat yang berbeda. Setelah lulus, kami melanjutkan jalan masing-masing. Dia memilih kuliah di Malang dan aku pun hijrah ke Jakarta. Dan cerita kali ini pun dimulai ketika aku stay di Jember beberapa bulan yang lalu untuk mengikuti JFC. Satu fakta bicara bahwa komunikasi itu memang bisa lebih intens ketika jarak juga lebih dekat. Sampai akhirnya JFC itu selesai. I should be free dengan berbagai kegiatan di semester 6 sehingga aku memutuskan untuk pulang. Menghabiskan libur lebaran di kotaku. Kota wisata Malang.

Tak ada perjumpaan tak membuat kami jauh atau lost contact. 16 Agustus 2012 kemarin kami buka bersama di rumah makan daerah Ciliwung. Menu bebek goreng menjadi pembuka obrolan yang hangat menjelang malam. Mungkin awalnya sedikit bingung membawa diri karena cukup lama tak bertemu. Namun, suasana juga cair sendiri oleh canda tawa kami berdua. Ternyata kamu juga masih ingat jalan ke rumah, pikirku. “Wow, akhirnya kita ketemu lagi” itu statement yang muncul dari kami berdua. Senang rasanya. Saling menceritakan banyak hal tentang perjalanan 5 tahun ini, ingat-ingat jaman SMK dan bagaimana kuliah kita yang beda jurusan sama-sama berjalan lancar. It’s wonderfull night. Aku ingat, terakhir kali kita ketemu adalah lebaran 2010.

Setelah berbuka, kami menuju Gramedia Alun-alun Kota Malang. Maklum, karena sukanya ke Gramedia atau toko buku jadi aku tak ada pilihan untuk ke tempat lain. Terlebih lagi, aku juga sudah lama nggak ke Gramedia selama riweh ikut JFC karena waktu benar-benar disita oleh hajatan produksi kostum. Satu lagi maha karyaku.
***

Tak berhenti disitu, kami memutuskan untuk jalan-jalan lagi mumpung aku masih di Malang. Oke, ini timing yang pas. Kami memilih after lebaran agar waktu lebih longgar. Nah, masalah baru muncul ketika dia nanya “jalan kemana yaa enaknya?” Ini pertanyaan ringan tapi seperti serba sulit. Meski suka travelling tapi ntah kenapa aku selalu bingung kalau dibom dengan pertanyaan semacam ini. Bukannya nggak punya referensi tentang vacation tapi lebih karena aku nggak enak kalau jawabannya nanti nggak sepaham. Aneh yaa, padahal aku percaya bahwa berbeda itu indah. Dan akhirnya kami sepakat atas suggestnya sendiri. Jatim Park 2, 26 Agustus 2012. Kami sepakat kesana karena sama-sama belum pernah mengunjungi Jatim Park 2. Sepertinya seru !! Itu yang kami bayangkan sebelum berangkat.

 Selanjutnya aku akan menyebut Jatim Park 2 dengan JP 2, seperti yang biasa disebutkan para wisatawan yang datang. Sekitar pukul 10.00 kami berangkat dari rumah menuju kota Batu. Sesampainya, cuaca sungguh tak bersahabat. Panas sangat menyengat. Padahal wahana wisata JP 2 ini terletak di kaki gunung, tepat di dataran tinggi. Benar-benar sebuah ironis. Seperti bukan kota Batu yang terkenal dengan dinginnya melainkan kota gersang dengan suhu tinggi. Melebihi panas Jakarta ku rasa. Panasnya Jakarta hanya akan menguras keringat lalu mengucur di kulit. Namun, yang satu ini justru menyengat kulit habis-habisan. Oke, ini intermezzo yaa.


Lokasi JP 2 masih satu daerah dengan Batu Night Spectacular. Yeyy, kami sampai !! Ichan cukup tahu tentang wahana wisata ini. Tapi, aku? Masih terheran-heran dengan fisik bangunan dan tata letak JP 2 ini. Masyaallah!! Apa karena jarang pulang jadi nggak tahu update wahana baru di kota Malang dan Batu yaa. Baru kali ini aku liat kota Batu dengan wahana yang cukup elite selain JP 1. Kotaku benar-benar tumbuh menjadi “remaja yang cantik” di luar dugaan. View dari luar saja tampak Waw. Serius. Sudah berapa lama aku nggak ke daerah ini, kok daerah yang dulunya kawasan pertanian sekarang malah berhasil disulap menjadi tempat rekreasi yang cukup menjanjikan. 

Tentu saja ini menguntungkan bagi banyak warga kota Batu terkait dengan urusan finansial dan pemberdayaan masyarakatnya. Kota Malang (Batu) benar-benar menjadi kota wisata selain macam-macam predikat lain yang ikut di dalamnya. Pada akhirnya tidak terlalu kaget ketika melihat jalanan macet parah, yaa bayangkan saja seperti di Jakarta. Banyak mobil atau motor dengan plat nomor pendatang, bukan asli N. Sudah pasti, semua tempat wisata dibanjiri pengunjung dari banyak daerah. Inilah cerita kotaku, mana cerita kotamu? *ngutip edisi indomie*
Sayangnya aku tak memiliki dokumentasi view arsitektur JP 2 di siang hari karena camera kami sama-sama off. So esoknya ketika ke BNS, aku memutuskan untuk capture it. Yaa meski itu view di malam hari. It's oke lah.

Dari tempat parkiran motor, kami berjalan menuju loket tiket. Arsitektur Museum Satwa, Batu Secret Zoo dan Pohon Inn terlihat menjadi permaisuri di lokasi tersebut. Aku langsung ingat Dufan. Yaa, mirip-miriplah. Bisa dibilang ini Dufannya Jawa Timur. Sudah pasti yang ngantri tiket masuk penuh sesak. Apalagi hari itu adalah puncak liburan karena senin esok sudah banyak perusahaan yang mulai aktif dan sekolah-sekolah juga mulai kembali beraktivitas. Jadi tak heran jika kami harus menunggu lama untuk bisa mendapatkan 2 tiket.

Ichan memilih paket terusan, alias ke Batu Secret Zoo dan Museum Satwa sekaligus. Banyak paket yang ditawarkan ke pengunjung yang hadir. Dan mereka bisa memilih-milih sebelum membeli tiketnya. Pengunjung bisa memilih untuk ke Batu Secret Zoo saja, Museum Satwa Saja, atau justru terusan ke JP 1, JP 2 dan BNS. Sekarang sistem sudah semakin canggih jadi itu bisa saja dilakukan. Dan sistem yang semacam ini tentu saja lebih memudahkan, baik bagi penyedia jasa maupun bagi pengunjung seperti kami. Biasanya jika memilih banyak paket maka harga akan semakin terjangkau. Ohyaa, untuk anak balita yang tingginya belum mencapai 60 cm tidak perlu memakai tiket masuk. Si mungil mendapatkan akses gratis untuk ikut menikmati wahana bersama orang tuanya. Dari media publikasi yang dipasang di sekitar area, aku baru ngeh kalau JP 2 itu terdiri dari wahana wisata Batu Secret Zoo dan Museum Satwa.

Ada satu lagi wahana yang juga terletak satu kompleks dengan JP 2. Eco Green Park Fun & Study. Ia terletak di sebelah barat JP 2. Banyak wahana yang ditawarkan, diantaranya adalah kompleks Miniatur Candi-candi Terkenal di Seluruh Jawa, Dome Multimedia, Duck Kingdom, Jungle Adventure, Eco Journey, Rumah Terbalik dll. Eco Green Park Fun & Study menjadi wahana keluarga yang sangat recomended untuk dikunjungi. Pasti anak-anak akan sangat senang belajar sambil bermain di tempat ini.


Tiket sudah ditangan dan kami mulai memasuki area wisata Batu Secret Zoo lebih dulu. It’s be wonderfull land for animal lovers. Itu adalah first mind yang muncul di kepala ketika masuk ke area kaya ragam satwa ini. Satwa-satwa yang dipelihara disini menurutku cukup unik dan beragam. Mulai dari mamalia seperti sapi, harimau, kuda; unggas seperti angsa, merak, ayam dan beraneka ragam jenis burung; hewan amphibi seperti jenis katak serta kategori reptil seperti berpuluh-puluh jenis ular.


Disini, pengunjung juga diajak untuk belajar. Bukan hanya sekedar bermain dan menikmati keindahan satwa langka. Sign system yang menjadi panduan informasi disajikan dengan jelas dan detail. Batu Secret Zoo juga menyediakan media studi yang berupa main tebakan lewat papan yang bergambar. Papan ini terdiri dari banyak puzzle gambar yang berbeda. Bagian luar memvisualkan gambar sebagai bahan tebakannya. Kemudian jika bagian gambar itu dibuka, maka akan msuncul jawabannya. Ide belajar kreatif yang tidak monoton yaa.


