10 Mei 2012

The Children of Srikandi


Bermula dari perkemahan kreatif di sudut kota Jogjakarta april lalu, aku diperkenalkan dengan sebuah film yang ‘tidak biasa’. Film dimana pertama kali melihatnya, ada rasa terkejut karena banyak kisah unik yang diungkapkan oleh film ini. The Children of Srikandi. Inilah judul film yang langsung menancap di otak ketika audiences mengucapkannya.

Awalnya aku menonton film ini bersama teman-teman camp yang juga memiliki pemahaman yang sama, datang kesini untuk belajar dan menghidupkan rasa keingintahuan. Namun, saat itu tidak banyak diskusi yang dilakukan untuk membahas film ini karena keterbatasan waktu. Yang kami tahu hanyalah kenyataan bahwa film ini merupakan garapan beberapa panitia camp, (salah satunya) kak Edit dan kak Imel. Kisahnya pun merupakan pengalaman pribadi mereka yang kemudian dicetak menjadi sebuah ritme skenario film. Aktor-aktornya juga pribadi mereka sendiri yang memiliki cerita tersebut. Singkatnya, film ini digarap oleh orang-orang multitalenta. Mulai dari ide cerita sampai aktor yang memainkan adalah mereka sendiri, juga produksi yang mereka lakukan. Kreatifitas dalam lensa video ini juga berhasil tampil di Berlin Film Festival. Bahkan Berlin ketika itu menjadi lokasi pemutaran premiere film ini (bukan di Indonesia). 
Reunian unyil Young Queer Faith & Sexuality Camp
Mengapa film ini ada di tengah-tengah kehausan kami -para peserta-  akan pengetahuan interfaith & sexuality? Yaa, tentu saja panitia sengaja memasukkannya dalam agenda camp guna menambah wacana peserta. Menunjukkan realita yang menyangkut kaum yang banyak disebut oleh kalangan hetero normatif sebagai kaum minoritas. Segera setelah itu, ada informasi bahwa film tersebut akan diputar di Jakarta untuk pertama kalinya, di Goethe Institute. Bulan Mei yang akan datang. Dan kami yang berdomisili di Jakarta tentu sudah mencatatnya dalam agenda kegiatan masing-masing. Kami akan hadir.
Film maker sharing pengalaman kepada audeinces
Sekitar satu bulan kemudian, waktu yang dinanti-nanti ini tiba. 6 Mei 2011. Aku bersama mas Dondik, Ipeh dan Gomat datang ke acara ini dengan sumringah. Niatan utamanya sebenarnya bukan untuk menonton film. Alasannya karena kami punya satu poin lebih, kami sudah menontonnya sebelum audiences yang duduk disini menunggu pemutaran filmnya. Sedikit tersenyum. Keinginan yang lebih besar adalah reuni unyil bersama rekan-rekan yang terlibat di camp kemarin, baik peserta maupun panitia. Dan niatan ini sudah terwujud malam itu di Menteng, Jakarta Pusat. 

Tak dinyana, banyak sekali audiences yang datang dengan antusias mereka. Ini sebagai wujud apresiasi mereka terhadap keberadaan karya yang dihasilkan oleh ‘mereka yang berani’
Secara teknik perfilman, saya berpendapat bahwa film ini biasa saja. Film yang awalnya diberi label film dokumenter. Harus diakui bahwa di dalamnya banyak sekali fiktif yang jelas terlihat sebagai sebuah skenario, bukan murni dokumenter. Banyak juga logika yang 'loncat' atas cerita yang disajikan. Berproses 'menjadi' akan membantu seseorang menemukan muara-muara baru yang mungkin lebih cocok dibandingkan dengan planning yang sudah dibuat sebelumnya. Namun, yang menjadi poin penting disini, mereka berani mengangkat kebisuan kolektif yang terjadi di masyarakat tentang apa yang sebenarnya mereka yakini dan dipilih menjadi jalan hidup mereka. Ada satu fliyer yang dibagikan ke setiap audiences yang masuk. Dan ada satu statement disana yang membuat hati saya tergugah sekaligus tersenyum lega. Ntah apa yaa bahasa yang bisa mewakili perasaan saat pertama kali membacanya. For the first time, queer Indonesian women breaking the code of silence. 
Congratulation for you !
Dari judulnya, Srikandi dipilih menjadi icon karena Srikandi (khusus di Indonesia) mewakili sosok perempuan yang sangat ‘tangguh’ bukan hanya menonjolkan maskulinitas. Film ini dibubuhi cerita wayang kulit dimana perwayangan tersebut dimainkan oleh Soleh (25) dan Anik (59). Keduanya adalah transgender. Wayang dipilih sebagai media untuk bercerita. Wayang juga dipercaya kuat mewakili karakteristik para tokohnya. Disini, saya yakin siapapun yang melihat kemampuan keduanya akan mengatakan bahwa dalang wayang dan sinden ini sangat berbakat, tanpa melihat identitas seksual mereka apa. Mereka berdua berkarya melalui media perwayangan, tentunya dalam hal ini mereka bisa menghasilkan sesuatu yang mencitrakan manusia utuh yang kreatif. Anggapan bahwa mereka -yang sering dianggap- sampah masyarakat harus segera dihilangkan. Manusia ini berhak untuk hidup, sama seperti yang lain. Terjemahan Anak-anak Srikandi ini ingin mengungkapkan bahwa anak-anak yang memiliki cerita ‘hampir sama’ dengan Srikandi juga ada di bumi hijau ini. Srikandi bagi sebagian orang memang dipandang sebagai wanita utuh yang sangat mempesona. Di lain sisi, tidak bisa tidak, Ia merupakan transgender sehingga sosoknya yang kharismatik pun memiliki cerita ‘lain’. Berbeda cerita dengan Srikandi dari asalnya, India. Yang menunjukkan bahwa Ia justru perkasa dan gagah.
Srikandi in Action
Film ini berawal dari workshop yang diselenggarakan oleh suatu lembaga. Peserta yang notabenenya queer diprediksikan hanya dari Jakarta. Namun, karena antusiasme dari pemuda diberbagai daerah, akhirnya peserta pun diexpand. Ada yang dari Jogjakarta dan Bandung. Masing-masing peserta mengirimkan essai kisah pribadinya yang kemudian diseleksi oleh panitia. Hasilnya seperti yang kita lihat saat ini. Film The Children of Srikandi merupakan sequel cerita dari beberapa peserta yang terpilih kemudian dirangkai menjadi menjadi satu keutuhan film dalam durasi 74 menit. Penggarapannya pun mereka mulai sendiri. Menarik lagi, semua adalah wanita. Waktu produksi memakan sekitar 2 tahun.

