22 April 2012

Dokter Pembela Bangsa, Cipto Mangoenkoesoemo

Dr. Cipto Mangoenkoesoemo lahir di Pecagakan, Jepara pada tahun 1886. Ia mengenyam pendidikan tinggi di STOVIA (sekolah dokter bumiputera). Selama masa kuliah ia terkenal dengan pribadi yang jujur, kritis dan rajin. Sikap kritis beliau diwujudkan dalam berbagai pidato, opini dan tulisan-tulisannya. Dr. Cipto Mangoenkoesoemo juga ditetapkan sebagai tokoh pergerakan nasional. Pergerakan yang diilhami dari politik etis yang diterapkan oleh Belanda, meliputi bidang edukasi, irigasi dan migrasi. Dalam bidang edukasi, pemerintah kolonial Belanda memberikan kesempatan bagi warga pribumi untuk mengenyam pendidikan. Dampaknya muncullah orang-orang terpelajar layaknya dr. Cipto Mangoenkoesoemo dan rekanannya.

Ia melakukan banyak perjuangan melalui tulisan-tulisan yang bernada mengkritik pemerintah kolonial Belanda. Ia kerap menceritakan penderitaan rakyat akibat penjajahan Belanda. Ketika aktif menulis di de Express, sebenarnya ia sudah bekerja sebagai dokter di pemerintahan. Pekerjaan ini ia dapatkan setelah memperoleh ijazah STOVIA di Jakarta. Saat itu ia ditugaskan di Demak. Dari sanalah ia menulis kritikan-kritikan pedas tersebut. Akibatnya ia diberhentikan dari pekerjaannya sebagai dokter pemerintah. Dengan kondisi ini, dr. Cipto justru semakin intens melakukan perjuangan. Bersama Douwes Dekker dan Ki Hadjar Dewantara, ia mendirikan Indische Partij, suatu organisasi politik yang pertama kali mencetuskan ide pemerintahan sendiri, bukan oleh Belanda. Pada tahun 1913, ia dan kedua rekannya diasingkan oleh pemerintah kolonial ke Belanda akibat tulisan dan aktivitas politiknya yang tajam. Sebelum mendirikan Indische Partij, ia juga berprofesi sebagai guru bahasa melayu di Ambarawa, menjadi kepala sekolah dan menjadi pembantu administrasi di kota Semarang.

Ketika peringatan seratus tahun bebasnya Belanda dari penjajahan Perancis, pemerintah kolonial Belanda di Indonesia berencana merayakannya secara besar-besaran. Dan keinginan ini ditolak habis oleh para pejuang kemerdekaan karena dianggap hanya akan menyengsarakan rakyat. Dr. Cipto saat itu mendirikan Komite Bumiputera khusus untuk memprotes maksud pemerintah kolonial Belanda. Sekembalinya dr. Cipto dari Belanda akibat hukuman pengasingannya, ia kembali melakukan perjuangan melalui Volksraad. Disana ia selalu membela kepentingan rakyat dan membangkang terhadap pemerintahan Belanda. Karena kegiatan kritisnya di Volksraad itu, ia kembali mendapat hukuman dari pemerintah yaitu dipaksa untuk meninggalkan Solo, kota dimana ia tinggal saat itu. Padahal saat itu, ia sedang giat mengembangkan ‘Kartini Club’ dan juga membuka praktik dokter di Solo.

Selanjutnya ia tinggal di Bandung sebagai tahanan kota, dimana ia tidak diperbolehkan keluar dari kota Bandung tanpa persetujuan pemerintah Belanda. Meskipun demikian perjuangannya tidak menjadi lemah. Dengan berbagai cara kreatifnya ia menemukan kegiatan-kegiatan untuk melanjutkan pergerakannya. Rumahnya dijadikan sebagai tempat berkumpul, berdiskusi dan berdebat para tokoh pergerakan nasional. Salah satu diantaranya yang aktif yang aktif adalah Ir. Soekarno. Setelah beberapa waktu, akhirnya kegiatan-kegiatan  bersama tokoh pergerakan nasional dirumahnya terbongkar. Ia kembali mendapat hukuman dari pemerintah Belanda. Ia dibuang ke Banda Neira pada tahun 1927 dan mendekam disana sebagai tahanan selama 13 tahun. Dari Banda Neira kemudian ia dipindahkan ke Ujungpandang. Tidak lama kemudian dipindahkan lagi ke Sukabumi, Jawa Barat.

Sebagai seorang dokter, dr. Cipto pernah memperoleh prestasi gemilang ketika berhasil membasmi wabah pes di daerah Malang. Pes merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh basil yang ditularkan oleh tikus. Akibatnya banyak dokter Belanda yang tidak bersedia ditugaskan untuk membasmi penyakit tersebut. Kesuksesannya membasmi wabah tersebut membuat namanya lebih terkenal. Bahkan pemerintah Belanda yang sebelumnya sudah memecatnya sebagai dokter pemerintah justru menganugrahinya penghargaan Bintang Orde van Oranye Nassau meskipun sebenarnya penghargaan itu malah dikembalikannya kepada pemerintah Belanda. Atas jasa dan pengabdiannya sebagai pejuang pembela bangsa, namanya dinobatkan sebagai pahlawan kemerdekaan nasional. Namanya pun diabadikan sebagai nama rumah sakit umum pusat di Jakarta.

Titik di 24 Jam (2012)

Semoga titik di 24.00 mampu memberikan refleksi cita dan kasih yang produktif. Semoga aku bisa menjadi lebih matang untuk berfikir dan bertindak. Tentunya semoga doaku, menjadi jalan hidupku. Amin ya rabb. Doa ini sebenarnya aku dapat ketika satu tahun yang lalu diperkenalkan dengan Langit Biru. Terima kasih atas pengalaman selama satu tahun ini, juga untuk cinta kasih yang hingga malam ini tak pernah padam. Aku yakin bahwa cinta kasih sangatlah dekat dengan pemaafan. Semangat untuk masa depan yang lebih cemerlang. Aku masih ingat dengan seruanmu, fight for future yang selalu dilantunkan The Trees and The Wild. Salah satu band favoritku yang menjadi perbincangan kami di awal perkenalan.