Selanjutnya kami memasuki zona Aquarium yang berada di ruangan khusus dan disetting gelap. Isi zona ini adalah segala macam jenis ikan dan juga tumbuhan bawah laut. Cantik dan gesit adalah dua kata yang menjadi sifat makhluk hidup yang bisa kita lihat di zona ini. Beraneka warna menghiasi aquarium kecil dan besar. Jelas banyak tawa riang dari anak-anak. Tidak jarang juga melihat pemandangan ketika orang tua menjelaskan kepada anaknya tentang satwa di depannya. Camera juga ditenteng kemana-mana. Pengunjung menggunakannya untuk mengabadikan momen bahagia bersama satwa atau pun keluarga.

Setelah zona Aquarium, kami mulai memasuki semacam gua yang berisikan hewan menggelikan bernama ular. Banyak jenis ular yang menghiasi etalase-etalase dengan bentuk unik. Karena ruangan ini gelap, chemistry yang didapat tentang ular itupun semakin menguat. Seram. Dan hari itu aku cukup tahu kalau ular adalah hewan yang paling ditakuti oleh Ichan. Hheee..
She's me. Love this candid.
Keluar dari gua menyeramkan itu, selanjutnya kami memasuki zona Savanah. Savanah mengingatkanku pada JFC karena tahun ini Savanah menjadi defile tersendiri di JFC XI - Extremagination. Seperti berada di benua Afrika ketika memasuki zona yang dominan dengan warna kecoklatan ini. 
Dengan lebih bebas badak, banteng, rusa, llama dan kuda itu berkeliaran di kandangnya. Namun kandang ini lebih mirip dengan perkampungan suku negroid karena suasana yang diciptakan pada rumah satwa ini lebih hidup. Sangat luas, banyak miniatur rumah-rumah suku negroid dan juga replika manusia berkulit hitam. Sangat savanah sekali memang.

Pada dasarnya Batu Secret Zoo memiliki kesamaan dengan Ragunan atau pun Kebun Binatang Surabaya (baru ini referensi kebun binatang yang pernah aku kunjungi selain Taman Safari Prigen). Mereka sama-sama menjadi tempat rekreasi yang penuh koleksi satwa. Hanya saja, disini Batu Secret Zoo memiliki poin lebih. Banyak satwa yang tidak aku dijumpai di tempat lain tetapi malah berpose anggun disini. Satwa yang dipelihara juga tergolong sangat sehat, tidak seperti kebanyakan yang ada di Kebun Binatang Surabaya. Tempatnya bersih dan lebih teratur komando jalannya. Otomatis hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Pengetahuan kita akan ragam satwa juga terus dipupuk.
***


Beranjak dari topik satwa, Fantasy Land menjadi zona berikutnya. Zona ini terlihat lebih fun karena menyediakan banyak macam wahana. 

Ada Happy Land yang berisikan berbagai permainan seru yang bisa mengocak adrenalin. Semacam Dufan kecil. 

Horor House, wahana rumah hantu yang juga fenomenal dengan teriakan histeris pengunjungnya. Di wahana inilah, kami ingin masuk. Aku seperti sok yes saja mau ngantri masuk padahal sesuatu yang berbau horor adalah hal yang paling aku hindari. Takut. Liat film horor saja nggak pernah, apalagi mau masuk ke rumah hantu. Membayangkan banyak setan yang mengagetkan jantung rasanya tulangku nyeri seketika. 
Untungnya Ichan juga tak mau masuk wahana ini karena antrian juga sangat panjang. 
Let's move and take a picture in this area..
Ofcourse, he's Ichan
Antrian panjang cukup membuktikan bahwa peminat horor di Indonesia juga cukup banyak. Horor house adalah salah satu wahana yang totalitasnya tidak diragukan lagi.
Lihatlah tokoh ini, karakternya sangat sesuai dengan peran yang dimainkan. Applause for you madam!

Selanjutkan kami memutuskan untuk menjelajahi Farm Land. Disini kami bisa sekalian mengistirahatkan kaki yang dari tadi tak berhenti menunjukkan arah keceriaan. Antrian yang dilalui juga cukup panjang karena peminatnya cukup banyak. Kami berkeliling zona yang penuh satwa import ini menggunakan kereta khusus yang dikomandokan oleh seorang guide. Pengunjung bisa bercengkrama dengan satwa secara langsung. Bahkan para pengunjung juga bisa memberi makan satwa-satwa tersebut. Ini mirip seperti di Taman Safari Prigen, akses melihat satwa secara face to face bukan lagi di dalam kurungan ‘penjara’. Namun, tragedi kecil sempat terjadi di zona ini. Cameraku tiba-tiba malu-malu tak bersahabat. Ia sama sekali tak mau nyala. Hhmm, what’s wrong with you dear? Padahal dari tadi aku memperlakukanmu sama seperti biasanya. Hanya tinggal camera Ichan yang tersisa dan masih sehat. Itupun sudah menuju lowbat.

Keluar dari Farm Land, kami berpindah menuju wahana Jelajah 5 Benua. Sesuai dengan hobi travellingku, sepertinya ini akan sangat menyenangkan.
 Jelajah yang gimana yaa. At least detik ini aku tinggal di benua Asia. Tahun 2010 silam aku juga sudah mengunjungi Eropa meski belum semua negara aku jelajahi. Jadi masih ada tiga benua yang tertunda seperti Amerika, Afrika dan Australia untuk dikunjungi. 
Dengan wahana ini setidaknya aku bisa well prepared untuk ke tiga benua selanjutnya itu. Jelajah 5 Benua ini disajikan dengan sangat colourfull plus banyak dummy dan lighting yang sangat mensupport keindahan kawasan di setiap benua. Backsound yang diputar di setiap benua juga sangat match dengan karakteristik benuanya. Merasa jalan-jalan beneran.

Nah, satu lagi pemandangan unik yang ada di sudut wahana. Toilet yang dirancang khusus dengan arsitektur Menara Eiffel. Tim kreatifnya jitu, membuat para pengunjung friendly dengan toilet karena lokasinya saja di Paris. Replika menara Eiffel dibuat semirip mungkin. Yaa, bagi orang yang ingin sekali berkunjung ke Paris untuk melihat romansa Eiffel, kesini saja sudah bisa jadi obat penawar mimpi.

Setelah puas menikmati terik siang yang mencekik, tibalah saatnya berkeliling di kawasan yang cukup menyejukkan. Zona River Adventure menjadi penyelamat rasa panas. Disini udara sepoi-sepoi, tidak seperti di kawasan-kawasan sebelumnya. Ini disebabkan air ada dimana-mana dan banyak pohon rindang. 
Yang menakjubkan, disini ada replika perahu Nabi Nuh yang di dalamnya banyak satwa-satwa peliharaan seperti kambing, sapi, unta dll. Seperti cerita Nabi yang sering aku dengar ketika masih SD dulu. Kapal Nabi Nuh digunakan untuk mengangkut mereka dari banjir bandang. Kalau saja ini beneran, sungguh mulia kota ini. Kapal Nabi Nuh saja memilih untuk terdampar di daratan sudut kota Batu. Amazing!

Kami kembali berjalan menuju pintu keluar utama. Rupanya ada beberapa singa besar yang sedang dipertontonkan. Mereka sedang berebut makanan dari pengunjung yang berupa potongan daging ayam. Sungguh, satwa tangguh ini memang mempunyai spirit luar biasa. Kalau mereka diam berpose, mereka memang lebih mirip dengan boneka-boneka yang ada di kamar asramaku. Elegan dengan bulunya. Tapi kalau garangnya sudah keluar, ia akan  menjadi idola satwa-satwa lain dengan penuh kharisma.
***

Jalan sehat yang kami lakukan tidak berhenti sampai disini. Ichan mengingatkan sekali lagi “masih kuat?” Yaa, tentu saja. Itung-itung ini menjadi jalan untuk meremajakan kakiku kembali. Maklum saja hobi tracking sekaligus hiking yang dimulai sejak SMK ini vacum karena situasional Jakarta yang tidak mendukung.

