9 Agustus 2012

Ada Dewi Fortuna Di Pasar Anak Negeri

Belum menginjak usia satu minggu pasca grand launching, kini Kereta Dongeng kembali memiliki hajatan penting. Satu sms di ponsel mengabarkan bahwa siang itu kami harus ke Tebet untuk briefing. Aku masih sedikit bingung. Briefing untuk apa lagi. Dan setelah datang ke lokasi, tentu saja ini adalah kabar baik untuk Kereta Dongeng. Kami diundang untuk pameran di Pasar Anak Negeri. Tepat di Istora Senayan, 27-29 Juli 2012. Berdegup rasa syukur menyelimuti kegembiraan, aku yakin ini bukan kebetulan. Rasanya bergemuruh rasa senang. Belum genap satu minggu grand launching Kereta Dongeng itu digelar. Buku dongeng “Trimbil, Ayo Bangun!” terbit. Akhirnya satu mimpi yang ku tulis dalam moadboard bisa ku coret. Kereta Dongeng. Dan petang ini senja membawa keindahan tersendiri untukku dan Kereta Dongeng. Hal ini semakin membuatku tersenyum haru. Lagi dan lagi. Ibarat menemukan gula yang kemudian ditambah lagi, menemukan manisnya madu. Rasa syukur itu senantiasa bertambah. Ingin sekali ku ucapkan terima kasih untuk semua pihak yang sudah membantu. Lidah terasa kelu sehingga keinginan itu hanya terucap lewat doa-doa malamku. Kesenangan ini harus dilengkapi kerja keras nan cerdas. Pameran akbar ini pun harus kami persiapkan dengan matang.

Setelah briefing itu selesai kami segera melakukan meeting kecil untuk koordinasi. Persiapannya tidak terlalu rumit karena pihak penyelenggara sudah mempersiapkan semuanya untuk tim kami dan beberapa tim lain. Kami hanya perlu membawa dagangan kami saja. Yang lain sudah diuruskan. Pameran Pasar Anak Negeri adalah pameran produk UKM yang menyebar di pelosok nusantara. Pesertanya merupakan pengusaha-pengusaha yang sengaja datang dari berbagai kota di Indonesia. Jumat malam itu adalah technical meeting di Istora. Kami pun segera tahu titik lokasi yang akan menjadi stand kami.

Pikiran awal kami hanyalah, ini kesempatan emas. Kereta Dongeng bisa promosi disini. Istilah konvesionalnya adalah mencari nama dulu. Jumat pagi kami datang dengan penuh semangat. Stand-stand yang semalam kosong kini sudah berpenghuni. Mulai dari aneka produk kuliner, fashion, aksesoris, craft sampai jasa ada di pameran yang bersuasana biru ini. Rupanya Kereta Dongeng sedikit berbeda dengan tim yang ‘setara’ dengan kami. Kami mendapat stand khusus di hall Istora Senayan, tepat di stand 54. Akhirnya aku mulai  bertanya dalam hati mengapa dibedakan? apakah perbedaan ini baik atau justru buruk untuk kami?  Jawabannya Cuma satu, tetap semangat untuk apapun yang terjadi. Pasti ada sejuta kebaikan di dalamnya. Kami tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Kami pun mulai menata produk Kereta Dongeng, yang tentu saja sangat berbeda dengan hamparan produk yang ada di sekeliling kami. Buku dongeng. Itu produk unggulan sehingga kami pun mendapat tempat yang sedikit lebih istimewa dibandingkan tim ‘setara’ yang lain. Kata mentor tim kami ”produk makanan sudah membanjiri pameran ini, produk kalianlah yang unik”

Menuju sore hari, hall tersebut semakin penuh sesak oleh pengunjung. Berbeda dengan pagi hari yang lebih terlihat sepi. Pemilihan waktu pameran menurutku juga sangat membantu. Weekend menjadikan pengunjung lebih ramai untuk sekedar jalan-jalan atau sengaja ingin mengunjungi dan membeli produk yang ditawarkan oleh pameran skala nasional ini. Saat itu, tiba-tiba saja langsung terbesit sedikit penyesalan. Kenapa tidak mencetak dalam jumlah yang lebih banyak. Kalau saja invitation pameran ini dikabarkan seminggu sebelumnya, tepatnya sebelum kami mencetak buku, pasti kami akan mencetak lebih banyak. Pikirku. Stok buku diperbanyak meski aku sendiri belum tahu dengan cara apa lagi. Pasalnya modal kami sudah kandas untuk cetakan pertama. Rupanya nasi telah menjadi bubur. Menyesal tentu tidak ada gunanya. Manuver pola berfikir pun terjadi. Bagaimana caranya stok buku dongeng yang tersisa bisa habis di pameran ini. Kereta Dongeng lebih menggema namanya. Hanya itu.

Kebetulan stok yang tersisa hari itu sekitar 70 buku. Padahal pembukaan pameran baru dilakukan besok, sabtu sore. Kami optimis bahwa usaha di titik ini akan berhasil. Berbekal kartu nama, buku dongeng, Xbanner dan stiker, stand Kereta Dongeng ramai. Ada yang sekedar melirik, menanyakan dan tidak jarang juga yang langsung membeli. Buku dongeng ini dipatok harga Rp 25.000/item. Target audiences Kereta Dongeng saat itu tepat sasaran karena yang datang ke pameran mayoritas ibu atau bapak yang tentunya memiliki buah hati di rumah. Dengan penuh senyum riang dan semangat, aku mempromosikan karya terbaik kami.