Love the process and respect the result of it. Kalimat yang selalu mengilhami setiap langkah tujuanku. Semoga dengan titik yang diperbaharui akan mampu membuat kemarau di musim hujan. Kembali diingatkan 20 April 2011. Dilancarkan misi membangun foundationnya. Menghibahkan diri untuk ilmu pengetahuan, berproses menjadi travel writer sesuai dengan hobi beserta semakin kental dengan dunia sinematografi. Tak lupa, semoga mendapat kelancaran dalam membangun brand kaicecreamnya (baca:kaeskrim). Suka. Topik yang selalu membuat hati gempita saat membahasnya. Nama brand ini terinspirasi dari sahabat sekaligus kakak seperjuangan dalam menuntut ilmu. Terima kasih.
Merealisasikan mimpi ke India dengan niatan travelling (tentunya), belajar budaya dan tradisi yang menurutku sangat unik. Mereka bisa mentransfer budayanya lewat media yang selalu kita kenal, bahkan saat aku masih duduk di kelas satu SD. Apalagi jika bukan film india. Semoga keluarga yang terkasih di rumah berbahagia dan senantiasa syukur. Terima kasih ibu, engkaulah cermin kesederhanaan yang sempurna di mataku. Kesederhanaan inilah yang turut membesarkanku, didampingi bapak dan canda adek Rara *love family* Untuk Jhony (nama sapi-ku), cepat beranak yaa. Dan mengapa aku berdoa seperti ini? Aku sendiri tak tahu karena kenyataannya Jhony sebenarnya adalah sapi jantan. Bagaimana ia bisa beranak? Yaa mungkin maksudku kali ini segera membuahi si betina agar daya semi tidaklah terkikis.

Tepat di 20 April 2012, doa ini semakin diperkuat. Tuhan, lancarkan misi tugas akhirku (similiar dengan skripsi) dan luluskanlah dalam keberkahanMu. Don’t forget to say alhamdulillah. Itu bisikku dalam hati. Bersyukur disertai perbuatan, bukan hanya ucapan. Ada satu poin yang menjadi renungan bahwa selama ini mungkin masih terlalu banyak meminta pada Tuhan #instropeksi. Semoga visi dalam list moadboard-ku tentang Prancis, India, Swiss, USA dilancarkan. Manjadda wajada. Teringat dengan trip ke Singapura-Turki-Polandia tahun 2010 lalu. Semoga semangat 2009 kembali merona dalam jiwa untuk meraih cita. Semoga mampu untuk menunduk dengan tetap bisa melihat langit biru yang luas sebagai bahan amunisi mengisi kehidupan. Ada tagline hidupku yang semakin harus dipupuk dan diberi gizi. Travelling with Studying. Cita-cita untuk masuk ke dunia akademisi & industri kreatif akan selalu menjadi warna dalam setiap perjuangan. Senyum, semangat. Hatiku berseru tanpa harus berucap. Semangat menatap mentari yang kian memanas. Terima kasih semesta :)
Tepat di malam harinya, ahha moment itu datang dari kawan-kawan seperjuangan di asrama putri. Sangat tidak disangka bahwa kali ini mendapat kejutan yang hampir sama di tahun lalu. Senang. Kembali dari Kemang malam-malam, disambut oleh wanita-wanitaku di depan TV. Mereka antusias sekali melihat tayangan Indonesian Idol. Beberapa menit kemudian lampu padam. Yaa, tak ada secuilpun insting bahwa moment itu jatuh. Ahha !! 21th kau !! bisik gelap malam. Kalian, keluarga mungilku disini yang turut membantuku untuk berproses menjadi Ika yang sesungguhnya. Meski aku pun tak tahu kapan proses itu akan berakhir. Terima kasih untuk cinta kasih kalian yang selalu mengiringi perjalanan dalam rantauanku.

21 April 2012

Refleksi 20th

 Diawali dengan perjalanan 20.04.2011 yang lalu, aku memaknai momentumnya bersama sabahat-sahabat terdekatku ke Epicentrum. Menyenangkan. Dan tak terasa, moment itu sudah berjalan selama satu tahun. Waktu memang berjalan begitu cepat. Banyak doa dan harapan yang dipanjatkan saat memasuki umur 20th yang lalu.
Risma, aku dan Luti (dhillaz camera personnya)
Dan sekarang? Apa yang sudah ku lakukan di umur cantik tersebut?  
Sepertinya malam ini serendepity dari Tuhan diturunkan untuk kami, kaum yang sedang mencari jati diri di persimpangan jalan menuju kebenaran yang hakiki. Melewati banyak pos kehidupan dan perempatan jalan yang memberikan banyak pengalaman baru dan pengetahuan, dan spiritualitas yang semakin matang.

Terima kasih untuk segala doa yang dipanjatkan. Tuhan mengamininya.
Lega rasanya setelah dering telepon itu akhirnya berganti menjadi suara serak akibat bangun dari tidur yang cukup singkat. Aku menyapamu malam ini karena 'sejujurnya' ada yang hilang selama sekian waktu sebelumnya.

