20 April 2012

Cinta dan Pemaafan

Sudah menjadi kodratinya bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri. Ia membutuhkan bantuan, baik dari manusia yang lain atau sektor pendukung yang menyokong pertumbuhan hidupnya secara berkesinambungan. Secara ilmiah, manusia juga disebut sebagai homo sapien dimana ia akan tumbuh menjadi makhluk yang lebih istimewa dari yang lain karena ia memiliki akal, budi pekerti dan hati yang dapat digunakan untuk membedakan mana yang baik dan buruk. Dengan gagasan inilah, manusia sudah selayaknya hidup berdampingan, tolong menolong dan senantiasa menebarkan kasihnya bersama orang lain.

Dalam kehidupan sosial, manusia akan selalu masuk ke dalam tataran adat masyarakat dimana ia tinggal. Disinilah ia dituntut untuk hidup saling berbagi, memahami, toleransi dan seharusnya saling memaafkan kesalahan. Sama-sama menghapus hutang emosi, berdamai dan melepaskan emosi pahit, baik dengan diri sendiri maupun orang lain. 

Pemaafan dalam konteks relasi individu maupun konteks bermasyarakat tampaknya sangat relevan dengan kehidupan bangsa kita. Konflik antar pribadi yang jumlahnya tidak terbilang juga menghasilkan banyak trauma. Selain itu banyak peristiwa besar bangsa yang menorehkan luka-luka psikologis pada banyak individu, antara lain peristiwa G30SPKI, pembunuhan misterius pada tahun 1980-an, peristiwa Tanjung Priok, kerusuhan massal pada tahun 1998, dan lain sebagainya.

Masyarakat yang terkait dengan kejadian di atas banyak yang tidak bisa memaafkan lantaran rasa sakit hati yang masih tumbuh di hati. Banyak keluarga yang ditinggalkan oleh sang korban dan tidak mendapat ganti apa-apa. Seseorang berat untuk memaafkan orang lain atau bahkan suatu kejadian karena dikiranya memaafkan justru akan membebaskan orang lain dan merugikan diri sendiri. Padahal, sesungguhnya dengan memaafkan orang lain itu akan menguntungkan diri sendiri dan orang lain juga dan sebaliknya juga. Berbagai bukti psikologis menunjukkan bahwa orang yang tidak memaafkan akan dirugikan karena ia menyimpan sumber penyakit dalam hatinya. Orang yang merasa dosanya tidak termaafkan akan mengisi hari-harinya dengan penuh rasa bersalah, yang itu berperanan dalam menurunkan kualitas hidup seseorang.

Hidup bermasyarakat seyogyanya dijalani dengan tulus ikhlas. Penuh cinta kasih dan tanpa pamrih. Tetangga, saudara yang paling dekat dengan kehidupan kita. bersamanya manusia yang satu dengan yang lain akan menjalani hidup sampai pada titik terakhirnya sehingga harmonisasi sangat diperlukan untuk membuat hidup terasa nyaman. Namun, tak jarang konflik antara satu sama lain itu juga terjadi. Seperti bulu dalam domba. Konflik tercipta untuk membuat manusia selalu mawas diri terhadap apa yang dilakukan. Konflik bisa menyadarkan, bukan hanya menyakitkan. Masukkanlah cinta kasih antar sesama di dalamnya karena itu merupakan kunci pemaafan yang arif. Cinta akan selalu memaafkan, itulah yang dikatakan Ajahn Bram pada bukunya “si cacing dan kotoran kesayangannya”

Berdamai, itu yang sering didengar tetapi mungkin sulit pada tahap pengaplikasiannya. Damai yang sebenarnya adalah damai terhadap diri sendiri, tidak memenjarakan diri atau tubuh terhadap sesuatu yang ingin dilakukan. Dalam kehidupan sosial, berdamai sangat penting dijadikan instrumen untuk hidup secara aman. Meski sebenarnya tidak bisa dipungkiri bahwa kehidupan manusia selalu berasal dari latar belakang yang beragam. Satu manusia akan selalu membawa banyak identitas. Tidak ada identitas tunggal yang dibawa manusia sejak ia lahir. Ragam budaya, tradisi, adat, kepercayaan, norma dan aturan biasanya yang menjadikan sumber perpecahan apabila di dalamnya tidak ada rasa memahami dan “better understanding” antar sesama. Keragaman tersebut sebenarnya akan bermuara pada titik temu bahwa disetiap perbedaan pasti ada benang merah persamaan yang merajut. 