Tak lama setelah keluar dari Batu Secret Zoo, langkah kami sekarang tertuju pada bangunan megah berwarna putih yang berdiri tepat di sebelah Pohon Inn. Museum Satwa. Arsitekturnya sangat modern dengan gaya Art Deco mewah. Menurutku ini adalah museum elite yang pernah dimiliki kota Batu dan sekitarnya. Bahkan Museum Satwa ini juga menjadi museum paling modern yang pernah aku kunjungi. Dari sekian museum yang ada biasanya museum tersebut hanya menawarkan koleksi zaman pra atau sejarah tanpa memikirkan bagaimana membuat nyaman dan friendly lokasinya bagi pengunjung. Ini mengakibatkan anak-anak sebagai target utama pengunjung, malah tidak terlalu suka jika diajak ke museum. Menurut survey yang pernah aku lakukan di awal tahun 2011 lalu, yang ada dibenak anak-anak tentang sebuah museum adalah barang usang yang menyimpan koleksi kuno, seram dan sepi. Bisa jadi suasananya juga mencekam. Efek dari stereotype ini menimbulkan gejala bahwa museum akan ramai jika ada kujungan study tour siswa saja. Sayang sekali, mindset seperti ini harus segera dihilangkan.

Berbeda dari museum kebanyakan, Museum Satwa ini jelas memiliki banyak keunggulan. Dari fisik bangunannya saja tidak mencerminkan sebuah museum, melainkan lebih mirip semacam bangunan istana orang borjuis. Dan ini menurutku sangat positif karena anak-anak tidak akan merasa horor dengan kata museum. Mereka bisa merasakan bahwa museum ini tempat bermain dan belajar yang asik.

Artefak-artefak yang disuguhkan juga sangat charming, fresh and beautiful. Museum Satwa ini lebih mirip taman bermain dan belajar yang sangat fun. Tidak ada lagi rasa menakutkan ketika membayangkan sebuah museum. Tata letak dan sign system yang dipasang juga sangat menarik sehingga para pengunjung lebih dimudahkan dalam mempelajari setiap koleksinya. Yang tidak kalah menarik, koleksi-koleksi ini kebanyakan berasal dari hewan asli bukan dummy atau boneka tiruan. Ini menjadikan Museum Satwa lebih hidup. Karakteristik dari setiap zona juga dibuat menyerupai suasana objek aslinya. Dan tentu saja lighting disini sangat berperan penting dalam mensupport view objeknya agar terlihat mendekati kesamaan.

Objek satwa yang ada disini sangatlah beragam. Baik dari lokal maupun internasional. Ada banyak jenis serangga, unggas, mamalia, herbivora, omnivora, karnivora, berbagai jenis telur burung, tulang berulang hewan, dan dunia hewan lain yang disajikan dalam pemandangan ruang berkaca. Indah penuh pesona.

Suasana museum ini sangat friendly dan warna warni. Ditambah lagi koleksinya unik-unik dan banyak yang tergolong langka. Jika kita terus masuk ke dalam area museum, kita akan menemukan sebuah ruangan study yang penuh dengan ornamen-ornamen hewani. Ruangan kelas ini diisi dengan banyak kursi dan juga berbagai macam media pembelajaran. Tentu saja suasana yang seperti ini akan membuat betah pengunjungnya untuk berlama-lama di dalam. Pengunjung berhasil dibuat merasa sedekat mungkin dengan dunia hewan. Congratulation for creative team JP 2! Mencerdaskan anak bangsa dengan cara kreatif. Fun study.

Perjalanan kami di dua tempat ini selesai sekitar pukul 16.00 Kaki sudah mulai protes ingin berhenti jalan. Dan capek itu mulai kian terasa. Tapi tenang, tetep lebih banyak happynya daripada capeknya. Akhirnya kami memutuskan untuk istirahat sejenak sebelum akhirnya pulang. Menikmati udara segar kota Batu, dengan angin sepoi yang semakin dingin karena hari semakin sore. Kami saling bercerita tentang “aku dan kamu” I love this moment.

Sore pun menjemput gelapnya, mengantar kami pulang. Dari proses yang berjalan, aku bisa mengatakan bahwa silaturahmi itu sangat indah. Sangat menyenangkan. Jika memang itu dari hati pasti juga akan kembali sampai ke hati. Really happy with you. Aku masih ingat ketika Ichan bilang “nggak nyangka yaa...” Yaa, seperti tak pernah terpikirkan sebelumnya. Senyum riang itu menghiasi perjalanan di setengah dekade ini. Perjalanan cerita ini belum usai. kamis depan kita mau nonton #PerahuKertas
Special thanks for you, Ichan.

2 September 2012

Surga Kecil Di Velodrom

Pagi ini diajak ibu ke pasar pagi Velodrom. Mirip pasar tumpah di Blok M yang sangat ramai itu. Bedanya Velodrom digelar pagi hari dan hanya di hari minggu sedangkan pasar tumpah digelar setiap hari hanya di tengah malam. Mau ngapain kesana, gumamku. Kata ibu pengen hunting oleh-oleh yang mau dibawa ke Jakarta nanti. Ntah dalam bentuk apa oleh-oleh tersebut.

Dengar kata Velodrom membuat aku langsung berpikir miris. Laper mata. Yaa, pasalnya tempat itu cukup fenomenal  dan terkenal dengan barang-barang murahnya. Bahkan aku sempat mendengar berita bahwa di penutupan pasar menjelang lebaran kemarin, ada pengunjung yang menjadi korban desak-desakan mencari barang serba murah. Akibatnya tidak tanggung-tanggung. Ia meninggal di tempat. Miris sekali.
Banyak kelebihan yang dimiliki Velodrom, diantaranya beraneka ragam barang dagangan ada disini sehingga pembeli bebas memilih apa yang dibutuhkan. Rata-rata barang yang dijual juga terjangkau. Hal ini bisa berakibat tingkat konsumerisme semakin tinggi. Pengunjung akan membeli barang-barang bukan karena butuh tapi karena harganya murah semua. Hedonisme.

Velodrom terletak di sekitar Pasar Sekarpuro, Malang. Berdekatan dengan SMKN 6 Malang. Aku sampai lupa kapan terakhir kesini karena saking lamanya nggak pulang. Seperti menjadi hari lebarannya tukang parkir ketika pasar pagi itu digelar. Rata-rata pengunjung yang datang memang menggunakan sepeda motor. Ini menjadi keuntungan tersendiri untuk mereka. Kalau suka kuliner, tempat ini sangat pas untuk kalian. Kalian bisa mencoba bermacam-macam jenis makanan yang dijajakan disini. Tentunya dengan harga miring. Velodrom bagaikan oase di tengah kegersangan masyarakat yang sibuk bekerja, terlebih lagi untuk yang sudah berumah tangga. Banyak yang menjadikan tempat ini sebagai wahana hiburan gratis. Ada yang Cuma jalan-jalan,memilih-milih barang, negosiasi harga dengan penjual dan lain-lain. Hampir semua yang aku temui pasti membawa tentengan tas belanjaan. Tentu saja mereka sudah membeli barang yang digelar lesehan tersebut. Para pengunjung velodrom memasang muka sumringah, tidak ada yang sedu sedan karena memang tempat ini menjadi surga kecil di hari minggu. Mulai dari balita yang masih digendong, anak-anak, dewasa dan orang tua tumpah ruah dalam satu koridor Velodrom.

Velodrom juga hampir sama dengan pasar pagi di Stadion Gajayana. Dengan mekanisme penjualan dan tata letak yang sama. Juga sama-sama dibuka di setiap minggu pagi. Jadi dua pasar pagi ini cuma berdiri di tempat yang berbeda saja. Kehadiran Velodrom maupun pasar pagi di Stadion Gajayana tidak jauh dari adanya kapitalisme. Nggak munafik kalau kehadiran kapitalisme malah lebih banyak menguntungkan.

Jika berkunjung ke Velodrom, kita harus menjadi pembeli cerdas dan cermat. Perhatikan barang mana yang memang dibutuhkan atau tidak. Ini berguna agar kita tidak sampai membeli barang yang hanya berbasis memenuhi keinginan. Pembeli harus cermat membedakan antara kebutuhan dan keinginan agar tidak boros. Bicara soal Velodrom mengingatkanku pada perjalanan ke Jogja april lalu bersama teman-teman seperjuangan. Dondik, Ipeh, Kamal dan Pandu. Khususnya mengingatkan cerita di sudut-sudut Borobudur. Ketika disana, banyak barang yang sebenarnya tidak butuh malah dibeli. Tentu saja karena harga murah dan juga kasihan liat penjualnya yang rata-rata wanita berumur. Yang aku bayangkan saat itu hanyalah ibuku. Bagaimana kalau yang jualan ini ibuku, di tengah teriknya siang dan gersang. Miris sebenarnya meski mereka terihat sebagai makhluk perkasa demi keluarganya. Kami pun punya statement khusus untuk Borobudur waktu itu. Jadi yang dibutuhkan disini adalah orang baik, bukan orang kaya. Kami hanya berpikir jika disini banyak orang baik maka dagangan ibu-ibu ini akan laku karena mereka membelinya. Dan para penjual bisa segera pulang untuk istirahat atau mengurus keluarga mereka. Berbeda dengan orang kaya, yang mungkin hanya kaya saja tapi tak peduli terhadap sesama.