Beberapa judul sequelnya antara lain Hello World (Imelda Taurinamandala) yang menceritakan tentang mimpi seorang anak perempuan yang menginginkan dirinya menjadi laki-laki. Jlamprong (Eggie Dian) bercerita tentang seorang perempuan yang tinggal di jalanan kota Jogjakarta. Ia mengalami beberapa kali pelecehan seksual akibat dari orientasi seksualnya yang ‘berbeda’. Bahkan pihak yang seharusnya bisa melindungi, Polisi, justru ikut andil membuatnya mengalami masa-masa sulit yang penuh perjuangan.  Ada juga kelompok fundamental islam yang juga menganiayanya secara fisik dan batin. Melalui prosesnya, ia justru meyakini bahwa kehidupan jalanan menjadi keluarga yang hangat di matanya. Acceptance (Oji) mengisahkan seorang wanita yang memilih untuk memulai kehidupan baru di kota yang baru. Pilihan ini diambil sebagai jalan terbaiknya untuk terus berdamai dengan orientasinya. Edith’s Jilbab (Yulia Dwi Andriyanti) menggambarkan kisah seorang wanita yang berpendidikan dengan background agama islam yang kuat. Suatu ketika ia mengikuti kajian-kajian dimana disitulah ia menemukan pertanyaan dasar atas agama dan Tuhannya. A Verse (Winnie Wibowo) menceritakan tentang kisah seorang wanita yang merupakan kakak tertua dari 3 bersaudara. Ia meninggalkan keluarga biologisnya saat berumur 12 tahun karena alasan orientasi seksualnya. Ia mencoba memulai kehidupan yang baru dengan perjuangannya di tengah-tengah masyarakat yang heterogen. Di luar, ia justru menemukan keluarga yang begitu hangat menerimanya. In Between (Hera Danish) bercerita bagaimana seorang wanita yang hidup ‘diantara’ keduanya. Biseksual. Ketika ia mengaku sebagai biseksual, banyak yang menolaknya. Dari pihak laki-laki juga dari lesbian yang lain. Deconstruction (Stea Lim) memberikan wacana dimana banyak sekali gender stereotype yang dibentuk masyarakat, khususnya untuk queer di Indonesia. Dan yang terakhir yaitu No Label (Afank Mariani). Pemilihan label bisa berubah-ubah. Manusia dikonstruksi untuk masuk hanya ke dalam satu kategori saja. Padahal kenyataannya banyak manusia yang bisa masuk ke beberapa label sekaligus. Artinya, menggunakan label atau tidak sebenarnya adalah pilihan pribadi yang harus dihormati.
Salah satu lirik yang saya ingat dari soundtrack film ini mereka tertawa seakan sempurna. Banyak yang menganggap dengan memiliki keyakinan yang ‘tak sama’ berarti berbeda. Parahnya stereotype norma menjadikan ‘mereka’ seperti harus disingkirkan dari permukaan. Seolah-olah yang tertawa merasa benar. Film ini memang tidak memberikan jawaban penuh atas pertanyaan-pertanyaan yang seketika akan muncul dibenak audiencesnya. Film ini lebih ditujukan sebagai pengguliran wacana bahwa fakta ‘ini’ memang ada di masyarakat kita. Jelas sekali bahwa film ini tidak memberikan sebuah jawaban yang mungkin dicari-cari para auidences yang bertanya karena proses itu akan terus berlanjut. 
Menurut saya, cara seperti ini yang justru membuat masyarakat bisa lebih kritis dan akan menggali lebih jauh tentang tema, khususnya pada film ini. Bukan hanya sekedar menerima doktrin-doktrin beku dari stereotype yang sudah berkembang sejauh ini. 
Di akhir acara pemutaran film ini, kami mulai mencairkan suasana dengan bersilaturahmi bareng-bareng. Kembali bergumul dengan memori-memori saat camp yang penuh keakraban dan kisah-kisah seru.