Pasar Anak Negeri ini memang menunjukkan keberagaman Indonesia dalam hal produk lokal. Di sekeliling stand Kereta Dongeng ada produk kuliner dari Pacitan dan Blitar, fashion dan craft dari Jakarta dan tepat di belakang kami adalah stand yang menjual kain batik tulis asal Jawa Tengah. Kembali menemukan tempat teduh ketika banyak manusia berkumpul disini, dari latar belakang yang berbeda, logat dan budaya yang juga berbeda. Indonesia lebih baik, itu satu tujuannya. Dari sudut tempat dudukku, ntah kenapa selalu ada yang ingin dilihat dari stand UKM Mentari Blitar. Ku telusuri lebih lanjut. Aku pun ingat, Blitar pernah menjadi kota romantismeku dulu. Selain itu, ada yang terasa eyecatching. Tiwul dan gatot instan. Hatiku akan selalu bergemuruh ketika melihat dua jajanan semi tradisional ini. Langit biru yang dulu memperkenalkannya padaku waktu kami travelling ke Blitar. Tidak heran karena kalau soal kuliner, bisa dibilang Ia adalah rajanya selera. Sempat ingin membeli tapi kesempatan itu tak ada. Kebahagiaan sore itu menjadi lebih teduh karena kenangan kecil itu. Sekejap ingin rasanya Ia hadir disini, menyaksikan apa yang dari dulu selalu Ia support bisa terealisasi. Terima kasih yaa.

            Menjelang waktu berbuka rombongan Ir. Hatta Rajasa datang dengan penuh semarak. Beliau berkeliling hall untuk melihat pameran tersebut dan mengecek produk-produk yang dipamerkan dan juga menyapa orang yang berjaga di balik stand-stand mungil itu. Menteri perekonomian ini juga sempat memberikan sambutan kecil bahwa perekonomian Indonesia harus terus dimajukan, salah satunya dengan memunculkan dan membina UKM-UKM dan pengusaha-pengusaha muda layaknya kami saat ini. Flash kameran dan bunyi jepretannya semakin menjadikan suasana lebih hidup. Banyak pengawal yang berjaga di sisi-sisi beliau. Tumpah ruah pengunjung mengikuti jalannya orang tersohor di negeri ini. Dan momen itu datang juga. Aku sedikit gugup ketika harus berbincang dengan beliau. Menjawab pertanyaan-pertanyaan singkatnya membuatku seperti bukan Ika yang sesungguhnya. Ini bukan gugup karena bertemu orang penting tapi lebih kepada soal kesiapan Kereta Dongeng di hadap putih yang juga menjadi cendekiawan yang dimiliki bangsa ini. Setelah tanya jawab yang penuh keakraban, beliau sempet bilang kepada rombongannya bahwa produk buku dongeng kami sangat bagus. Ini adalah produk kreatif untuk mencerdaskan anak bangsa. Ditanya stoknya tinggal berapa, aku pun menjawab dengan asal-asalan. Akhirnya sore itu Ir. Hatta Rajasa memborong lebih dari 50% produk kami. Stafnya langsung membayar dalam jumlah besar dan berdalih bahwa buku ini akan dibagikan ke anak-anak di sekitarnya. Alhamdulillah, ilmu itu tersebar.

            Hari kedua pameran berjalan mulus sesuai bayangan. Kami berdampingan dengan produk Jarichata, Juragan Jamur, Dents, Abon lele Srikandi. Jika menjelang berbuka, stand akan selalu dipenuhi pengunjung yang memesan produk es jago. Es itu memang enak, murah dan juga higienis. Berbahan buah segar, susu, fanta, sirup. Semua langsung jatuh hati kepada es segar itu. Kami pun membantu si empunya dalam memenuhi pesanan. Meraciknya satu per satu. Luar biasa, anak Indonesia (memang) kreatif pikirku. Setiap hari pameran yang dimulai jam 10.00 – 20.00 ini ini semakin seru. Sebelum beres-beres pulang, aku bersama teman-temanku menghitung omset penjualan. Hari itu satu lagi yang ku tahu. Jadi pengusaha itu seperti ini awalnya.

            Inilah hari terakhir pameran kreatif. Banyak hiburan dan artis kondang ikut meramaikan. Juga hadiah yang dibagi-bagikan ke pengujung serta berbagai jenis perlombaan digelar hari itu. Harapanku semoga tahun depan acara yang sangat bermanfaat ini kembali diselenggarakan. Satu lagi yang ku tunggu-tunggu bersama Kereta Dongeng. Hari ini ternyata menjadi momen khusus untuk pembagian modal. Modal sebesar Rp 5.000.000 untuk Kereta Dongeng dan beberapa tim lain yang lolos verifikasi dari lomba Wirausaha Mapan. Ah, senangnya. Tuhan memberikan banyak keberuntungan bagi kami lewat Pasar Anak Negeri. Hari itu juga buku dongeng “Trimbil, Ayo Bangun!” sold out. Tak ada yang tersisa. Hari-hari terasa warna orange. Warna yang menjadi filosofisku ketika aku senang tak kepalang. Itu berlaku untuk semua hal. Tak heran kan jika Kereta Dongeng juga didominasi warna orange. Terima kasih orange. Terima kasih untukMu pencipta, membuatku semakin mencintai pekerjaan ini. Membuatku terus belajar, belajar dan belajar. Terus menebarkan ilmu pengetahuan kepada sesama, seperti komitmen yang aku buat bersama langit biru dulu.