Tepat di titik 20.04.2012 ini, refleksi diri itu menghasilkan rasa yang menjelma sebagai wujud cinta kasih dari Tuhan. Aku bisa bilang "hello, aku sudah 21th" Proses dari bertambahnya umur yang terus berjalan ini yang mengajariku untuk melakukan sesuatu. Menyapamu disana yang mungkin memang saat ini sudah tertidur pulas, dipeluk malam. Doa malam ku panjatkan. Berperilaku jujur terhadap diri sendiri pun harus segera ku lakukan. Aku paham karena untuk ke sekian kalinya aku masih membohongi diriku sendiri. Tidak selayaknya itu dilakukan karena sebenarnya ‘diri’ kita (baca:tubuh) adalah yang paling dekat dengan kita. Dan tak bisa dipungkiri, ‘diri’ pun seperti orang yang paling jauh ketika kita tidak mengenali siapa diri kita. Ketika ‘Ahha moment’ itu muncul, seketika aku ingat prinsip ayam berkokok "tidak baik kalau aku harus menunggu esok pagi untuk menyapanya" Hasil dari doa malam itu juga yang turut mensupportku untuk membangunkanmu sampai hitungan dering telepon kedua.

Proses perjalanan itu sama-sama kita lalui sebagai media untuk terus belajar menjadi insan yang lebih baik lagi. Terlebih untuk orang-orang yang selalu mensupport hidupku. Satu lagi yang ku tahu dan ku yakini, cinta kasih itu murah hati, sabar, penuh pemaafan dan menerima apa adanya engkau. Aku mengambil satu pelajaran yang lain bahwa konflik itu bisa menyadarkan, bukan hanya menyakitkan. "akui, maafkan dan belajarlah dari situ" itu yang malam ini Tuhan yakinkan padaku lewat doaku.

  Terima kasih untuk cinta kasih yang penuh pembelajaran dan tanpa mengekang, yang sampai malam ini masuk ke dalam ruang, Semangat. 

Ulang tahun bukanlah moment yang harus dirayakan, tetapi perlu direnungi apa yang sudah kita perbuat selama itu dan mencari perbaikan atas kesalahan yang telah dilakukan. Make a wish pun sama. Aku tidak harus melakukan ritual itu saat ulang tahun karena aku percaya setiap harinya aku juga make a wish dengan metode yang sama. Memasuki zona yang lebih menantang akan membuat hidup terasa lebih mempunyai urat nadi. Dan dengan semangat itulah, hidup akan dipenuhi keceriaan. 

Umur 20th, aku cukup aktif diberbagai organisasi ekstra maupun intra kampus. Pelajaran yang mengena adalah membangun link bukan hanya sekedar untuk simbiosis mutualisme. Namun, yang lebih penting dari itu kita harus melakukan simbiosis mutualisme itu dengan hati lapang. Terkadang aku masih sering merasa bimbang dengan suatu keputusan. Dan waktu satu tahun pun menyadarkanku bawa kondisi seperti itu hanya akan membuat kita terombang-ambing di lautan lepas dan tak bertepi. Melakukan sesuatu itu lebih mudah daripada hanya memikirkannya di kepala. Tahun ini juga ghirah travelling with studying itu lebih menguat. Travelling itu menyenangkan, apalagi jika ditambah dengan instrumen-instrumen pembelajaran yang bisa membuatku lebih merasakan ‘hidupnya’ travelling itu.

Orang tua dan keluarga adalah segalanya. Mereka yang selalu mensupportku dalam setiap keadaan. Apapun akan ku lakukan untuk beliau yang terkasih. Aku yakin, doa orang tua adalah bisikan dari Tuhan. Love you my lovely family. Perjalanan satu tahun ini juga semakin meyakinkanku dengan tagline hidup yang ku bawa kemana-mana Love the process and respect the result of it. Proses itu sangatlah penting. Dari proses kita akan banyak belajar. Suatu hubungan akan lebih bermakna jika di dalamnya banyak terjadi improvement. Ntah itu hubungan orang tua dengan anak, pacaran atau pertemanan. Rasa cinta kasih yang tulus dan semangat merupakan bumbu tambahannya. 

Menjadi orang yang berani, menurutku adalah suatu pilihan. Aku memilih untuk berani karena mempertahankan rasa yang seharusnya diungkapkan itu akan mengekang diri dan membuat diri semakin jauh dari kita. Satu hal yang juga menjadi refleksi, saling berbagi akan banyak memberi energi positif di hati. Dengan berbagi aku merasa lebih bermanfaat, ada 
semacam kepuasan batin yang menyokongku. Ohya, terus menginspirasi orang lain juga menjadi visiku, terutama untuk keluarga terdekat.

Selama ini aku masih merasa terlalu banyak menuntut kepada Tuhan yang Maha Sutradara. Nah, semoga refleksi ini mampu menjadikanku orang yang senantiasa bersyukur atas segala rahmatNya serta mawas diri. Terima kasih atas cinta kasih sampai 21th ini. 
Be better person and always smile and keep fight for future.

20 April 2012

Cinta dan Pemaafan

Sudah menjadi kodratinya bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri. Ia membutuhkan bantuan, baik dari manusia yang lain atau sektor pendukung yang menyokong pertumbuhan hidupnya secara berkesinambungan. Secara ilmiah, manusia juga disebut sebagai homo sapien dimana ia akan tumbuh menjadi makhluk yang lebih istimewa dari yang lain karena ia memiliki akal, budi pekerti dan hati yang dapat digunakan untuk membedakan mana yang baik dan buruk. Dengan gagasan inilah, manusia sudah selayaknya hidup berdampingan, tolong menolong dan senantiasa menebarkan kasihnya bersama orang lain.

Dalam kehidupan sosial, manusia akan selalu masuk ke dalam tataran adat masyarakat dimana ia tinggal. Disinilah ia dituntut untuk hidup saling berbagi, memahami, toleransi dan seharusnya saling memaafkan kesalahan. Sama-sama menghapus hutang emosi, berdamai dan melepaskan emosi pahit, baik dengan diri sendiri maupun orang lain. 

Pemaafan dalam konteks relasi individu maupun konteks bermasyarakat tampaknya sangat relevan dengan kehidupan bangsa kita. Konflik antar pribadi yang jumlahnya tidak terbilang juga menghasilkan banyak trauma. Selain itu banyak peristiwa besar bangsa yang menorehkan luka-luka psikologis pada banyak individu, antara lain peristiwa G30SPKI, pembunuhan misterius pada tahun 1980-an, peristiwa Tanjung Priok, kerusuhan massal pada tahun 1998, dan lain sebagainya.