Agama yang paling signifikan dicermati dalam kehidupan bermasyarakat. Sering kali manusia mempersalahkan orang lain karena alasan agama. Tentunya dalam hal ini agama yang dianut mungkin berbeda, atau justru masih dalam satu agam namun berbeda sektenya. Saya sangat yakin bahwa tuhan selalu menebarkan cinta kasihnya. Tuhan selalu berbelas kasih dan penuh pemaafan. Jika terjadi kerusuhan massal dengan atribut agama, sudah pasti itu bukan keinginan tuhan. Tuhan itu baik. Cinta kasih antar sesama harus dibangun untuk menuju hidup yang sesungguhnya. Hendaknya kita sebagai bagian dari masyarakat selalu berperilaku atas dasar religiusitas. Perilakunya yang benar-benar memiliki semangat religiusitas, bukan hanya menjadikan agama sebagai tameng dalam norma masyarakat. Perilaku itu hendaknya penuh kasih, yang muaranya adalah tuhan. Tuhan yang disebut dalam banyak nama dan cara. Itulah tuhan saya dan tuhan kalian semua. Seperti yang dikatakan Romo Magnis Suseno bahwa dalam melihat perbedaan sering kali manusia saling menyalahkan dan hany melihat permuakaan yang paling atas dari suatu masalah . Menganggap bahwa pilihannyalah yang paling benar. Itulah yang seharusnya diluruskan. Ketika melihat suatu konteks kerusuhan massal atas nama agama, harusnya kita melihat manusia sebagai individu, bukan dalam konteks agama yang dilembagakan. Rasa cinta kasih dan penuh pemaafan yang akan membuat manusia lebih mengerti akan indahnya perbedaan. Dan tentunya di setiap rasa sakit, pasti tuhan menciptakan obat mujarab yang membuat manusia berdiri lebih kokoh. Memaafkan akan membuat hati terasa lebih damai dan hangat. 

Cinta muncul karena perbedaan sehingga tuhan menciptakan makhluknya dalam berbagai warna dan jenis. Dengan karakter-karakter yang menjadi ciri manusia dengan yang lainnya. Dalam bukunya, Ajahn Bram juga mengajarkan bahwa cinta akan selalu menerima. Menerima baik dan buruknya, dan akan selalu memaafkan. Cinta yang tulus akan menjadikan kita lebih banyak beraktualisasi dengan orang lain sekaligus membebaskan. Contoh kecil yang ada dalam kehidupan keluarga misalnya, orang tua dan anaknya. Sebandel apapun anak, orang tua akan senantiasa memaafkan kesalahan karena rasa cinta yang memang begitu besar. Dalam kehidupan sosial, jika masyarakat melakukan hal tersebut maka harmoni akan terbentuk dengan alaminya. Bahkan dalam hubungan suami istri -yang pernah saya dengar- sang istri menyebutkan bahwa “kesalahan suamiku akan ku terima sebagai cinta”. Kunci pemaafan yang kuat adalah rasa cinta yang tulus karena cinta dan pemaafan tidak akan dapat dipisahkan. 

Memupuk rasa cinta kasih antar sesama dalam kehidupan masyarakat tidaklah secara instan terjadi. Begitu juga dengan pemaafan. Dua hal itu merupakan proses yang akan selalu berinovasi menuju kebaikan hidup. Menjalani proses belajar memaafkan dan menumbuhkan rasa cinta kasih yang tulus akan membuat manusia lebih bisa memaknai kehidupan.

19 April 2012

Ditanya Soal Travelling

Aku sangat menyukai travelling. Hobi ini dibangun sejak aku masih bersekolah di SMKN 4 Malang. Bisa dikatakan travelling is my soul karena aku bisa menemukan duniaku disini. Aku pun punya tagline tersendiri, travelling with studying yang sampai saat ini dikenali oleh teman-teman dan menjadi ciri khasku *katanya*. Aku yakin, dengan travelling pasti akan ada suatu pembelajaran yang akan aku dapat di dalamnya. Aku bisa belajar banyak hal dari travelling, apalagi aku juga konsen di dunia kebudayaan. 

Travelling merupakan perpaduan antara belajar tentang kebudayaan dan sekaligus jalan-jalan. Aku dapat mempelajari tentang kebudayaan suatu daerah, kulinernya juga hal-hal yang unik dari kota-kota yang aku kunjungi. Aku pun biasanya mengabadikan hal-hal yang aku anggap unik. 

Dengan travelling aku juga mempunyai banyak teman baru, mulai dari yang sudah dikenal sampai yang belum kenal sekalipun. Dan ini sangat menyenangkan. Berinteraksi dengan banyak orang apalagi dengan latar belakang budaya yang berbeda, yang tentunya akan menambah wawasanku.

Aku termasuk orang yang mempercayai bahwa belajar tidak hanya terpaku pada bangku kuliah. Dengan travelling aku juga bisa belajar banyak hal. Belajar memahami budaya orang lain, bahasanya, dan adat istiadat daerah tertentu. Aku rasa itu sangat fantastic. Aku bisa mengasah kemampuan bahasa dan cara berkomunikasi dengan banyak orang. 

Berdasarkan pengalamanku waktu ke Polandia, aku mendapat semacam intuisi yang membuatku sangat mencintai dunia budaya dan terus mempelajarinya. Faktanya kebudayaan indonesia sangat beragam, unik dan fantastic. Banyak warga asing yang benar-benar kagum terhadap budayaku sendiri (di Indonesia). Namun dilain sisi, warga indonesia sendiri kadang tidak peduli dengan budayaannya sehingga sebagai pemuda perlu melestarikan dan terus membangun mindset publik untuk mencintai budayanya.