6 Agustus 2012

Langit Biru Membawaku Bertemu Jember Fashion Carnaval


Ceritanya, ini adalah kali pertama bagiku bisa join di Jember Fashion Carnaval. Senang sekali rasanya. Really. Setahun belakangan ini aku memang menggandrungi sesuatu yang sering disebut orang dengan JFC ini. Tentunya bukan tiba-tiba jika sekarang aku menjadi bagian darinya. Everything happens for a reason. Akan ku ceritakan sedikit flashback mengapa dan ada apa di balik JFC.  Sampai-sampai beberapa teman terdekatku pernah bilang bahwa aku seperti ‘tergila-gila’ dengan pelopor karnaval di Indonesia ini.
***

Berawal dari langit biru, passion ini dibangunkan. Juni 2011, kami travelling dari Malang, Banyuwangi, Bali dan akhirnya berakhir di sebuah kota singgahnya, Jember. Tak akan mengira jika sekarang aku seperti ditempeli magnet alam dengan kota ini. Pertama kali menginjakkan kaki di Jember adalah ketika kami usai dari Bali. Berangkat dari terminal Ubung, Denpasar. Tepat pukul 03.00 dini hari kami tiba. Aku masih ingat, kami turun di Gladak Kembar. Yaa, itulah ingatan pertama yang akan aku sebutkan ketika ke Jember. Pagi itu, Ia sengaja mengajakku untuk sarapan di warung tenda yang sepertinya memang dibuka sejak tengah malam. Dengan senyuman, aku cukup melihatnya makan dengan lahap. Jujur saja itu terlalu pagi untuk sarapan dalam agenda pagiku. Aku menghangatkan badanku dengan teh manis di sebelahnya. Aku akhirnya sampai di kota Jember yang selalu Ia puja-puja.

Waktu itu aku memperkirakan bahwa Jember sedang memasuki musim dingin. Itu pun menurutku musiman karena dingin bekunya hanya di malam hari. Menginjak siang hari, panasnya tak ketulungan. Tak seperti Jakarta, panas di Jember sangat mirip dengan Bali. Sangat menggigit kulit. Usai sarapan,  kami bergegas menuju kos temannya untuk istirahat sejenak. Sebelum meninggalkan warung itu, dengan gayanya yang khas Ia bilang  “makanan disini itu mantap jaya. Selalu cepat habis saking larisnya” Melewati jalan Sumatra, kami menuju perumahan mastrip menggunakan jasa ojek. Pantas saja, itu masih sangat pagi sehingga tidak ada angkot yang beroperasi. 15’ kemudian kami sampai. Rupanya langit biru harus menggedor-gedor pintu kosan karena temannya masih sembunyi dibalik dinginnya hawa. Tidur pulas.

Momen ini adalah kali pertama aku benar-benar dipertemukan dengan satu per satu teman langit biru. Yaa meski yang satu ini masih terlihat ngantuk, tapi dia sangat welcome terhadapku. Ia menyuruhku istirahat sebelum akhirnya melihat perhelatan akbar kota Jember nanti siang. Jember Fashion Carnaval X. Akhirnya. Sebenarnya agenda utama yang sudah kami rencanakan beberapa bulan sebelumnya memang untuk melihat langsung JFC di kotanya, bukannya travelling ke Bali. Namun, seiring berjalannya waktu agenda itu luntur oleh romantisme Bali. Untung saja langit biru mengingatkanku bahwa tujuan awal adalah Jember. Ok, aku siap sekarang.

Pukul 10.00 aku diajak berkumpul bersama teman-temannya. Teman-teman yang sebelumnya sudah diperkenalkan via twitter dan facebook oleh langit biru. Sebenarnya kami pun sudah saling akrab, sungguh tak asing ketika melihat mereka. Berbagai sapaan untukku mulai terdengar langsung ditelinga siang itu. Bude. Bu ani. Dan yang paling sering muncul dari mereka adalah kalimat semacam ini “Oo, ini toh orangnya” aku sedikit tahu maksudnya. Kami pun berkenalan secara face to face. Suasana lebih mencair karena seperti dugaanku, mereka orang yanag sangat humoris. They’re nice people that I’ve ever meet. Hati mulai mengembang. Sebelum menuju alun-alun kota Jember, kami menyempatkan diri untuk breaklunch di sekitar Unej. Gudeg dan ayam bakar menjadi pilihan yang tepat bagi 6 orang yang sedang lapar.

Siang itu akhirnya aku menyaksikan sendiri sesuatu yang dimataku menjadi spektakuler. Dari kampus Unej langit biru mencari jalan alternatif menuju alun-alun. Jalanan sudah sangat ramai. Angkot sudah offline. Ribuan manusia ada disini. Prediksiku, semua warga Jember sedang meluncur ke tempat ini, ikut menyaksikan acara tahunan terbesar kota Jember ini. More than crowded i think. Yang selalu menjadi kenangan manis adalah untuk menuju alun-alun itu, kami harus melewati rel kereta api. Hampir mirip jembatan gantung. Dan kami melewatinya berdua. Kami sepakat momen itu dibilang romantis.

Sepanjang jalan aku gembira tak terkira melihat run away dan para model yang tumpah ruah di jalanan dengan kostum unik mereka. Ratusan model ada disini. Bermacam-macam kostum dengan temanya masing-masing. Dan aku baru tahu kalau penggolongan tema di JFC itu disebut defile. Mulai dari yang kecil sampai yang tua ikut menjadi talentnya. Semua menyunggingkan senyuman lebar kepada audiencesnya. Seperti model yang sudah terlatih. Peran yang mereka lakukan benar-benar all out dengan tambahan karakter yang mereka mainkan. Saat itu aku hanya berpikir “bagaimana bisa mereka melakukan semua ini” Kostum yang mereka kenakan bukan hanya unik tapi juga sangat memakan volume. Kok bisa kuat yaa bawanya. Dulu aku juga pernah melakukan parade kostum dan budaya ketika di Polandia, tapi itu hanya kostum tarian tradisional yang bisa dibilang ringan. Meski memakainya kadang sangat rumit. Aku benar-benar masih heran, di tengah siang yang sangat terik ini mereka melakukan ini semua. Untuk apa? Setelah itu aku mendengar kasak kusuk bahwa kostum itu dibuat sendiri dan dengan modal sendiri. What is it? Habis berapa ya? Kembali berputar pemikiran-pemikiran itu di kepalaku. Gila. Benar-benar menakjubkan. Catatan khusus, make up yang mereka pakai adalah make up karakter sehingga muka para talent itu serasa lebih hidup. Dipenuhi permata kecil menjadikanku tak bisa membedakan mana yang laki-laki dan mana yang perempuan.