3 Mei 2012

Hatta: Bergerak Menuju Indonesia Merdeka Lewat Pemikiran dan Pembelajaran Politik Ekonomi

Salah satu putra terbaik yang dimiliki negeri ini, Mohammad Hatta. Ia lahir di Bukittinggi, 12 Agustus 1902. Hatta menjadi anak yatim ketika berusia delapan bulan karena ayahnya, Haji Mohammad Djamil wafat ketika itu. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga ibunya sebagai anak laki-laki satu-satunya dari enam orang bersaudara. Ia tertarik dengan pergerakan sejak duduk di MULO. Hatta pun masuk ke perkumpulan Jong Sumatranen Bond, yang memang pada masa itu muncul  banyak perkumpulan-perkumpulan pemuda di berbagai daerah. Antara lain Jong Minahasa, Jong Ambon dan Jong Java dan Jong Sumatranen Bond itu sendiri. Hatta menjabat sebagai bendahara di perkumpulan itu. 

Tahun 1921 Hatta berangkat ke Belanda untuk belajar di Handels Hoge School, Rotterdam. Ia mendaftar sebagai anggota Indische Vereniging yaitu perkumpulan pemuda yang menolak bekerjasama dengan Belanda. Setahun kemudian, perkumpulan ini berganti nama menjadi Indonesische Vereniging yang akhirnya menjadi Perhimpunan Indonesia sampai saat ini. Perkumpulan ini memiliki majalah sebagai dasar pengikat antar anggota. Hatta yang mengatur agar majalah Indonesia Merdeka ini terbit secara teratur.
Setelah lulus dari ujian ekonomi perdagangan di tahun 1923, Hatta berniat menempuh ujian doctoral di bidang ilmu ekonomi. Namun karena suatu kendala, ia justru masuk jurusan hukum negara dan hukum administratif. Keinginan ini muncul karena minatnya yang besar di bidang politik. Tahun 1926 sampai 1930, Hatta dipercaya menjadi ketua Perhimpunan Indonesia. Dibawah kepemimpinannya, Perhimpunan Indonesia maju pesat. Dari perkumpulan mahasiswa biasa menjadi organisasi politik yang dapat mempengaruhi jalannya politik di Indonesia. Hatta pun mendapat pengakuan sebagai pos depan dari pergerakan nasional yang berada di Eropa dari Pemufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPI). Perhimpunan Indonesia gencar untuk melakukan propaganda aktif dan sering mengikuti kongres internasional. Berkat Hatta, nama Indonesia secara resmi diakui oleh kongres dan benar-benar dikenal oleh kalangan organisasi internasional. Hatta dan Nehru (India) sempat diundang untuk memberikan ceramah di Gland, Swiss. Ceramahnya berisi tentang perdamaian dan kebebasan dan berjudul Indonesia dan Persoalan Kemerdekaan

Hatta pernah dipenjara selama lima bulan, dan akhirnya dibebaskan oleh Mahkamah Pengadilan di Denhaag. Dalam sidang bersejarah itu, Hatta melakukan pidato pembelaan yang kemudian diterbitkan dalam buku bahasa Indonesia berjudul Indonesia Merdeka. Ia terus fokus untuk menulis berbagai artikel politik dan ekonomi. Pertengahan tahun 1932, Ia kembali ke tanah air setelah menyelesaikan masa studinya. Ia disibukkan dengan berbagai kegiatan politik di Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Dua tahun kemudian, Hatta kembali ditangkap bersama enam pimpinan partai Pendidikan Nasional Indonesia yang lain. Mereka dipenjara di penjara Glodok dan Cipinang sebelum akhirnya dibuang ke Digoel, Papua. 

Dalam pembuangannya, Hatta rutin menulis artikel-artikel. Rumahnya di Digoel dipenuhi oleh buku-buku pribadinya yang dibawa dari Jakarta. Ia sering memberikan pelajaran kepada kawan-kawannya seputar ilmu ekonomi, filsafat dan sejarah. Hatta juga sempat dipindahkan ke Bandaneira bersama Syahrir. Disana ia bertemu dengan Cipto Mangunkusumo dan tak jarang memberikan pelajaran kepada anak-anak setempat tentang ilmu sejarah dan politik. Hatta dan Syahrir dibawa kembali ke Jakarta ketika pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang. Hatta memiliki cita-cita agar Indonesia terlepas dari penjajahan Belanda maupun Jepang. Menurutnya, lebih baik melihat Indonesia tenggelam di lautan daripada melihatnya sebagai jajahan orang lagi.