Travelling tidak harus mahal. itu adalah salah satu bagian yang mengkin jadi ujian buat pemula. banyak argumen yang menyatakan bahwa travelling selalu menghabiskan banyak uang. Namun, bagiku itu sangat tidak sah. hheee. Aku menganut aliran minimalis travel. Dengan ilmulah, travelling itu terasa lebih murah untuk ku lakukan. Memperbanyak relasi dan curriousity mendorongku  untuk terus melakukannya. Tentunya relasi yang penuh ketulusan dan cinta kasih. Travelling yang ideal berjumlah 2 orang. Awalnya ini hanya saran dari partnerku, tetapi setelah dirasakan manfaatnya, ini memang benar adanya. Travelmate yang ideal yaa 2 orang. Cukup. Kalau pun sendiri mau, mengapa tidak.
Selamat menyelami ilmu yang disebar Tuhan dimana pun, daerah kumuh dan terpencil pun akan memberikan banyak ilmu jika kita senantiasa berada dalam ghirah keingintahuan untuk terus belajar. Belajar tidak akan berhenti dan tertutup karena belajar adalah proses.
Senyum, smangat :)

*untuk Ijen Festival, Languages & Cultures Exchange 2012*

12 April 2012

Me'nyepi' di Bali

Semester 6 telah dilalui uts yang begitu singkat bergeliat. Aku bersama kawan yang lain ikut terpacu menyelesaikannya dengan benar, tentunya dalam waktu yang begitu singkat. Hari terakhir uts aku lewati dengan rasa khawatir sekaligus menyenangkan, setelah semalaman begadang di asrama putra fellowship. Agenda di hari terakhir uts ini adalah dengan mengumpulkan softcopy hasil ujian mata kuliah Animasi dan Desain Multimedia. Yaa, semuanya selesai digarap dengan perasaan “ayo cepat, ayo cepat. Keburu ketinggalan kereta ke Malang”

Aku memang sudah membuat agenda ini sejak bulan juli lalu, ketika aku ke Bali. Aku harus kembali kesini di nyepi tahun depan. Itu bisikku dalam hati. Seperti biasa, perjalanan pulang aku tempuh dengan kereta api bersama mas Dondik dan Oim.  Aku memutuskan untuk ke Malang terlebih dahulu untuk bertemu bapak ibu serta adikku yang smart, adek Rara. Melewati beberapa hari di rumah sempat membuatku malas untuk beranjak. Bahkan memikirkan untuk membatalkan perjalanan ke Bali. Rumah memang tempat yang paling hangat diantara yang lainnya, dengan keluarga yang juga paling membahagiakan. Apalagi jika dihitung matematis, liburan semester 5 kemarin hanya berlangsung kurang lebih dari 1 minggu sehingga waktu di rumah pun juga sangat singkat.

Sebelum berangkat ke Bali, ‘keluarga mungil’ di Banyuwangi menanyakan kabar. Kali itu terjadi conversation yang membuat senyuman dan akhirnya keluarga mungil pun mengetahui rencanaku ke Bali. Beliau dengan hangatnya menyuruhku mampir terlebih dahulu sebelum kembali ke Jakarta nantinya. Sempat bingung karena beberapa alasan yang tak bisa ku jelaskan disini, tentunya masih berkaitan dengan soal yang membuatku berpikir keras sampai saat ini. Yang aku sendiri tak dapat mengerti apa maksudnya dan bagaimana akhirnya. Setelah mendapat persetujuan dari Ibu, aku memutuskan untuk mengiyakan dan singgah di Banyuwangi nantinya.

Malam itu aku berangkat ke Bali via bis dari terminal Arjosari, Malang. Sedikit paksaan sebenarnya. Pertama karena Ibu yang menyuruhku berangkat. Ibu selalu  mengingatkanku agar selalu menepati janji, terhadap siapapun. Meski janji itu juga dibuat untuk diri sendiri. Ibaratnya presentasi faktor yang menjadikan aku berangkat kesana adalah ibu 70% dan aku sendiri hanya 30%. Kedua, aku tidak suka naik bis. Dan kalian bisa bayangkan, naik bis dari Malang ke Bali membuat bayangan yang ada di depan seperti suram karena jauhnya jarak antara kedua kota tersebut. Namun, aku tetap beruntung karena bis yang aku tumpangi adalah bis malam, tidak terlalu memusingkan kepala sepertinya.

Sepanjang perjalanan pasuruan, probolinggo, jember, banyuwangi aku terus dibayang-bayangi oleh suatu kenangan. Mengingat perjalanan ke tanah dewata yang sebelumnya, sungguh ironis. Dulu kesana dengan semangat untuk membangun canda embun bening tetapi kali ini semua terasa damai untuk dilepaskan. Ntah artinya itu apa, tapi aku meyakini semua bearah pada kedamaian hati.

Aku tiba di Bali sekitar pukul 10.00, tepat di H-1 Nyepi tahun ini. 22 Maret 2012. Finally, i can reach it. Menyenangkan sekali ketika kembali menyaksikan masyarakat Bali melakukan ritual, memakai kostum adat mereka dengan partikel-partikel ornamen budaya yang selalu menjadikan Bali memiliki ciri khas tersendiri. Banyak ogoh-ogoh di sepanjang perjalanan Jembrana sampai ke Denpasar. Dari terminal Ubung, aku langsung ke Puputan tempat dimana parade ogoh-ogoh terbesar di Bali ini dilangsungkan. Hati terasa lentur mengikuti suasana masyarakat Bali yang sedang bersuka cita.
Ogoh-ogoh
 Sempat aku ingin mencicipi sate babi yang ada di sudut-sudut Puputan. Banyak orang yang mengerubungi dagangan dengan asap yang mengepul ini. Hheee, tapi keinginan ini tidak terealisasi karena doktrin agama yang masih kuat. Bagi orang Bali, sate babi memberikan sensasi tersendiri. 