Langit biru dan teman-temannya sempat kegirangan saat salah seorang talent berjalan di depan mereka. Mereka mencoba menggoda gadis cantik itu. Diceritakannya bahwa dia adalah adik angkatannya di kampus. Waw, aku langsung berpikir mungkin ini jalannya. Ntah itu jalan apa yang ku maksud. Aku memintanya untuk mempertemukanku dengan gadis mungil itu, yang memang sebelumnya sudah ku kenal. Ia juga pernah berkunjung ke Malang bersama rombongan langit biru di bulan mei lalu.

Rupanya kami berpencar. Setelah berjalan di sepanjang run away tersebut, ternyata yang tersisa hanya tinggal aku dan dia. Rasa senang, kasihan, terharu bercampu menjadi satu. Sesekali aku melihat langit biru di belakang, tak lagi menemaniku di samping. Semakin jauh perjalanan, ia lebih menunggu di belakang. Aku tahu dia lelah harus mengikuti kegiranganku ini. Aku cukup maklum. Pasalnya kami tidak statis menonton karnaval ini melainkan berusaha mengikuti jalannya para talent ke arah GOR. Anehnya, semakin lama raut mukanya juga semakin menciut. Aku baru ingat, sebelum berangkat ke Jember dia pernah bercerita. Meski tinggal di Jember beberapa tahun, Ia belum pernah melihat JFC dengan alasan keramaian yang dimuntahkan jalanan kota Jember membuatnya tak nyaman. Nah, kali ini tentunya menjadi hal yang pertama untuknya. Satu lagi kegiranganku datang.

Aku rasa kegiatan ini membawa begitu banyak manfaat. Selain manfaat yang diperoleh para talent dan JFC tentunya. Jelas sekali bahwa banyak perputaran kegiatan ekonomi dilakukan disitu. Banyak orang yang berjualan dengan beraneka ragam dagangan. Penonton yang memadati jalanan menjadi objek yang dituju sebagai pembeli. Mulai dari minuman, payung, makanan, topi, souvenir dan lain sebagainya. Acara ini menjadi acara hiburan gratis bagi warga. Banyak yang menyaksikan bersama keluarga lengkapnya, ibu ayah dan anaknya. Semuanya memancarkan senyum senang. Tukang parkir juga ikut merayakan kemenangan ini. Belum lagi toko-toko di areal Pasar Tanjung yang menjual berbagai macam bahan untuk kostum mereka. Rasanya kota Jember saat itu memanen. Hotel dan penginapan juga full booked saat JFC digelar. Peminat acara ini bukan hanya warga Jember tetapi berbagai penonton yang datang dari Madura, Probolinggo, Bondowoso, Situbondo, dll. Dan  jangan salah, banyak turis yang juga meramaikan kota Jember saat itu. Hampir semua yang melihat selalu menenteng kamera masing-masing. Mulai dari kamera HP, Pocket maupun DSLR.

Menjelang sore performance mereka masih berlangsung. Sejak saat itu, aku mengutuk dalam hati. Aku harus bisa menjadi bagian dari JFC. Ntah kapan waktu itu menunjukkannya padaku. Tekadku sudah bulat. Apalagi melihat JFC sebagai fenomena budaya dimana topik ini akan selalu berbusa-busa untuk ku bahas dan ku pelajari. Really love it. Dalam satu hari, JFC bisa mengumpulkan ribuan manusia dari berbagai kota untuk datang. Melihat mereka berinteraksi menjadi pemandangan orange bagiku. Culture yang ia persembahkan juga tak kalah penting. Kostum yang mereka buat adalah bagian dari culture yang sangat fantastic dan perlu dipelajari lebih dalam. Aku ingin tahu seperti apa rasanya. I’m in Jember Fashion Carnaval.

Esoknya, aku diajak ke rumah adik angkatan yang sudah disebutkan di awal tadi. Kami mengunjungi rumahnya ramai-ramai. Aku sharing dengannya mengenai beberapa beberapa hal JFC. Dia pun antusias dalam bercerita. Dan diujung pembicaraan, aku sengaja untuk meminjam kostumnya. Aku benar-benar ingin mencobanya. Tentu saja dia mengizinkan. Mulailah dipasangkan satu per satu bagian kostum Athena itu. Sampai semua terangkai menjadi satu kesempurnaan kostum yang didominasi warna kuning keemasan. Sayangnya dokumentasi foto itu lenyap. Ibarat tamu agung, semua teman-teman menyaksikanku dengan penuh keheranan. Mereka yang sudah lama stay di Jember saja tidak terlalu interest dan tidak seheboh ini dengan JFC. Justru aku yang baru menginjakkan kaki disini langsung jatuh hati. Kali ini Jember benar-benar membuatku tersenyum lebar.

26 Juli 2012

Anti Kekerasan Itu Pilihan

Saat ini aku tinggal di sebuah kota yang menurut banyak orang memancarkan seribu kekejaman kehidupan. Kota tujuan bagi banyak orang untuk mencari peruntungan. Jakarta. Lebih tepatnya di Mampang, Jakarta Selatan. Ini adalah tahun ke4 aku menetap di kota yang menurutku memberi begitu banyak pembelajaran. Aku hidup mandiri. Tinggal jauh dari keluarga membuatku lebih banyak belajar. Sedikit pun aku tak ingin merepotkan keluargaku. Dan hal itu bisa aku wujudkan disini melalui beasiswa Paramadina Fellowship dan skills yang ku punya. Sebenarnya yang paling aku butuhkan adalah support dari keluargaku. Dari orang-orang yang dengan sepenuh hati menyayangiku dan membesarkan aku hingga aku menjadi manusia yang seutuhnya.