16 Agustus 1945 Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia menyiapkan proklamasi. Panitia Kecil yang terdiri dari lima orang dengan Soekarno sebagai ketua dan Hatta sebagai wakilnya serta Soebardjo, Soekarni dan Sayuti Melik menyusun teks proklamasi kemerdekaan. 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia. Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan Drs. Hatta diangkat menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia.

25 April 2012

Aku, Kaliurang dan Pelajaran Kehidupan

Senja kala itu, aku bersama beberapa teman yang berlandaskan primordialisme dari Jakarta tiba di bundaran UGM, Jogjakarta. Tempat berkumpulnya manusia yang ingin belajar dan bersilaturahmi. Senang. Perasaan itulah yang aku rasakan. Jogjakarta bukanlah tempat yang asing lagi bagiku. Dan saat itu, merasakan Jogjakarta di ujung senja memberikan warna tersendiri layaknya harmonisasi alam yang mengikuti irama menuju malam.
Bersama peserta camp yang lain, aku merasakan keberagaman itu hadir sebagai keunikan. Kami datang dari berbagai macam identitas yang kami bawa. Dengan tema #LGBTIQ ini aku merasakan benar-benar disamping mereka secara utuh. Bukan hanya dari lirikan mata. Mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sehingga muncul pilihan menjadi ‘beda’ menurut orang lain. Dan itu merupakan pilihan yang menjadi hak paling hakiki dalam hidupnya. Pelajaran pentingnya “jangan pernah ngejudge seseorang sebelum tahu apa sebab dibaliknya” 

Datang dari identitas yang berbeda menjadikanku banyak belajar. Belajar membaca dan mengamati. Membaca lingkungan, membaca pikiran orang lain, membaca perilaku manusia, cara berkomunikasinya dan adat istiadat yang dibawanya. Ini merupakan salah satu cara untuk improve my self. Dengan alasan-alasan inilah taglineku *travelling with studying* itu semakin menyala. Siapa bilang travelling itu hanya buang-buang uang? Tidak. Sekali lagi, banyak pelajaran yang bisa diambil asalkan melek lingkungan.

Dari bunda Anna, aku tahu titik terang bahwa kita harus mengenali siapa diri kita. Tubuh kita bukanlah political instrument. Dan dengan kesadaran palsu, kita pun sering mengabaikan keinginan suara tubuh kita sendiri, yang semestinya itu tidak dilakukan. Omah Jawi menjadi wadah untuk belajar, berbagi, berkeluh kesah dan sekaligus bersenang-senang. Banyak hal baru yang aku pelajari dari kalian semua yang menyenangkan. Hari-hari terasa semakin hangat meski awalnya ‘dingin’ itu masih ada. Dan aku yakin, keluarga beragam ini terbangun dari adanya cinta kasih yang damai. 
Young Queer Faith & Sexuality Camp by Yifos
 Namun, jujur dari awal ketika teman-teman khawatir apakah kita akan di brainwash oleh panitia tentang suatu pemahaman, aku justru menyebut camp ini sebagai rumah dialog. Dimana kita bisa mengeluarkan pendapat, bercerita, berdialog untuk menghasilkan sebuah solusi atau hanya sekedar berbagi pengalaman dengan yang lain. Sebagai peserta camp, kita memiliki kemampuan literasi sehingga bisa memfilter informasi yang masuk. No brain wash again.
Belajar merupakan suatu proses. Proses ini juga yang aku pelajari disini, bukan semata-semata mencari hasil jadi yang instan. Menjadi berbeda bukanlah penghalang untuk saling bersama. Mengambil jalan ‘kiri’ pun bukan jalan yang harus dimusnahkan. Dengan perbedaan itu, justru aku tahu banyak kekayaan yang beragam diantara kita. Kita bisa hidup berdampingan dan saling mendukung karena adanya toleransi yang penuh akan suatu pilihan.
Semoga ghirah belajar ini akan tetap menyala seperti semangatnya ayam yang berkokok membangunkan pagi. 

Love the process and respect the result of it
*Senyum dan semangat*

22 April 2012

Ki Hadjar Dewantara: Pergerakan Nasional Lewat Pendidikan dan Kebudayaan

Bapak pendidikan Indonesia yang terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat ini merupakan keturunan dari keluarga keraton Yogyakarta. Namanya berganti menjadi Ki Hadjar Dewantara saat usianya genap 40 tahun. Gelar kebangsawanannya tidak lagi dipakai dengan maksud agar ia lebih dekat dengan rakyat baik secara psikis maupun fisik. Perjalanan hidupnya dipenuhi dengan pengabdian dan perjuangan untuk bangsa Indonesia. Beliau merupakan salah satu perintis dunia pendidikan di Indonesia sehingga tanggal lahirnya (2 Mei 1889) selalu diperingati sebagai hari pendidikan nasional. Beliau dianugrahi sebagai pahlawan nasional, bapak pendidikan Indonesia sekaligus mendapat gelar doktor honoriscausa dari universitas Gadjah Mada. 