Aku rasa waktu itu semua orang Bali sedang berkumpul di Puputan. Sangat ramai oleh warganya sendiri. Aku berfikir bahwa esok adalah nyepi sehingga semua hasrat mereka diluapkan hari ini sebelum pada akhirnya mereka harus ‘berpuasa’ seharian penuh menahan kama. Di bagian tengah lapangan Puputan tampak acara peribadatan yang hampir usai. Aku mendekat untuk melihat lebih detail apa yang dilakukan warga hindu ini. Ini hal yang paling menyenangkan, melihat upacara adat dengan segala pernak pernik budaya Bali. Dari dulu aku bermimpi ingin memakai baju yang dikenakan mereka dengan riasan yang juga sangat identik dengan Bali. Apalagi jika mengingat kejadian di Ubud juni lalu, ketika aku mencoba melihat banjar lebih dekat. Aku ditegur oleh pemuda Bali karena aku seorang muslim dan mengenakan jilbab. Hhmm, tapi karena ini juga, aku semakin penasaran dengan adatnya.

 
 Sebenarnya, hampir semua banjar membuat ogoh-ogoh ketika nyepi akan berlangsung. Namun, tak semuanya bisa mengikuti parade yang diadakan di Puputan tersebut. Hanya ogoh-ogoh yang paling unik yang berhasil lolos seleksi. Dengan diikuti pemuda-pemudi di banjarnya, mereka datang untuk merayakan. Ogoh-ogoh pun dipercaya memiliki nilai tersendiri dengan berbagai karakter yang diciptakan oleh manusia. Biasanya pemuda di suatu banjar akan bekerjasama membuat ogoh-ogoh tersebut beberapa bulan sebelumnya. Dana untuk membuatnya juga berasal dari banjar beserta iuran warganya. Jika dihitung total, harga ogoh-ogoh cukup melambung. Tak heran jika bisa sampai puluhan juta karena memang pembuatannya yang sangat rumit disertai bahan-bahan yang cukup mahal. Seniman Bali mengeluarkan segala jurus kreatifnya untuk bersama menciptakan ogoh-ogoh yang paling spektakuler. Aku rasa bukan hanya aku yang suka menjeprat jepret setiap karakter ogoh-ogoh yang dipamerkan di pinggir jalan itu. Semua warga Bali yang ada di Puputan juga melakukan hal yang sama sehingga jalan di daerah gedung walikota Denpasar itu macet.
Sekitar pukul 16.00 wita, acara dimulai. Semua penonton sudah menempati tempat yang paling dianggap strategis untuk menyaksikan acara yang digelar satu tahun sekali ini. Pecalang dan juga polisi turut merapikan baris-baris ribuan masyarakat yang datang agar parade berjalan dengan lancar. Ini merupakan pertama kalinya aku menyaksikan parade ogoh-ogoh secara langsung di Bali setelah sebelumnya hanya dapat menyaksikannya melalui youtube. Terik matahari sore itu tak membuat warga menepis, mereka menyaksikan acara ini dengan perasaan yang mungkin sama sepertiku. Senang.


Rupanya sore sudah dijemput malam dengan perlahan. Banyak pecalang yang hilir mudik untuk persiapan nyepi tahun ini. Semakin mendekati pukul 00.00 di tanggal 23 Maret, dimana nyepi akan berlangsung. Sungguh suasana dan pengalaman yang benar-benar baru. Pagi itu aku terbangun dengan rasa yang berbeda. Heii, aku ikutan nyepi disini. Bisik kata hati. Suasana benar mencekam sunyi. Tidak ada lagi orang yang berlalu lalang di luar selain pecalang. Tak ada rumah yang terbuka. Tak ada listrik yang dinyalakan. Benar-benar tak ada aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat Bali. Bahkan banyak perusahaan atau lembaga bisnis yang berdomisili disana sudah melumpuhkan kegiatannya sebelum tanggal 22 Maret 2012 sehingga banyak karyawan yang juga diliburkan. Akibatnya, sejak kemarin pelabuhan gilimanuk diserbu orang-orang yang ingin keluar Bali, kebetulan long weekend juga. Banyak dari mereka yang ingin menghabiskan liburannya di Jawa. Hhmm, ini rasanya benar-benar nyepi.