Masyarakat yang terkait dengan kejadian di atas banyak yang tidak bisa memaafkan lantaran rasa sakit hati yang masih tumbuh di hati. Banyak keluarga yang ditinggalkan oleh sang korban dan tidak mendapat ganti apa-apa. Seseorang berat untuk memaafkan orang lain atau bahkan suatu kejadian karena dikiranya memaafkan justru akan membebaskan orang lain dan merugikan diri sendiri. Padahal, sesungguhnya dengan memaafkan orang lain itu akan menguntungkan diri sendiri dan orang lain juga dan sebaliknya juga. Berbagai bukti psikologis menunjukkan bahwa orang yang tidak memaafkan akan dirugikan karena ia menyimpan sumber penyakit dalam hatinya. Orang yang merasa dosanya tidak termaafkan akan mengisi hari-harinya dengan penuh rasa bersalah, yang itu berperanan dalam menurunkan kualitas hidup seseorang.

Hidup bermasyarakat seyogyanya dijalani dengan tulus ikhlas. Penuh cinta kasih dan tanpa pamrih. Tetangga, saudara yang paling dekat dengan kehidupan kita. bersamanya manusia yang satu dengan yang lain akan menjalani hidup sampai pada titik terakhirnya sehingga harmonisasi sangat diperlukan untuk membuat hidup terasa nyaman. Namun, tak jarang konflik antara satu sama lain itu juga terjadi. Seperti bulu dalam domba. Konflik tercipta untuk membuat manusia selalu mawas diri terhadap apa yang dilakukan. Konflik bisa menyadarkan, bukan hanya menyakitkan. Masukkanlah cinta kasih antar sesama di dalamnya karena itu merupakan kunci pemaafan yang arif. Cinta akan selalu memaafkan, itulah yang dikatakan Ajahn Bram pada bukunya “si cacing dan kotoran kesayangannya”

Berdamai, itu yang sering didengar tetapi mungkin sulit pada tahap pengaplikasiannya. Damai yang sebenarnya adalah damai terhadap diri sendiri, tidak memenjarakan diri atau tubuh terhadap sesuatu yang ingin dilakukan. Dalam kehidupan sosial, berdamai sangat penting dijadikan instrumen untuk hidup secara aman. Meski sebenarnya tidak bisa dipungkiri bahwa kehidupan manusia selalu berasal dari latar belakang yang beragam. Satu manusia akan selalu membawa banyak identitas. Tidak ada identitas tunggal yang dibawa manusia sejak ia lahir. Ragam budaya, tradisi, adat, kepercayaan, norma dan aturan biasanya yang menjadikan sumber perpecahan apabila di dalamnya tidak ada rasa memahami dan “better understanding” antar sesama. Keragaman tersebut sebenarnya akan bermuara pada titik temu bahwa disetiap perbedaan pasti ada benang merah persamaan yang merajut. 

Agama yang paling signifikan dicermati dalam kehidupan bermasyarakat. Sering kali manusia mempersalahkan orang lain karena alasan agama. Tentunya dalam hal ini agama yang dianut mungkin berbeda, atau justru masih dalam satu agam namun berbeda sektenya. Saya sangat yakin bahwa tuhan selalu menebarkan cinta kasihnya. Tuhan selalu berbelas kasih dan penuh pemaafan. Jika terjadi kerusuhan massal dengan atribut agama, sudah pasti itu bukan keinginan tuhan. Tuhan itu baik. Cinta kasih antar sesama harus dibangun untuk menuju hidup yang sesungguhnya. Hendaknya kita sebagai bagian dari masyarakat selalu berperilaku atas dasar religiusitas. Perilakunya yang benar-benar memiliki semangat religiusitas, bukan hanya menjadikan agama sebagai tameng dalam norma masyarakat. Perilaku itu hendaknya penuh kasih, yang muaranya adalah tuhan. Tuhan yang disebut dalam banyak nama dan cara. Itulah tuhan saya dan tuhan kalian semua. Seperti yang dikatakan Romo Magnis Suseno bahwa dalam melihat perbedaan sering kali manusia saling menyalahkan dan hany melihat permuakaan yang paling atas dari suatu masalah . Menganggap bahwa pilihannyalah yang paling benar. Itulah yang seharusnya diluruskan. Ketika melihat suatu konteks kerusuhan massal atas nama agama, harusnya kita melihat manusia sebagai individu, bukan dalam konteks agama yang dilembagakan. Rasa cinta kasih dan penuh pemaafan yang akan membuat manusia lebih mengerti akan indahnya perbedaan. Dan tentunya di setiap rasa sakit, pasti tuhan menciptakan obat mujarab yang membuat manusia berdiri lebih kokoh. Memaafkan akan membuat hati terasa lebih damai dan hangat. 

Cinta muncul karena perbedaan sehingga tuhan menciptakan makhluknya dalam berbagai warna dan jenis. Dengan karakter-karakter yang menjadi ciri manusia dengan yang lainnya. Dalam bukunya, Ajahn Bram juga mengajarkan bahwa cinta akan selalu menerima. Menerima baik dan buruknya, dan akan selalu memaafkan. Cinta yang tulus akan menjadikan kita lebih banyak beraktualisasi dengan orang lain sekaligus membebaskan. Contoh kecil yang ada dalam kehidupan keluarga misalnya, orang tua dan anaknya. Sebandel apapun anak, orang tua akan senantiasa memaafkan kesalahan karena rasa cinta yang memang begitu besar. Dalam kehidupan sosial, jika masyarakat melakukan hal tersebut maka harmoni akan terbentuk dengan alaminya. Bahkan dalam hubungan suami istri -yang pernah saya dengar- sang istri menyebutkan bahwa “kesalahan suamiku akan ku terima sebagai cinta”. Kunci pemaafan yang kuat adalah rasa cinta yang tulus karena cinta dan pemaafan tidak akan dapat dipisahkan. 