Hidup memang keras maka janganlah lemah pada hidup. Apapun yang bisa membuat hidup lebih baik, lakukanlah selama itu di jalan kebaikan. Semangat!!

30 Agustus 2012

Edisi #Liburan Lebaran

Biasanya tanggal segini udah balik hijrah ke Jakarta tapi edisi tahun ini berbeda. I can spend my whole time in the sweet cold town. Malang. Make a quality time for my lovely family and ofcourse my beloved friends. Sebenarnya pengen segera balik, ngurus segala kepentingan kuliah dan juga yang lainnya. Tapi nggakpapa juga, itung-itung nabung kehangatan karena tahun depan juga tak akan menemukan waktu yang seperti ini. Planning sekaligus prediksiku bilang lebaran tahun depan sudah kerja atau ambil S2. Jadi berlama-lama di rumah merupakan hal langka. Masalah berkarya, disini pun juga bisa. Bukan berarti liburan itu sama dengan bersantai-santai atau waktu jadi tidak produktif. Yang membedakan hanyalah aktivitasnya dilakukan di tempat yang berbeda. Toh berkarya juga bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satu cara berkarya versiku adalah dengan travelling with studying *tetep* karena aku begitu yakin ilmu yang bisa membawaku kemana-mana.

Terima kasih untuk orang-orang terkasih yang sudah mengisi liburan kali ini meski Jakarta sudah menanti. Special for my Ichan yang sudah mengajakku jalan sehat dan visit tour ke Batu Secreet Zoo dan Museum Satwa dengan beraneka senyuman manis. Juga nonton #PerahuKertas yang sudah lama ku nanti-nanti premierenya. My honhon Ipeh yang sudah jauh-jauh datang ke rumah dari tanah garam Madura. Ke Batu Night Spectacular sampe akhirnya flu tingkat dewanya kembali datang. Kata Ipeh “antobodymu rendah sekali, padahal ini di kota sendiri” Hhmm..

Weekend lalu diajak ke tempat yang memang belum pernah ku singgahi. Selecta. Sebenarnya nggak terlalu suka tempat-tempat model seperti ini tapi karena yang ngajak adalah orang-orang terkasih jadi iyaa aja. Cukup menyenangkan dengan kebersamaan keluarga dan rona kebun bunganya Selecta ini. Bisa ketemu temen-temen SMP dan SMK juga salah satu agenda mengisi liburan. Berkawan itu lebih menyenangkan. Beberapa tahun yang lalu seseorang mengirimkannya padaku. Indahnya silaturahmi ini.

Salah satu agenda yang lain dengan aktif ngisi blog ini. Harusnya lebih gencar tulisan yang diproduksi. Logikanya waktu lebih banyak tapi malah belum optimal. Masih sering absen karena jujur saja aku perlu timing yang pas untuk nulis. Tidak asal nulis dan menghasilkan banyak ragam cerita. Aku juga diajak friend mate SMP ke Bromo. Lagi dan lagi soal Bromo. Meski sudah sering kenapa nggak ada rasa bosan untuk menjelajahinya kembali. Dan untuk kali ini aku menolak karena moodynya nggak dapet dan kondisi tubuh tak sepakat dengan perjalanan ini.

Tentunya menjadi hal yang sangat menghangatkan hati ketika jam segini bisa bercengkrama dengan orang tuaku yang super. Disamping liat adek belajar. Jadi ingat jaman SMP ketika aku seumuran dengannya. Pengen banget singgah ke Jember, bertemu orang-orang terkasihku disana. Roomiiee, mbakdee, Edwin, Priyo, Farah, Nia, Yink, Bunbun, Ayiep, Priyo, Ipuls, Risa, pak Boed, tante Rara, Kikii, Ine, Dian, Liem, mas Zaki, mas Rafli and many others. Tapi waktunya sudah dibooking untuk agenda yang lain. Kangen Papuma dan hore-hore sama temen-temen. Pengen juga bertemu kembali dengan temen-temen JFC. Kangen riwehnya bikin kostum, latihan di DF sampai malam, belanja bahan-bahan kostum di Pasar Tanjung. Jember jadi kota yang penuh chemistry.

Yang belum kesampaian di edisi liburan kali ini adalah Sempu. Yaa, Sempu masih sulit dijangkau untuk saat ini. Ada lagi, sowan dan bertemu sahabat terbaikku di SMK. She’s  Clara. Kangen sama bapak ibu di Bunul. Pengen nostalgia waktu jaman kita masih begajulan. Semoga ‘ini’ tidak menjadikanku semakin menjauh.

Senang punya 'saudara' dimana-mana. Really and from travelling with studying. 
*Terima kasih Tuhan*

16 Agustus 2012

Gading Night Carnaval Menjemput Satu Mimpiku

Sejak pertemuan langsung dengan karnaval tahunan di Jember itu, aku tak henti-hentinya mencari informasi tentang Jember Fashion Carnaval. Keinginan untuk bisa terjun langsung menjadi sangatlah besar pasca janji itu terucap di pinggir jalan, di run away fashion terbesar di Indonesia itu. Artikel demi artikel dan foto demi aku susuri. Hanya saja aku memang bukan tipe manusia fanatik sehingga aku tak sampai memajang foto-foto itu di dinding kamar asramaku layaknya anak-anak ABG yang memasang poster foto idolanya.

Tepat di bulan mei kemarin, aku mendapat celah untuk mendekatkan diri ke JFC. Senang sekali bisa mendapatkan kesempatan ini. Minggu pagi hari aku dipertemukan langsung dengan partikel of JFC. Agenda tersebut dilaksanakan di Esmood Jakarta. Setelah naik dua kali kopaja, aku pun sampai di lokasi yang kebetulan berada di daerah Fatmawati ini.  Ternyata aku tak sendiri, di aula tersebut sudah banyak anak muda yang juga memiliki interesting yang sama terhadap JFC. Aku datang dengan penuh kepercayaan diri. Apalagi aku pernah melihat secara langsung show mereka di kota kesayangan Mereka, Jember. Mayoritas yang datang hanya tahu JFC lewat media saja. Hatiku mengembang. Ini adalah agenda untuk menjadi volunteer JFC di beberapa event yang akan dilaksanakan oleh JFCnya. Baik itu di Jakarta ataupun di Jember. Pikirku, ini adalah cara yang paling efektif agar aku bisa menjadi talent suatu saat nanti. Yaa tidak masalah kalau sekarang harus jadi volunteer dulu yang penting suatu saat nanti mimpi itu bisa terwujud.

Hari itu adalah pertama kalinya bisa sharing secara langsung dengan founder JFC, Dynand Fariz. Sosok Dynand Fariz ternyata berbeda dari apa yang ada dalam benakku selama ini. Ia adalah laki-laki sederhana, yaa aku sangat suka dengan kesederhanaannya ini. Dari mataku, Ia seolah menjadi bapak yang sangat hangat untuk anak-anak multitalent bimbingannya. Wajahnya memancarkan kepercayaan diri teguh dan penuh kharisma, membuat siapapun yang berhadapan dengannya akan menghormatinya. Tak ada satupun yang memanggilnya bapak, cukup hanya dengan sapaan yang biasanya meluncur untuknya “mas Fariz” Yang lebih menjadi ciri khasnya adalah ia selalu mengenakan celana pendek selutut, kaos polo yang kerahnya dinaikkan ke atas, sepatu sporty, ada dua kalung yang selalu menempel di lehernya dan tentu saja rambutnya di stylis model jabrik. Ntah itu model apa, aku tak begitu paham. Gayanya yang menurutku juga sangat keibuan dan kalem. Jika Ia tersenyum, aku rasa senyumnya penuh misteri.