Nyepi tahun ini bertepatan pada hari jumat sehingga berbarengan dengan sholat jumat yang selalu dilakukan oleh orang muslim. Umat hindu dan islam saling bertoleransi. Peraturan hindu menyebutkan bahwa tidak seorang pun diperbolehkan keluar rumah kecuali para pecalang yang memang bertugas menjaga keamanan saat itu. Namun, karena umat muslim harus melaksanakan kewajibannya, umat hindu mempersilahkan mereka ke masjid asalkan tidak membunyikan speaker-speaker masjid untuk melakukan ritual peribadatan. Umat muslim juga dianjurkan pergi ke masjid dengan berjalan kaki atau sepeda ontel, dilarang menggunakan sepeda motor. Pecalang juga dibantu oleh warga yang muslim saat berjaga-jaga. Saat itu aku sengaja keluar sebentar untuk sekedar tahu bagaimana suasana di luar rumah. Yang membuat perbedaan pecalang dari hindu dan muslim terlihat dari pakaiannya. Jika hindu lengkap dengan atribut adat Bali, biasanya menggunakan semacam sarung kotak-kotak hitam putih dan semacam udeng sedangkan yang muslim hanya memakai sarung saja.

Yang lebih terasa adalah malam hari. Tak diperbolehkan ada kilatan cahaya barang sedikitpun terlihat di luar rumah. Bahkan channel TV dan radio pun dimatikan dari pusatnya (regional Bali) sehingga tak akan ada siaran. Yang ada hanyalah bintik hitam putih atau layar biru yang menghiasi layar TV. Tidak ada kegiatan apapun, memasak pun tidak. Sebelum nyepi tiba warga Bali memang harus menyiapkan segala perbekalan yang akan digunakan untuk hari sunyi tersebut. Tak akan ada orang jualan saat itu. Mengisi air bak mandi pun dilarang karena menimbulkan suara berisik kran air. Bisa dibayangkan, waktu itu Bali benar-benar seperti kota mati yang juga similiar dengan kota yang aku lihat di kisah film Silent Hill. Akhirnya aku mendapat bayangan jika hidup di kutub utara dimana matahari jarang sekali dilihat, mungkin rasanya seperti nyepi ini.
 ***
Sebelum kembali ke Jawa, aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke Tanah Lot. Pasalnya, ke Bali yang sebelumnya, list Tanah Lot terlewatkan lantaran jarak tempuh yang lumayan jauh dari kota Denpasar. Dengan menggunakan sepeda motor, aku sampai di Tanah Lot dengan melewati rute yang justru mengarahkan ke Bedugul. Kawasan wisata yang terletak di kabupaten Tabanan ini terkenal dengan puranya. Ada dua pura disana, pertama terletak di atas bongkahan batu besar dan satunya terletak di atas tebing. Pura yang satu ini mirip dengan pura Uluwatu, bahkan untuk meraihnya kita harus melewati jembatan yang dirancang seperti karang bolong yang ada di Pulau Sempu, Malang. Fantastic yaa. Tanah Lot juga sangat eksotis ketika matahari hendak menuju ke pangkuan ibunya. Banyak turis yang datang di sore hari dengan tujuan melihat sunset indah tersebut. Sayangnya, saat itu aku belum beruntung karena harus meninggalkan Tanah Lot sebelum sunset tiba. Aku memutuskan untuk kembali ke Jawa, pulang.
 
 Nah, berbicara masalah kepulangan aku memang masih bingung. Harus ku akui waktu itu aku memang dirundung galau tingkat dewa. Awalnya, sebelum berangkat ke Bali,  aku sudah mengatakan ‘iya’ untuk ke Lumajang. Namun, justru saat kepulangan dari Bali hati mengatakan ‘tidak dulu’. Perasaan enggan muncul seketika dan aku segera memberi kabar untuk menunda perjalanan kesana. Di lain sisi, keluarga mungil di Banyuwangi sudah menanti. 

Sekitar maghrib aku tiba di pelabuhan Gilimanuk, Jembrana. Aku melanjutkan perjalanan via laut menggunakan kapal fery. Angin malam yang berhembus semakin menjadikan penumpangnya terasa terombang-ambing di laut lepas. Keluarga mungil rupanya sudah menunggu di Ketapang. Dengan senyum sederhananya, bapak melambaikan tangan dan adik pun sama, Hisyam namanya. Rasanya pertemuan kali itu sungguh mengharukan. Rindu sudah bertepi karena pertemuan itu. Dengan ekspresi senang akhirnya aku bisa berjumpa kembali dengan mereka yang sangat dirindukan. Aku masih ingat dengan detik itu, “mbak Ika gimana kabarnya juga?” sapa adik mungil kepadaku. Kami makan dulu di warung sebelah Alfamart Ketapang sebelum ke rumah.

Dalam perjalanan pulang, bapak bercerita tentang banyak hal. Seperti bapak yang merindukan anaknya, itulah suasana Banyuwangi saat itu. Bapak bercerita bahwa beliau sering mengajak adik untuk jalan-jalan di tempat yang penuh ilmu agar wawasan adik luas dan juga sebagai media refreshing. Kali itu, bapak mengajak kami singgah sejenak di pelabuhan Tanjung Wangi untuk melihat kegiatan bongkar muat barang-barang di pelabuhan internasional tersebut. Aku justru baru tahu kalau ada pelabuhan seperti ini di Banyuwangi. Kebetulan waktu itu ada beberapa kapal besar, yaa layaknya kapal pesiar yang mengelilingi lautan dunia. Bongkar muat beras impor, ikan tuna, bahkan sampai semen pun ada disana. Dalam satu kapal, kegiatan yang menjadi mata pencaharian sebagian penduduk ini bisa berlangsung berminggu-minggu saking banyaknya muatan. Hanya satu kapal yang ku ingat dengan jelas waktu itu, Indian Panama. Kapal berwarna coklat muda tersebut sedang dioperasi organ dalamnya oleh warga Banyuwangi. Di dalamnya terdapat berton-ton beras raskin impor dari luar negeri. 