            Hidup harmonis menjadi tujuan utama setiap individu manusia. Ntah dengan anggota keluarga sendiri, tetangga, teman atau pun orang yang baru dikenal. Pluralisme dan interfaith menjadi kajian yang sangat aku minati. Aku tertarik dengan keduanya karena memang fokusku adalah di kajian budaya dan isu-isu tentang interfaith. Budaya di Indonesia sangat beragam dan unik. Hal itu yang justru memperkaya negara kita. Ditambah lagi background keluargaku yang juga plural. Kami terdiri dari multi agama dan tinggal dalam satu atap sehingga dari kecil aku pun selalu diajarkan untuk saling menghormati, menghargai dan toleransi terhadap perbedaan yang ada. Aku dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang. Melihat kedua orang tuaku yang mendidikku dengan penuh kasih, tak sekali pun mereka menggunakan kekerasan. Dan itu yang aku teladani sampai saat ini.

            Melihat realita yang terjadi di negara kita saat ini, kekerasan muncul karena faktor budaya, bukan genetika atau ras. Bangsa kita merupakan bangsa yang majemuk. Namun, masyarakatnya cenderung tidak berani berbeda. Karena tidak terbiasa menerima perbedaan, maka ketika muncul perbedaan sedikit saja sudah menimbulkan stigma yang luar biasa dan ditanggapi dengan permusuhan bahkan kekerasan. Oleh karena itu, hal utama yang harus dilakukan agar tidak ada lagi kekerasan adalah dengan mengubah pola pikir masyarakat. Sebab cara berpikir merupakan salah satu hal yang paling substantif dalam diri manusia. Untuk membentuk cara berpikir seseorang, pendidikan memegang peranan penting. Pluralitas keagamaan ataupun budaya juga harus diperkenalkan agar tidak muncul kefanatikan terhadap satu titik saja.

23 Juli 2012

Grand Launching Kereta Dongeng Sangat Meriah


Tepat di 1 ramadhan, hari puasa pertama di tahun ini yang tentunya penuh manfaat. Tidak terkecuali untuk Kereta Dongeng dan Canda Rupa. Sabtu pagi, 21 Juli 2012,  kami berhasil melakukan grand launching Kereta Dongeng yang sekaligus menjadi acara launching-nya buku dongeng “Trimbil, Ayo Bangun!” Buku pertama hasil garapan kami dengan Rona Mentari. Event ini diselenggarakan atas kerjasama Canda Rupa sebagai penerbit buku dongeng berukuran 14 x 16 cm ini dan juga AQL Islamic Center yang menjadi lokasi event grand launching tersebut.
Syaiful, partner saya di Kereta Dongeng
Nampaknya pagi itu tidak terlihat seperti hari puasa. Pasalnya para audiences yang datang sangat sumringah dan penuh canda tawa. Sekitar 70 orang audiences memenuhi aula tersebut. Event ini terbuka untuk umum dan rata-rata audiences masih berusia 13-14 tahun. Audiences berasal dari berbagai daerah, ada yang dari Depok, Kalibata, Kemang, Majalengka dan masih banyak yang lain. Yang cukup memberikan kesan adalah datangnya rombongan 1 bis dari Sekolah Menengah Smart Ekselensia Indonesia yang berlokasi di Bogor. Semuanya laki-laki dan sangat antusias mengikuti acara ini.
Trimbil berkenalan
Pukul 09.00 acara dimulai dengan ice breaking yang dipandu oleh MC, Kak Sherly Annavita. Selanjutnya sambutan dari AQL Islamic Center dan juga Kereta Dongeng. Acara puncak grand launching ditandai dengan mendongeng secara langsung dengan kak Rona. Kami memang sengaja membuat konsep semacam ini agar anak-anak tidak hanya bisa membaca buku dongeng tetapi juga mengetahui dan menyaksikan secara langsung ketika buku “Trimbil, Ayo Bangun!” itu didongengkan. Sungguh menarik. Audiences yang hadir dengan antusias mendengarkan dongeng yang sangat jenaka. Trimbil sebagai tokoh utama memiliki hobi tidur. Dan saat itu juga ada pelajaran dimana tidur saat ramadhan akan mendapatkan pahala jika tidurnya diniati untuk mengumpulkan energi lagi yang akan digunakan untuk beribadah.
Penutupan acara dilakukan dengan pembagian doorprize yang tentunya buku dongeng Trimbil itu sendiri. Teman-teman yang sudah datang akan mendapatkan stiker Kereta Dongeng dan juga buku tulis beserta pensilnya. Ada diskon khusus untuk pembelian buku dongeng saat grand launching. Di akhir acara, kami melakukan sesi foto dengan semua audience yang datang. Acara baru selesai sekitar pukul 11.00. Semoga Kereta Dongeng bisa terus berkarya dan menyebarkan hal yang positif untuk bangsa. Tetap semangat !!