Memupuk rasa cinta kasih antar sesama dalam kehidupan masyarakat tidaklah secara instan terjadi. Begitu juga dengan pemaafan. Dua hal itu merupakan proses yang akan selalu berinovasi menuju kebaikan hidup. Menjalani proses belajar memaafkan dan menumbuhkan rasa cinta kasih yang tulus akan membuat manusia lebih bisa memaknai kehidupan.

19 April 2012

Ditanya Soal Travelling

Aku sangat menyukai travelling. Hobi ini dibangun sejak aku masih bersekolah di SMKN 4 Malang. Bisa dikatakan travelling is my soul karena aku bisa menemukan duniaku disini. Aku pun punya tagline tersendiri, travelling with studying yang sampai saat ini dikenali oleh teman-teman dan menjadi ciri khasku *katanya*. Aku yakin, dengan travelling pasti akan ada suatu pembelajaran yang akan aku dapat di dalamnya. Aku bisa belajar banyak hal dari travelling, apalagi aku juga konsen di dunia kebudayaan. 

Travelling merupakan perpaduan antara belajar tentang kebudayaan dan sekaligus jalan-jalan. Aku dapat mempelajari tentang kebudayaan suatu daerah, kulinernya juga hal-hal yang unik dari kota-kota yang aku kunjungi. Aku pun biasanya mengabadikan hal-hal yang aku anggap unik. 

Dengan travelling aku juga mempunyai banyak teman baru, mulai dari yang sudah dikenal sampai yang belum kenal sekalipun. Dan ini sangat menyenangkan. Berinteraksi dengan banyak orang apalagi dengan latar belakang budaya yang berbeda, yang tentunya akan menambah wawasanku.

Aku termasuk orang yang mempercayai bahwa belajar tidak hanya terpaku pada bangku kuliah. Dengan travelling aku juga bisa belajar banyak hal. Belajar memahami budaya orang lain, bahasanya, dan adat istiadat daerah tertentu. Aku rasa itu sangat fantastic. Aku bisa mengasah kemampuan bahasa dan cara berkomunikasi dengan banyak orang. 

Berdasarkan pengalamanku waktu ke Polandia, aku mendapat semacam intuisi yang membuatku sangat mencintai dunia budaya dan terus mempelajarinya. Faktanya kebudayaan indonesia sangat beragam, unik dan fantastic. Banyak warga asing yang benar-benar kagum terhadap budayaku sendiri (di Indonesia). Namun dilain sisi, warga indonesia sendiri kadang tidak peduli dengan budayaannya sehingga sebagai pemuda perlu melestarikan dan terus membangun mindset publik untuk mencintai budayanya.

Travelling tidak harus mahal. itu adalah salah satu bagian yang mengkin jadi ujian buat pemula. banyak argumen yang menyatakan bahwa travelling selalu menghabiskan banyak uang. Namun, bagiku itu sangat tidak sah. hheee. Aku menganut aliran minimalis travel. Dengan ilmulah, travelling itu terasa lebih murah untuk ku lakukan. Memperbanyak relasi dan curriousity mendorongku  untuk terus melakukannya. Tentunya relasi yang penuh ketulusan dan cinta kasih. Travelling yang ideal berjumlah 2 orang. Awalnya ini hanya saran dari partnerku, tetapi setelah dirasakan manfaatnya, ini memang benar adanya. Travelmate yang ideal yaa 2 orang. Cukup. Kalau pun sendiri mau, mengapa tidak.
Selamat menyelami ilmu yang disebar Tuhan dimana pun, daerah kumuh dan terpencil pun akan memberikan banyak ilmu jika kita senantiasa berada dalam ghirah keingintahuan untuk terus belajar. Belajar tidak akan berhenti dan tertutup karena belajar adalah proses.
Senyum, smangat :)

*untuk Ijen Festival, Languages & Cultures Exchange 2012*

12 April 2012

Me'nyepi' di Bali

Semester 6 telah dilalui uts yang begitu singkat bergeliat. Aku bersama kawan yang lain ikut terpacu menyelesaikannya dengan benar, tentunya dalam waktu yang begitu singkat. Hari terakhir uts aku lewati dengan rasa khawatir sekaligus menyenangkan, setelah semalaman begadang di asrama putra fellowship. Agenda di hari terakhir uts ini adalah dengan mengumpulkan softcopy hasil ujian mata kuliah Animasi dan Desain Multimedia. Yaa, semuanya selesai digarap dengan perasaan “ayo cepat, ayo cepat. Keburu ketinggalan kereta ke Malang”

Aku memang sudah membuat agenda ini sejak bulan juli lalu, ketika aku ke Bali. Aku harus kembali kesini di nyepi tahun depan. Itu bisikku dalam hati. Seperti biasa, perjalanan pulang aku tempuh dengan kereta api bersama mas Dondik dan Oim.  Aku memutuskan untuk ke Malang terlebih dahulu untuk bertemu bapak ibu serta adikku yang smart, adek Rara. Melewati beberapa hari di rumah sempat membuatku malas untuk beranjak. Bahkan memikirkan untuk membatalkan perjalanan ke Bali. Rumah memang tempat yang paling hangat diantara yang lainnya, dengan keluarga yang juga paling membahagiakan. Apalagi jika dihitung matematis, liburan semester 5 kemarin hanya berlangsung kurang lebih dari 1 minggu sehingga waktu di rumah pun juga sangat singkat.