Tidak jauh dari pelabuhan tersebut terdapat bongkar muat semen gresik. Disana bukan tempat produksinya melainkan hanya menjadi tempat mengepak butiran semen menjadi 1 karung. Kemudian yang kita tahu bahwa karung-karung semen gresik itu didistribusikan ke daerah-daerah untuk dikonsumsi masyarakat. 

Kami tiba di rumah sekitar pukul 21.00. Seperti biasa, aku tidur di kamar Langit Biru. Sedikit terharu ketika bapak bilang “nduk, kamarnya dibersihkan dulu yaa. Kan nggak pernah ditempati, pasti banyak nyamuk. Lah wong yang punya kamar malah nggak pernah pulang” hhmm, rasanya ingatan di bulan juli lalu langsung menyerang memoriku dengan cara kejang-kejang.

Kami pun sadar, sudah lama jarak telah memisahkan fisik kami untuk tidak saling bertemu. Kami menghabiskan malam dengan berbincang di ruang tengah sedangkan adik mungil tertidur dengan pulasnya. Dialog malam itu semakin membuka cakrawalaku tentang pandangan hidup, mulai dari sisi keluarga mungil, Langit Biru sendiri dan masa depan. Aku memang sengaja tidak menghubungi Langit Biru ketika itu. Yaa tentunya karena beberapa alasan yang hanya bisa dimengerti oleh kami berdua. Bahkan bapak yang saat itu ada di hadapanku juga tak tahu. Nostlagia semalaman ini seperti mengembalikan memori di bulan juli lalu. Ya Tuhan, apakah ini kesedihan atau justru menyenangkan.
Esoknya aku memutuskan pulang dulu ke Malang sebelum balik ke Jakarta untuk study. Setelah sarapan, bapak mengantarku sampai di daerah Bajul Mati untuk mendapatkan bis ke arah Probolinggo. Ohyaa, ada catatan sedikit yaa. Bis dari Banyuwangi yang langsung ke Malang memang tidak ada disana sehingga aku harus transit dulu di Probolinggo. Aku kembali ke rumah bahagiaku di Malang dengan melewati Taman Nasional Baluran yang berada di perbatasan kabupaten Situbondo dan Banyuwangi. Dulu aku pernah mengunjungi hutan luas ini bersamanya, sampai melihat pantai Bama dan hamparan luasnya vitamin hijau ini dari atas mercusuar. Berdua, yaa hanya berdua. I think it’s the real vitamin hijau. Dan di sepanjang perjalanan Situbondo, melewati Paiton dan pantai pasir putih yang cukup terkenal di daerah tersebut. Kembali ke masa SD, dulu aku juga pernah ke dua tempat itu yang aku rasa alasannya juga karena travelling with studying. Jadi aku berfikir bahwa taglineku itu memang sudah ku bangun dari aku masih duduk di bangku SD *the power of serendepity* Aku bisa sampai kesana lantaran guruku memberi hadiah dengan cara boleh mengikuti rekreasi anak kelas 6 SD, yang waktu itu memang ditujukan ke pantai Pasir Putih dan Paiton, Situbondo. Gratis. Itu karena kau selalu juara kelas. Hheee...
Setelah tiba di terminal Probolinggo, aku transit bis ke arah Malang. Harga tiketnya hanya Rp 12.000 dan yang menjadi catatan perjalananku waktu itu, hampir 85% penumpangnya adalah mahasiswa yang berasal dari Banyuwangi, Situbondo, Jember, Lumajang, Prolinggo yang kuliah di Malang. Pasalnya, waktu itu adalah hari minggu, tentunya itu adalah masa balik bagi mahasiswa rantauan daerah Jatim yang harus kembali ke Malang karena kewajiban belajarnya. 

Aku rasa, menyepi di Bali tahun ini memang menjadi  jurus jitu untuk berdamai. Berdamai dengan apapun yang sedang membuat hati bergejolak. Terima kasih untuk keluargaku tersayang di Malang, Ibu, Bapak, Adik Rara dan juga keluarga besarku. Terima kasih juga untuk keluarga mungil yang selalu memberi senyuman. Embun Bening dan Langit Biru yang juga akan tetap menjadi pencerah untuk hidupnya ghirah belajarku. Aku tidak mencoba membuangnya tetapi menepikannya dengan rasa yang sama. Terima kasih untuk episode pelepasan yang membahagiakan. Ntah apa yang dilepaskan, aku pun tak tahu. Kalimat itu muncul saja dan menggerakkan pointer untuk menuliskannya.