Beliau menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) kemudian melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) tetapi tidak sampai lulus karena faktor kesehatan. Ia bekerja sebagai wartawan muda di beberapa surat kabar dan juga aktif dalam organisasi sosial politik. Tulisannya dikenal sangat komunikatif, kritis dan patriotik sehingga mampu menggugah semangat antikolonial pembacanya. 

Tahun 1908, ia aktif di Boedi Oetomo untuk mensosialisasikan pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kemudian pada tanggal 25 desember 1912, ia bersama Douwes Dekker dan dr. Ciptomangunkoesoemo mendirikan Indische Partij dengan tujuan mencapai Indonesia merdeka. Indische Partij merupakan partai politik pertama yang beralirkan nasionalisme. Keberadaannya pun ditolak oleh pemerintah kolonial Belanda karena dianggap dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat Indonesia sehingga kesatuan dapat ddigerakkan untuk menentang pemerintah kolonial. Pada November 1913, Ki Hadjar Dewantara bergabung membentuk Komite Bumipoetra. Komite ini menjadi tandingan dari Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Bangsa Belanda. Sehubungan dengan perayaan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Perancis, kolonial Belanda menarik uang dari rakyat jelata untuk membiayai pesta tersebut. Komite Bumipoetra melewati Ki Hadjar Dewantara segera melakukan kritisi. Melalui tulisannya yang berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga) ia mengkritik untuk apa pesta pora diadakan jika itu menyusahkan rakyat Indonesia. Tulisan itu dimuat dalam surat kabar de Expres milik dr. Douwes Dekker.

Akibat tulisannya yang pedas itu, ia dijatuhi hukuman dari pemerintah kolonial Belanda tanpa proses pengadilan. Hukumannya berupa hukuman internering (hukum buang). Pulau Bangka adalah sasaran tempatnya. Douwes Dekker dan dr. Ciptomangoenkoesoemo meras rekan seperjuangannya diperlakukan tidak adil sehingga mereka menerbitkan tulisan yang bernada membela Ki Hadjar Dewantara. Tulisan itu juga dianggap sebagai instrumen yang bisa membangkitkan nasionalisme untuk memberontak pemerintah kolonial Belanda. Akibatnya keduanya juga menerima hukuman internering, Douwes Dekker ke Kupang dan dr. Ciptomangoenkoesoemo dibuang ke pulau Banda. Namun, mereka menghendaki dibuang ke Belanda dengan alasan disana mereka dapat mempelajari banyak hal daripada di daerah terpencil. Sebagai pelaksanaan hukuman, pada agustus 1912 mereka diizinkan ke Belanda oleh pemerintah kolonial.

Kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran. Tahun 1918, ia kembali ke tanah air dan mengabdi penuh untuk pendidikan. Pendidikan dianggapnya sebagai alat perjuangan meraih kemerdekaan. Tidak lama setelah itu, Ki Hadjar Dewantara dengan rekan-rekannya mendirikan sebuah Perguruan Nasional Tamansiswa (Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa) tanggal 3 juli 1922. Pendidikan ini menekankan kepada peserta didik agar mencintai bangsa dan tanah air serta berjuang untuk merdeka. Ia pun masih aktif menulis, tetapi temanya beralih ke nuansa pendidikan dan kebudayaan yang berwawasan kebangsaan. Melalui tulisan-tulisan itulah ia berhasil meletakkan dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.

Beralih ke pendudukan Jepang pada tahun 1943, Ki Hadjar Dewantara duduk sebagai pimpinan disamping Ir. Soekarno, Drs. Hatta dan KH. Mas Mansur di Pusat Tenaga Rakyat (Putera). Setelah zaman kemerdekaan, ia menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan pertama di Indonesia. Selain ditetapkan sebagai pahlawan nasional dan bapak pendidikan, ia juga ditetapkan sebagai pahlawan pergerakan nasional. Ajarannya yang terkenal adalah tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa) dan ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan yang baik). Bahkan semoyan itu sampai saat ini menjadi slogan kementrian pendidikan nasional Indonesia.

Dokter Pembela Bangsa, Cipto Mangoenkoesoemo

Dr. Cipto Mangoenkoesoemo lahir di Pecagakan, Jepara pada tahun 1886. Ia mengenyam pendidikan tinggi di STOVIA (sekolah dokter bumiputera). Selama masa kuliah ia terkenal dengan pribadi yang jujur, kritis dan rajin. Sikap kritis beliau diwujudkan dalam berbagai pidato, opini dan tulisan-tulisannya. Dr. Cipto Mangoenkoesoemo juga ditetapkan sebagai tokoh pergerakan nasional. Pergerakan yang diilhami dari politik etis yang diterapkan oleh Belanda, meliputi bidang edukasi, irigasi dan migrasi. Dalam bidang edukasi, pemerintah kolonial Belanda memberikan kesempatan bagi warga pribumi untuk mengenyam pendidikan. Dampaknya muncullah orang-orang terpelajar layaknya dr. Cipto Mangoenkoesoemo dan rekanannya.