Sebelum berangkat ke Bali, ‘keluarga mungil’ di Banyuwangi menanyakan kabar. Kali itu terjadi conversation yang membuat senyuman dan akhirnya keluarga mungil pun mengetahui rencanaku ke Bali. Beliau dengan hangatnya menyuruhku mampir terlebih dahulu sebelum kembali ke Jakarta nantinya. Sempat bingung karena beberapa alasan yang tak bisa ku jelaskan disini, tentunya masih berkaitan dengan soal yang membuatku berpikir keras sampai saat ini. Yang aku sendiri tak dapat mengerti apa maksudnya dan bagaimana akhirnya. Setelah mendapat persetujuan dari Ibu, aku memutuskan untuk mengiyakan dan singgah di Banyuwangi nantinya.

Malam itu aku berangkat ke Bali via bis dari terminal Arjosari, Malang. Sedikit paksaan sebenarnya. Pertama karena Ibu yang menyuruhku berangkat. Ibu selalu  mengingatkanku agar selalu menepati janji, terhadap siapapun. Meski janji itu juga dibuat untuk diri sendiri. Ibaratnya presentasi faktor yang menjadikan aku berangkat kesana adalah ibu 70% dan aku sendiri hanya 30%. Kedua, aku tidak suka naik bis. Dan kalian bisa bayangkan, naik bis dari Malang ke Bali membuat bayangan yang ada di depan seperti suram karena jauhnya jarak antara kedua kota tersebut. Namun, aku tetap beruntung karena bis yang aku tumpangi adalah bis malam, tidak terlalu memusingkan kepala sepertinya.

Sepanjang perjalanan pasuruan, probolinggo, jember, banyuwangi aku terus dibayang-bayangi oleh suatu kenangan. Mengingat perjalanan ke tanah dewata yang sebelumnya, sungguh ironis. Dulu kesana dengan semangat untuk membangun canda embun bening tetapi kali ini semua terasa damai untuk dilepaskan. Ntah artinya itu apa, tapi aku meyakini semua bearah pada kedamaian hati.

Aku tiba di Bali sekitar pukul 10.00, tepat di H-1 Nyepi tahun ini. 22 Maret 2012. Finally, i can reach it. Menyenangkan sekali ketika kembali menyaksikan masyarakat Bali melakukan ritual, memakai kostum adat mereka dengan partikel-partikel ornamen budaya yang selalu menjadikan Bali memiliki ciri khas tersendiri. Banyak ogoh-ogoh di sepanjang perjalanan Jembrana sampai ke Denpasar. Dari terminal Ubung, aku langsung ke Puputan tempat dimana parade ogoh-ogoh terbesar di Bali ini dilangsungkan. Hati terasa lentur mengikuti suasana masyarakat Bali yang sedang bersuka cita.
Ogoh-ogoh
 Sempat aku ingin mencicipi sate babi yang ada di sudut-sudut Puputan. Banyak orang yang mengerubungi dagangan dengan asap yang mengepul ini. Hheee, tapi keinginan ini tidak terealisasi karena doktrin agama yang masih kuat. Bagi orang Bali, sate babi memberikan sensasi tersendiri. 

Aku rasa waktu itu semua orang Bali sedang berkumpul di Puputan. Sangat ramai oleh warganya sendiri. Aku berfikir bahwa esok adalah nyepi sehingga semua hasrat mereka diluapkan hari ini sebelum pada akhirnya mereka harus ‘berpuasa’ seharian penuh menahan kama. Di bagian tengah lapangan Puputan tampak acara peribadatan yang hampir usai. Aku mendekat untuk melihat lebih detail apa yang dilakukan warga hindu ini. Ini hal yang paling menyenangkan, melihat upacara adat dengan segala pernak pernik budaya Bali. Dari dulu aku bermimpi ingin memakai baju yang dikenakan mereka dengan riasan yang juga sangat identik dengan Bali. Apalagi jika mengingat kejadian di Ubud juni lalu, ketika aku mencoba melihat banjar lebih dekat. Aku ditegur oleh pemuda Bali karena aku seorang muslim dan mengenakan jilbab. Hhmm, tapi karena ini juga, aku semakin penasaran dengan adatnya.

 
 Sebenarnya, hampir semua banjar membuat ogoh-ogoh ketika nyepi akan berlangsung. Namun, tak semuanya bisa mengikuti parade yang diadakan di Puputan tersebut. Hanya ogoh-ogoh yang paling unik yang berhasil lolos seleksi. Dengan diikuti pemuda-pemudi di banjarnya, mereka datang untuk merayakan. Ogoh-ogoh pun dipercaya memiliki nilai tersendiri dengan berbagai karakter yang diciptakan oleh manusia. Biasanya pemuda di suatu banjar akan bekerjasama membuat ogoh-ogoh tersebut beberapa bulan sebelumnya. Dana untuk membuatnya juga berasal dari banjar beserta iuran warganya. Jika dihitung total, harga ogoh-ogoh cukup melambung. Tak heran jika bisa sampai puluhan juta karena memang pembuatannya yang sangat rumit disertai bahan-bahan yang cukup mahal. Seniman Bali mengeluarkan segala jurus kreatifnya untuk bersama menciptakan ogoh-ogoh yang paling spektakuler. Aku rasa bukan hanya aku yang suka menjeprat jepret setiap karakter ogoh-ogoh yang dipamerkan di pinggir jalan itu. Semua warga Bali yang ada di Puputan juga melakukan hal yang sama sehingga jalan di daerah gedung walikota Denpasar itu macet.
Sekitar pukul 16.00 wita, acara dimulai. Semua penonton sudah menempati tempat yang paling dianggap strategis untuk menyaksikan acara yang digelar satu tahun sekali ini. Pecalang dan juga polisi turut merapikan baris-baris ribuan masyarakat yang datang agar parade berjalan dengan lancar. Ini merupakan pertama kalinya aku menyaksikan parade ogoh-ogoh secara langsung di Bali setelah sebelumnya hanya dapat menyaksikannya melalui youtube. Terik matahari sore itu tak membuat warga menepis, mereka menyaksikan acara ini dengan perasaan yang mungkin sama sepertiku. Senang.