8 April 2012

Leadhersip = Colaborate Experiences

I will write in here about how my experience in leading a community in my campus. I’m very aware that I as a leader must collaborate with my team, I can’t stand alone. We must work together to create a unified vision and goals to be achieved. I think unity is a very strong foundation for running a community. A good leader is a leader who could appreciate his subordinates, not only can be ordered and arbitrary because it will make people in my team more depressed. Later, the people in my community only run the command because just element of fear. I strongly disagree with this method. Being a leader is not to be feared but how to make the people around us can be comfortable with us, not hesitate to express an idea or creative strategies to build a better community
 
Certainly from my experience, a good leader must also be directed first and also respecting the opinion expressed by a subordinate. Not that the leader was the most intelligent, but also I have to remain learn to co-workers or anyone because basically science would not be no end to look for. 

When I became the leader of an institution, I should really be set a time and take the appropriate decision. Obviously I have to put the public interest (my community) over my personal interests. I would not have managed to lead well if I'm selfish and not consider the interests of others. Of course, the leader should not be arrogant because it will only bring us into a bad place, there will be no advantage to happen if we act that way.

I remember, I had been unable to make decisions and it really inhibits my community to run. So the leader must be assertive and have a strong stance and take a decision must be carefully thought out. My subordinates will be confused if I was not consistent in giving the order or decision. To be respected by others, leaders must determine the appropriate rules. This serves to your subordinate do not underestimate what would you say. I think being an authoritative leader is very important. have to keep the good image, image of myself and also my community's image. Leaders also need to protect my teammates if there is intervention from outside

I think that environmental factors will also affect the leader in carrying out their duties so that I as a leader must always adapt to my environment and the build the motivation to always want to learn anything. I am well aware that the skills most needed by the leader is a conceptual skill but did not rule out the possibility that the operator skill should be. 

*thanks for our togetherness in Paramadina*

1 April 2012

Tjokroaminoto : Islam Sebagai Agama dan Ilmu (Dalam Pergerakannya)

Figur yang dikenal sebagai Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto ini lahir di Madiun, 16 agustus 1882. Ia adalah keturunan dari keluarga priyayi yang religious. Secara formal ia tak pernah nyantri  melainkan menempuh sekolah dengan sistem pendidikan barat sehingga ia menguasai bahasa inggris dan belanda. Pasca lulus dari sekolahnya, Tjokroaminoto pernah menjadi juru tulis patih di Ngawi yang kemudian membawanya pada pekerjaan menjadi pembantu utama bupati. Beberapa tahun kemudian, ia dan istrinya pindah ke Surabaya dan bekerja di perusahaan swasta. Kala itu, istrinya mengelola  bisnis kos-kosan. Salah satu anak kosnya yaitu Soekarno yang tidak lain merupakan presiden pertama RI. Waktu itu ia duduk di HBS Surabaya. 

Kepindahannya ke Surabaya membuatnya terjun ke Sarekat Islam yang awalnya bernama Sarekat Dagang Islam. Ketika itu, Samanhoedhi -sebagai ketuanya- berpendapat bahwa Sarekat Dagang Islam mesti diperlebar cakupannya, bukan hanya mengurusi soal perdagangan tetapi juga soal politik dan dakwah. Maka ia pun mencari kader untuk mengurusi hal ini dan Tjokroaminoto adalah kandidatnya. Samanhoedhi mendengar bahwa Tjokroaminoto dididik dengan sistem pendidikan barat dan tentunya memiliki keberanian kuat karena dilihat dari aspek ia berani keluar dari pekerjaan sebelumnya sebagai pegawai negeri dengan alasan tidak ingin terus menerus tunduk kepada Belanda. 

Pertama kali masuk Sarekat Dagang Islam, ia menjabat sebagai komisaris. Ia dikenal dengan sikapnya yang radikal dan senantiasa menuntut persamaan derajat kaum pribumi dengan pihak Belanda ataupun dengan pejabat pemerintah. Bahkan Tjokroaminoto berani melakukan hal-hal yang saat itu dianggap pantang untuk dilakukan bagi kaum pribumi misalnya duduk sejajar dengan pihak Belanda ketika ada pertemuan dan juga berbicara dengan menatap muka atasan, bukan lagi menunduk. Pada tanggal 10 september 1912 Tjokroaminoto resmi mengubah nama Sarekat Dagang Islam menjadi Sarekat Islam. Anggotanya pun bukan hanya berasal dari para pedagang tetapi sudah melebar ke semua unsur masyarakat. Tjokroaminoto menjadikan Sarekat Islam sebagai perkumpulan umat islam yang ingin menegakkan islam sebagai agama dan ilmu. Ia kemudian dipercaya untuk memangku jabatan ketua dan dibawah kepeminpinannya-lah Sarekat Islam mengalami kemajuan pesat.

Tjokroaminoto sangat pandai dan lihai dalam berpidato, ia bisa memainkan perasaan dan tingkah laku pendengarnya sehingga pendengar seringkali tercengang ketika mendengar pidatonya. Tak jarang ia juga menjadi penetral yang baik ketika terdapat perselisihan pendapat diantaranya pendengarnya. Selain itu banyak artikel-artikel dari Tjokroaminoto yang dimuat dalam surat kabar atau buku-buku pergerakan. Salah satu artikel yang fenomenal sampai sekarang adalah tentang arah dan gerak perlawanan partai. Penjelasannya bahwa perlawanan partai harus disandarkan pada beberapa hal diantaranya pada kebersihan tauhid, pada ilmu dan pada politik yang berkaitan dengan bangsa dan menyatukan negeri-negeri berpenduduk muslim.