Siang itu mas Dynand Fariz menceritakan suka duka perjalannya sampai akhirnya JFC bisa terkenal seperti sekarang. Sedikit flashback, ketika dulu Ia masih kuliah, teman-temannya sering tidak tahu kota Jember. Dimana Jember itu? Pertanyaan itu yang sering muncul untuknya. Dari sinilah tekad bulat itu terpatri, Ia ingin menjadikan kotanya dikenal banyak orang. Dikenal karena prestasinya, bukan karena keburukannya. Ia bercerita dengan penuh semangat bagaimana perjuangannya mendirikan wadah bagi anak-anak muda Jember yang idealis dengan fashion dan karnaval ini. Mas Dynand Fariz merintis semuanya dari nol. Berbagai terpaan diterimanya dengan hati lapang dan diteruskan dengan usaha yang gigih untuk mewujudkan mimpinya. Tentunya JFC yang saat ini Anda lihat berbeda dengan 10 tahun lalu. Ada proses panjang yang harus dilaluinya yang menjadikannya sekarang ‘kaya’ dan aku pun bisa berkata bahwa mas Dynand Fariz memang sosok yang luar biasa. Dengan background pendidikan yang dimilikinya, Ia senantiasa membimbing anak-anak yang ingin mengikuti JFC. Tidak ada sedikitpun biaya yang harus dibayar. Ia mampu menjadikan anak-anak Jember menjadi manusia-manusia kreatif sepertinya. Berlenggak-lenggok di catwalk dengan penuh pesona dan kepercayaan diri utuh atas kostum yang mereka buat sendiri.

Sedikit info, talents JFC bukanlah model sungguhan. Mereka hanya anak muda biasa, yang tak memiliki pendidikan khusus modelling. Namun, secara kemampuan mereka bisa disandingkan dengan model nasional bahkan internasional. Banyak keunikan yang membuatnya berbeda. Talents yang masuk ke JFC tidak melalui seleksi khusus mengenai tinggi dan berat badan layaknya model sungguhan yang kita tahu. Semuanya bisa ikut asalkan ada kemauan dan loyalitas tinggi. Anak SMP, SMA, Perguruan Tinggi, mereka yang sudah bekerja dan yang sudah berumah tangga pun banyak yang ikut berpartisipasi. Keunikan lainnya, kostum yang akan mereka pakai adalah kostum yang mereka rancang sendiri. Di desain sendiri dan dikerjakan sendiri. Tentu saja dengan biaya independent. Disini aku akan mengambil kesimpulan, jika tak memiliki passion dan minat yang super jangan sekali-kali mengikuti pola JFC. Pasalnya biaya yang digunakan untuk membuat satu kostum bisa jutaan rupiah. Dulu aku sempat bergumam “Gila. Apa-apaan ini. Untuk apa mereka buat kostum segede dan seribetnya. Apalagi, mungkin kostum itu hanya dipakai sekali saat showtime tiba. Nggak sayang uang apa yaa” tapi itu dulu, tentunya sebelum passionku meninggi. Jadi kalau ingin ikut JFC dipikir-pikir dulu yang matang yaa. Kalau orang yang nggak ada passion di bidang itu mungkin bisa gila sungguhan buat kostumnya. Pola bermake up para talent juga memiliki ciri khas ala JFC yaitu make up karakter sesuai dengan defile yang mereka bawakan. Ini menjadikan wajah lebih hidup, tidak sekadar cantik.

Dari penjelasan mas Dynand Fariz aku tahu satu hal lagi. Keunikan JFC di kalangan internasional adalah JFC bisa menggabungkan dua unsur sekaligus dalam satu waktu performance. Fashion dan Carnaval. Negara lain biasanya hanya unggul dan fokus di satu titik saja, seperti Prancis dan Itali yang terkenal dengan fashionnya. Trinidad & Tobago yang menjadi pelopor karnaval dan bahkan menjadi kota karnaval dunia. Melebihi itu semua, Jember, dari sudut kota di Jawa Timur mampu menggabungkan keduanya. Perpaduan antara fashion dan karnaval yang dikolaborasi dengan cantik. Untuk itu juga JFC mendapat prestasi kembali dari dunia internasional menjadi urutan ke-4 kota karnaval di dunia setelah Amerika Serikat, Brazil dan Jerman. Fantastic !!!

Hatiku terasa bergejolak ketika melihat video-video JFC  yang diputarkan oleh tim kreatif. Itu adalah video dokumenter beberapa event JFC baik di Indonesia maupun di luar negeri. Melihat hasil kerja sineas tersebut, rasa nasionalismeku tiba membuncah. Bulu kudukku langsung berdiri ketika melihat bendera Indonesia berkibar dengan gagah di London. Apa yang dilakukan JFC bukan hanya menjadikan Jember dikenal banyak orang, tapi Indonesia secara keseluruhan. JFC ingin membawa nama harus negeri ini ke manusia dibelahan bumi lainnya. Hal itu bisa dan akan terus mereka lakukan. Sineas yang memproduksi video tersebut juga hebat aku rasa. Kolaborasi antara video, backsound lagu dan dubbernya bisa membuat perasaan yang ntah itu lebih disebut apa. Yang jelas kami yang melihat semakin mencintai Indonesia. Kami, audiences terharu dengan tayangan itu.

***

Event pertama yang aku ikuti, Gading Night Carnaval. Waktu itu hanya 4 orang yang terpilih sebagai volunteer baru. Aku dan mas dondik dari Universitas Paramadina serta Sizi dan Doni, temanku dari Universitas Indonesia. Jumat sore sepulang kuliah aku berangkat menuju Kelapa Gading bersama mas Dondik. Aku tak mempersiapkan diri penuh rupanya karena aku lupa jika ini weekend. Pasti akan terjadi kemacetan parah dimana-dimana dan kami tak mempersiapkan hal itu. Kami malah berangkat mepet waktu. Kami memilih rute dari Universitas Paramadina menuju Cawang. Mayoritas pasti tahu bahwa itu adalah salah satu rute busway termacet di Jakarta. Setelah menunggu antrian panjang sekitar satu jam, kami pun naik. Berdesak-desakan dengan para karyawan yang pulang kerja. Sampai di titik yang kami tuju, busway malah berhenti beroperasi. Saat itu ada kemacetan parah sehingga puluhan busway yang menuju Cawang tertunda kedatangannya. Kami bingung seketika karena jadwal yang diagendakan untuk volunteer adalah pukul 20.00 di Kelapa Gading. Ini adalah pertemuan pertama kami sehingga kami tidak ingin telat walau hanya satu menit.

Kami mencari jalan alternatif menuju lokasi dengan menggunakan angkot. Dari koridor Cawang, kami keluar dan naik angkot berwarna biru ke arah Pluit. Kemudian transit satu kali lagi. Sampailah kami di daerah Kelapa Gading. Aku kira, ancer-ancer Kelapa Gading yang diberikan panitia sudah cukup menjadi kompas penunjuk jalan. Ternyata Kelapa Gading itu sangat luas. Kami harus mencari titik-titik yang lebih spesifik, yaitu di belakang Hotel Haris. Itu tempat berkumpulnya para volunteer. Maklum saja, meski tinggal di Jakarta beberapa tahun, sekalipun aku tak pernah ke daerah ini. Mau ngapain kesini? Jauh lagi. Aku merasa tak punya kepentingan apapun di daerah Kelapa Gading sehingga aku tak pernah menginjakkan kaki disini. Sebenarnya disini adalah surganya bagi para shopaholic. Namun, aku bukanlah bagian darinya.

Akhirnya kami tiba disana. Ku jelaskan kepada tim managemen yang menyambut kami bahwa kami tidak tahu arah menuju lokasi. Nyasar. Mereka pun memaklumi. Kesan pertama yang kudapat, mereka ramah terhadap orang baru. Kami mulai berkenalan satu sama lain. Melihat-melihat printilan kostum yang terpajang rapi di luar ruangan. Beberapa jam kemudian, aku mengikuti agenda briefing untuk para talent dan personil drumband. 15’ lagi akan dilakukan gladhi bersih di titik run way. Nah, disinilah aku mulai bertanya-tanya. Gladhi bersih jam satu malam. Bayangkan saja. Dengan memakai sayap kostum yang super gede, mereka harus melakukan gladhi bersih di sepanjang titik. Aku mulai terheran-heran. Biasanya jam segini adalah moment tidur pulas. Istirahat untuk mengumpulkan energi karena esok siang perform yang sesungguhnya akan dimulai. Tapi tidak dengan JFC. Mereka melakukannya dengan sangat profesional. Meski aku melihat banyak talent yang sebenarnya merasa capek tapi mereka tetap melakukannya dengan semangat.