Ia melakukan banyak perjuangan melalui tulisan-tulisan yang bernada mengkritik pemerintah kolonial Belanda. Ia kerap menceritakan penderitaan rakyat akibat penjajahan Belanda. Ketika aktif menulis di de Express, sebenarnya ia sudah bekerja sebagai dokter di pemerintahan. Pekerjaan ini ia dapatkan setelah memperoleh ijazah STOVIA di Jakarta. Saat itu ia ditugaskan di Demak. Dari sanalah ia menulis kritikan-kritikan pedas tersebut. Akibatnya ia diberhentikan dari pekerjaannya sebagai dokter pemerintah. Dengan kondisi ini, dr. Cipto justru semakin intens melakukan perjuangan. Bersama Douwes Dekker dan Ki Hadjar Dewantara, ia mendirikan Indische Partij, suatu organisasi politik yang pertama kali mencetuskan ide pemerintahan sendiri, bukan oleh Belanda. Pada tahun 1913, ia dan kedua rekannya diasingkan oleh pemerintah kolonial ke Belanda akibat tulisan dan aktivitas politiknya yang tajam. Sebelum mendirikan Indische Partij, ia juga berprofesi sebagai guru bahasa melayu di Ambarawa, menjadi kepala sekolah dan menjadi pembantu administrasi di kota Semarang.

Ketika peringatan seratus tahun bebasnya Belanda dari penjajahan Perancis, pemerintah kolonial Belanda di Indonesia berencana merayakannya secara besar-besaran. Dan keinginan ini ditolak habis oleh para pejuang kemerdekaan karena dianggap hanya akan menyengsarakan rakyat. Dr. Cipto saat itu mendirikan Komite Bumiputera khusus untuk memprotes maksud pemerintah kolonial Belanda. Sekembalinya dr. Cipto dari Belanda akibat hukuman pengasingannya, ia kembali melakukan perjuangan melalui Volksraad. Disana ia selalu membela kepentingan rakyat dan membangkang terhadap pemerintahan Belanda. Karena kegiatan kritisnya di Volksraad itu, ia kembali mendapat hukuman dari pemerintah yaitu dipaksa untuk meninggalkan Solo, kota dimana ia tinggal saat itu. Padahal saat itu, ia sedang giat mengembangkan ‘Kartini Club’ dan juga membuka praktik dokter di Solo.

Selanjutnya ia tinggal di Bandung sebagai tahanan kota, dimana ia tidak diperbolehkan keluar dari kota Bandung tanpa persetujuan pemerintah Belanda. Meskipun demikian perjuangannya tidak menjadi lemah. Dengan berbagai cara kreatifnya ia menemukan kegiatan-kegiatan untuk melanjutkan pergerakannya. Rumahnya dijadikan sebagai tempat berkumpul, berdiskusi dan berdebat para tokoh pergerakan nasional. Salah satu diantaranya yang aktif yang aktif adalah Ir. Soekarno. Setelah beberapa waktu, akhirnya kegiatan-kegiatan  bersama tokoh pergerakan nasional dirumahnya terbongkar. Ia kembali mendapat hukuman dari pemerintah Belanda. Ia dibuang ke Banda Neira pada tahun 1927 dan mendekam disana sebagai tahanan selama 13 tahun. Dari Banda Neira kemudian ia dipindahkan ke Ujungpandang. Tidak lama kemudian dipindahkan lagi ke Sukabumi, Jawa Barat.

Sebagai seorang dokter, dr. Cipto pernah memperoleh prestasi gemilang ketika berhasil membasmi wabah pes di daerah Malang. Pes merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh basil yang ditularkan oleh tikus. Akibatnya banyak dokter Belanda yang tidak bersedia ditugaskan untuk membasmi penyakit tersebut. Kesuksesannya membasmi wabah tersebut membuat namanya lebih terkenal. Bahkan pemerintah Belanda yang sebelumnya sudah memecatnya sebagai dokter pemerintah justru menganugrahinya penghargaan Bintang Orde van Oranye Nassau meskipun sebenarnya penghargaan itu malah dikembalikannya kepada pemerintah Belanda. Atas jasa dan pengabdiannya sebagai pejuang pembela bangsa, namanya dinobatkan sebagai pahlawan kemerdekaan nasional. Namanya pun diabadikan sebagai nama rumah sakit umum pusat di Jakarta.

Titik di 24 Jam (2012)

Semoga titik di 24.00 mampu memberikan refleksi cita dan kasih yang produktif. Semoga aku bisa menjadi lebih matang untuk berfikir dan bertindak. Tentunya semoga doaku, menjadi jalan hidupku. Amin ya rabb. Doa ini sebenarnya aku dapat ketika satu tahun yang lalu diperkenalkan dengan Langit Biru. Terima kasih atas pengalaman selama satu tahun ini, juga untuk cinta kasih yang hingga malam ini tak pernah padam. Aku yakin bahwa cinta kasih sangatlah dekat dengan pemaafan. Semangat untuk masa depan yang lebih cemerlang. Aku masih ingat dengan seruanmu, fight for future yang selalu dilantunkan The Trees and The Wild. Salah satu band favoritku yang menjadi perbincangan kami di awal perkenalan.