18 Juli 2012

Aku dan Kereta Dongengku


Tepat 21 tahun yang lalu, wanita ini lahir di lingkungan keluarga yang sangat hangat dan sederhana di sudut kota Malang yang dingin. Ia tumbuh dengan penuh kemandirian. Dengan semangatnya, Ia selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik. Menurutnya, terbaik bukan berarti paling pintar, cantik ataupun kaya tetapi bagaimana Ia bisa berguna untuk orang lain. Jujur saja, ia tidak ingin hanya menjadi orang pintar tapi ia lebih ingin menjadi orang cerdas karena menurutnya pintar dan cerdas itu berbeda. Pemilik nama cantik, Ika Fitri Mustikasari ini sangat menghargai proses. Love the process and respect the result of it. Ia tidak menyukai hal yang instan. Hasil dari suatu proses bisa dikatakan sukses ketika Ia sudah menjalani proses tersebut dengan segala daya terbaiknya meskipun ujungnya hasil itu terbilang gagal secara normatif. Sampai saat ini, ia pun memiliki tagline yang selalu ia bawa kemana-mana, be positive and smart girl.

Setelah lulus dari SMK di kotanya, Ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Paramadina, Jakarta Selatan. Banyak hal yang tak terduga yang harus di manage dengan baik. Menjadi mahasiswa perantauan adalah cita-citanya sejak dulu. Ia berfikir bahwa dengan cara itu Ia bisa mengukur kemampuan dirinya sendiri, yang notabenenya jauh dari keluarga. Dan menurutnya, itu hal yang menyenangkan. Ia menjadi salah satu penerima beasiswa dari 69 mahasiswa di seluruh Indonesia. Paramadina Fellowship, sungguh luar biasa. Menjadi penerima beasiswa membuatnya lebih berhati-hati dalam bertindak karena tentunya apa yang Ia lakukan membawa nama institusi yang mensupport kuliahnya. Donor beasiswanya adalah Principia Management Group yang mana bekerja sama dengan Universitas Paramadina. Sebelum kuliah, Ia juga pernah bekerja di beberapa perusahaan swasta di Malang. Hal ini menjadikannya lebih prepare dan aware terhadap masalah finansial. Baginya, mencari uang itu terbilang tidak mudah (saat itu) sehingga penggunaannya pun harus cermat. Menurut teman-temannya, Ia tergolong orang yang sangat hemat dan terorganizir dalam banyak hal.

Pemilik kulit sawo matang ini merupakan anak pertama dari dua bersaudara, yang sekaligus menjadi cucu pertama di keluarga besar ibunya. Ia bertekat harus menjadi teladan yang baik untuk adik-adiknya. Dari rangkaian cerita hidupnya tersebut, Ia berhasil melakukannya. Ia percaya bahwa Ia bisa pergi kemanapun yang ia inginkan dengan media ilmu pengetahuan. Dan itu memang terbukti. Travelling with studying, itu yang selama ini Ia lakukan.

Ika, menjadi nama sapaannya selama ini, khususnya di Jakarta. Mengenai mimpi dan cita-citanya, Ia ingin berkecimpung di dunia industri kreatif dan akademisi. Untuk industri kreatif, Ia meyakini bahwa menjadi entrepreneur adalah cita-cita mulia yang bisa menguntungkan banyak orang, bukan hanya dirinya saja. Tentunya ilmu, jalan dan pengalaman yang dibutuhkan juga lebih menantang daripada menjadi karyawan. Ia pun mulai merintis karir dengan menjadi entrepreneur di bidang industri kreatif tersebut.
Ia memulai bisnis produksi dan penjualan buku dongeng bersama teman kuliahnya, Syaiful Choirudin. Benar-benar dari nol ketika ingin melakukan usaha bisnis karena saat itu keduanya tidak memiliki modal yang cukup banyak. Namun, keberanian merekalah yang membuatnya tetap bergelora untuk menghasilkan ‘sesuatu’ untuk dirinya juga orang di sekitarnya. Ia memilih dongeng karena Ia ingin memanfaatkan skillnya di bidang desain, yang sesuai dengan jurusan kuliahnya. Dongeng bersifat edutainment karena dengan dongeng, Ia bisa mengedukasi anak-anak melalui cerita yang bernilai moralitas, juga dilengkapi dengan visual humornya. Mereka memberikan nama ‘Kereta Dongeng’ untuk bisnisnya.
Dan sampailah pada saat dimana Ia menemukan kompetisi bisnis plan yang diselenggarakan oleh MAPAN di Jakarta. Dengan segala ghirah bisnisnya, Ia dan temannya mengikuti kompetisi ini dengan penuh kesungguhan agar bisnis ini bisa lolos. Harapan awal yang mereka inginkan adalah hadiah tunai yang bisa mereka jadikan tambahan modal usahanya. Ibaratnya, saat itu mereka seperti menemukan oase di tengah gurun yang luas sehingga mereka mengikuti kompetisi ini dengan kemampuan terbaik yang mereka miliki. Rasa syukur menjelma, bisnis plan yang diajukan ternyata lolos dan mereka menjadi pemenangnya. Sungguh luar biasa, melebihi kata senang.

Proses pun berjalan dengan fase-fase yang memang harus dilalui. Pemenang pun tidak langsung dinobatkan sebagai juara karena banyak mentoring yang harus dilakukan oleh tim ini. Setelah dijalani, justru ini yang sebenarnya mereka cari. Dana yang MAPAN berikan sebagai modal usaha justru tidak seberapa dibandingkan dengan mentoring yang diberikan oleh MAPAN dan PILLAR sebagai penyokong kegiatan ini. Ilmu yang diberikan akan sangat jauh lebih berharga. Itu yang sangat mereka banggakan, bukan lagi tentang dana yang akan mereka peroleh nanti setelah lulus sertifikasi.