Gladhi bersih selesai pukul 05.00 pagi. Semua sudah terlihat loyo karena kecapekan dan tentu saja kurang tidur. Kami harus kembali ke hotel memanfaatkan sisa waktu yang ada untuk ngecharge energi. Tiba di hotel pukul 06.00 dan jam 09.00 kami harus standby di dining room untuk breakfast. Melebihi dari jam itu, kami tak kebagian jatah makan. Tampak muka ngantuk dan sisa-sisa lemas di tubuh para talent dan personil drumbandnnya. Setelah makan pagi ini, mereka harus bersiap-siap membersihkan diri dan make up. Menunggu giliran mereka make up, tak ada yang bisa ku lakukan untuk membantu mereka. Make up dilakukan secara independent dan tidak membutuhkan bantuan volunteer. Aku pun keluar ruangan.
para peserta lomba fashion Gading Night Carnaval
Di luar juga tak kalah rame. Rupanya ada lomba fashion ala Gading Night Carnaval. Banyak peserta disana. Dan dilihat dari model baju-baju mereka sebenarnya itu terinspirasi dari JFC. Tidak akan tidak. Detail kostumnya juga menyimpan banyak keindahan. Mas Dynand Fariz menjadi salah satu jurinya.
saat grand juri
Dynand Fariz yang mengenakan polo shirt hijau
she's beautiful
Tibalah saat yang ditunggu-tunggu warga Jakarta sore itu. Para talent sudah menghiasi wajah mereka dengan baluran make up tebal, karasteristik dan penuh pesona. Selanjutnya, mereka akan mengenakan kostum mereka satu per satu. Inilah letupan pertama dalam hati. Aku bisa melihat kostum-kostum JFC itu dengan mata dekat. Waw, it’s awesome. Jika satu tahun yang lalu aku sudah dikejutkan dengan melihat face to face JFC di Jember sekarang dikejutkan kembali dengan kostum-kostum fantastic yang ada di depan mata. Peranan volunteer segera dimulai. Kami membantu para talent untuk memakai kostum tersebut. Baru ku tahu jika kostum itu terdiri dari beberapa unsur. Topi, atasan, bawahan, deker, belt, sayap dan beberapa tambahan aksesoris lainnya. Sayaplah yang paling banyak memakan tempat. Kostum itu juga di rangkai ulang alias bisa dicomot-comot. Luar biasa.
Karina, she's very smart
creative talent, Livo Gery Wijaya
Setelah semua bagian menempel di badan, barulah mereka mencoba berjalan sekilas. Itu dimaksudkan apakah kostum itu sudah nyaman. Jika belum, maka akan dibenahi sehingga saat run way nanti mereka akan menikmatinya. Tidak bingung dengan kostumnya saja. Rasanya semua mata tertuju pada karnaval fashion terbesar di Indonesia ini. Seperti di Jember, audiences juga sangat antusias untuk mendokumentasikan makhluk cantik luar biasa ini. Apalagi saat itu adalah malam minggu, sudah pasti penonton akan penuh sesak.
Ivan Vanani & Ayundavira Intan, master of talent JFC
aku bersama vo yang lainnya
Performance ini selesai malam hari. Rasanya terbayar lunas kerja keras mereka selama mempersiapkan show akbar ini. Setelah kembali ke base camp, muka mereka tak ada sedikitpun yang kecut. Semuanya sumringah. Mungkin yang mereka rasakan saat itu adalah kelegaan bisa menghibur warga ibukota yang datang untuk menyaksikan. Seperti biasa, ini juga menjadi bagian yang paling dinanti-nanti oleh para personil JFC. Evaluasi langsung bersama mas Dynand Fariz. Evaluasi ini menjadi agenda penting untuk mengetahui sejauh apa perform yang mereka lakukan. Hambatan dan kesan-kesan apa yang mereka dapatkan saat show. Karena ternyata yang ikut show ini bukanlah talent yang dipakai secara permanen tetapi ada yang baru saja bergabung di event ini. Ada rasa haru saat beberapa talent mengungkapkan isi hatinya. Tak jarang juga mereka yang bercerita, meluapkan semua perasaan kepada mas Dynand Fariz dengan tetesan air mata bahagia. Moment ini sungguh hangat. Kembali memancarkan aura kebapakannya, mas Dynand Fariz menjadi pengayom makhluk-makhluk dibalik ketenaran Jember Fashion Carnaval. Semoga mas Dynand Fariz senantiasa diberi kesehatan olehNya untuk melanjutkan misi-misi mulianya ini.

*Senang sekali bisa menjadi bagian dari Jember Fashion Carnaval*

9 Agustus 2012

Ada Dewi Fortuna Di Pasar Anak Negeri

Belum menginjak usia satu minggu pasca grand launching, kini Kereta Dongeng kembali memiliki hajatan penting. Satu sms di ponsel mengabarkan bahwa siang itu kami harus ke Tebet untuk briefing. Aku masih sedikit bingung. Briefing untuk apa lagi. Dan setelah datang ke lokasi, tentu saja ini adalah kabar baik untuk Kereta Dongeng. Kami diundang untuk pameran di Pasar Anak Negeri. Tepat di Istora Senayan, 27-29 Juli 2012. Berdegup rasa syukur menyelimuti kegembiraan, aku yakin ini bukan kebetulan. Rasanya bergemuruh rasa senang. Belum genap satu minggu grand launching Kereta Dongeng itu digelar. Buku dongeng “Trimbil, Ayo Bangun!” terbit. Akhirnya satu mimpi yang ku tulis dalam moadboard bisa ku coret. Kereta Dongeng. Dan petang ini senja membawa keindahan tersendiri untukku dan Kereta Dongeng. Hal ini semakin membuatku tersenyum haru. Lagi dan lagi. Ibarat menemukan gula yang kemudian ditambah lagi, menemukan manisnya madu. Rasa syukur itu senantiasa bertambah. Ingin sekali ku ucapkan terima kasih untuk semua pihak yang sudah membantu. Lidah terasa kelu sehingga keinginan itu hanya terucap lewat doa-doa malamku. Kesenangan ini harus dilengkapi kerja keras nan cerdas. Pameran akbar ini pun harus kami persiapkan dengan matang.

Setelah briefing itu selesai kami segera melakukan meeting kecil untuk koordinasi. Persiapannya tidak terlalu rumit karena pihak penyelenggara sudah mempersiapkan semuanya untuk tim kami dan beberapa tim lain. Kami hanya perlu membawa dagangan kami saja. Yang lain sudah diuruskan. Pameran Pasar Anak Negeri adalah pameran produk UKM yang menyebar di pelosok nusantara. Pesertanya merupakan pengusaha-pengusaha yang sengaja datang dari berbagai kota di Indonesia. Jumat malam itu adalah technical meeting di Istora. Kami pun segera tahu titik lokasi yang akan menjadi stand kami.

Pikiran awal kami hanyalah, ini kesempatan emas. Kereta Dongeng bisa promosi disini. Istilah konvesionalnya adalah mencari nama dulu. Jumat pagi kami datang dengan penuh semangat. Stand-stand yang semalam kosong kini sudah berpenghuni. Mulai dari aneka produk kuliner, fashion, aksesoris, craft sampai jasa ada di pameran yang bersuasana biru ini. Rupanya Kereta Dongeng sedikit berbeda dengan tim yang ‘setara’ dengan kami. Kami mendapat stand khusus di hall Istora Senayan, tepat di stand 54. Akhirnya aku mulai  bertanya dalam hati mengapa dibedakan? apakah perbedaan ini baik atau justru buruk untuk kami?  Jawabannya Cuma satu, tetap semangat untuk apapun yang terjadi. Pasti ada sejuta kebaikan di dalamnya. Kami tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Kami pun mulai menata produk Kereta Dongeng, yang tentu saja sangat berbeda dengan hamparan produk yang ada di sekeliling kami. Buku dongeng. Itu produk unggulan sehingga kami pun mendapat tempat yang sedikit lebih istimewa dibandingkan tim ‘setara’ yang lain. Kata mentor tim kami ”produk makanan sudah membanjiri pameran ini, produk kalianlah yang unik”

Menuju sore hari, hall tersebut semakin penuh sesak oleh pengunjung. Berbeda dengan pagi hari yang lebih terlihat sepi. Pemilihan waktu pameran menurutku juga sangat membantu. Weekend menjadikan pengunjung lebih ramai untuk sekedar jalan-jalan atau sengaja ingin mengunjungi dan membeli produk yang ditawarkan oleh pameran skala nasional ini. Saat itu, tiba-tiba saja langsung terbesit sedikit penyesalan. Kenapa tidak mencetak dalam jumlah yang lebih banyak. Kalau saja invitation pameran ini dikabarkan seminggu sebelumnya, tepatnya sebelum kami mencetak buku, pasti kami akan mencetak lebih banyak. Pikirku. Stok buku diperbanyak meski aku sendiri belum tahu dengan cara apa lagi. Pasalnya modal kami sudah kandas untuk cetakan pertama. Rupanya nasi telah menjadi bubur. Menyesal tentu tidak ada gunanya. Manuver pola berfikir pun terjadi. Bagaimana caranya stok buku dongeng yang tersisa bisa habis di pameran ini. Kereta Dongeng lebih menggema namanya. Hanya itu.