Love the process and respect the result of it. Kalimat yang selalu mengilhami setiap langkah tujuanku. Semoga dengan titik yang diperbaharui akan mampu membuat kemarau di musim hujan. Kembali diingatkan 20 April 2011. Dilancarkan misi membangun foundationnya. Menghibahkan diri untuk ilmu pengetahuan, berproses menjadi travel writer sesuai dengan hobi beserta semakin kental dengan dunia sinematografi. Tak lupa, semoga mendapat kelancaran dalam membangun brand kaicecreamnya (baca:kaeskrim). Suka. Topik yang selalu membuat hati gempita saat membahasnya. Nama brand ini terinspirasi dari sahabat sekaligus kakak seperjuangan dalam menuntut ilmu. Terima kasih.
Merealisasikan mimpi ke India dengan niatan travelling (tentunya), belajar budaya dan tradisi yang menurutku sangat unik. Mereka bisa mentransfer budayanya lewat media yang selalu kita kenal, bahkan saat aku masih duduk di kelas satu SD. Apalagi jika bukan film india. Semoga keluarga yang terkasih di rumah berbahagia dan senantiasa syukur. Terima kasih ibu, engkaulah cermin kesederhanaan yang sempurna di mataku. Kesederhanaan inilah yang turut membesarkanku, didampingi bapak dan canda adek Rara *love family* Untuk Jhony (nama sapi-ku), cepat beranak yaa. Dan mengapa aku berdoa seperti ini? Aku sendiri tak tahu karena kenyataannya Jhony sebenarnya adalah sapi jantan. Bagaimana ia bisa beranak? Yaa mungkin maksudku kali ini segera membuahi si betina agar daya semi tidaklah terkikis.

Tepat di 20 April 2012, doa ini semakin diperkuat. Tuhan, lancarkan misi tugas akhirku (similiar dengan skripsi) dan luluskanlah dalam keberkahanMu. Don’t forget to say alhamdulillah. Itu bisikku dalam hati. Bersyukur disertai perbuatan, bukan hanya ucapan. Ada satu poin yang menjadi renungan bahwa selama ini mungkin masih terlalu banyak meminta pada Tuhan #instropeksi. Semoga visi dalam list moadboard-ku tentang Prancis, India, Swiss, USA dilancarkan. Manjadda wajada. Teringat dengan trip ke Singapura-Turki-Polandia tahun 2010 lalu. Semoga semangat 2009 kembali merona dalam jiwa untuk meraih cita. Semoga mampu untuk menunduk dengan tetap bisa melihat langit biru yang luas sebagai bahan amunisi mengisi kehidupan. Ada tagline hidupku yang semakin harus dipupuk dan diberi gizi. Travelling with Studying. Cita-cita untuk masuk ke dunia akademisi & industri kreatif akan selalu menjadi warna dalam setiap perjuangan. Senyum, semangat. Hatiku berseru tanpa harus berucap. Semangat menatap mentari yang kian memanas. Terima kasih semesta :)
Tepat di malam harinya, ahha moment itu datang dari kawan-kawan seperjuangan di asrama putri. Sangat tidak disangka bahwa kali ini mendapat kejutan yang hampir sama di tahun lalu. Senang. Kembali dari Kemang malam-malam, disambut oleh wanita-wanitaku di depan TV. Mereka antusias sekali melihat tayangan Indonesian Idol. Beberapa menit kemudian lampu padam. Yaa, tak ada secuilpun insting bahwa moment itu jatuh. Ahha !! 21th kau !! bisik gelap malam. Kalian, keluarga mungilku disini yang turut membantuku untuk berproses menjadi Ika yang sesungguhnya. Meski aku pun tak tahu kapan proses itu akan berakhir. Terima kasih untuk cinta kasih kalian yang selalu mengiringi perjalanan dalam rantauanku.

21 April 2012

Refleksi 20th

 Diawali dengan perjalanan 20.04.2011 yang lalu, aku memaknai momentumnya bersama sabahat-sahabat terdekatku ke Epicentrum. Menyenangkan. Dan tak terasa, moment itu sudah berjalan selama satu tahun. Waktu memang berjalan begitu cepat. Banyak doa dan harapan yang dipanjatkan saat memasuki umur 20th yang lalu.
Risma, aku dan Luti (dhillaz camera personnya)
Dan sekarang? Apa yang sudah ku lakukan di umur cantik tersebut?  
Sepertinya malam ini serendepity dari Tuhan diturunkan untuk kami, kaum yang sedang mencari jati diri di persimpangan jalan menuju kebenaran yang hakiki. Melewati banyak pos kehidupan dan perempatan jalan yang memberikan banyak pengalaman baru dan pengetahuan, dan spiritualitas yang semakin matang.

Terima kasih untuk segala doa yang dipanjatkan. Tuhan mengamininya.
Lega rasanya setelah dering telepon itu akhirnya berganti menjadi suara serak akibat bangun dari tidur yang cukup singkat. Aku menyapamu malam ini karena 'sejujurnya' ada yang hilang selama sekian waktu sebelumnya.