Saat ini pun, bisnis Kereta Dongeng masih dalam tahap mentoring. Beberapa hari lagi grand launchingnya akan di gelar di AQL Islamic Center, Tebet. Buku dongeng pertama mereka akan terbit dengan judul “Trimbil, Ayo Bangun!” Tidak sabar menunggu gebrakan apa yang akan dilakukan Kereta Dongeng. Mereka berkomitmen akan terus menjalankan bisnis ini dan terus mengexpand product knowledgesnya agar menjadi produsen sekaligus penerbit buku dongeng di nusantara. Visual humor menjadi bagian penting yang akan menjadi elemen dalam bisnis ini. Kereta Dongeng harus terus belajar dan belajar dari berbagai sumber agar usaha yang dijalankan tetap eksis, bermanfaat untuk sesama dan juga menghasilkan laba. Namun yang terpenting dari itu semua adalah misi Kereta Dongeng untuk share knowledges.

21 Mei 2012

Agus Salim: Cendekiawan Indonesia Untuk Dunia Internasional

Pejuang kemerdekaan Indonesia, Agus Salim merupakan anak seorang kepala jaksa di Pengadilan Tinggi Riau. Lahir pada 8 Oktober 1884 di Kota Gadang, Sumatera Barat dengan nama aslinya Musyudul Haq. Ia merupakan keturunan pribumi dari kalangan priyayi yang santri. Nama pemberian keluarga itu memiliki arti 'pembela kebenaran' karena ayahnya berharap agar Ia memiliki sifat sesuai dengan nama yang diberikan. Saat masih kecil, Ia selalu diasuh oleh pembantu yang keturunan Jawa sehingga sering dipanggil ‘den bagus’ Semenjak itu pula, teman-temannya di sekolah sering memanggilnya 
dengan ‘Agus’ atau bahkan hanya sebutan ‘gus’.

Pendidikan dasarnya ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa yang kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Jakarta. Ia berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS se-Jawa dalam usia 19 tahun. Saat itu, tak banyak anak pribumi yang dapat bersekolah di tempat kalangan Eropa. Bahkan, Agus Salim menjadi kebanggaan Indonesia dengan nilai yang diraihnya, tentunya mengalahkan murid-murid Eropa sendiri. Setelah proses kelulusan yang menjunjung tinggi namanya tersebut, Ia justru tidak melanjutkan pendidikannya dikarenakan kondisi keuangan yang tak mencukupi. Kartini mulai mendengar gaung namanya. Dan Kartinilah yang mencoba merekomendasikan agar Agus Salim mendapatkan beasiswa pendidikan dari pemerintah Belanda. Ironisnya, Agus Salim justru menolaknya. Ia menolak beasiswa itu karena pemerintah Belanda memberikannya atas dasar rekomendasi dari tokoh emansipasi wanita Indonesia tersebut, bukan karena kapasitas dan kemampuan yang sesungguhnya ia miliki. Menurutnya ini sama saja dengan diskriminasi. 

Pada umur 22 tahun, Agus Salim  berangkat ke Jeddah. Ia bekerja pada Konsulat Belanda disana. Tak dinyana, Agus Salim bertemu dengan pamannya, Ahmad Khatib yang merupakan syekh dan lebih lama tinggal di Mekkah. Ia banyak menimba ilmu darinya, khususnya untuk masalah agama. Sang paman dikenal sebagai ulama yang sangat peduli terhadap pencerdasan umat. Imam masjidil Haram ini juga menjadi ilmuwan serta guru terhormat di Universitas Harramain Massajidal. Karena kecerdasannya, dalam waktu 5 tahun ilmu-ilmu Islam itu ia terapkan langsung ke kehidupannya. Di saat yang sama, ia juga belajar beragam bahasa seperti Turki, Inggris, Belanda, Prancis, Arab, Jerman dan Jepang.

Tahun 1915, ia kembali ke Indonesia. Agus Salim sempat terjun ke bidang jurnalistik dan menjadi ketua redaksi. Melalui usahanya yang sungguh-sungguh, Ia pun menjadi Pemimpin Harian Hindia Baroe di Jakarta. Kemudian mendirikan Surat kabar Fadjar Asia. Kemudian Agus Salim bergabung ke Sarekat Islam yang dipimpin oleh HOS Cokroaminoto. Mereka menjadi partner yang saling membantu demi masa depan masyarakat Indonesia. Melalui organisasi inilah, Ia mengembangkan karier di bidang politik, agama, dan intelektualitas. Agus Salim dipercaya menjadi pemimpin kedua setelah Cokroaminoto. Tahun 1922 sampai 1925, ia menggantikan Cokroaminoto menjadi anggota Volkstraad dan sering melakukan pertemuan dengan pihak Belanda. Dipertemuan-pertemuan itu Agus Salim sering beradu argumentasi. Ia selalu berani dengan apa memang dianggapnya benar. Hal ini juga yang kemudian mengantarkannya sebagai Menteri Luar Negeri. Padahal pada masa-masa kolonial sekitar tahun 1943, tidak lebih dari 3,5 persen penduduk Indonesia yang bisa baca tulis. Agus Salim adalah sosok yang cerdas dan langka, yang mampu membanggakan Indonesia di dunia internasional.

Pria yang sering mengenakan peci hitam dan menghisap cerutu ini pernah menempati posisi Menteri luar Negeri dalam beberapa kabinet, yaitu pada masa Sutan Syahrir, Amir Sjarifudin, dan Hatta. Pernah juga pada masa akhir, ia menjadi penasihat Menteri Luar Negeri. Namanya semakin melambung di tahun 1946-1950. Agus Salim seakan menjadi sosok bintang dalam dunia perpolitikan Indonesia saat itu sehingga ia mendapat sebutan The Grand Old Man (orang tua besar). Pemikirannya selalu kritis dan tajam. Agus Salim adalah duta besar Indonesia pertama untuk Britania Raya (sumber: New York Times).