Kebetulan stok yang tersisa hari itu sekitar 70 buku. Padahal pembukaan pameran baru dilakukan besok, sabtu sore. Kami optimis bahwa usaha di titik ini akan berhasil. Berbekal kartu nama, buku dongeng, Xbanner dan stiker, stand Kereta Dongeng ramai. Ada yang sekedar melirik, menanyakan dan tidak jarang juga yang langsung membeli. Buku dongeng ini dipatok harga Rp 25.000/item. Target audiences Kereta Dongeng saat itu tepat sasaran karena yang datang ke pameran mayoritas ibu atau bapak yang tentunya memiliki buah hati di rumah. Dengan penuh senyum riang dan semangat, aku mempromosikan karya terbaik kami.

Pasar Anak Negeri ini memang menunjukkan keberagaman Indonesia dalam hal produk lokal. Di sekeliling stand Kereta Dongeng ada produk kuliner dari Pacitan dan Blitar, fashion dan craft dari Jakarta dan tepat di belakang kami adalah stand yang menjual kain batik tulis asal Jawa Tengah. Kembali menemukan tempat teduh ketika banyak manusia berkumpul disini, dari latar belakang yang berbeda, logat dan budaya yang juga berbeda. Indonesia lebih baik, itu satu tujuannya. Dari sudut tempat dudukku, ntah kenapa selalu ada yang ingin dilihat dari stand UKM Mentari Blitar. Ku telusuri lebih lanjut. Aku pun ingat, Blitar pernah menjadi kota romantismeku dulu. Selain itu, ada yang terasa eyecatching. Tiwul dan gatot instan. Hatiku akan selalu bergemuruh ketika melihat dua jajanan semi tradisional ini. Langit biru yang dulu memperkenalkannya padaku waktu kami travelling ke Blitar. Tidak heran karena kalau soal kuliner, bisa dibilang Ia adalah rajanya selera. Sempat ingin membeli tapi kesempatan itu tak ada. Kebahagiaan sore itu menjadi lebih teduh karena kenangan kecil itu. Sekejap ingin rasanya Ia hadir disini, menyaksikan apa yang dari dulu selalu Ia support bisa terealisasi. Terima kasih yaa.

            Menjelang waktu berbuka rombongan Ir. Hatta Rajasa datang dengan penuh semarak. Beliau berkeliling hall untuk melihat pameran tersebut dan mengecek produk-produk yang dipamerkan dan juga menyapa orang yang berjaga di balik stand-stand mungil itu. Menteri perekonomian ini juga sempat memberikan sambutan kecil bahwa perekonomian Indonesia harus terus dimajukan, salah satunya dengan memunculkan dan membina UKM-UKM dan pengusaha-pengusaha muda layaknya kami saat ini. Flash kameran dan bunyi jepretannya semakin menjadikan suasana lebih hidup. Banyak pengawal yang berjaga di sisi-sisi beliau. Tumpah ruah pengunjung mengikuti jalannya orang tersohor di negeri ini. Dan momen itu datang juga. Aku sedikit gugup ketika harus berbincang dengan beliau. Menjawab pertanyaan-pertanyaan singkatnya membuatku seperti bukan Ika yang sesungguhnya. Ini bukan gugup karena bertemu orang penting tapi lebih kepada soal kesiapan Kereta Dongeng di hadap putih yang juga menjadi cendekiawan yang dimiliki bangsa ini. Setelah tanya jawab yang penuh keakraban, beliau sempet bilang kepada rombongannya bahwa produk buku dongeng kami sangat bagus. Ini adalah produk kreatif untuk mencerdaskan anak bangsa. Ditanya stoknya tinggal berapa, aku pun menjawab dengan asal-asalan. Akhirnya sore itu Ir. Hatta Rajasa memborong lebih dari 50% produk kami. Stafnya langsung membayar dalam jumlah besar dan berdalih bahwa buku ini akan dibagikan ke anak-anak di sekitarnya. Alhamdulillah, ilmu itu tersebar.

            Hari kedua pameran berjalan mulus sesuai bayangan. Kami berdampingan dengan produk Jarichata, Juragan Jamur, Dents, Abon lele Srikandi. Jika menjelang berbuka, stand akan selalu dipenuhi pengunjung yang memesan produk es jago. Es itu memang enak, murah dan juga higienis. Berbahan buah segar, susu, fanta, sirup. Semua langsung jatuh hati kepada es segar itu. Kami pun membantu si empunya dalam memenuhi pesanan. Meraciknya satu per satu. Luar biasa, anak Indonesia (memang) kreatif pikirku. Setiap hari pameran yang dimulai jam 10.00 – 20.00 ini ini semakin seru. Sebelum beres-beres pulang, aku bersama teman-temanku menghitung omset penjualan. Hari itu satu lagi yang ku tahu. Jadi pengusaha itu seperti ini awalnya.

            Inilah hari terakhir pameran kreatif. Banyak hiburan dan artis kondang ikut meramaikan. Juga hadiah yang dibagi-bagikan ke pengujung serta berbagai jenis perlombaan digelar hari itu. Harapanku semoga tahun depan acara yang sangat bermanfaat ini kembali diselenggarakan. Satu lagi yang ku tunggu-tunggu bersama Kereta Dongeng. Hari ini ternyata menjadi momen khusus untuk pembagian modal. Modal sebesar Rp 5.000.000 untuk Kereta Dongeng dan beberapa tim lain yang lolos verifikasi dari lomba Wirausaha Mapan. Ah, senangnya. Tuhan memberikan banyak keberuntungan bagi kami lewat Pasar Anak Negeri. Hari itu juga buku dongeng “Trimbil, Ayo Bangun!” sold out. Tak ada yang tersisa. Hari-hari terasa warna orange. Warna yang menjadi filosofisku ketika aku senang tak kepalang. Itu berlaku untuk semua hal. Tak heran kan jika Kereta Dongeng juga didominasi warna orange. Terima kasih orange. Terima kasih untukMu pencipta, membuatku semakin mencintai pekerjaan ini. Membuatku terus belajar, belajar dan belajar. Terus menebarkan ilmu pengetahuan kepada sesama, seperti komitmen yang aku buat bersama langit biru dulu.

6 Agustus 2012

Langit Biru Membawaku Bertemu Jember Fashion Carnaval


Ceritanya, ini adalah kali pertama bagiku bisa join di Jember Fashion Carnaval. Senang sekali rasanya. Really. Setahun belakangan ini aku memang menggandrungi sesuatu yang sering disebut orang dengan JFC ini. Tentunya bukan tiba-tiba jika sekarang aku menjadi bagian darinya. Everything happens for a reason. Akan ku ceritakan sedikit flashback mengapa dan ada apa di balik JFC.  Sampai-sampai beberapa teman terdekatku pernah bilang bahwa aku seperti ‘tergila-gila’ dengan pelopor karnaval di Indonesia ini.
***

Berawal dari langit biru, passion ini dibangunkan. Juni 2011, kami travelling dari Malang, Banyuwangi, Bali dan akhirnya berakhir di sebuah kota singgahnya, Jember. Tak akan mengira jika sekarang aku seperti ditempeli magnet alam dengan kota ini. Pertama kali menginjakkan kaki di Jember adalah ketika kami usai dari Bali. Berangkat dari terminal Ubung, Denpasar. Tepat pukul 03.00 dini hari kami tiba. Aku masih ingat, kami turun di Gladak Kembar. Yaa, itulah ingatan pertama yang akan aku sebutkan ketika ke Jember. Pagi itu, Ia sengaja mengajakku untuk sarapan di warung tenda yang sepertinya memang dibuka sejak tengah malam. Dengan senyuman, aku cukup melihatnya makan dengan lahap. Jujur saja itu terlalu pagi untuk sarapan dalam agenda pagiku. Aku menghangatkan badanku dengan teh manis di sebelahnya. Aku akhirnya sampai di kota Jember yang selalu Ia puja-puja.

Waktu itu aku memperkirakan bahwa Jember sedang memasuki musim dingin. Itu pun menurutku musiman karena dingin bekunya hanya di malam hari. Menginjak siang hari, panasnya tak ketulungan. Tak seperti Jakarta, panas di Jember sangat mirip dengan Bali. Sangat menggigit kulit. Usai sarapan,  kami bergegas menuju kos temannya untuk istirahat sejenak. Sebelum meninggalkan warung itu, dengan gayanya yang khas Ia bilang  “makanan disini itu mantap jaya. Selalu cepat habis saking larisnya” Melewati jalan Sumatra, kami menuju perumahan mastrip menggunakan jasa ojek. Pantas saja, itu masih sangat pagi sehingga tidak ada angkot yang beroperasi. 15’ kemudian kami sampai. Rupanya langit biru harus menggedor-gedor pintu kosan karena temannya masih sembunyi dibalik dinginnya hawa. Tidur pulas.