Rupanya sore sudah dijemput malam dengan perlahan. Banyak pecalang yang hilir mudik untuk persiapan nyepi tahun ini. Semakin mendekati pukul 00.00 di tanggal 23 Maret, dimana nyepi akan berlangsung. Sungguh suasana dan pengalaman yang benar-benar baru. Pagi itu aku terbangun dengan rasa yang berbeda. Heii, aku ikutan nyepi disini. Bisik kata hati. Suasana benar mencekam sunyi. Tidak ada lagi orang yang berlalu lalang di luar selain pecalang. Tak ada rumah yang terbuka. Tak ada listrik yang dinyalakan. Benar-benar tak ada aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat Bali. Bahkan banyak perusahaan atau lembaga bisnis yang berdomisili disana sudah melumpuhkan kegiatannya sebelum tanggal 22 Maret 2012 sehingga banyak karyawan yang juga diliburkan. Akibatnya, sejak kemarin pelabuhan gilimanuk diserbu orang-orang yang ingin keluar Bali, kebetulan long weekend juga. Banyak dari mereka yang ingin menghabiskan liburannya di Jawa. Hhmm, ini rasanya benar-benar nyepi.

Nyepi tahun ini bertepatan pada hari jumat sehingga berbarengan dengan sholat jumat yang selalu dilakukan oleh orang muslim. Umat hindu dan islam saling bertoleransi. Peraturan hindu menyebutkan bahwa tidak seorang pun diperbolehkan keluar rumah kecuali para pecalang yang memang bertugas menjaga keamanan saat itu. Namun, karena umat muslim harus melaksanakan kewajibannya, umat hindu mempersilahkan mereka ke masjid asalkan tidak membunyikan speaker-speaker masjid untuk melakukan ritual peribadatan. Umat muslim juga dianjurkan pergi ke masjid dengan berjalan kaki atau sepeda ontel, dilarang menggunakan sepeda motor. Pecalang juga dibantu oleh warga yang muslim saat berjaga-jaga. Saat itu aku sengaja keluar sebentar untuk sekedar tahu bagaimana suasana di luar rumah. Yang membuat perbedaan pecalang dari hindu dan muslim terlihat dari pakaiannya. Jika hindu lengkap dengan atribut adat Bali, biasanya menggunakan semacam sarung kotak-kotak hitam putih dan semacam udeng sedangkan yang muslim hanya memakai sarung saja.

Yang lebih terasa adalah malam hari. Tak diperbolehkan ada kilatan cahaya barang sedikitpun terlihat di luar rumah. Bahkan channel TV dan radio pun dimatikan dari pusatnya (regional Bali) sehingga tak akan ada siaran. Yang ada hanyalah bintik hitam putih atau layar biru yang menghiasi layar TV. Tidak ada kegiatan apapun, memasak pun tidak. Sebelum nyepi tiba warga Bali memang harus menyiapkan segala perbekalan yang akan digunakan untuk hari sunyi tersebut. Tak akan ada orang jualan saat itu. Mengisi air bak mandi pun dilarang karena menimbulkan suara berisik kran air. Bisa dibayangkan, waktu itu Bali benar-benar seperti kota mati yang juga similiar dengan kota yang aku lihat di kisah film Silent Hill. Akhirnya aku mendapat bayangan jika hidup di kutub utara dimana matahari jarang sekali dilihat, mungkin rasanya seperti nyepi ini.
 ***
Sebelum kembali ke Jawa, aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke Tanah Lot. Pasalnya, ke Bali yang sebelumnya, list Tanah Lot terlewatkan lantaran jarak tempuh yang lumayan jauh dari kota Denpasar. Dengan menggunakan sepeda motor, aku sampai di Tanah Lot dengan melewati rute yang justru mengarahkan ke Bedugul. Kawasan wisata yang terletak di kabupaten Tabanan ini terkenal dengan puranya. Ada dua pura disana, pertama terletak di atas bongkahan batu besar dan satunya terletak di atas tebing. Pura yang satu ini mirip dengan pura Uluwatu, bahkan untuk meraihnya kita harus melewati jembatan yang dirancang seperti karang bolong yang ada di Pulau Sempu, Malang. Fantastic yaa. Tanah Lot juga sangat eksotis ketika matahari hendak menuju ke pangkuan ibunya. Banyak turis yang datang di sore hari dengan tujuan melihat sunset indah tersebut. Sayangnya, saat itu aku belum beruntung karena harus meninggalkan Tanah Lot sebelum sunset tiba. Aku memutuskan untuk kembali ke Jawa, pulang.
 
 Nah, berbicara masalah kepulangan aku memang masih bingung. Harus ku akui waktu itu aku memang dirundung galau tingkat dewa. Awalnya, sebelum berangkat ke Bali,  aku sudah mengatakan ‘iya’ untuk ke Lumajang. Namun, justru saat kepulangan dari Bali hati mengatakan ‘tidak dulu’. Perasaan enggan muncul seketika dan aku segera memberi kabar untuk menunda perjalanan kesana. Di lain sisi, keluarga mungil di Banyuwangi sudah menanti. 

Sekitar maghrib aku tiba di pelabuhan Gilimanuk, Jembrana. Aku melanjutkan perjalanan via laut menggunakan kapal fery. Angin malam yang berhembus semakin menjadikan penumpangnya terasa terombang-ambing di laut lepas. Keluarga mungil rupanya sudah menunggu di Ketapang. Dengan senyum sederhananya, bapak melambaikan tangan dan adik pun sama, Hisyam namanya. Rasanya pertemuan kali itu sungguh mengharukan. Rindu sudah bertepi karena pertemuan itu. Dengan ekspresi senang akhirnya aku bisa berjumpa kembali dengan mereka yang sangat dirindukan. Aku masih ingat dengan detik itu, “mbak Ika gimana kabarnya juga?” sapa adik mungil kepadaku. Kami makan dulu di warung sebelah Alfamart Ketapang sebelum ke rumah.