Tepat di titik 20.04.2012 ini, refleksi diri itu menghasilkan rasa yang menjelma sebagai wujud cinta kasih dari Tuhan. Aku bisa bilang "hello, aku sudah 21th" Proses dari bertambahnya umur yang terus berjalan ini yang mengajariku untuk melakukan sesuatu. Menyapamu disana yang mungkin memang saat ini sudah tertidur pulas, dipeluk malam. Doa malam ku panjatkan. Berperilaku jujur terhadap diri sendiri pun harus segera ku lakukan. Aku paham karena untuk ke sekian kalinya aku masih membohongi diriku sendiri. Tidak selayaknya itu dilakukan karena sebenarnya ‘diri’ kita (baca:tubuh) adalah yang paling dekat dengan kita. Dan tak bisa dipungkiri, ‘diri’ pun seperti orang yang paling jauh ketika kita tidak mengenali siapa diri kita. Ketika ‘Ahha moment’ itu muncul, seketika aku ingat prinsip ayam berkokok "tidak baik kalau aku harus menunggu esok pagi untuk menyapanya" Hasil dari doa malam itu juga yang turut mensupportku untuk membangunkanmu sampai hitungan dering telepon kedua.

Proses perjalanan itu sama-sama kita lalui sebagai media untuk terus belajar menjadi insan yang lebih baik lagi. Terlebih untuk orang-orang yang selalu mensupport hidupku. Satu lagi yang ku tahu dan ku yakini, cinta kasih itu murah hati, sabar, penuh pemaafan dan menerima apa adanya engkau. Aku mengambil satu pelajaran yang lain bahwa konflik itu bisa menyadarkan, bukan hanya menyakitkan. "akui, maafkan dan belajarlah dari situ" itu yang malam ini Tuhan yakinkan padaku lewat doaku.

  Terima kasih untuk cinta kasih yang penuh pembelajaran dan tanpa mengekang, yang sampai malam ini masuk ke dalam ruang, Semangat. 

Ulang tahun bukanlah moment yang harus dirayakan, tetapi perlu direnungi apa yang sudah kita perbuat selama itu dan mencari perbaikan atas kesalahan yang telah dilakukan. Make a wish pun sama. Aku tidak harus melakukan ritual itu saat ulang tahun karena aku percaya setiap harinya aku juga make a wish dengan metode yang sama. Memasuki zona yang lebih menantang akan membuat hidup terasa lebih mempunyai urat nadi. Dan dengan semangat itulah, hidup akan dipenuhi keceriaan. 

Umur 20th, aku cukup aktif diberbagai organisasi ekstra maupun intra kampus. Pelajaran yang mengena adalah membangun link bukan hanya sekedar untuk simbiosis mutualisme. Namun, yang lebih penting dari itu kita harus melakukan simbiosis mutualisme itu dengan hati lapang. Terkadang aku masih sering merasa bimbang dengan suatu keputusan. Dan waktu satu tahun pun menyadarkanku bawa kondisi seperti itu hanya akan membuat kita terombang-ambing di lautan lepas dan tak bertepi. Melakukan sesuatu itu lebih mudah daripada hanya memikirkannya di kepala. Tahun ini juga ghirah travelling with studying itu lebih menguat. Travelling itu menyenangkan, apalagi jika ditambah dengan instrumen-instrumen pembelajaran yang bisa membuatku lebih merasakan ‘hidupnya’ travelling itu.

Orang tua dan keluarga adalah segalanya. Mereka yang selalu mensupportku dalam setiap keadaan. Apapun akan ku lakukan untuk beliau yang terkasih. Aku yakin, doa orang tua adalah bisikan dari Tuhan. Love you my lovely family. Perjalanan satu tahun ini juga semakin meyakinkanku dengan tagline hidup yang ku bawa kemana-mana Love the process and respect the result of it. Proses itu sangatlah penting. Dari proses kita akan banyak belajar. Suatu hubungan akan lebih bermakna jika di dalamnya banyak terjadi improvement. Ntah itu hubungan orang tua dengan anak, pacaran atau pertemanan. Rasa cinta kasih yang tulus dan semangat merupakan bumbu tambahannya. 

Menjadi orang yang berani, menurutku adalah suatu pilihan. Aku memilih untuk berani karena mempertahankan rasa yang seharusnya diungkapkan itu akan mengekang diri dan membuat diri semakin jauh dari kita. Satu hal yang juga menjadi refleksi, saling berbagi akan banyak memberi energi positif di hati. Dengan berbagi aku merasa lebih bermanfaat, ada 
semacam kepuasan batin yang menyokongku. Ohya, terus menginspirasi orang lain juga menjadi visiku, terutama untuk keluarga terdekat.

Selama ini aku masih merasa terlalu banyak menuntut kepada Tuhan yang Maha Sutradara. Nah, semoga refleksi ini mampu menjadikanku orang yang senantiasa bersyukur atas segala rahmatNya serta mawas diri. Terima kasih atas cinta kasih sampai 21th ini. 
Be better person and always smile and keep fight for future.