Momen ini adalah kali pertama aku benar-benar dipertemukan dengan satu per satu teman langit biru. Yaa meski yang satu ini masih terlihat ngantuk, tapi dia sangat welcome terhadapku. Ia menyuruhku istirahat sebelum akhirnya melihat perhelatan akbar kota Jember nanti siang. Jember Fashion Carnaval X. Akhirnya. Sebenarnya agenda utama yang sudah kami rencanakan beberapa bulan sebelumnya memang untuk melihat langsung JFC di kotanya, bukannya travelling ke Bali. Namun, seiring berjalannya waktu agenda itu luntur oleh romantisme Bali. Untung saja langit biru mengingatkanku bahwa tujuan awal adalah Jember. Ok, aku siap sekarang.

Pukul 10.00 aku diajak berkumpul bersama teman-temannya. Teman-teman yang sebelumnya sudah diperkenalkan via twitter dan facebook oleh langit biru. Sebenarnya kami pun sudah saling akrab, sungguh tak asing ketika melihat mereka. Berbagai sapaan untukku mulai terdengar langsung ditelinga siang itu. Bude. Bu ani. Dan yang paling sering muncul dari mereka adalah kalimat semacam ini “Oo, ini toh orangnya” aku sedikit tahu maksudnya. Kami pun berkenalan secara face to face. Suasana lebih mencair karena seperti dugaanku, mereka orang yanag sangat humoris. They’re nice people that I’ve ever meet. Hati mulai mengembang. Sebelum menuju alun-alun kota Jember, kami menyempatkan diri untuk breaklunch di sekitar Unej. Gudeg dan ayam bakar menjadi pilihan yang tepat bagi 6 orang yang sedang lapar.

Siang itu akhirnya aku menyaksikan sendiri sesuatu yang dimataku menjadi spektakuler. Dari kampus Unej langit biru mencari jalan alternatif menuju alun-alun. Jalanan sudah sangat ramai. Angkot sudah offline. Ribuan manusia ada disini. Prediksiku, semua warga Jember sedang meluncur ke tempat ini, ikut menyaksikan acara tahunan terbesar kota Jember ini. More than crowded i think. Yang selalu menjadi kenangan manis adalah untuk menuju alun-alun itu, kami harus melewati rel kereta api. Hampir mirip jembatan gantung. Dan kami melewatinya berdua. Kami sepakat momen itu dibilang romantis.

Sepanjang jalan aku gembira tak terkira melihat run away dan para model yang tumpah ruah di jalanan dengan kostum unik mereka. Ratusan model ada disini. Bermacam-macam kostum dengan temanya masing-masing. Dan aku baru tahu kalau penggolongan tema di JFC itu disebut defile. Mulai dari yang kecil sampai yang tua ikut menjadi talentnya. Semua menyunggingkan senyuman lebar kepada audiencesnya. Seperti model yang sudah terlatih. Peran yang mereka lakukan benar-benar all out dengan tambahan karakter yang mereka mainkan. Saat itu aku hanya berpikir “bagaimana bisa mereka melakukan semua ini” Kostum yang mereka kenakan bukan hanya unik tapi juga sangat memakan volume. Kok bisa kuat yaa bawanya. Dulu aku juga pernah melakukan parade kostum dan budaya ketika di Polandia, tapi itu hanya kostum tarian tradisional yang bisa dibilang ringan. Meski memakainya kadang sangat rumit. Aku benar-benar masih heran, di tengah siang yang sangat terik ini mereka melakukan ini semua. Untuk apa? Setelah itu aku mendengar kasak kusuk bahwa kostum itu dibuat sendiri dan dengan modal sendiri. What is it? Habis berapa ya? Kembali berputar pemikiran-pemikiran itu di kepalaku. Gila. Benar-benar menakjubkan. Catatan khusus, make up yang mereka pakai adalah make up karakter sehingga muka para talent itu serasa lebih hidup. Dipenuhi permata kecil menjadikanku tak bisa membedakan mana yang laki-laki dan mana yang perempuan.

Langit biru dan teman-temannya sempat kegirangan saat salah seorang talent berjalan di depan mereka. Mereka mencoba menggoda gadis cantik itu. Diceritakannya bahwa dia adalah adik angkatannya di kampus. Waw, aku langsung berpikir mungkin ini jalannya. Ntah itu jalan apa yang ku maksud. Aku memintanya untuk mempertemukanku dengan gadis mungil itu, yang memang sebelumnya sudah ku kenal. Ia juga pernah berkunjung ke Malang bersama rombongan langit biru di bulan mei lalu.

Rupanya kami berpencar. Setelah berjalan di sepanjang run away tersebut, ternyata yang tersisa hanya tinggal aku dan dia. Rasa senang, kasihan, terharu bercampu menjadi satu. Sesekali aku melihat langit biru di belakang, tak lagi menemaniku di samping. Semakin jauh perjalanan, ia lebih menunggu di belakang. Aku tahu dia lelah harus mengikuti kegiranganku ini. Aku cukup maklum. Pasalnya kami tidak statis menonton karnaval ini melainkan berusaha mengikuti jalannya para talent ke arah GOR. Anehnya, semakin lama raut mukanya juga semakin menciut. Aku baru ingat, sebelum berangkat ke Jember dia pernah bercerita. Meski tinggal di Jember beberapa tahun, Ia belum pernah melihat JFC dengan alasan keramaian yang dimuntahkan jalanan kota Jember membuatnya tak nyaman. Nah, kali ini tentunya menjadi hal yang pertama untuknya. Satu lagi kegiranganku datang.

Aku rasa kegiatan ini membawa begitu banyak manfaat. Selain manfaat yang diperoleh para talent dan JFC tentunya. Jelas sekali bahwa banyak perputaran kegiatan ekonomi dilakukan disitu. Banyak orang yang berjualan dengan beraneka ragam dagangan. Penonton yang memadati jalanan menjadi objek yang dituju sebagai pembeli. Mulai dari minuman, payung, makanan, topi, souvenir dan lain sebagainya. Acara ini menjadi acara hiburan gratis bagi warga. Banyak yang menyaksikan bersama keluarga lengkapnya, ibu ayah dan anaknya. Semuanya memancarkan senyum senang. Tukang parkir juga ikut merayakan kemenangan ini. Belum lagi toko-toko di areal Pasar Tanjung yang menjual berbagai macam bahan untuk kostum mereka. Rasanya kota Jember saat itu memanen. Hotel dan penginapan juga full booked saat JFC digelar. Peminat acara ini bukan hanya warga Jember tetapi berbagai penonton yang datang dari Madura, Probolinggo, Bondowoso, Situbondo, dll. Dan  jangan salah, banyak turis yang juga meramaikan kota Jember saat itu. Hampir semua yang melihat selalu menenteng kamera masing-masing. Mulai dari kamera HP, Pocket maupun DSLR.

Menjelang sore performance mereka masih berlangsung. Sejak saat itu, aku mengutuk dalam hati. Aku harus bisa menjadi bagian dari JFC. Ntah kapan waktu itu menunjukkannya padaku. Tekadku sudah bulat. Apalagi melihat JFC sebagai fenomena budaya dimana topik ini akan selalu berbusa-busa untuk ku bahas dan ku pelajari. Really love it. Dalam satu hari, JFC bisa mengumpulkan ribuan manusia dari berbagai kota untuk datang. Melihat mereka berinteraksi menjadi pemandangan orange bagiku. Culture yang ia persembahkan juga tak kalah penting. Kostum yang mereka buat adalah bagian dari culture yang sangat fantastic dan perlu dipelajari lebih dalam. Aku ingin tahu seperti apa rasanya. I’m in Jember Fashion Carnaval.

Esoknya, aku diajak ke rumah adik angkatan yang sudah disebutkan di awal tadi. Kami mengunjungi rumahnya ramai-ramai. Aku sharing dengannya mengenai beberapa beberapa hal JFC. Dia pun antusias dalam bercerita. Dan diujung pembicaraan, aku sengaja untuk meminjam kostumnya. Aku benar-benar ingin mencobanya. Tentu saja dia mengizinkan. Mulailah dipasangkan satu per satu bagian kostum Athena itu. Sampai semua terangkai menjadi satu kesempurnaan kostum yang didominasi warna kuning keemasan. Sayangnya dokumentasi foto itu lenyap. Ibarat tamu agung, semua teman-teman menyaksikanku dengan penuh keheranan. Mereka yang sudah lama stay di Jember saja tidak terlalu interest dan tidak seheboh ini dengan JFC. Justru aku yang baru menginjakkan kaki disini langsung jatuh hati. Kali ini Jember benar-benar membuatku tersenyum lebar.