Dalam perjalanan pulang, bapak bercerita tentang banyak hal. Seperti bapak yang merindukan anaknya, itulah suasana Banyuwangi saat itu. Bapak bercerita bahwa beliau sering mengajak adik untuk jalan-jalan di tempat yang penuh ilmu agar wawasan adik luas dan juga sebagai media refreshing. Kali itu, bapak mengajak kami singgah sejenak di pelabuhan Tanjung Wangi untuk melihat kegiatan bongkar muat barang-barang di pelabuhan internasional tersebut. Aku justru baru tahu kalau ada pelabuhan seperti ini di Banyuwangi. Kebetulan waktu itu ada beberapa kapal besar, yaa layaknya kapal pesiar yang mengelilingi lautan dunia. Bongkar muat beras impor, ikan tuna, bahkan sampai semen pun ada disana. Dalam satu kapal, kegiatan yang menjadi mata pencaharian sebagian penduduk ini bisa berlangsung berminggu-minggu saking banyaknya muatan. Hanya satu kapal yang ku ingat dengan jelas waktu itu, Indian Panama. Kapal berwarna coklat muda tersebut sedang dioperasi organ dalamnya oleh warga Banyuwangi. Di dalamnya terdapat berton-ton beras raskin impor dari luar negeri. 

Tidak jauh dari pelabuhan tersebut terdapat bongkar muat semen gresik. Disana bukan tempat produksinya melainkan hanya menjadi tempat mengepak butiran semen menjadi 1 karung. Kemudian yang kita tahu bahwa karung-karung semen gresik itu didistribusikan ke daerah-daerah untuk dikonsumsi masyarakat. 

Kami tiba di rumah sekitar pukul 21.00. Seperti biasa, aku tidur di kamar Langit Biru. Sedikit terharu ketika bapak bilang “nduk, kamarnya dibersihkan dulu yaa. Kan nggak pernah ditempati, pasti banyak nyamuk. Lah wong yang punya kamar malah nggak pernah pulang” hhmm, rasanya ingatan di bulan juli lalu langsung menyerang memoriku dengan cara kejang-kejang.

Kami pun sadar, sudah lama jarak telah memisahkan fisik kami untuk tidak saling bertemu. Kami menghabiskan malam dengan berbincang di ruang tengah sedangkan adik mungil tertidur dengan pulasnya. Dialog malam itu semakin membuka cakrawalaku tentang pandangan hidup, mulai dari sisi keluarga mungil, Langit Biru sendiri dan masa depan. Aku memang sengaja tidak menghubungi Langit Biru ketika itu. Yaa tentunya karena beberapa alasan yang hanya bisa dimengerti oleh kami berdua. Bahkan bapak yang saat itu ada di hadapanku juga tak tahu. Nostlagia semalaman ini seperti mengembalikan memori di bulan juli lalu. Ya Tuhan, apakah ini kesedihan atau justru menyenangkan.
Esoknya aku memutuskan pulang dulu ke Malang sebelum balik ke Jakarta untuk study. Setelah sarapan, bapak mengantarku sampai di daerah Bajul Mati untuk mendapatkan bis ke arah Probolinggo. Ohyaa, ada catatan sedikit yaa. Bis dari Banyuwangi yang langsung ke Malang memang tidak ada disana sehingga aku harus transit dulu di Probolinggo. Aku kembali ke rumah bahagiaku di Malang dengan melewati Taman Nasional Baluran yang berada di perbatasan kabupaten Situbondo dan Banyuwangi. Dulu aku pernah mengunjungi hutan luas ini bersamanya, sampai melihat pantai Bama dan hamparan luasnya vitamin hijau ini dari atas mercusuar. Berdua, yaa hanya berdua. I think it’s the real vitamin hijau. Dan di sepanjang perjalanan Situbondo, melewati Paiton dan pantai pasir putih yang cukup terkenal di daerah tersebut. Kembali ke masa SD, dulu aku juga pernah ke dua tempat itu yang aku rasa alasannya juga karena travelling with studying. Jadi aku berfikir bahwa taglineku itu memang sudah ku bangun dari aku masih duduk di bangku SD *the power of serendepity* Aku bisa sampai kesana lantaran guruku memberi hadiah dengan cara boleh mengikuti rekreasi anak kelas 6 SD, yang waktu itu memang ditujukan ke pantai Pasir Putih dan Paiton, Situbondo. Gratis. Itu karena kau selalu juara kelas. Hheee...
Setelah tiba di terminal Probolinggo, aku transit bis ke arah Malang. Harga tiketnya hanya Rp 12.000 dan yang menjadi catatan perjalananku waktu itu, hampir 85% penumpangnya adalah mahasiswa yang berasal dari Banyuwangi, Situbondo, Jember, Lumajang, Prolinggo yang kuliah di Malang. Pasalnya, waktu itu adalah hari minggu, tentunya itu adalah masa balik bagi mahasiswa rantauan daerah Jatim yang harus kembali ke Malang karena kewajiban belajarnya. 

Aku rasa, menyepi di Bali tahun ini memang menjadi  jurus jitu untuk berdamai. Berdamai dengan apapun yang sedang membuat hati bergejolak. Terima kasih untuk keluargaku tersayang di Malang, Ibu, Bapak, Adik Rara dan juga keluarga besarku. Terima kasih juga untuk keluarga mungil yang selalu memberi senyuman. Embun Bening dan Langit Biru yang juga akan tetap menjadi pencerah untuk hidupnya ghirah belajarku. Aku tidak mencoba membuangnya tetapi menepikannya dengan rasa yang sama. Terima kasih untuk episode pelepasan yang membahagiakan. Ntah apa yang dilepaskan, aku pun tak tahu. Kalimat itu muncul saja dan menggerakkan pointer untuk menuliskannya.