Seiring dengan kemajuan Sarekat Islam, Belanda semakin khawatir dengan keberadaannya. Belanda sering membatasi kekuasaan pengurus pusat dan tentunya dengan pengawasan yang ketat tentang adanya organisasi besar ini. Akibatnya terdapat kesenjangan antara pengurus pusat dan pengurus daerah pada Sarekat Islam sehingga sulit dalam melakukan mobilisasi anggota. Sebagai panutan masyarakat, pemerintah Belanda menjulukinya sebagai de Ongekroonde Koning Van Java (Raja jawa yang tak bermahkota). 
Tjokroaminoto juga berkiprah dan mendorong terbentuknya organisasi-organisasi yang bersifat keilmuan di tanah air. Antara lain mendorong didirikannya Indonesische Studie Club (ISC) yang didirikan oleh Dr. Soetomo pada juli 1924 di Surabaya. Bersama Haji Agus Salim ia membidani Jong Islamieten Bond (JIB) yang merupakan himpunan mahasiswa dan pelajar islam agar tak lalai dengan agamanya meskipun sekolah dengan sistem pendidikan barat. JIB inilah yang merupakan cikal bakal lahirnya para cendekiawan muslim di Indonesia.

Tan Malaka : Intelektual Revolusioner

Tan Malaka lahir di Suliki, Sumatera Barat pada tanggal 2 juni 1897. Tan muda bernama Ibrahim, ia anak yang cerdas. Setelah menyelesaikan pendidikan Kweekschool di Bukit Tinggi, ia melanjutkan pendidikan di Harleem Belanda pada tahun 1913-1919 karena mendapat beasiswa. Ia selalu mengamati situasi dan dinamika di Belanda sehingga ia sadar bahwa banyak sekali perbedaan kehidupan antara negara jajahan Belanda dengan kehidupannya di Belanda. Hal ini yang mendorongnya selalu aktif dalam organisasi pemuda dan pelajar Indonesia yang ada di Belanda. Kegiatan-kegiatan ini membuatnya semakin terbuka dan menambah wawasannya.

            Tahun 1920 ia kembali ke Sumatera Barat menjadi guru untuk anak-anak kaum buruh perkebunan. Banyak kontradiksi yang terjadi pada kaum buruh yang dilihatnya, tentunya ia belajar banyak hal dari kasus ini. Pengalamannya inilah yang semakin memantapkannya untuk bergerak di bidang pendidikan. Sekitar juli 1921 ia pindah ke Semarang dengan tujuan mendirikan perguruan untuk kaum proletar. Di semarang inilah ia dekat dengan Vereniging van Spoorden Tram Personel atau Serikat Buruh Kereta Api yang waktu itu diketuai oleh Semaun, yang kemudian juga mengetuai Partai Komunis Indonesia. Di Semarang ini, ia juga menjadi dekat dengan Tjokroaminoto di Sarekat Islam. Semaun kemudian mengajak pengurus Sarekat Islam Semarang untuk mengadakan rapat istimewa untuk mengusulkan mendirikan perguruan seperti yang telah dicita-citakan oleh Tan Malaka.

            Murid dari perguruan yang didirikan atas prakarsa Tan Malaka dan Sarekat Islam ini merupakan anak-anak dari rakyat jelata, petani, buruh perkebunan. Tan Malaka mulai mengajarkan dasar-dasar komunisme yang terinspirasi dari Rusia dan Belanda. Sekolah itu dikenal dengan nama Sekolah Rakyat Model Tan Malaka. Perkembangan sekolah itu begitu pesat sehingga banyak permintaan dari daerah-daerah lain untuk mendirikan sekolah yang sama di daerah mereka. Namun karena keterbatasan tenaga pendidik, keinginan ini belum dapat dipenuhi.

            Tan Malaka semakin intens bergelut di Partai Komunis Indonesia. Karena pemikiran, gagasan dan beberapa aksi pemogokan yang dilakukannya, ia menjadi tokoh yang paling dicari dan berbahaya bagi Belanda. Tahun 1922, Tan Malaka diasingkan. Berulang kali ia diasingkan karena tindakan radikalnya dan ia justru semakin terkenal di Komunitas Komunisme Internasional. Selanjutnya ia membangun jaringan nasionalis yang membahayakan pihak Belanda. Pemikirannya bukan lagi mempengaruhi orang-orang yang ada di Indonesia tapi Asia Tenggara.

            Sekalipun Tan Malaka merupakan tokoh komunis tetapi perndapatnya sering tidak sejalan dengan apa yang dilakukan PKI. Tokoh pergerakan nasional ini menjadi sosok dibalik berbagai pergolakan di Indonesia. Nama Tan Malaka begitu penting di dunia nasional. Banyak tokoh yang mengetahui namanya tetapi tidak pernah bertatap muka dengan orangnya. Di akhir perang dunia II, secara diam-diam Tan Malaka menyamar dengan nama Iljaz Hussein dan sering mengikuti dialog dengan tokoh pergerakan nasional yang lain guna merancang kemerdekaan Indonesia. Realitas baru diketahui oleh khalayak luas bahwa Iljaz Hussein adalah Tan Malaka setelah proklamasi kemerdekaan.