10 Mei 2012

Soekarno: Semangat Nasionalis Indonesia

Soekarno, siapa yang tak mengenalnya. Presiden pertama Indonesia ini lahir di Blitar, 6 Juni 1901. Semasa hidupnya, beliau hanya beberapa tahun saja tinggal bersama orang tuanya di Blitar. Selebihnya, beliau justru mencari ‘kehidupan’ di dunia luar yang membuatnya tangguh seperti yang kita tahu saat ini. Semasa SD, beliau tinggal di Surabaya tepatnya kos di rumah di rumah Tjokroaminoto, pendiri Sarekat Islam. Soekarno banyak belajar kepadanya. Dan rumah Tjokroaminoto saat itu dijadikan sebagai rumah dialog bagi Soekarno dan kawan-kawan. Disana selalu ramai dengan ide-ide briliant dan pembahasan yang menyangkut kemerdekaan Indonesia. Setelah itu, beliau melanjutkan sekolah di HBS (Hoogere Burger School). Lulus dari HBS tahun 1920, Soekarno melanjutkan ke THS (Technische Hooge School) atau Sekolah Teknik Tinggi yang sekarang ini bisa kita lihat menjadi Institut Teknologi Bandung. Perjalanan inilah yang semakin menumbuhkan semangat nasionalisnya.

            Soekarno mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia) tanggap 4 Juli 1927 dengan tujuan satu, Indonesia merdeka. Karena kegigihannya, Ia dipenjara oleh Belanda. Tanpa alasan yang jelas, barulah setelah 8 bulan, kasusnya disidangkan. Beliau melakukan pembelaan dengan menulis sebuah artikel yang berjudul Indonesia Menggugat. Soekarno mengkritik habis Belanda akan ketiadaan ‘manusia’ dalam hati mereka sehingga melakukan tindakan yang sangat merugikan rakyat Indonesia secara kolektif. Karena pembelaan yang panas itu, PNI dibubarkan oleh Belanda. Mereka semakin geram dengan ulah Soekarno. Beliau juga sempat dibuang ke Ende, Flores tahun 1933 dan ke Bengkulu. Masih dalam alasan yang sama, Belanda mengkhawatirkan semangat nasionalis yang disebar melalui pidato-pidato di beberapa kawasan Indonesia akan meruntuhkan kekuatan Belanda. Selama perjalanan inilah, beliau ditemani istri tercintanya, Inggit Garnasih. Sosok Inggit yang selalu mengayomi dan seperti melindunginya layaknya ibu, kakak perempuan, adik sekaligus menjadi yang menjadi istrinya.

Pembuangan yang di Bengkulu menimbulkan sedikit sayatan di hati Inggit karena disitulah Soekarno akhirnya bertemu dengan Fatmawati. Tidak lama setelah itu, beliau meminta izin kepada Inggit untuk menikahinya. Sungguh kebijakan Inggit tiada taranya untuk mengantar Soekarno ke ‘gerbang’ yang sudah dinantikan banyak warga Indonesia. Saat di Bengkulu tersebut, Soekarno menjadi ketua pengajaran Muhammadiyah.       Soekarno menjadi muslim yang taat. Disela-sela pembuangannya, beliau terus mencari Tuhannya dengan caranya sendiri. Beliau menjadikan rumahnya sebagai wadah untuk berkumpul, belajar tentang islam dan juga mengenai seni. Ada sepenggal riwayat bahwa Soekarno juga senang melukis. Beliau sangat menghormati agama orang lain dan bisa hidup berdampingan dengan warganya.

Tahun 1943 di masa pendudukan Jepang, beliau bersama Ki Hajar Dewantoro, KH. Mas Mansur dan Hatta memimpin Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) sebagai sarana taktis untuk menyusun tenaga dan kekuatan rakyat terlatih dalam persiapan merebut kemerdekaan dari Jepang. Saya suka dengan ajarannya, memandang musuh jangan hanya dari sisi negatifnya, yang bisa menyerang dan merugikan kita. Tetapi ambil sebanyak-banyaknya ilmu dari musuh yang tentunya bisa bermanfaat untuk bekal kita melawan.

            Soekarno yang juga dijuluki dengan sebutan singa podium, sempat diculik oleh pemuda-pemuda yang menuntut agar segera diproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Beliau diculik bersama rekannya, Hatta dan dibawa ke Rengasdengklok. Setelah terjadi perdebatan dan persesuaian pendapat, maka keduanya dikembalikan ke Jakarta. Tepat 2 hari setelahnya, Soekarno berhasil memproklamasikan kemerdekaan Indonesia bersama Muhammad Hatta (17 Agustus 1945) di daerah Pegangsaan Timur, Jakarta Pusat. Berita ini disiarkan melalui radio Domei. Melalui perjuangan yang sangat panjang, beliau bersama Hatta merumuskan tentang gagasan negara yang disebut saat ini sebagai Pancasila yang sampai saat ini gunakan menjadi ideologi bangsa Indonesia. Dalam sidang PPKI 18 Agustus 1945, Soekarno terpilih secara aklamasi menjadi presiden Indonesia yang pertama dan didampingi oleh Hatta sebagai wakilnya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya mereka berdua sering berseteru tentang gagasan masing-masing. Hal itu memicu perdebatan panjang diantara keduanya. Namun, mereka bisa bersatu dengan tujuan yang sama dan dalam himpitan yang sama akan ‘hausnya’ terwujud kemerdekaan Indonesia yang utuh. Dari segi background pendidikan, jelas keduanya juga berbeda. Soekarno besar karena rentetan pengalamannya langsung di lapangan. Menghadapi Belanda yang sangat tidak manusiawi terhadap rakyat Indonesia. Dan satupun Soekarno tidak pernah mengenyam pendidikan di negeri Belanda. Berbeda dengan Hatta, ia besar karena buku. Belajar banyak hal dari buku dan bersekolah di negeri Belanda secara langsung. Beliau merupakan ekonom pertama di Indonesia.